Arum panik mendengar suara teriakan Bu Kanti yang menggelegar di seluruh penjuru rumah itu hingga tak sempat lagi memilih baju mana yang akan ia kenakan. Wanita itu turun menghampiri ibu mertuanya dengan mengenakan daster bolong pada bagian ketiak serta rambut yang masih acak-acakan. Dengan berlari tergopoh wanita itu menuju ke ruang tamu di mana sedang diadakan arisan ibu-ibu sosialita.
Mata Arum membulat kala melihat seorang wanita cantik seumuran dirinya tengah duduk dan mengobrol bersama sang mertua. Dia adalah Aline, sahabat sekaligus seorang manager caffe tempat Arum bekerja dulu. Sejenak Arum mematung, wanita muda itu merasa insecure kala melihat penampilanya yang berbanding terbalik dengan sang sahabat.
"Aline, kok kamu ada di sini?" Basa-basi Arum menyalami sahabatnya.
"Ibu yang undang Aline untuk ikut arisan di sini, sekarang kamu bawa minuman sama makanan yang kamu buat tadi ke sini," perintah Bu Kanti pada menantunya.
Arum hanya bisa mengangguk dan melaksanakan perintah dari ibu mertuanya. Wanita itu juga tak menyangka jika sang sahabat begitu dekat dengan ibu mertuanya.
"Ini, silahkan dicicipi semuanya," ucap Arum ramah sembari meletakan hidangan itu ke atas meja kemudian hendak berbalik ke dapur.
"Arum." Panggilan dari Aline membuat wanita muda itu menoleh.
"Kamu mandi dong, terus kita ngobrol sama-sama di sini," pinta Aline dengan diiringi sebuah senyuman.
"Aku udah mandi kok, Al. Baru aja selesai terus ibu manggil," jawab Arum dengan jujur.
Bu Kanti mengernyit, memindai penampilan sang menantu yang tengah berdiri di hadapanya dengan tatapan tajam. Di wajahnya tergambar jelas rona kemarahan kala menatap sosok Arum.
"Udah mandi kok penampilanya masih begitu, mana daster bolong di mana-mana," celetuk salah seorang teman Bu Kanti.
"Maaf, Bu. Saya buru-buru turun karena mendengar suara panggilan dari Ibu, jadi asal ambil baju saja" balas Arum mengatakan yang sebenarnya.
"Alasan aja kamu ini, emang dasar nggak bisa jaga penampilan. Tahu gini mending dulu Arka nikah sama Aline aja. Cantik, sukses, bisa cari duit sendiri lagi," maki Bu Kanti yang terang-terangan membandingkan Arum dan sahabatnya.
Wajah Aline berubah menjadi gugup setelah mendengar kalimat yang dilontarkan oleh Bu Kanti. Sedangkan Arum tengah mati-matian menahan air mata yang menggenang di pelupuk matanya agar tak sampai menetes dan membuatnya terlihat lemah.
Aline beranjak dari kursinya dan mendekati sang sahabat.
"Maaf ya Arum, pertanyaanku malah bikin kamu dimarahi sama Tante seperti ini," ucap Aline dengan wajah bersalah.
"Sudah tidak apa-apa Al, kamu lanjutkan saja arisanya. Aku mau ke atas dulu, selain itu aku juga harus masak untuk makan malam nanti," balas Arum berusaha menyunggingkan senyum.
Wanita itu buru-buru menaiki anak tangga untuk menuju ke kamarnya. Setibanya di kamar, Arum menumpahkan air matanya sembari meringkuk di atas ranjang. Ranjang yang kini terasa dingin dan hampa karena sang suami sudah tak pernah menyentuhnya meskipun sebagai seorang istri dan wanita normal, Arum merindukan sentuhan kasih sayang dari sang suami.
Bukan keinginanya untuk berpenampilan seperti ini, namun apa daya. Uang belanja yang diberikan oleh Arka hanya cukup untuk membeli kebutuhan dapur selama sebulan. Jangankan membeli skin care seperti wanita lain, untuk sekedar membeli daster seharga lima puluh ribu saja Arum harus berpikir berulang kali. Pekerjaan Arka memang seorang manager dengan gaji besar, namun uang itu lebih banyak diberikan untuk sang ibu dan meskipun Arum tahu semua pin m-banking dan ATM Arka. Tak pernah sekalipun Arum memakai uang sang suami tanpa izin.
