Tanpa banyak kata Luna keluar dan hendak pergi ke pantry. Belum juga sampai, dia telah dihadang oleh Laura.
"Siapa kamu? Berani-beraninya menggoda Jiel!" ucap Laura sinis.
"Aku Aluna Mahira, karyawan baru bagian kebersihan di lantai ini" jawab Luna sesuai job disk yang diberikan padanya.
"Owh, hanya cleaning service ternyata. Beraninya kamu menggoda tuan muda di kantor ini" ejek Laura.
"Maaf aku tak menggoda, aku ke sana karena ingin mengantar minuman tuan muda" jelas Luna.
"Banyak bicara juga kamu. Siapa yang berani nempatin karyawan baru di sini?" bentak Laura.
"Maaf miss, saya hanya menjalankan tugas" Luna balik kanan dan hendak berjalan ke arah pantry.
Belum sempat melangkah, bahu Luna telah dicengkeram oleh Laura.
"Sakit miss" keluh Luna.
"Itu hukuman kamu karena menggoda Jiel" seru Laura.
Luna pergi dengan muka meringis. Sakit juga cekalan Laura barusan.
"Aku harus nelpon si Mirna, beraninya dia naruh petugas kebersihan cewek di lantai ini" gumam Laura dengan berjalan menjauhi keberadaan Luna.
Luna masuk pantry dengan mimik muka tertekuk.
"Kenapa? Ketemu miss Laura?" telisik Aris. Dan Luna pun mengangguk.
"Jangan didengerin omongannya. Dia memang begitu. Aslinya dia baik, tapi songong sih" ujar Aris tergelak.
"Baik?" tanggap Luna.
"Baik, tapi lebih banyak jahatnya sih" imbuh Aris dengan candaannya.
"Bawa bekal nggak? Aku mau turun, mau nitip nggak?" tawar Aris.
"Enggak sih, aku belum tahu kebiasaan di sini" jawab Luna.
"Nitip nggak?" seru Aris.
"Boleh. Berapaan sih?" tanya Luna.
"Sepuluh ribu sama minum. Nyari yang pas di kantong. Mau nggak?" ucap Aris dan Luna mengiyakan.
Sepeninggal Aris, telpon antar ruangan itu berbunyi.
"Cepat ke ruanganku!!!" perintah terdengar di sana.
"Issshhh menyebalkan. Lagaknya sudah seperti bu Marini dan keluarga kak Robby. Sukanya main perintah" Luna ngedumel bagai tawon yang sedang cari sumber madu.
.
Sementara Jiel sedari Luna keluar ruangannya belum pegang berkas sama sekali.
Jiel malah sibuk melihat dari layar komputer tentang apa yang dikerjakan oleh karyawan baru itu.
Mulai dirinya dirundung oleh Laura dan meringis kesakitan saat berjalan menuju pantry.
Bahkan Jiel juga melihat Luna yang tengah ngobrol dengan rekan satu lantai nya.
Saat melihat Aris keluar entah kemana, buru-buru Jiel menelpon ruang pantry dan memanggil karyawan baru itu.
Jiel sebenarnya ingat di mana dia pertama kali bertemu Luna. Tapi tak dia utarakan kepada gadis itu.
Bahkan kemarin dia sengaja mendatangi bagian HRD, karena dilihatnya gadis itu berjalan bersama pelamar lain.
Jiel yang saat itu hendak rapat dengan kolega di luar perusahaan bersama Laura malah menyempatkan mampir ke bagian HRD dan sengaja masuk ke sana saat tiba giliran Luna.
Gadis itu sudah mengusiknya sejak pertama kali bertemu. Bahkan Jiel yang sibuk saat itu menyempatkan bertandang ke rumah Robby tapi malah tak didapatinya Luna. Tari adik Robby yang ditanya pun tak memberitahu alamat Luna.
Jiel dengan situasi hati yang tak baik sengaja duduk di depan Luna, saat gadis itu juga akan duduk.
Jiel tengah direpotkan dengan urusan mama yang terus saja memaksanya untuk menerima perjodohan dengan salah satu cucu keluarga Probowaskito membuat dia malas pulang dan sering tidur apartemen.
Hanya kakek nya saja yang sekarang menjadi kompatriotnya, dalam hal perjodohan.
Terdengar ketukan pintu membuat Jiel terjaga dari lamunan.
"Masuk!" suruh Jiel.
Dengan tampilan wajah berubah garang, "Siapa yang buat kopi?" tanya Jiel.
"Hhhmmm kak Aris tuan" jawab Luna tergagap.
"Buat lagi! Kopi ini nggak enak" kata Jiel dengan menyodorkan cangkir kopi yang isinya terlihat masih utuh itu.
"Ba... Baik tuan muda" Luna meraih cangkir di depannya dan hendak balik.
