Luna melangkah gontai. Tak tahu dan tanpa arah tujuan.
Dengan berbekal tas ransel dan beberapa lembar uang yang dibawa, Luna menghentikan bus yang lewat.
Sampai di atas bus, Luna baru tersadar jika dirinya belum makan sedari pagi.
"Laper banget" keluhnya.
"Pak, rute bus ini ke mana?" tanya Luna saat sang kondektur memberinya karcis untuk membayar.
"Mbak nya ini gimana? Naik bus kok nggak tahu arah tujuannya" balasnya.
Luna hanya bisa tersenyum kecut, karena dirinya memang tak tahu.
"Ke kota B mba" jelasnya.
"Oke pak, aku berhenti di pemberhentian terakhir saja. Berapa tarifnya?" tanya Luna.
"Jauh loh ke kota B, butuh empat jam untuk sampai sana" bilangnya.
Luna sedikit terkejut sih, tapi langsung bisa menguasai keadaan. Untuk pertama kalinya dia pergi ke tempat yang jauh dari kedua orang tua angkatnya.
"Nggak papa pak" tukas Luna dengan tekad bulat menyerahkan selembar uang seratusan ribu kepada awak bus yang ditumpangi.
Karena naik bus ekonomi, banyak juga pedagang asongan naik turun untuk menjajakan dagangannya.
"Lumayan buat pengganjal perut" gumam Luna.
Saat Luna mengeluarkan uang seratusan lagi buat membayar makanan yang dibeli, "Hati-hati neng bawa uang, banyak copet kalau di bus beginian" seru penjual yang dibeli oleh Luna.
"Makasih pak, sudah mengingatkan" kata Luna tulus.
"Sama-sama"
Kalau tak diingatkan, Luna nggak akan berpikir sejauh itu.
Luna menaruh beberapa uang di tempat yang berbeda, jaga-jaga saja seperti yang dibilang oleh bapak penjual tadi. Untungnya Luna duduk sendirian dekat jendela. Samping kanannya kosong.
Pengamen pun tak luput dari peredaran. Mereka silih berganti naik turun dari terminal ke terminal berikutnya. Berisik sebenarnya, tapi mau gimana lagi mereka juga mencari nafkah. Walau kadang suaranya enggak banget sampai di telinga Luna.
Luna turun di terminal terakhir hampir jam sepuluh malam. Tapi suasana di sana masih ramai banget.
Luna yang sedari kecil sampai lulus sekolah menengah tak pernah pergi jauh, sampai bingung harus ke mana.
"Apa aku cari penginapan aja ya? Tapi mahal nggak ya?" pikir Luna.
"Apa aku cari kos aja? Tapi malam gini, nyari di mana?"
"Ah, aku ke mushola terminal aja. Shalat dan inap di emperannya" gumam Luna.
Pagi hari Luna dibangunkan oleh tukang bersih-bersih mushola.
"Neng, kalau mau tidur jangan di sini dong" katanya lumayan galak di pendengaran Luna.
"Maaf...maaf..." seru Luna.
"Mba, mau nanya. Daerah dekat sini ada tempat kos nggak sih?" tanya Luna.
Orang yang sedang pegang sapu itu pun menelisik Luna dari atas ke bawah ke atas lagi.
"Kerja di mana? Atau kuliah?" tanyanya saat melihat wajah Luna yang nampak bersih seperti mahasiswi itu.
"Nggak kerja dan nggak kuliah. Kalau ada info loker boleh dech kak" imbuh Luna.
"Ditanya malah balik nanya" balas CS itu.
"Sekalian kak, cari tempat kos sama kalau ada kerjaan" kata Luna antusias.
Walau berwajah galak, tapi kalau ditanya tetap kasih tahu juga.
"Ijazah terakhir?" lanjutnya dalam tanya.
"Sekolah Menengah Atas" jawab Luna.
"Wah, kalau ijazah segitu nggak bisa milih-milih kerjaan" serunya.
"Nggak papa kak, yang penting halal. Kerjaan apapun yang penting ikhlas ngejalanin, pasti tak berasa berat" tukas Luna.
"Oh ya, Luna" Luna mengajak kenalan cewek di depannya.
"Bunga" jawabnya.
"Kalau mau tunggu aja aku selesai. Ntar aku anterin cari kos, kebetulan tempat kos aku ada yang kosong satu. Penghuninya barusan pindah" bilang Bunga.
"Iya makasih. Sekalian aku mau absen dulu nih" menunggu Bunga menyelesaikan pekerjaan Luna pun ambil air wudhu untuk menjalankan ibadah.
Sebuah kamar kos kecil ditunjukkan kepada Luna. Meski kecil tapi lumayan bersih tempatnya.
"Gimana cocok nggak?" tanya Bunga yang sudah tak galak lagi.
"Cocok sih. Tapi biaya bulanannya berapa? Smoga aja pas di kantong" jawab Luna.
"Karena sini kota besar, kos ini lumayan murah sih" imbuh Bunga.
"Iya, murahnya tuh berapa?" sela Luna.
"Enam ratus ribuan. Kalau iya, kuanterin langsung ke yang punya" ujar Bunga.
Luna nampak berpikir sejenak. Lumayan mahal baginya. Tapi mau gimana lagi, daripada di penginapan. Batin Luna.
Luna pun mengangguk tanda setuju.
Ibu pemilik kos ternyata minta uang kos bayar di depan selama tiga bulan awal.
"Waduh, kalau dua bulan dulu gimana bu?" Luna mencoba menawar.
"Kalau mau, langsung tiga bulan. Kos lain ada yang minta langsung enam bulan loh" jelas ibu kos. Mau tak mau Luna pun akhirnya membayar sejuta delapan ratus untuk tempat tinggal selama tiga bulan ke depan.
'Uangku tinggal segini, mana cukup untuk biaya hidup sebulan?' Luna memeras otak untuk memenuhi kebutuhannya.
"Aku harus cari kerja" tekad Luna.
Seharian ini dipakai Luna untuk membuat surat lamaran.
Bunga balik ke tempat kerja selepas mengantarkan Luna tadi.
"Untung ada orang baik seperti Bunga" gumam Luna.
Ponsel jadul yang selama ini tak pernah tersentuh, Luna buka kembali.
Waktu tinggal di rumah mantan mertua, mana sempat Luna melakukan itu.
Tentu saja ingin melihat lowongan pekerjaan lewat sosmed. Barangkali saja ada.
Luna tandai yang sekiranya sesuai dengan kriteria ijazah yang hanya lulusan sekolah menengah.
"Kenapa rata-rata pekerjaan sebagai cleaning service ya?" gumam Luna.
"Tapi nggak papa lah. Aku coba aja"
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
To be continued, happy reading
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 96 Episodes
Comments