Sudah cukup lama Arum menangis, menumpahkan segala kesedihan yang ditahanya selama ini untuk mengurangi rasa sesak yang menghimpit di dadanya. Kini matanya tertuju pada jam dinding yang sudah menunjukan pukul lima sore, pertanda ia harus segera masak untuk makan malam. Suara Bu Kanti dan teman-temanya pun sudah tak lagi terdengar di telinga Arum.
Wanita itu segera membasuh mukanya lalu keluar dari kamar, dan benar saja. Kondisi rumah sudah sepi. Hanya menyisakan piring dan gelas kotor bekas acara arisan. Arum menghembuskan napasnya kasar kemudian segera membereskan rumah itu dan membersihkan piring-piring yang kotor. Barulah melakukan tujuan utamanya untuk memasak makan malam.
"Arum, masak apa kamu?" tanya Bu Kanti yang tiba-tiba muncul di belakang sang menantu.
"Eh Ibu, ini Arum mau masak soto aja, Bu. Masih ada telur asin juga, Mas Arka malam ini juga makan di luar," jelas Arum yang selalu tersenyum di depan ibu mertuanya.
"Ya udah buruan, Ibu sudah lapar," ucap Bu Kanti kemudian berjalan ke arah ruang keluarga, wanita paruh baya itu memilih menonton drama ikan terbang sembari menunggu sang menantu selesai memasak.
Setengah jam kemudian bau harum masakan menguar di indera penciuman Bu Kanti, masakan Arum telah siap di meja makan. Wanita itu menuju ke ruang keluarga untuk mengajak mertuanya makan malam bersama.
"Bu, makanan udah siap. Ibu mau makan sekarang atau nanti?"
Ekor mata bu Kanti melirik ke arah sang menantu.
"Ya sekarang lah, perut saya sudah keroncongan nungguin kamu masak."
Wanita paruh baya itu beranjak dari duduknya dan mengambil makanan untuk dirinya sendiri. Seperti biasa, keduanya makan tanpa ada suara selain sendok garpu yang beradu dengan piring. Usai makan Bu Kanti kembali menonton drama ikan terbang kesukaanya sedangkan Arum memilih membereskan kembali meja makan. Sayup-sayup terdengar suara mobil Arka yang memasuki pekarangan rumah.
"Aruuummm!"
Benar saja, beberapa menit kemudian suara Arka menggelegar memanggil nama sang istri. Dengan tergopoh Arum menghampiri sang suami yang sudah duduk di samping Bu Kanti.
"Mas Arka, kok sudah pulang? Katanya mau nongkrong dulu sama teman-teman kamu? Lapar nggak? Aku siapin makanan buat kamu ya." Arum menyambut kedatangan sang suami dengan antusias.
"Nggak usah basa-basi, kamu kenapa sih selalu bikin malu aku sama ibu. Udah tahu ibu mau arisan sama teman-temanya di sini, ngapain kamu masih pakai daster jebolmu itu, hah?" maki Arka tanpa menanggapi sambutan istrinya.
"Mas, tapi tadi itu ...."
"Stop, aku nggak mau dengar pembelaan dari kamu. Lain kali aku nggak mau kejadian ini terulang lagi. Aku ini seorang manager, tapi penampilanmu seperti gembel. Mau ditaruh di mana mukaku ini?"
"Iya Mas, maaf," hanya kalimat itu yang terucap dari bibir Arum.
"Sudahlah, percuma kamu minta maaf. Aku mau istirahat, muak aku sama kamu. Nyenangin suami aja nggak bisa, bisanya cuma bikin malu!"
Arka meninggalkan sang istri begitu saja setelah memakinya. Arum hanya bisa mengelus dadanya sendiri, berusaha memaklumi tingkah sang suami. Wanita itu perlahan menaiki anak tangga hendak menyusul sang suami menuju ke kamar.
Nampak Arka tengah duduk di atas ranjang sembari memainkan gawainya. Terlintas di pikiran Arum untuk membahagiakan sang suami. Wanita itu mengambil sebuah lingerie berwarna merah maroon dalam lemarinya dan masuk ke kamar mandi tanpa disadari oleh sang suami.
Dengan malu-malu Arum keluar dari kamar mandi, Arka masih tetap fokus pada layar gawainya hingga tak menyadari perubahan penampilan sang istri.
"Mas," panggil Arum dengan suara manja. Hingga membuat sang suami menoleh ke arahnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 80 Episodes
Comments
Ma Em
Arum jangan bodoh kamu jadi istri masa mau saja dijadikan budak sama mertuamu lawan arum jangan iya-iya aja kesel aku jadinya.
2023-06-11
1