Dan itu semua disengaja oleh Jiel. Sengaja mengajak Luna untuk ketemu mantan majikannya seperti yang dibilang oleh keluarga Robby kepada dirinya.
Dengan sedikit memicing, Robby memandang mantan istrinya.
Robby pun tepuk tangan.
"Wah, ternyata mantan pembantuku yang melarikan diri kerja ikut kamu Jiel?" ucap Robby menyindir Luna.
"Kalian saling kenal?" kata Jiel dan Robby pun terbahak.
"Tentu saja gue kenal sama dia. Luna ini mantan pembantuku" jelas Robby.
"Hati-hati loh, dia suka melarikan diri dari tanggung jawab" ucap Robby.
"Kerja nggak beres sudah main tinggal aja" imbuh Robby terus saja memprovokasi Jiel.
"Kok bisa-bisanya dia gabung kerja di perusahaan kamu?" tebak Robby karena seragam yang dipakai Luna.
"Paling banter pasti bagian bersih-bersih. Kalau itu sih emang passion dia, nggak jauh-jauh dari pembantu" olok Robby.
"Anda mengenal ku tuan? Perhatian sekali?" sela Luna.
Robby bukan apa-apanya lagi. Luna tak mau tertindas lagi.
"Heh, jangan sombong kamu. Ingat lo pernah jadi pembantu di rumahku" ujar Robby menekan kata pembantu di ucapannya.
"Pembantu gratisan bertopeng pernikahan. Begitukah?" balas Luna.
"Kau..." Robby mendekat hendak memintir Luna.
"Heiii... Jangan kasar dong sama cewek. Bagaimanapun Luna anak buahku sekarang" lerai Jiel.
"Lun, ikut aku ke ruang rapat!" ajak Jiel.
"Tapi tuan?" Luna hendak menolak tapi tangan Jiel dengan santainya menarik dia ikutan masuk ke ruangan yang sejuk itu.
"Catat semua yang aku katakan" perintah Jiel pada Luna saat semua staf sudah masuk ruangan.
Terlihat Ranti duduk di samping Robby. Pandangan matanya fokus tertuju ke arah Luna yang tengah duduk serius di samping Jiel yang tengah memimpin rapat.
Ranti menghampiri Luna yang tengah menyelesaikan notulen hasil rapat.
"Apa kabar mantan istri?" sapa Ranti lirih di telinga Luna.
Luna pun mendongak, sudah mengira jika itu suara istri Robby.
"Baik" singkat Luna.
"Cih sombong, mentang-mentang sudah kerja. Jangan lupa, bayar hutang orang tua kamu tuh ke suamiku" Ranti menekan kata suami yang disebutnya.
"Aku tau kok hutang musti dibayar. Tapi beri aku waktu untuk ngelunasin itu" balas Luna.
"Utang segitu aja masih minta tempo. Ingat sudah setahun lebih loh" sela Robby.
Sementara Jiel masih sibuk dengan staf lain membicarakan terobosan baru agar mall itu tetap ramai pengunjung.
"Ngapain mereka bertiga?" gumam Jiel saat pandangannya mengarah ke Luna yang tengah bersama dengan Robby dan Ranti.
Jiel mendekat ikutan gabung dengan Luna.
"Ada apa nih? Seru sekali?" basa basi Jiel.
"Nggak kok, cuman ngingetin Luna aja kalau dia masih ada hutang ke gue" ujar Robby dan berlalu pergi diikuti Ranti.
Melihat Luna yang masih pakai seragam kerja, Jiel memanggil salah satu stafnya dan membisikkan sesuatu.
Kini tinggal Jiel dan Luna di ruangan itu.
"Lun, aku dengar tadi kamu bilang pembantu gratisan bertopeng pernikahan. Apa maksudnya?" tanya Jiel.
"Idih, tuan bos kepo ya? Itu mah urusan Luna bos," sanggah Luna.
