Modal 11

Arum menyunggingkan senyum mengejek kemudian memutar badannya untuk meninggalkan kediaman Arka.

"Arum!" Suara teriakan Arka yang memanggil namanya tak lagi ia hiraukan.

Wanita itu segera menginjak pedal gasnya bersamaan dengan air mata yang tak lagi bisa ditahan. Hati Arum hancur karena ulah Arka. Laki-laki yang selama ini ia cintai sepenuh hati dengan segala kekurangan dan kelebihanya telah menduakan cintanya, bahkan berselingkuh dengan sahabatnya sendiri. Mulai malam ini Arum telah menghapus nama lelaki itu dari dalam hatinya.

Sepanjang perjalanan Arum menangis sembari sesekali memukul kemudi mobil untuk meluapkan emosi.

"Kenapa dunia tidak adil Tuhan, aku yang mendampinginya sejak awal harus tersisih dan digantikan dengan sahabatku sendiri," teriak Arum histeris tanpa ada yang bisa mendengar.

Setir mobil ia arahkan pada rumah peninggalan Almarhum kedua orang tuanya. Rumah yang masih bersih walaupun tak pernah ia huni karena ada asisten rumah tangga yang selalu membersihkan rumah itu. Arum memarkirkan mobilnya dan mengambil koper dari dalam bagasi.

Matanya menerawang ke setiap sudut rumah dua lantai dengan halaman luas itu, Arum memang berasal dari keluarga yang cukup berada. Namun demi Arka, dia rela meninggalkan semua itu dan hidup susah di rumah mertuanya.

Arum berusaha menghapus jejak air mata di pipinya meski masih menyisakan sembab di kedua matanya. Wanita itu menekan bel pintu selama beberapa kali hingga pintu terbuka dan munculah seorang wanita paruh baya yang sudah mengasuh Arum sejak kecil.

"MasyaAllah non Arum, tumben malam-malam ke sini. Mas Arka mana?" tanya Bi Marni, ART yang sudah dianggap sebagai ibu kandung sendiri oleh Arum.

Wanita muda itu terdiam, tak mnjawab pertanyyan yang ditujukan padanya sampai Bi Marni menyadari raut wajah sembab wanita itu.

"Kita masuk dulu, biar Bibi bikinkan cokelat panas." Ajakan Bi Marni langsung diangguki oleh Arum.

Wanita paruh baya itu menggandeng lengan Arum dan mendudukannya di sofa kemudian melangkahkan kaki tuanya menuju ke dapur. Membuatkan secangkir cokelat panas favorite Arum.

"Diminum dulu, Non. Biar rilexs," ucap Bi Marni sembari meletakkan cangkir berisi cokelat panas ke atas meja.

Sebuah senyum tersungging di bibir Arum, segera disesapnya cokelat panas buatan Bi Marni.

"Enak sekali, makasih ya, Bi."

"Non Arum sudah makan belum? Bibi habis masak ayam goreng sama sambal bawang."

"Wah kebetulan Arum lagi lapar, Bi. Makan sama-sama yuk," ajak Arum pada wanita paruh baya itu.

Keduanya berjalan beriringan menuju meja makan, Bi Marni mengambilkan nasi dan lauk untuk Arum kemudian baru mengambil untuk dirinya sendiri. Nampak Arum begitu menikmati makanan sederhana itu hingga seluruh isi piring berpindah ke dalam perutnya.

"Alhamdulillah kenyang banget, Bi. Udah lama nggak ngerasain makan senikmat ini."

Dahi Bi Marni mengernyit mendengar ucapan Arum barusan. Wanita itu bisa melihat gurat kesedihan di wajah Arum yang berusaha keras untuk ia tutupi.

"Non Arum nggak mau cerita sama Bibi? Bukannya Bibi ini sudah seperti ibu Non sendiri. Bibi tahu Non Arum sedang tidak baik-baik saja." Kali ini ucapan Bi Marni berhasil membuat tangis Arum kembali pecah.

Wanita paruh baya itu membiarkan Arum menangis untuk menumpahkan segala keaedihan di hatinya.

"Menangislah sampai Non lega, setelah itu baru cerita," ucap Bi Marni menggenggam jemari wanita cantik itu.

Cukup lama Bi Marni menunggu sampai tangis Arum mulai mereda. Wanita itu mendekat dan duduk di kursi samping Arum.

"Bi, kenapa dunia ini nggak adil sih?" tanya Arum tiba-tiba.

