Sekembalinya dari mall, Luna hanya menenteng paper bag yang diberi oleh sang bos tadi.
"Jangan lupa ntar malem kamu pakai" seru Jiel saat mereka keluar lift. Jiel melangkah terlebih dulu meninggalkan Luna yang masih bengong.
Luna keluar saat pintu lift hampir saja menutup.
"Huh, untung nenek lampir nggak ada di mejanya" gumam Luna melangkah cepat melewati meja miss Laura.
Paper bag harus segera masuk ke tas. Niat Luna.
Tapi kehebohan terlihat di pantry.
"Apa-apaan ini kak?" tanya Luna heran.
Semua alat yang dipegang oleh Luna di mall tadi kini sudah berpindah di pantry yang tak begitu luas.
"Lun, kok malah kamu minta ini semua? Bukannya tadi cuman mau beli alat bersih-bersih? Wah bisa nambah nih kerjaan kita" ujar Aris saat teknisi dari toko memasang alat-alat yang baru dibeli.
"Aku juga nggak tahu. Malah tadi nggak jadi beli apa-apa. Tahu nggak kak, semuanya mahaĺ banget" Luna menimpali.
Aris menyentil kening Luna yang baru dikenalnya seharian ini. Luna bagai adik barunya sekarang. Aris yang biasa kerja sendiri, dengan kehadiran Luna tentu saja senang.
"Awh, sakit kak" tukas Luna.
"Kau itu sadar nggak sih, kamu tadi barusan keluar sama siapa? Terang aja semua dibeli oleh tuan muda. Alat segini banyak nggak ada artinya dengan harta tuan muda" jelas Aris.
Luna memelintir ujung hijabnya, baru nyadar kalau tuan mudanya the real sultan...he...he...
"Sori kak, lupa" Luna terkekeh.
Drama bongkar pasang alat di pantry selesai juga.
"Eh kak, aku kok nggak lihat miss Laura saat aku balik tadi?" tanya Luna.
"Saat kamu keluar, miss Laura juga pergi. Hati-hati sama dia, gosipnya dia mata-mata nyonya besar. Kangen ya?" bilang Aris bercanda.
"Idih nggak usah nggosip yang enggak-enggak. Dosa atuh. Yang penting kerja kita benar, alhamdulillah kak" Luna mengingatkan.
"Sippp" tukas Aris.
"Sudah jam tiga nih, yuk siap-siap pulang" ajak Aris.
"Oke kak" Luna memberesi perbekalan yang dibawanya tadi pagi.
"Makanan kamu dibuang aja. Nggak enak sudah sedari tadi" kata Aris.
"Jangan kak. Mubadzir. Kan masih bisa dimakan. Aku bungkus saja" ujar Luna.
"Terserah kamu dech"
Mereka berdua meninggalkan tuan muda sendirian di lantai teratas.
"Mau kemana?" tanya Aris saat Luna melangkah menuju lift.
"Itu lift khusus, nggak setiap karyawan bisa lewat situ. Kita lewat tangga saja untuk turun satu lantai. Abis itu kita baru bisa naik lift" imbuh Aris menjelaskan.
Luna berpikir, makanya tadi saat turun bersama tuan muda nggak ada sekalipun karyawan yang bareng bersama mereka.
Dan saat berjalan ke arah mobil pun juga tak ada siapapun di sana, hanya ada mobil milik Jiel.
"Bye Luna sampai ketemu besok. Hati-hati" seru Aris.
Kini Luna sudah berada dalam angkot yang trayeknya melewati kos tempat dia tinggal.
Saat asyik melamun, ponsel Luna berdering dengan keras.
Luna saja terlonjak, apalagi yang lain.
Luna memicingkan alis saat melihat nama kontak yang tertera. Prince calling.
"Siapa ini? Aku kan nggak pernah namai kontak ponsel dengan nama yang aneh begini" gumam Luna heran.
"Neng cepetan angkat tuh panggilan! Berisik tahu dengar suara ponsel jadul kamu" ucap salah satu penumpang ibu-ibu di samping Luna.
Luna menekan layar ponsel berkali-kali dan barulah panggilan itu tersambung.
"Halo" sapa Luna.
"Lama amat ngangkatnya? Share lok sekarang, biar aku nggak kesulitan nyari tempat kamu tinggal" suara di ujung ponsel memekakkan telinga Luna.
Luna mematikan panggilan yang berisik itu.
Dia kan bos saat aku di kantor. Enak aja main telpon semaunya sendiri. Gerutu Luna dalam hati.
