Mulai Adaptasi

Valen tersenyum melihat kegalakan Jiel.

"Jangan sok suci dech Jiel," olok Valen.

Tatap tajam Jiel kepada Valen.

"Apa lo nggak menginginkan ini?" ucap Valen sengaja membusungkan dada tepat di depan muka Jiel.

"Murahan" kata Jiel ketus.

"Ha... Ha... Apa lo bilang? Aku murahan hanya kepada orang yang aku sukai Jiel dan itu hanya kamu," imbuh Valen.

"Cih, dasar mulut berbisa," umpat Jiel.

"Pergi lo! sebelum keamanan aku panggil ke sini," seru Jiel.

"Ha... Ha... Galak juga kamu Jiel," Valen malah terbahak.

Jiel mengangkat gagang telpon.

"Oke... Oke... Gue akan pergi. Tapi ingat, gue tak akan menyerah untuk ngedapetin lo," Valen menyambar tas yang dia bawa dan melenggang pergi. Sengaja dia meliukkan tubuh untuk menggoda Jiel.

"Hoeeekkk, berasa mau muntah," kata Jiel ketika pintu ruangannya telah tertutup kembali.

Sesaat Jiel teringat dua cangkir kopi yang dibuatkan oleh Luna.

Dia teguk kopi, "Hhhhmmm lumayan juga" gumam Jiel.

Jiel teringat akan sesuatu, "Hhhmmmm bukannya pantry sudah penuh dengan perkakas baru ya. Kusuruh buat nasi goreng aja dia. Menu paling sederhana" Jiel tersenyum smirk.

Jiel angkat gagang telpon dan dia tekan nomor pantry seperti biasa.

Luna dan Aris yang sedang nikmatin bekal mereka pun terlonjak.

"Biar aku yang angkat," bilang Aris.

"Oke" Luna melanjutkan acara makan, bekal yang sengaja dia bawa. Untuk dirinya sendiri dan juga Aris.

Hidup bersama keluarga Robby selama enam bulan kemarin seakan menempanya untuk hidup mandiri.

Keluarga Robby yang memperlakukan Luna bak pembantu, membuat Luna jadi terbiasa dengan kerja keras.

"Iya tuan" sapa Aris.

"Buatkan nasi goreng!" perintah Jiel membuat Aris melongo.

"Apa?" tanya Luna dengan bahasa isyarat, sementara Aris menaruh jari telunjuk agar Luna diam.

"Maaf tuan, tapi nasi nya belum ada" suara Aris membuat Luna menghentikan makan.

"Nasi? Nih" tunjuk Luna ke arah nasi di depannya yang masih ada.

Telepon ditutup begitu saja.

"Ada apa sih?" telisik Luna.

"Tahu nggak sih, tuan muda minta nasi goreng. Aneh dech" ucap Aris.

"Hei, kalian dengar nggak? Bikinkan aku nasi goreng!" ucap Jiel membuat Luna dan Aris saling bengong.

"Heeiii...." teriak Jiel lagi.

"Tapi kan....?" Aris sudah bilang kalau nggak ada nasi.

"Itu saja nasinya!" tunjuk Jiel ke nasi di depan Luna.

"Hah?"

"Cepetan bikinin!" suruh Jiel sampai membuat Luna kaget tapi belum juga bergerak.

"Aluna Mahira" panggil Jiel.

"Ba...baik tuan" jawab Luna.

Jiel tersenyum tipis dan tak terlihat oleh siapapun.

Sepeninggal Jiel mulailah Luna mencari bumbu-bumbu yang cuma ada seadanya.

"Tuan muda punya hobi baru?" canda Aris.

"Apa?" tanya Luna menyiapkan bumbu yang ada.

"Hobi datang ke sini, ke pantry" lanjut Aris terbahak.

"Emang sebelumnya nggak?" Luna heran.

"Tidak pernah sama sekali" tandas Aris.

Kini Luna berjibaku dengan penggorengan yang baru dibeli sang bos kemarin bersamanya.

Tak ada setengah jam, nasi goreng tersaji.

"Entahlah, rasanya akan seperti apa" bilang Luna.

Sekarang bagian Aris yang mengantar ke ruang tuan muda.

"Suruh Luna ke sini" perintah Jiel membuat Aris kaget juga.

"Suruh bawakan minum" lanjutnya.

Aris keluar ruangan dengan menggaruk kepala yang tak gatal.

"Huh, semakin aneh saja kelakuan tuan muda" gumam Aris.

"Aris, ngapain ngedumel aja. Disuruh apa lo?" panggil miss Laura.

Aris pun menepuk jidat.

Sungguh lepas perintah tuan muda, sekarang ngadepin macan betina.

"He... He... Nggak ada kok miss. Cuman Luna disuruh nganterin minum ke ruang tuan muda" bilang Aris.

"Biar aku saja yang anter" ucap miss penuh semangat. Saatnya tebar pesona kali ya.

Aris tak bisa mencegah, karena miss Laura lebih cepat gerakannya. Selain itu Aris tak berani membantah juga.

