Johan dan Arum saling saling pandang mendengar ucapan Aline, kedua sudut bibir mereka tertarik, menyunggingkan senyum penuh arti.
"Lin, sebaiknya kamu duduk dulu. Ada hal serius yang harus aku bicarakan sama kamu," titah Johan, pandangan matanya kini berubah menjadi tajam.
Tentu saja Aline bisa membaca ekspresi kemarahan yang kini tersirat di manik mata hitam milik Johan. Dengan ragu, Aline menghenyakan bobot tubuhnya di samping Arum yang tengah asik menchek out barang dari toko orange menggunakan uang yang ia transfer dari rekening Arka tadi malam.
"Ada apa ini, Jo sebenarnya? Kenapa wajahmu tegang sekali, apa ada masalah?" Sesekali mata Aline melirik ke layar handphone milik Arum yang pura-pura tak mendengarkan obrolan kedua sahabatnya itu.
Plak.
Johan melemparkan sebuah map berisi bukti penggelapan uang yang telah dilakukan oleh Aline.
"Baca Aline, dan jelaskan apa maksud semua itu padaku," perintah Johan dengan nada tegas.
Deg.
Tiba-tiba dada Aline berdetak dengan kencang walaupun wanita itu belum mengetahui apa isi di dalam map yang baru saja dilempar oleh Johan. Dengan tangan gemetar, Aline mengambil map di hadapanya. Mata wanita itu membulat sempurna kala membaca isinya. Sebuah dokumen berisi bukti penggelapan uang caffe yang telah ia lakukan selama beberapa bulan terakhir.
"I- ini, ini pasti fitnah, Jo," ucap Aline dengan bibir gemetar.
"Lalu siapa yang memfitnahmu? Nggak mungkin kan para waiters caffe yang fitnah kamu? Aku juga tidak bodoh Aline, sudah jelas di situ terlihat jika kamu sudah menggelapkan uang caffe."
"Ma- maafkan aku, Johan. Aku khilaf! Arum, bantu aku minta maaf sama Johan." Aline menarik-narik lengan baju Arum agar membelanya.
Arum meletakan gawainya ke atas meja dan menatap wanita itu dengan senyum mengejek.
"Membantumu? Maaf Aline, aku tidak ingin ikut campur masalah ini."
Mata Aline hendak meloncat keluar kala mendengar kalimat yang diucapkan oleh Arum. Untuk pertama kalinya Arum seolah tak peduli kepada dirinya. Tanda tanya besar muncul di benak Aline, ada apa sebenarnya dengan kedua sahabatnya ini.
"Aline, aku sudah memafkanmu. Sekarang pergilah, dan jangan pernah kembali ke caffe ini," perintah Johan dengan angkuh.
"A- apa? Pe- pergi, apa maksudmu, Jo?"
"Kamu dipecat!"
Seketika tubuh Aline merosot ke lantai mendengar jika Johan telah memecat dirinya dari caffe yang sudah lima tahun ini menjadi tempatnya bekerja, mulai dari yang awalnya hanya menjadi seorang kasir hingga manager yang menggantikan posisi Arum.
"Jo, aku mohon kasih aku satu kesempatan lagi, Jo!" Kali ini Aline mendekati Johan dan menangkupkan kedua tanganya di depan lelaki itu.
"Untuk kali ini aku minta maaf, posisi manager sudah aku kembalikan pada Arum."
"Apa? Jadi ini semua karena Arum? Kenapa kamu tega merebut pekerjaan ini dariku, Rum? Kenapa, pantas kamu tak mau membantuku membujuk Johan?" bentak Aline pada sahabatnya yang duduk santai sembari mengulas sebuah senyum penuh arti.
"Aline, aku tidak pernah merebut apapun darimu. Aku hanya mengambil kembali apa yang memang seharusnya menjadi milikku," ucap Arum penuh penekanan.
"Munafik kalian berdua, kamu juga, Jo. Kamu tega pecat aku hanya demi Arum. Awas kamu, Rum!" maki Aline kemudian keluar dari ruangan Johan dan meninggalkan caffe itu.
Sementara itu di kantor, Arka baru saja menyelesaikan mettingnya dan sedang memeriksa beberapa dokumen sembari menunggu jam makan siang tiba saat handphone di saku jasnya berdering.
Senyum mengembang di bibir Arka kala melihat nama penelepon yang tertera di layar telepon pintar miliknya.
"Hallo Aline, ada apa sayang?" sapa Arka dengan mesra pada sahabat istrinya.