"Nggak adil gimana maksud Non?"

"Bi, Mas Arka selingkuh sampai ngehamilin selingkuhanya itu." Ucapan Arum membuat Bi Marni membekap mulutnya sendiri karena terkejut.

"Apa Non nggak salah? Mas Arka selingkuh sama siapa, Non?" tanya wanita paruh baya itu makin penasaran.

"Dengan Aline, Bi."

"Ya Tuhan, kenapa Non Aline tega melakukan semua itu. Lalu, sekarang aoa yang akan Non Arum lakukan?"

"Arum akan segera urus perceraian kami, Bi. Arum nggak bisa lagi terima Mas Arka, apalagi sekarang Aline sudah mengandung."

"Ya sudah, mungkin ini jalan dari Allah agar Non Arum bebas dari mertua seperti Bu Kanti itu. Sekarang Non istirahat ya, udah malam," titah Bi Marni pada wanita muda itu.

"Iya Bi, sekarang Arum juga udah balik kerja lagi di caffenya Johan. Arum ke atas dulu ya, Bi," pamit Arum yang diangguki oleh Bi Marni.

Arum segera merebahkan dirinya di atas ranjang, matanya menerawang ke langit-langit kamar yang kosong. Berusaha menguatkan hatinya yang sedang rapuh dan mengikhlaskan apa yang telah terjadi padanya.

Sementara itu di rumah Arka, lelaki itu tengah duduk di sofa. Mendengarkan pembicaraan Bu Kanti tentang rencana pernikahanya bersama Aline.

"Karena Aline udah hamil, sebaiknya kalian nikah siri dulu aja besok. Biar Aline bisa tinggal di rumah ini. Gimana, kalian setuju kan?" Bu Kanti menatap Arka dan Aline secara bergantian.

"Kalau Aline setuju aja, Bu. Tapi nggak tahu Mas Arka gimana?"

"Arka kamu setuju kan?" Kali ini Bu Kanti meminta pendapat putranya.

"Apa nggak terlalu cepat, Bu. Arka sama Arum itu belum bercerai, masa Arka udah nikah sama Aline aja?" Arka mencoba menolak rencana itu.

"Ya nggak apa-apa. Kamu ini kan lelaki, dan yang dikandung Aline ini anak kamu. Pokoknya kalian harus menikah besok," tegas Bu Kanti tak ingin dibantah.

"Ya udah terserah Ibu dan Aline aja." Pada akhirnya Arka hanya bisa pasrah.

"Sekarang kamu antar Aline pulang dulu, besok siang kita ke sana sama penghulu," titah Bu Kanti pada putranya.

Arka menurut, mengantarkan wanita itu pulang dengan menggunakan mobilnya. Sementara mobil Aline dibiarkan tertinggal di rumah itu. Arka mulai melajukan mobilnya tanpa berbicara sepatah katapun pada Aline, wanita yang akan ia nikahi besok.

"Mas." Suara Aline memcah keheningan di dalam mobil itu.

"Hhnmmm." Arka hanya bergumam menjawab panggilan wanita yang duduk di sebelahnya.

"Besok kan kita nikah nih, kamu mau ngasih mahar dan mas kawin apa buat aku?"

Arga tersenyum sinis mendengar pertanyaan dari Aline yang mulai menunjukan sifat matrenya.

"Kita besok kan cuma nikah siri dan semuanya serba mendadak karena ulahmu sendiri. Jadi ya nggak ada mas kawin lah. Soal mahar ya liat aja besok ibu bawa apa, kalau adanya cuma alat sholat ya terima aja," ketus Arka menjawab pertanyaan Aline.

"Ya nggak bisa gitu donk, Mas. Masa kamu nggak menghargai aku sama sekali," protes Aline yang tak terima dengan ucapan Arka.

"Salahmu sendiri kenapa kamu katakan semuanya pada Arum. Lagian Arum juga udah ngasih cincin nikahnya buat kamu kan. Jadi terima aja, nggak usah kamu nuntut macam-macam."

"Jahat kamu, Mas."

Tak ada lagi percakapan sampai mobil itu berhenti di depan rumah Aline. Bahkan Arka langsung lergi begitu saja setelah wanita itu turun dari mobilnya.

Terpopuler

Comments

mama oca

mama oca

selamat menikmati ya aline tinggalll denggan mertua seperti bu kanti...arum akhirnya kamu bebass juga ...

2023-05-18

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!