"Share lok nya mana" pinta Jiel di sebuah notif pesan ponsel Luna.
Tanpa ditambahi tulisan apapun, Luna bagikan lokasi terkini ke nomor Jiel.
Hari pertama bekerja sungguh membuat Luna capek. Bukan capek karena kerjaan, tapi capek karena berasa diteror oleh sang bos muda.
Luna menghampiri Bunga yang rebahan di kamarnya.
"Hei Bung, lagi ngapain?" Luna ikut rebahan di kasur.
"Libur gue hari ini" jawab Bunga.
Luna mengeluarkan paper bag yang tadi disembunyiin di dalam tas.
"Apaan itu?" tanya Bunga.
"Baju" Luna membukanya.
"Wowwww...bagus sekali Luna" puji Bunga.
"Eh, lo dapat darimana? Jangan suka yang aneh-aneh loh Lun. Daripada ntar berakhir di bui. Ngeri gue" kata Bunga setelah melihat bandrol harga yang tertera di baju.
"Issshhh apaan sih. Pasti lo ngira gue nyuri. Iya kan? Aku masih bisa kerja tau" jawab Luna tak terima.
Luna menceritakan semua kejadian hari pertama kerja hari ini.
"Ntar bantuin ya pakai ini" Luna mengangkat bajunya ke atas.
"Siap" balas Bunga antusias.
"Tapi salah nggak sih kalau aku ikut tuan bos" kata Luna ragu.
"Lah, lo kan dapat uang lembur. Lumayan lah bisa dipakai buat nambah biaya hidup" ujar Bunga menimpali.
"Wah, betul juga apa kata kamu. Semua tergantung niat. Kalau diniati buat kerja mah bismillah aja" tukas Luna.
"Nah kalau yang itu, lo pasti lebih paham daripada gue deh Lun" imbuh Bunga.
Luna tersenyum.
.
Sementara di mobil, Jiel sedang mengamati layar ponsel memastikan lokasi yang dikirim oleh Luna tadi.
"Beneran ini lokasinya?" gumam Jiel setelah menepikan mobil.
"Tapi kok hanya jalan besar aja?" Jiel merasa aneh. Dan Jiel tekan nomor kontak Luna. Beberapa kali belum tersambung juga.
"Wah nih cewek keterlaluan dech. Beraninya mengabaikan panggilan aku. Padahal yang lain aja minta nomor nggak pernah aku kasih" kata Jiel mulai jengkel.
Baru panggilan ke sembilan tersambung.
"Maaf tuan bos, barusan selesai mandi" sapa Luna tanpa kata halo tapi membuat otak Jiel sudah traveling kemana-mana.
"Rumah kamu yang mana, aku sudah di lokasi yang kamu kirim" jelas Jiel.
"Tunggu di situ saja tuan. Aku yang keluar" jawab Luna.
Setengah jam Jiel dibuat menunggu oleh Luna.
Entah, semua hewan di kebun binatang telah diabsen satu-satu oleh Jiel selama menunggu Luna.
Baru ini Jiel merasa dikerjain oleh seorang cewek.
Terdengar ketukan pintu mobil. Tentu saja Luna ingat dengan mobil yang membawanya tadi siang.
Jiel malah melongo saat memandang gadis berhijab itu.
Sapuan make up yang tidak terlalu tebal membuatnya terlihat cantik natural.
Baju menjuntai dan tak melihatkan lekuk tubuh menambah aura Luna.
"Tuan bos, jadi pergi? Kalau tidak mending aku balik aja" Luna hendak membalikkan badan tapi keburu dicegah Jiel.
"Masuk!" tegas Jiel tanpa basi basi.
Baru dipakaikan baju seperti itu saja, penampilan dia nampak berkelas sekali. Batin Jiel.
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
To be continued, happy reading
Author tunggu like, komen, vote. Bintang lima juga boleh dech.
*S**alam sukses buat kalian*.
🥰
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 96 Episodes
Comments
Atik Marwati
ya iyalah emang dasarnya Luna anak orang kaya...😅😅
2024-01-13
1
Tania
sudah aku like, komen, vote tho. up lagi dong
2023-05-28
3
Warijah Warijah
Siapakah Aluna itu Thor, karena Ortunya kn nyuruh pergi sejauh2nya agar tdk bertemu dengan orang yg pernah datang kerumah menemui ortunya..apakah teman masa kecilny Jiel ?
2023-05-24
3