Luna muncul saat mereka semua telah pergi. Rombongan orang berdasi dengan mobil mewah.
Tentu saja kedatangan Luna membuat kaget kedua orang tuanya. Pak Hakam dan bu Tutik.
"Kapan kamu datang nak? Mana suami kamu?" wajah pak Hakam belum hilang dari keterkejutan.
"Aku sudah cerai dengan kak Robby" bilang Luna.
"Cerai?" satu kata yang disebutkan oleh bu Tutik, menanggapi pernyataan Luna.
"Iya, mereka hanya membutuhkan aku sebagai pembantu dan bukan istri bu" ujar Luna menambahi.
"Maafkan ayah dan ibu Nak, sudah membuat repot kamu selama ini" kata bu Tutik dengan memeluk sang putri.
"Maafkan aku juga bu" mereka berdua saling memeluk.
"Luna, bukannya ayah dan ibu tak senang kamu balik ke rumah. Tapi alangkah lebih baik jika kamu tak ada di sini" kata ayah dengan nada sedih.
Luna tentu saja kaget dengan ucapan sang ayah.
"Kenapa yah? Aku ingin melaporkan penipuan keluarga Robby yang telah menindas kita dengan perjanjian utang yang berat sebelah itu" tukas Luna.
"Itu tak penting lagi" ungkap ayah.
"Keselamatan kamu lebih penting. Jadi pergilah ke tempat di mana ayah dan ibu tak bisa menemukan kamu lagi" imbuh ayah.
"Hah?" Luna memandang aneh kedua orang tuanya.
"Iya nak, kamu akan akan aman jika jauh dari kami. Pergilah!" perkataan ibunya menguatkan apa yang dikatakan oleh pak Hakam.
"Tidak. Aku tak mau pergi" tolak Luna.
"Nak, percayalah. Kami berdua sangat menyayangimu. Jadi pergilah! Dan bawa ini!" kata ibu menyuruh Luna sambil memberikan sesuatu.
"Tapi katakan dulu! Kenapa kalian mengusir aku seperti ini? Apa karena aku anak angkat kalian?" kata Luna dengan mimik muka sedih.
"Bukan nak, kami sangat tulus menyayangi kamu. Bahkan kamu sudah kami anggap anak kandung sendiri" bilang ayah.
"Tapi kenapa ayah sama ibu tega mengusir aku?" tukas Luna.
"Pak, sepertinya sudah waktunya kamu ceritakan semua ke Luna" bilang ibu dengan menatap iba ke suaminya.
"Usia Luna belum memenuhi bu. Tunggu dia berusia dua puluh satu tahun. Itu adalah amanat tuan besar. Saya tak mau menyalahi itu" kata ayah kekeuh tak menceritakan.
"Tapi Luna wajib tahu yah" sela ibu.
"Tapi tetep saja, ayah tak mau melanggar pesan tuan besar"
'Siapa lagi ini yang dibicarakan ayah sama ibu?' batin Luna.
"Tuan besar? Siapa yang ayah sama ibu bicarakan?" Luna semakin penasaran.
"Yah" seru ibu Tutik.
"Jangan paksa ayah untuk melanggar amanat bu. Tinggal dua tahun kurang, kita bisa beritahu Luna" kata ayah tetap tak mau menceritakan semua.
"Untuk sementara kamu pergi saja dari rumah ini nak. Saat usia kamu dua puluh satu tahun kembalilah. Saat itulah waktu yang tepat untuk kamu tahu semua" tegas ayah.
Bu Tutik mengelus pelan bahu Luna.
"Turutilah apa kata ayah. Percayalah semua demi kebaikan kamu nak" ujar ibu.
"Jaga amanat ibu tadi dan jangan sampai hilang" pesan ibu.
"Lekas pergilah!" suruh ayah.
"Akan kemana aku pergi yah" luruh sudah air mata Luna.
Tempat tujuan akhirnya untuk bersama ayah dan ibu malah berujung pengusiran.
"Semua demi keamanan kamu nak" kembali ibu mengelus pelan puncak kepala Luna.
"Kebaikan apa bu? Nyatanya aku diusir oleh kalian...huuuu...." pecah lah tangis wanita sembilam belas tahun itu.
"Dua tahun lagi, kamu akan tahu jawabannya nak. Bersabarlah!" imbuh ayah.
Maka semakin meledaklah tangis Luna.
"Ayah harus menjaga amanat itu sampai kapanpun. Meski nyawa ayah taruhannya" kata ayah lantang.
"Beri kesempatan ayah untuk membuktikan kesetiaannya nak. Ayah dan ibu berjanji, dua tahun lagi kamu akan tahu semua" tangis tak tega ibu pun akhirnya pecah juga.
Bu Tutik dan Luna saling berpelukan.
Meski belum paham apa yang dibicarakan oleh ayah dan ibunya, sebagai anak yang berbakti Luna pun menyetujui untuk pergi dari rumah yang selama ini memberi kenangan masa kecil padanya.
"Besok saja Luna perginya" kata Luna mencoba menawar.
"Tidak nak, lebih cepat akan lebih baik" seru ayah.
Luna hanya membawa beberapa helai baju di dalam tas, dan belum sempat membongkarnya. Tas yang dia bawa dari rumah mantan mertuanya.
Ibu lah yang menyerahkan tas yang dibawa Luna tadi.
"Ibu ada sedikit uang. Pakailah dengan bijak untuk biaya hidup kamu selama di luar sana" ujar ibu menyerahkan segepok uang ratusan ribu untuk putri semata wayangnya.
"Ibu ini kebanyakan" tolak halus Luna.
"Nggak nak, bawa aja semua. Itu saja masih nggak ada apa-apanya dibandingkan..." bu Tutik menjeda ucapannya.
"Dibandingkan apa bu?" kejar Luna.
"Sudahlah nak, lekas saja kamu pergi!" suruh ayah.
"Ayah?" tatap Luna mengharap belas kasih sang ayah.
"Luna" tatap tajam ayah.
"Pergi!" suruh ayah tegas dan tanpa belas kasih.
Luna semakin deras air matanya.
"Ayah?" panggilan Luna semakin menyayat hati.
"Pergi Luna" ayah mengusir Luna tanpa melihat ke arah sang putri. Sedih pastinya.
Luna melangkah perlahan dengan menenteng tas lusuh miliknya.
"Ibu, Luna pergi" ucap Luna lirih sekaligus pamitan.
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
To be continued, happy reading
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 96 Episodes
Comments
lovely
smoga dapat jodoh yg baikkk
2023-10-27
2