"Tumben miss Laura ambil minuman sendiri? Bos-bos di sini kok makin aneh aja?" ucap Aris saat masuk ke pantry.

"Nggak usah ngurusin kehidupan orang, mendingan lo makan aja tuh" arah mata Luna ke makanan Aris yang dibiarkan terbengkelai.

"Wah, betul juga apa kata kamu" ucap Aris antusias melihat makanan yang belum habis tadi.

Dering telpon bunyi lagi.

"Aku angkat aja, kakak lanjutin makannya" ujar Luna.

"Halo" sapa Luna.

"Aluna Mahira, bawakan aku air putih!" suruh sang tuan bos dari ujung telpon.

"Baik tuan" jawab Luna singkat.

Luna tutup panggilan telpon itu.

"Siapa? Bos apa Miss?" tanya Aris dengan mulut penuh makanan.

"Tuan bos minta air putih" jelas Luna.

Luna meninggalkan Aris yang bengong dengan membawa segelas air buat tuan bos.

Tok... Tok... Tok...

"Masuk!" dan terdengar nada suara dari dalam.

Luna masuk dengan iringan tatapan tajam dari Laura tentunya.

Ternyata Laura ikutan masuk ke dalam menyusul.

"Tuan muda, bukannya sudah aku bawain air putih?" tanyanya.

"Hhhmmmm, tapi aku ingin Luna yang nganterin. Ini tugasnya dia, biar dia ngerti tanggung jawab" alibi Jiel.

"Oh begitu ya?" tanggap Laura yang sepertinya tak curiga akan kemodusan bosnya dan meninggalkan ruangan Jiel.

Giliran Luna yang maju dengan membawa segelas air putih untuk Jiel.

"Makasih" seru Jiel.

.

Seminggu sudah Luna bekerja di sana. Pekerjaan di kantor masih berasa ringan bagi Luna dibandingkan bekerja di rumah Robby sang mantan suami.

Apa kabarnya Robby ya? Ah ngapain aku ingat, toh dia sudah jahat padaku.

Apa kabar ayah dan ibu? Semoga mereka sehat dan baik-baik saja di sana.

Apa sebenarnya yang mereka rahasiakan dariku, sehingga begitu tega mengusir diriku?

"Luna" ucap Aris mengagetkan Luna.

"Kakak ngagetin aja" ujar Luna menimpali.

"Pagi-pagi sudah melamun saja" seru Aris.

"He... He..." Luna tersenyum simpul.

"Ngelamunin apa? Pacar?" goda Aris yang tengah sibuk membersihkan meja.

"Boro-boro kak. Nggak sempat mikirin begituan" ulas Luna.

"Lantas?"

"Teringat ayah sama ibu aja" jawab Luna.

Mereka pun ngobrolin tentang keluarga masing-masing meski tak detail.

"Luna" panggil seseorang dari belakang mereka saat Luna dan Aris tengah bergurau.

"I...iya tuan bos" jawab Luna tergagap karena ketahuan saling bergurau saat bekerja.

"Nanti siang ikut aku!" perintah Jiel.

"Kemana tuan?"

"Luar kota" imbuh Jiel.

Luna hendak mengatakan sesuatu tapi langsung dipotong oleh Jiel.

"Apa yang aku katakan selama jam kerja adalah perintah" seru Jiel.

Tentu saja Luna menggerutu dalam hati.

Sudah punya sekretaris, tapi kenapa malah aku yang diajakin?

Sebenarnya bos yang aneh? Atau aku terlalu penurut ya?

Ah sudahlah, Luna pun meneruskan pekerjaan yang tertunda sejenak karena ulah sang bos tadi.

Seminggu melayani keinginan sang bos, maka Luna pun mulai terbiasa dan paham.

🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻

To be continued, happy reading

Like, komen, vote dan jangan lupa kasih bintang lima.

Terpopuler

Comments

Anonymous

Anonymous

up thor

2023-05-29

2

Warijah Warijah

Warijah Warijah

Semoga mama Jiel mencari tahu tentang kehidupan Valen, karena Jiel menolak Valen..yg sdh tahu betapa brengseknya kehidupan keluarga Valen..yg munafik itu..Tetap semangat Jiel mendapatkn Luna, karena mungkin aslinya Luna bukan anak orang sembarang.. kenapa ada di ortunya yg selama ini ngurus Luna, mungkin demi keamanan Luna karena kelurganya ortunya yg serakah/ ambisi warisan x y Thor ..

