"Mah, emang mau bikin acara apa?" tanya Tari di ruang tengah.
Sementara Luna tetap sibuk mengeluarkan belanjaan.
"Itu acara reuni SMA kakak kamu" bilang mama.
"Kak Naya atau kak Robby?" imbuh Tari.
"Robby" tukas mama.
"Wah asyik. Pasti ada kak Jiel sama kak Ariel nih" kata Tari senang.
"Pepet tuh si Jiel. Aku dengar dia masih single, dan belum punya pacar sampe sekarang" bilang mama.
"Mama sok tau ah" seru Tari.
"Tanya aja Robby kalau tak percaya" ucap mama berikutnya.
"Jelas saja kak Robby tahu, kak Jiel alias Azriel kan bos nya kakak" terang Tari.
"Heemmm..." mama hanya bergumam.
"Kalau Ariel biar sama Naya saja" lanjut mama.
"Siapa cepat dia dapat lah Mah" Tari menanggapi.
Mama hanya mencibir apa yang dikatakan putri bungsunya itu.
"Dandan sana, biar Jiel terpesona sama kamu" suruh mama.
"Jangan lupa kakak kamu sekalian ajakin" imbuh mama.
"Wah kak Naya sepertinya masih tidur Mah. Efek alkohol semalam" beritahu Naya.
Karena semenjak sarapan tadi pagi, Naya belum keluar kamar.
"Biarin aja, tapi jangan lupa selepas makan siang kamu bangunin. Kalian berdua musti dandan yang cantik" ujar mama.
"Siap Maaaahhh" balas Tari.
"Lunaaaaaaaa" teriakan itu kembali terdengar. Keluarga ini memang hobi sekali memanggil Luna dengan mengeluarkan urat nadi.
"Iya" Luna datang tergopoh.
"Baju biru yang kemarin kamu cuci, ntar siang anterin ke kamar aku" suruh Tari.
"Baju minimalis itu?" Luna menanggapi.
"Yaappp... Jangan lupa" imbuh Tari.
"Boleh, asal aku diberi ini" tukas Luna dengan menggerakkan dua jarinya, tanda dirinya meminta cuan.
"Eh, sudah mulai berani ya??? Perlu kamu ingat Luna, kamu di sini karena sudah dijual oleh orang tua kamu. Kalau sampai Robby tahu akan kelakuan kamu barusan, orang tuamu akan diusir dari rumahnya" ucap mama penuh ancaman.
Ingin melunasi hutang sepuluh juta saja kenapa demikian berat. Batin Luna.
"Kenapa diam? Sono balik dapur. Masak yang enak. Apa kamu tak ingin suami kamu dapat pujian dari teman-temannya" suruh mama dengan nada ketus.
Kembali Luna disibukkan dengan acara memasak berbagai macam menu untuk agenda kumpul-kumpul suaminya nanti sore.
Peluh di kening diusapnya perlahan.
'Apa begini nikmatnya jadi istri ya? Kenapa nggak ada nikmatnya sama sekali' pikiran Luna saling bertolak belakang alias nggak sinkron.
Luna nikmatin sendirian acara memasaknya itu. Kadang bergaya menjadi chef seperti acara lomba memasak yang sempat ditontonnya di tivi rumahnya sendiri.
Kalau di rumah mertua, boro-boro mau nonton tivi. Sempat mandi sama makan saja alhamdulillah.
"Mah, sudah siap" kata Luna memberitahu bu Marini yang sedang asyik menonton tivi.
"Sekalian aja kamu tata. Yang rapi jangan berantakan" perintah bu Marini bagai nyonya besar.
Luna hanya bisa menghela nafas panjang untuk melepas beban yang dirasa.
.
"Lunaaaaaaa...." kembali panggilan itu terdengar cetar membahana.
Belum sempat menyelesaikan sapuan bedak yang dibelinya tadi siang, Luna keluar dengan tergopoh.