Jiel diam mencerna perkataan Luna yang memang ada benarnya.
Tapi tetap saja Jiel penasaran dengan pribadi Luna yang hampir mirip dengan gadis kecilnya.
"Tuan bos, boleh nggak aku cari angin bentar?" pamit Luna.
"Cari angin?" tanya Jiel yang sebelumnya sibuk mengirimi beberapa pesan ke anak buahnya.
"Keliling mall kali pertama" bilang Luna dan Jiel pun mengijinkan.
Luna beranjak tapi saat hendak keluar, "Lun, ganti baju kamu" suruh Jiel.
"Ganti? Mana aku bawa" jawab Luna penuh keheranan.
Bersamaan itu staf yang disuruh Jiel tadi masuk dengan membawa sebuah paper bag.
"Kasih dia pak" perintah Jiel.
"Baik tuan" staf itu melangkah ke arah Luna.
"Silahkan nona" kata staf itu dengan sopan.
Meski Luna hanyalah seorang cleaning service, tapi karena datang dengan sang bos besar maka staf itu pun sopan kepada Luna.
"Makasih" seru Luna dan tak jua beranjak. Luna merasa tuan bos baik padanya.
"Kok diam? Katanya mau keliling" kata Jiel.
"He...he..." Luna terkekeh memperlihatkan deretan gigi seri depan yang rapi. Jiel nampak terpesona dengan senyum tulus itu.
Luna masuk ke toilet untuk berganti baju.
Jiel dibuat tak percaya dengan tampilan Luna saat telah ganti baju. Meski tanpa polesan make up, Luna sangatlah cantik sekarang. Cantik alami. Apalagi dengan dilengkapi gaya hijab kekinian.
"Aku ikut" seru Jiel.
"Loh? Katanya tuan mau rapat lagi?" tatap Luna ke arah Jiel yang sudah berdiri di depannya pas.
Jiel menggandeng Luna tapi segera ditepis oleh Luna.
"Jangan main pegang aja tuan" ucap Luna.
"Kenapa?" sergah Jiel.
"Nggak usah aku jelasin, harusnya tuan sudah tahu. Kita nggak ada hubungan apa-apa. Suami istri juga bukan" jelas Luna.
"Hhhmmm, jadi aku musti nikahin kamu dulu biar bisa gandeng?" ujar Jiel menimpali.
"Ya nggak gitu tuan. Susah ngejelasinnya" imbuh Luna dengan sedikit sewot.
"Bilang aja kita bukan muhrim. Gitu kan maksud kamu?" sela Jiel.
"Nah, itu lah" kembali Luna melihatkan gigi rapinya.
Setelah capek keliling mall, kini mereka duduk di meja kosong area foodcourt.
Melihat Luna dengan wajah ceria, seakan puas bisa mengeliling mall membuat Jiel senang. Meski kaki Jiel terasa pegal.
Dengan mengikuti Luna, Jiel bisa tahu lebih detail tentang apa yang terjadi di lapangan.
"Mau pesan apa?" tanya Jiel. Luna masih nampak bingung melihat banyaknya menu yang ada di sana.
Di saat Luna tengah sibuk dengan buku menu, sebuah pesan masuk ke ponsel Jiel. Pesan dari orang kepercayaan Jiel.
Owh, seperti ini kejadiannya. Kata Jiel dalam benak.
Jiel pun mengetikkan sesuatu untuk segera ditindak lanjuti oleh si pengirim pesan.
'Aku mau malam ini juga sudah dapat jawaban, karena besok aku musti balik ke ibukota' suruh Jiel dalam ketikan.
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
***To be continued, happy reading gaiisssss
Vote, like, komen tetep ditunggu loh 🥰***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 96 Episodes
Comments
Tania
lanjut
2023-05-30
2
Anonymous
lanjuttt thorrr mangatsss kalo bisa sehari 3 bab keren
2023-05-30
2