Jiel langsung melajukan mobil saat Luna telah diturunkan di ujung gang seperti saat menjemput tadi.
Luna pun balik ke kos dengan jalan kaki.
Hampir jam sepuluh malam dia baru masuk kamar.
"Diajak lembur ke mana Non?" tanya Bunga tiba-tiba.
"Idih, buat kaget aja" seru Luna tersenyum ke sahabat barunya itu.
"Yuk ah tidur. Sudah malam. Besok pagi-pagi sudah kerja lagi" tukas Luna.
Karena tak ada yang istimewa untuk diceritakan ke Bunga.
Bunga yang penasaran tentu saja mengikuti Luna.
"Apaan Bung?" Luna membalikkan badan.
"He...he... Aku penasaran" Bunga memperlihatkan gigi putihnya yang berderet.
Luna membuka pintu kamar dan Bunga pun mengikuti masuk ke kamar Luna, yang meski kecil tapi nampak rapi itu.
"Nggak ada yang perlu diceritain. Aku tadi cuman diajak makan malam di rumah tuan bos" bilang Luna.
"What? Kamu ini bego apa gimana sih? Kalau seorang laki-laki ngajakin makan malam sama keluarganya, pasti itu ada yang istimewa" seru Bunga.
"Jangan-jangan bos lo menyimpan perasaan ke kamu Lun?" lanjut Bunga.
"Issshhh kamu itu ngomong apaan sih Bung, nggak mungkin ah. Kelas kita itu kalah jauuuuuhhhhh sama tuan bos" Luna tak mau berangan-angan terlalu jauh, ntar kalau jatuh akan sakit.
"Aku tuh tadi cuman dijadiin tameng, agar tuan bos tak lagi dijodohkan sama cewek pilihan orang tuanya. Itu sih" terang Luna.
"Hari gini, dijodohkan? Seperti jaman Siti Nurbaya aja" tukas Bunga.
"Biasalah Bunga, keluarga kaya pasti ingin dapat menantu dari keluarga kaya juga. Jadi yang kaya akan tambah kaya" Luna tersenyum kecut.
"Ha...ha... Kita tuh juga kaya Luna. Kaya hati" hibur Bunga.
"Betul... Betul... Betul..." Luna menirukan kata-kata yang jadi jargon film kartun di tivi yang saben hari tayang itu.
Bunga menguap.
"Tuh kan ngantuk. Tidur sana gih!" suruh Luna.
.
Aris sengaja menunggu kedatangan Luna.
"Lun, lo ditungguin bu Mirna di ruangannya" bilang Aris.
"Aku?" Luna menunjuk dirinya. Aris pun mengangguk.
"Kira-kira ada apa ya kak? Apa aku berbuat kesalahan?" Aris hanya mengedikkan bahu, itu artinya dia juga tak tahu.
"Mendingan kamu ke sana aja dulu" suruh Aris.
Luna melangkah dengan tergesa ke ruangan bu Mirna yang berada di dekat gudang itu.
"Selamat pagi bu" sapa Luna.
"Pagi. Duduk!" tegas bu Mirna.
"Luna, tadi ada pesan dari bagian HRD. Mereka ingin memperbaiki kontrak kerja yang kemarin kamu tanda tangani" seru bu Mirna.
"Apa ada yang salah?" telisik Luna.
"Nggak ada, tapi ada beberapa pasal yang terlewat" lanjut atasan Luna itu.
Luna membaca pasal-pasal yang ditambahkan. Tapi semakin dibaca, Luna merasa seolah dipaksa untuk menyetujuinya.
"Kalau saya tidak setuju bagaimana bu?" tanya Luna.
"Maka kamu harus bayar pinalti dengan mengganti sejumlah uang. Karena kamu menyalahi kontrak yang kamu tanda tangani sebelumnya" jelas bu Mirna.
"Hah? Apa itu artinya jika saya mengundurkan sewaktu-waktu maka akan kedenda?" bu Mirna langsung mengangguk.
"Denda tak akan berlaku, jika kamu akan diangkat sebagai pegawai tetap nantinya" kembali bu Mirna menjelaskan.
"Cepatlah Luna! Aku masih ada kerjaan lain di lantai tiga" ujar bu Mirna.
"Kalau boleh tahu, denda yang harus dibayar jika menyalahi kontrak?" Luna minta penjelasan.
"Itu bagian HRD yang tahu. Biasanya sih tergantung jabatan. Kalau sekelas kita sih, bisa sampai puluhan juta" kata bu Mirna tegas.
"Owh, begitu ya bu. Banyak juga ternyata" kerja aja belum dapat gaji, ngeri juga kalau dapat pinalti sebanyak itu. Maka Luna pun buru-buru menandatangani berkas itu.