"Hallo, Mas aku pengen ketemu. Aku lagi ada masalah dan ini semua gara-gara si Arum istri kamu yang dekil itu," ucap Aline dengan suara serak akibat menangis.
"Lho bukanya Arum sekarang udah cantik lagi ya, dia nggak dekil lagi kok sekarang," balas Arka keceplosan memuji istrinya.
"Apa? Kamu bilang dia cantik, Mas?"
"Eh, anu nggak kok. Ya udah, jam makan siang nanti aku ke rumah kamu deh, mau makan apa nanti kamu?"
"Aku mau soto betawi aja."
"Oke, sampai jumpa ya."
Arka segera mematikan sambungan telepon itu dan melanjutkan pekerjaanya.
Akhirnya jam makan siang yang ditunggu oleh Arka telah tiba, pria itu segera melangkah lebar menuju ke parkiran dan melajukan mobilnya ke rumah Aline. Tak lupa mampir untuk membeli soto betawi pesanan kekasih gelapnya itu. Tak perlu waktu lama untuk tiba di rumah Aline karena jaraknya yang cukup dekat dengan kantor tempat Arka bekerja.
Aline yang mendengar suara mobil berhenti di depan rumahnya langsung membukakan pintu. Mata Arka berbinar melihat sang kekasih menyambutnya dengan mengenakan midi dress motif bunga yang membuat penampilan Aline kian mempesona di mata Arka.
"Hai sayang." Arka langsung mengecup mesra kening kekasihnya.
"Hai, ayo masuk. Aku udah lapar," ajak Aline menggandeng tangan Arka ke meja makan.
Keduanya segera menyantap makanan yang dibawa oleh Arka kemudian mengobrol di ruang keluarga. Kepala Aline bersandar nyaman di bahu kekar milik Arka.
"Katanya tadi kamu ada masalah? Masalah apa sih? Kok sampai bawa-bawa Arum segala?" tanya Arka yang tengah membelai lembut puncak kepala Aline.
Mendengar pertanyaan dari Arka, Aline menegakkan kepala dan langsung mengerucutkan bibirnya.
"Asal kamu tahu aja ya, Mas. Istri dekil kamu itu udah bikin aku dipecat dari caffenya Johan. Dan dia juga yang akan gantiin posisiku sebagai manager di sana."
Cerita Aline berhasil membuat Johan terkejut. Setelah merubah penampilanya, kini wanita itu juga telah kembali ke dunia kerja seperti sebelum menjadi istrinya.
"Apa? Kok bisa? Memangnya kamu ada ngelakuin kesalahan apa sampai dipecat, sayang?
"Aku nggak salah apa-apa, Mas. Jangan-jangan istri kamu itu pacaran lagi sama si Johan, makanya Johan mau mecat aku demi si dekil itu," bohong Aline memanas-manasi Arka.
Tangan Arka mengepal mendengar ucapan Aline, apakah mungkin seorang Arum bisa semudah itu selingkuh dari dirinya. Namun, sebisa mungkin Johan berusaha untuk menyembunyikan kecemburuanya dari Aline.
"Ya udah nggak usah dipikirin, kan masih ada aku. Kamu juga bisa nyari kerjaan yang lain kan," ucap Arka untuk menenangkan wanita di sampingnya.
"Iya, tapi aku minta uang donk, Mas. Make up aku habis, nanti kalau aku jadi nggak cantik gimana?" rengek Aline yang sudah kembali bergelayut manja di lengan Arka.
"Iya, iya aku transfer lima juta buat kamu ya."
Lelaki itu merogoh gawainya dari dalam saku. Jari-jarinya menari dengan lincah di atas layar untuk menemukan aplikasi m-banking.
"Lhoh, kok saldonya ilang sepuluh juta," celetuk Arka setelah berhasil membuka aplikasi m-banking di dalam telepon pintar miliknya.
"Hah? Ada apa, Mas?"
"Aku udah transfer lima juta ke rekening kamu, tapi ini saldoku ilang sepuluh juta lho, Lin," keluh Arka yang masih menatap bingung ke arah layar handphone ditanganya.
"Paling juga Arum yang ngambil, Mas. Siapa lagi coba," tuduh Aline secara sengaja.
"Nggak mungkin, selama ini Arum nggak pernah ngambil uang tanpa seizinku. Tapi, yang tahu pin m-banking dan ATM-ku emang cuma dia sih."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 80 Episodes
Comments