Dengan semangat Jiel mengikuti langkah Luna yang mendahului masuk ke ruangan sang bos.
Ketiga wanita yang dijauhi Jiel pun saling pandang.
"Siapa nama wanita itu?" tanya sang nyonya besar.
"Nggak penting kali nyonya" tukas Laura.
"Jawab saja Laura" sergah mama Jiel.
"Luna. Kalau nama lengkapnya aku lupa" terang Laura.
"Hhhmmmm" gumam mama seperti mengingat sesuatu.
"Ada apa tante?" tanya Valen.
"Apa kamu ingat nama wanita yang diajak oleh Jiel semalam?" tanya mama.
"Seingatku Jiel nggak mengenalkan wanitanya Tan" ujar Valen.
"Kamu itu selalu saja begitu. Nggak teliti" bilang mama.
Luna terlihat keluar ruangan sang bos dan hendak balik ke arah pantry.
Hal itu nggak disiakan oleh Laura untuk memanggil karyawan baru bagian bersih-bersih itu.
"Hai udik. Sini kamu!" panggil Laura.
Luna tak menggubris panggilan itu. Karena memang bukan itu namanya.
"Hai...selain udik apa kamu juga bolot?" teriak Laura untuk mengolok Luna.
"Luna" panggil sang nyonya yang mengingat kalau semalam Jiel sempat menyebut nama itu.
Barulah Luna menoleh.
"Lain kali panggil nama, meski petugas cleaning service mereka juga karyawan perusahaan putraku" ucap sang nyonya besar.
"Luna, sini kamu!" suruh nyonya besar kembali.
Valen mengamati Luna yang berjalan mendekat ke arah mereka.
"Dia bukan wanita yang semalam. Tak mungkin juga Jiel mengajak wanita udik ini" gumam Valen.
Meski cantik, tapi gadis ini sangatlah berbeda. Gadis semalam sangat elegan dan anggun. Pikir Valen seperti menolak kata hatinya.
Tapi berbeda halnya, melihat sorot mata Luna. Mama Jiel sudah bisa menebak kalau Luna ini lah gadis yang dibawa Jiel semalam.
Pasti ada yang istimewa dari gadis ini sehingga putranya memilihnya. Pikir mama Jiel.
"Iya nyonya" jawab Luna saat sudah di dekat sang nyonya besar.
Sang nyonya tak mengatakan apapun, tapi mengamati Luna dari atas ke bawah kembali ke atas lagi. Membuat Luna risih tentu saja.
"Iya nyonya. Ada apa memanggil?" sela Luna.
"Aluna Mahira" teriak Jiel dari dalam ruangan.
Mendengar Jiel memanggil nama lengkapnya, Luna bisa menebak sang tuan muda sedang jengkel.
"Maaf nyonya, tuan muda memanggil saya" ucap Luna.
"Hhmmmm" mama Jiel hanya mengangguk.
Sampai nama lengkapnya pun Jiel tahu.
Sejak kecil Jiel itu tak pernah hafal dengan nama cewek, baik itu teman sekelas atau teman cewek yang lain. Tapi bagaimana bisa Jiel hafal sekali dengan petugas kebersihan itu? Tanya mama dalam hatinya.
"Apa sih istimewanya dia, hingga Jiel memanggilnya lagi?" gerutu Valen.
"Apalagi kalau bukan untuk disuruh oleh tuan muda" sela Laura.
"Kamu mau disuruh buatin kopi buat tuan muda?" Laura bertanya.
"Ogah gue, jadi suami juga belum. Dan gue bukan pembantu" seru Valen.
Belum jadi istri saja sombongnya. Batin Laura.
Sementara sang nyonya besar tak menyiakan kesempatan, dirinya melangkah ke ruangan sang putra meninggalkan kedua wanita bermake up tebal itu.
"Luna, buatkan kopi lagi. Yang tadi sudah habis" suruh Jiel yang masih terdengar oleh mama.
'Owh, dia dipanggil karena disuruh. Kirain ada apaan?' Pikir mama.
"Tuan, kopinya kan masih utuh?" Luna dibuat heran. Padahal saat itu Jiel sedang akting karena tahu mama sedang menguping pembicaraan dirinya dengan Luna.
"Ini perintah" tandas Jiel tanpa mau dibantah.
Luna pun keluar dengan mulut ngedumel meski tak kedengeran suaranya.
Kesel aja dikerjain sedari pagi oleh bos-bos lantau teratas.
Tidak tuan muda, sekretarisnya pun sama.
Luna berpapasan dengan nyonya besar saat buka pintu.
"Maaf nyonya, saya tidak tahu anda di sini" ucap Luna sopan.
Kepalang tanggung karena ketahuan mengintip, "Apaan sih? Aku kan mau masuk" seru sang nyonya berkilah.