2023-05-29

3

Anonymous

Anonymous

next thor semangatttt

2023-05-28

1

lihat semua
Episodes
1 Penebus Hutang
2 Pembantu Gratisan
3 Reuni
4 Pasca Reuni
5 Ikrar Talak?
6 Talak
7 Pengusiran
8 Cari Kerja
9 Lantai Teratas
10 Dinner
11 Hari Pertama Kerja
12 Belanja with Bos Baru
13 Pergi Bersama
14 Makan Gratis
15 Hari Kedua
16 Bos Lantai Teratas
17 Mulai Adaptasi
18 Pertemuan Yang Diatur
19 Telusur Masa Lalu
20 Lanjut Telusur
21 Masih Buram
22 Sedan Mewah
23 Hutang Lunas
24 Rumah Kenangan
25 Asisten Dadakan
26 Kakek Gunadharma
27 Kenangan Jiel
28 Pulang Mansion
29 Pandangan Papa Mama
30 Aktor di Balik Layar
31 Makan Siang
32 Kecelakaan
33 Pemakaman
34 Kejadian Yang Sama
35 Masa Lalu
36 Penguntit
37 Asisten Tuan Besar
38 Pengacara Tuan Besar
39 Kerjasama Bersyarat
40 Bersua Pengacara
41 Penculikan
42 Tes DNA
43 Wasiat
44 Penembakan
45 Rh-null
46 Keluarga Rumit
47 Masih Kritis
48 Penyamaran
49 Berita-berita
50 Info Bukan Restu
51 Tamu Tak Diundang
52 Beredar Rumor
53 Cara Cantik
54 Video Tak Jelas
55 Mansion Kakek
56 Bekerja dan Berlibur
57 Hari Perdana
58 Tamu di Hari Kedua
59 Ziarah Makam
60 Lamaran dan Nikahan
61 Akad
62 Tak Harus Malam
63 Momen Ultah
64 Pre Launching
65 Usaha Bobby
66 Launching Produk
67 Rumah Mertua
68 Bersama Mama
69 Rapat Siang
70 Hadiah Kakek
71 Sabotase Segala Sisi
72 Bersiap Pergi
73 Jet Lag
74 Honeymoon
75 Kejar Target
76 Orang Dalam
77 Pencarian
78 Jebakan Obat
79 Kecemasan Jiel
80 Penawaran Terbaik
81 David dan Bowo
82 Gerak Cepat
83 Pesta Resepsi
84 Presidential Suite
85 Kawan Lama
86 Hampir
87 Misi Penyelamatan
88 Ending yang diharap
89 Maternity
90 Wanita Gila
91 Lounching
92 Arsa Putra Dharma Wibisono
93 Promo 'Lost Memory'
94 Promo 'Pelabuhan Terakhir Cassanova
95 Mampir Yuk 'FAITHFULNESS'
96 Mampir guyysss @SECOND WIFE
Episodes

Updated 96 Episodes

1
Penebus Hutang
2
Pembantu Gratisan
3
Reuni
4
Pasca Reuni
5
Ikrar Talak?
6
Talak
7
Pengusiran
8
Cari Kerja
9
Lantai Teratas
10
Dinner
11
Hari Pertama Kerja
12
Belanja with Bos Baru
13
Pergi Bersama
14
Makan Gratis
15
Hari Kedua
16
Bos Lantai Teratas
17
Mulai Adaptasi
18
Pertemuan Yang Diatur
19
Telusur Masa Lalu
20
Lanjut Telusur
21
Masih Buram
22
Sedan Mewah
23
Hutang Lunas
24
Rumah Kenangan
25
Asisten Dadakan
26
Kakek Gunadharma
27
Kenangan Jiel
28
Pulang Mansion
29
Pandangan Papa Mama
30
Aktor di Balik Layar
31
Makan Siang
32
Kecelakaan
33
Pemakaman
34
Kejadian Yang Sama
35
Masa Lalu
36
Penguntit
37
Asisten Tuan Besar
38
Pengacara Tuan Besar
39
Kerjasama Bersyarat
40
Bersua Pengacara
41
Penculikan
42
Tes DNA
43
Wasiat
44
Penembakan
45
Rh-null
46
Keluarga Rumit
47
Masih Kritis
48
Penyamaran
49
Berita-berita
50
Info Bukan Restu
51
Tamu Tak Diundang
52
Beredar Rumor
53
Cara Cantik
54
Video Tak Jelas
55
Mansion Kakek
56
Bekerja dan Berlibur
57
Hari Perdana
58
Tamu di Hari Kedua
59
Ziarah Makam
60
Lamaran dan Nikahan
61
Akad
62
Tak Harus Malam
63
Momen Ultah
64
Pre Launching
65
Usaha Bobby
66
Launching Produk
67
Rumah Mertua
68
Bersama Mama
69
Rapat Siang
70
Hadiah Kakek
71
Sabotase Segala Sisi
72
Bersiap Pergi
73
Jet Lag
74
Honeymoon
75
Kejar Target
76
Orang Dalam
77
Pencarian
78
Jebakan Obat
79
Kecemasan Jiel
80
Penawaran Terbaik
81
David dan Bowo
82
Gerak Cepat
83
Pesta Resepsi
84
Presidential Suite
85
Kawan Lama
86
Hampir
87
Misi Penyelamatan
88
Ending yang diharap
89
Maternity
90
Wanita Gila
91
Lounching
92
Arsa Putra Dharma Wibisono
93
Promo 'Lost Memory'
94
Promo 'Pelabuhan Terakhir Cassanova
95
Mampir Yuk 'FAITHFULNESS'
96
Mampir guyysss @SECOND WIFE

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!