"Ingat, kalau nggak enak. Akan aku suruh kamu mengulangi sampai kopi itu terasa enak di lidahku" tandas Jiel.
Luna yang posisinya membelakangi Jiel menjulurkan lidah.
'Sabar... Sabar... ' Luna menghibur dirinya sendiri.
"Baik tuan" kata Luna meninggalkan ruangan. Meninggalkan Jiel yang menertawakan dirinya.
"Heh, mau apa kamu masuk lagi ke ruangan tuan muda?" hardik Laura.
Issshhh ketemu lagi sama nenek lampir. Gerutu Luna dalam hatinya.
"Dipanggil sama tuan muda. Suruh buatkan kopi lagi. Katanya ini nggak enak" jelas Luna.
"Ha...ha...emang kamunya aja yang nggak becus buat kopi" olok Laura. Senang juga karyawan baru itu disuruh-suruh oleh tuan mudanya.
Luna berlalu daripada dengar celotehan dari bibir miss Laura.
Luna mengingat pesan yang diajarkan Aris tadi pagi. Kopi dengan gula sepucuk sendok teh alias kopi pahit.
Setelah jadi, Luna kembali berjalan ke ruangan tuan muda.
"Semoga saja tak disuruh buat lagi" doa Luna dalam hati.
Jiel yang melihat semuanya lewat kamera cctv tersenyum. Padahal kopi yang sebelumnya pun sebenarnya terasa enak, tapi Jiel sengaja ingin melihat Luna masuk ke ruangannya. Tentu saja Jiel ingin melihat wajah mungil yang terbungkus hijab itu.
Dia pasang lagi wajah garang saat terdengar ketukan pintu.
Jiel menyuruh masuk siapa yang datang.
"Siang tuan, ini kopinya. Semoga tak mengecewakan anda" kata Luna.
Jiel menatap netra bening, netra yang sama saat bocah perempuan kecil menatapnya sambil berkaca-kaca. Melihat netra Luna, Jiel berasa bertemu gadis kecil yang selama ini dicarinya.
"Taruh saja!" suruh Jiel.
Luna mendekat dan menaruh secangkir kopi yang masih mengepul asapnya.
"Istirahat siang, ikut aku sebentar" ajak Jiel.
"Tapi tuan?" tukas Luna.
"Ini perintah" lanjut Jiel tanpa mau dibantah.
"Tapi kalau di luar konteks kerja, apa nggak boleh kita menolaknya?" tolak halus Luna.
"Jangan ge-er. Ini masih berhubungan dengan kerjaan. Bukankah alat kebersihan kamu masih kurang? Biasanya kan cuman siapa itu yang ngebersihin. Karena ada kamu, semua musti dobel. Jadi siang ini kita beli alat-alat itu" ucap Jiel penuh kemodusan.
"Baik...baik...tuan" tak ada alasan lagi Luna untuk menolak.
Luna keluar, dan Jiel pun bersorak. Tentu saja senang hatinya. Padahal siapa Luna pun, Jiel juga belum tahu. Tapi yang pasti, Jiel terpesona dengan sepasang mata bening milik Luna.
Aris yang melihat Luna masuk ruangan pantry, "Darimana?" tanyanya.
"Buatin tuan muda kopi. Katanya kopi yang tadi nggak enak" bilang Luna.
"Benarkah? Padahal aku saben hari buat ya seperti itu" tanya Aris heran.
Luna mengedikkan bahu.
"Oh ya, apa alat-alat kebersihan itu yang beli tuan muda? Punya perusahaan segedhe gaban, tapi apa iya alat kebersihan aja musti beli sendiri?" tanya Luna.
"Kamu aneh deh Lun, yang beli ya bagian pengadaan. Mana ada waktu tuan muda memikirkan hal kecil seperti itu" seloroh Aris terbahak.
Luna mengernyitkan alis.
"Tapi barusan dia mengajak aku beli alat-alat itu" celetuk Luna.
"What? Jangan ngadi-ngadi dech" Aris saja tak percaya.
"Aku juga nggak" tukas Luna sambil membuka bungkus makanan dan menyuapkan ke mulutnya.
Tapi panggilan dari luar ruang pantry mengagetkan keduanya.
"Luna, sekarang saja kita beli. Nggak usah nunggu makan siang" hanya terlihat kepala Jiel yang melongok ke ruangan pantry.
Luna sampai kebingungan menjawab, karena mulutnya penuh dengan makanan yang dibelikan oleh Aris.
Sementara Aris hanya bisa bengong, seumur-umur baru kali ini tuan muda mendatangi pantry.
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
***To be continued, happy reading.
Like, komen, vote selalu author tunggu.
😊🤗***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 96 Episodes
Comments
Warijah Warijah
Tetap punya pendirian y Luna..jangan2 Luna teman masa kecilnya Boss 🙏
2023-05-23
6
Anonymous
lanjut thor
2023-05-23
1