Luna mengangguk hormat dan selekasnya pergi untuk buatin kopi tuan muda Jiel.
Di pantry, "Kok buat lagi?" tanya Aris heran.
"Tuan bos minta dibuatkan lagi" jawab Luna.
"Wah, sejak ada lo kenapa tingkah bos aneh-aneh aja sih?" seru Aris heran.
"Kesambet kali" jawab Luna sekenanya.
"Husssstttt... Nggak usah bicara macem-macem. Tembok di sini tuh punya mata dan telinga" ujar Aris mengingatkan saat Luna mengaduk kopi.
"Barang-barang yang dipindahin sudah selesai belum? Aku bantuin" Aris menawarkan diri.
"Masih dua karton tuh" imbuh Luna.
Di ruangan CEO. "Jiel, gadis yang kamu bawa semalam siapa?" telisik mama. Meski mama sudah memastikan kalau lah wanita yang semalam memanglah Luna. Manik mata itu tak bisa bohong.
"Aku kira mama sudah tahu. Jadi Jiel tidak perlu jawab" tegas Jiel.
"Mama hanya ingin memastikan. Mama tak ingin kamu mempermalukan keluarga Wibisono" seru mama.
"Apa yang aku perbuat Mah?" tukas Jiel.
"Semua nasehat mama sudah aku laksanain. Kuliah selesai. Sekarang pun aku berada di sini juga karena keinginan papa sama mama. Apa lagi yang papa sama mama inginkan? Jodoh?" debat Jiel.
"Sori Mah, untuk yang satu ini Jiel tak akan menuruti apa kata kalian" tatap Jiel ke sang mama.
"Jiel, itu semua demi kebaikan kamu" ucap mama.
"Kebaikan apa? Jelaskan Mah!"
"Keluarga Probowaskito itu keluarga baik dan terpandang Jiel" mama memberi gambaran.
"Terpandang dan baik? Dengan hampir tiap malam keluar masuk club, apa itu yang mama anggap baik?" balas Jiel sengit.
"Apapun alasannya kamu tak boleh menolak perjodohan ini Jiel" tegas Mama.
"Oh ya?" tanggap Jiel.
"Kalau kamu menolak, semua fasilitas kamu akan mama cabut" ancam mama.
"Cabut aja Mah" jawab Jiel.
"Dasar nih anak" mama pun kalah debat.
"Kalau mama ingin menjodohkan karena harkat dan martabat keluarga, maka wanita di depan itu bukanlah pilihan tepat" ucap Jiel tanpa mau menyebut nama Valen.
Netra mama memicing. Apa yang tak diketahui olehnya tentang Valen, sehingga putranya menolak mentah-mentah kehadiran Valen. Batin mama.
Tak lama Valen nyelonong aja masuk ruangan Jiel.
"Bagus banget ruangan kamu. Wangi lagi" Valen langsung saja mendekat dan merangkul Jiel.
Bersamaan dengan itu Luna masuk membawa secangkir kopi untuk tuan bos.
Melihat Luna masuk, Jiel langsung saja menepis tangan Valen.
"Kopi nya tuan muda" Luna menaruh kopi di meja dan langsung keluar tanpa banyak kata.
Jiel menatap Luna tak berkedip, dan itu tak lepas dari pandangan mama.
"Apaan sih Jiel? Kita kan mau tunangan" ucap Valen saat mendapat penolakan Jiel barusan.
"Jangan harap" kata Jiel ketus.
"Ha...ha... Penolakan kamu membuat aku makin bersemangat mendekat" ujar Valen tanpa merasa sungkan. Padahal di sana ada mama Jiel.
"Apalagi tante sudah memihak padaku" kata Valen penuh percaya diri.
"Ya kan tante?" pandangan Valen beralih ke mama Jiel.
Valen sengaja menggoda Jiel dengan duduk di meja Jiel. Pakaian mininya tentu saja sedikit tersibak.
"Lo nggak sopan banget sih?" kata Jiel ketus.
"Ha... Ha... Apa lo nggak minat?" balas Valen.
"Jiel, mama pulang? Jagain tuh Valen" mama keluar begitu saja meninggalkan Jiel dan Valen.
Jiel hanya bisa menepuk jidat sambil menggerutu dalam hati. Tak mungkin juga kan mengumpati mamanya sendiri. Ntar dikirain anak durhaka lagi.
"Turun!" teriak Jiel saat mama sudah hilang dari pandangan.
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
To be continued, happy reading
Like, komen, vote dan jangan lupa kasih bintang lima.
***Kalau tak suka skip aja.
Dan plisss hargain usaha othor ya gaisssss. Lope u pull 💝***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 96 Episodes
Comments
Atik Marwati
Valen kalo kayak gitu kayak wanita apaan..
2024-01-13
2