Bu Mirna sedikit menaikkan sudut bibirnya saat Luna menandatangani berkas-berkas di depannya.
"Oke, habis ini akan aku serahin ke HRD. Sebaiknya kamu segera naik, jangan sampai keduluan tuan muda" Luna pun bergegas pergi dari ruangan bu Mirna.
Luna datang terburu dan hendak ke pantry. Karena di sana tempat loker berada.
"Hei udik" panggil Laura yang ternyata datang lebih pagi dari biasanya.
'Sabar Lun, pasti dia hanya ingin menyapa kamu yang cantik ini' hibur Luna untuk dirinya sendiri.
"Lo nggak dengar ya?" nada bicara Laura naik satu oktaf.
"Siapa yang anda panggil miss?" barulah Luna menoleh.
"Kamu... Siapa lagi emangnya" tersirat nada jengkel di suara Laura.
"Nama saya Luna dan bukan udik" tukas Luna.
"Gue nggak perduli. Pagi ini lo pindahin berkas-berkas yang ada di samping meja itu ke gudang" Luna melihat gunungan berkas di sana.
"Baik miss" Luna beranjak dan hendak menaruh tas nya terlebih dahulu.
"Lo disuruh apa sama nek lampir di sana?" sambut Aris.
"Husssstt jangan keras-keras" larang Luna dengan menaruh telunjuknya depan mulut.
Luna mengatakan apa yang diperintahkan miss Laura ke Aris.
"Lo kerjain aja dulu. Ntar selesai bersih-bersih aku bantuin" ujar Aris.
Luna pun mengangguk. Senang juga punya teman kerja yang baik seperti Aris.
Saat Luna hendak mengangkat kardus berkas, bertepatan dengan itu datang wanita cantik yang semalam ditemui oleh Luna.
"Laura, ada yang ingin aku tanyakan sama kamu" serunya saat di dekat meja sekretaris tuan bos.
"Loh, nyonya besar. Pagi-pagi kok sudah ke sini? Tuan muda saja belum datang" Laura heran.
"Apa kamu tahu siapa wanita yang sedang dekat dengan Jiel?" tanyanya.
Luna masih bisa mendengarkan semua.
"Nggak ada nyonya. Setahu saya tuan muda tak pernah kencan dengan gadis manapun" terang Laura.
"Jujurlah Laura" suruh sang nyonya.
"Kalau memang ada, pasti saya akan langsung lapor nyonya" lanjut Laura.
Luna melangkah menjauhi kedua wanita itu sambil menenteng berkas yang hampir separuh menutupi wajahnya menuju tangga.
"Oh ya Laura, sejak kapan ada petugas bersih-bersih cewek di lantai ini?" ternyata keberadaan Luna pun tak luput dari pandangan nyonya besar.
"Sejak kemarin, emang kenapa nyonya?" telisik Laura.
"Apa dia baru?" arah mata nyonya besar mengarah tepat ke punggung Luna yang berjalan menjauhi mereka.
Tepat saat Luna turun tangga, Jiel keluar dari pintu lift.
"Wah, petugas intelijen sudah nyampai aja di sini?" sindir Jiel ke sang mama.
"Apaan sih?" kata mama sewot.
Sementara Laura dengan sejuta tanyanya.
"Mama nggak ada kerjaan? Sudah sampai sini saja? Atau mama mau gantiin posisi aku, biar saben hari bisa nggosip sama Laura?" olok Jiel ke sang mama, membuat mama semakin sewot dibuatnya.
Tak lama, Valen ternyata juga datang ke kantor Jiel membuat mood Jiel langsung turun drastis. Wajah Laura pun juga berubah jutek.
"Ngapain lo ke sini?" kata Jiel dengan nada ketus.
"Bolehlah aku mampir, kebetulan aku lewat dekat sini" bilang Valen.
"Sekali-kali melihat perusahaan calon suami" ucap Valen tersenyum penuh makna.
"Calon suami?" Laura menunjukkan rasa tak senang.
Di tengah obrolan tak kondusif itu, Luna melewati mereka berempat dengan membawa secangkir kopi untuk sang tuan bos.
Melihat Luna, ekspresi Jiel langsung saja berubah. Dan itu tak lepas dari pengamatan ketiga wanita di depannya.
Nyonya besar dan Valen sepertinya tak mengenali Luna saat pakai pakaian kerja.
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
To be continued, happy reading
Like, komen, vote dan jangan lupa kasih bintang lima.
Makasih buat yang masih stay tune in my novel. 🥰
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 96 Episodes
Comments
Atik Marwati
aman lun .. mereka ga ngenalin kamu...
2024-01-13
1
Tania
lanjut
2023-05-28
3