Panggilan belum juga terjawab, sudah terdengar kembali teriakan berikutnya.
"Bawa minumannya ke depan" suruh mama.
Dengan daster kesayangan, Luna pun keluar membawa minuman yang dimaksud mama nya.
"Luna, sini!" panggil Tari yang berdekatan dengan sosok laki-laki tampan. Robby pun masih kalah jauh dengan laki-laki itu.
Meski masih muda, wibawa nampak sekali di aura wajahnya.
"Kok malah bengong sih, sini!" panggil Tari dengan rasa tak suka.
Luna bergegas mendekat ke arah Tari.
"Kak, mau minuman rasa apa? Kebetulan tadi aku yang buatin loh" seru Tari.
Luna yang mendengar menautkan alisnya.
'Ngaku-ngaku' olok Luna dalam hati.
Sementara Jiel hanya tersenyum yang sepertinya terpaksa.
Laki-laki itu meraih sendiri minuman yang dibawa Luna, "Makasih" ucapnya pada Luna.
"Jangan tebar pesona" bisik ketus Tari di telinga Luna.
Luna hendak berbalik arah, mau menaruh minuman yang dibawanya di atas meja.
Baru saja melangkah, kakinya terantuk sesuatu membuat badannya oleng.
Luna terjengkang dengan semua gelas yang ikutan berserakan.
Semua yang hadir menertawakan Luna. Tari tersenyum puas karena telah sukses mengerjai Luna.
Luna memejamkan mata, malu sekali rasanya.
Dimana Robby sang suami sekarang, kenapa tak menolongnya.
Saat membuka mata, tepat di depannya sebuah tangan menjulur ke arahnya.
"Eh.." Luna tak jua menyambutnya.
"Mau dibantu nggak?" suara laki-laki yang sama dengan yang mengucapkan makasih tadi.
Luna segera menyambut, dan segera bangkit.
Luna langsung saja ngibrit ke belakang.
"Ditolong bukannya ngucapin makasih" kata laki-laki itu yang masih kedengaran Luna.
Bukannya nggak mau ngucapin, tapi terlanjur malu karena ditertawakan teman-teman suaminya.
"Lunaaaaaa" panggilan itu kembali terdengar.
Duh, mereka hobi sekali memanggilku. Ucap Luna dalam hati.
Belum sempat berganti baju yang basah, Luna pun kembali ke depan.
"Beresin! Main tinggal aja" sekarang ganti Naya yang menyuruh Luna.
Sempat diliriknya sang suami yang tak perduli sama sekali ke diri Luna. Malah lengan sang suami nampak bergelayut manja di pundak seorang wanita cantik yang duduk di sampingnya.
'Apa wanita itu kekasih kak Robby? Kenapa dia tak mengenalkan aku ke teman-temannya?' Luna melamun dengan tangan membereskan gelas-gelas berserakan.
"Aduh" keluh Luna refleks.
Sebuah tangan meraih jari Luna dan segera memasukkan ke mulutnya.
"Kata teman kecilku jika berdarah, masukin tangan ke mulut agar lekas berhenti darahnya" ujarnya.
Luna segera menarik jarinya. Tentu saja tak enak dengan laki-laki tampan di depannya.
Lagian mana ada ada luka berdarah suruh menghisap lewat mulut. Ada saja dengan orang ini. Pikir Luna heran.
"Kak Jiel, ngapain sih peduli dengan pembantu ini" ujar Tari bergelayut manja di lengan Jiel.
'Pembantu katanya?' Luna balas menatap Tari yang melotot ke arahnya.
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
***To be continued, happy reading
Masalah rumah tangga selalu saja menarik untuk dikulik. Nikah paksa, perselingkuhan, cinta romantis dan berbagai problematika yang lain.
Makasih semua yang masih stay tune dengan karya-karya author.
Sehat-sehat selalu.
Banyak cinta untuk semuanya.
💝***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 96 Episodes
Comments
Tania
lanjut thor
2023-05-10
4