Angin dingin di pagi hari menabrak wajah ibu dua anak itu. Dia sedang membersihkan halaman rumah karena sudah empat hari selama mereka di kampung rumah itu tidak di sentuh oleh tangan-tangan kuat seperti Amira dan Revi.
Amira membersihkan di halaman sementara Revi cukup menyiapkan sarapan untuk mereka berempat. Sebelumnya, untuk bagian dalam rumah, Amira dan Revi sudah membersihkannya sejak mereka tiba di rumah.
Rumah itu kembali hidup setelah di sentuh kembali oleh mereka berdua. Amira dan Revi selalu kerja sama dalam mengurus rumah. Jika Amira tidak sempat, maka Revi yang akan mengerjakannya, begitu juga sebaliknya jika Revi sedang sibuk, maka Amira akan mengerjakannya sendiri. Mereka bukan layaknya majikan dan menantu.
“Kak, ada telepon.” Panggil Revi dari dalam rumah.
“Siapa?” tanya Amira sambil mencuci tangannya.
“Ngga tahu, kak. Katanya mau bicara dengan kakak.”
Amira memasuki rumah dengan bertanya-tanya. Siapa kiranya yang meneleponnya melalui telepon rumah.
“Assalamualaikum, halo!” sapa Amira setelah meletakkan ganggang telepon di telinganya.
“(....)”
“Iya saya sendiri, ada apa ya, Bu?”
“(....)
“Serius, Bu!?” tanya Amira tidak percaya.
“(....)
“Baik, terima kasih, Bu.” Ucap Amira lalu menutup telepon.
“Reviiiii!!!”
Revi yang sedang menggoreng telur segera berlari ke arah Amira.
“Adaa Revi panik. Dia sampai lupa masih memegang spatula.
“Aku menang undian mobil dari ban B*I!* Teriak Amira memeluk erat Revi.
“Apa bukan penipuan, kak?” tanya Revi. Dia mengatakan itu bukan tanpa alasan, pasalnya sudah banyak para penipu menipu korban dengan berbagai macam cara salah satunya dengan mengatakan menang undian.
“Bukan, Vi. Kalau penipuan, sudah pasti aku di suruh ini itu yang ujung-ujungnya suruh transfer uang untuk biaya administrasinya.” Jelas Amira dengan bahagia.
“Apa kakak yakin?” Revi masih takut majikannya itu di tipu oleh penelpon yang baru saja dia terima.
“Nanti aku pastikan sendiri saja di bank. Tadi dia menyuruhku untuk ke bank untuk konfirmasi langsung.” Jelas Amira. Revi hanya bisa mengangguk.
“Vi, kok bau ya?” tanya Amira.
“Astaghfirullah!”
Revi berlari ke arah dapur, dia saking kaget dan paniknya di panggil oleh Amira sampai lupa sedang menumis untuk sarapan pagi.
Revi segera mematikan kompor dan melihat kecewa ke arah masakannya yang sudah berubah warna. Yang tadinya warna putih, hijau dan oreng kini sudah menjadi warna hitam.
“Yah, kakak sih.” Ucap Revi lesu. Jika bukan karena panik dengan panggilan Amira, mungkin sayurnya tidak akan jadi seperti itu.
“Ya udah, ngga usah masang wajah lesu gitu. Kita beli sarapan di luar saja hari ini.” Ucap Amira menenangkan asistennya. Dia juga menahan tawa melihat sayuran di atas kompor yang sudah berubah warna itu.
“Ya kan, sayang, kak. Padahal aku sudah koreksi rasa dan rasanya itu sudah mantap banget.” Ucap Revi masih dengan wajah lesunya.
“Ya udah sih, ya, ngga apa-apa. Sekarang, mending kita mandiin anak-anak. Nanti aku pesan online saja untuk sarapan hari ini.” Ucap Amira. Revi hanya harus rela dengan masakannya yang sudah tidak layak di makan itu.
Revi akhirnya melepas celemek dan menyimpan spatulanya di atas wajan yang masih berisikan sayuran gosong. Dia membersihkan makanan itu lalu mencuci tangan untuk melihat Adam dan Hawa.
***
“Tolong anak-anak di jaga ya, Vi. Nanti jangan biarkan mereka keluar rumah. Pagar juga kamu kunci, ya.” Ucap Amira sebelum meninggalkan kedua anaknya bersama Revi. Dia akan ke bank untuk konfirmasi kebenaran dari telepon pagi tadi.
“Siap, kak.” Ucap Revi sambil meletakkan tangan di kepala seperti orang hormat.
“Siapa pun yang datang, jangan bukain pintu, ya. Pokonya selama aku ngga ada, jangan pernah kamu buka pintu, bahkan gerbang sekalipun.” Ucap Amira. Dia tidak tenang jika harus meninggalkan anaknya sendiri.
Amira pergi dengan menggunakan mobil silver yang di belonya dari hasil keringatnya sendiri dalam merangkai kata. Walau mobil itu bekas, tapi masih sangat layak dan bagus untuk di pakai.
Revi mengunci pagar setelah mobil Amira meninggalkan halaman rumah. Dia membawa masuk dua anak kembar yang beda jenis kelamin itu ke dalam rumah. Mereka akan bermain dalam rumah saja sesuai arahan Amira.
Revi tahu kenapa Amira melarang dia untuk menerima tamu siapa pun itu karena saat ini, majikannya itu sedang banyak pikiran. Walaupun dia tidak pernah mendengar secara langsung majikannya cerita, tapi dari sudut matanya dia bisa melihat ada kegelisahan dari wajah majikannya.
Bukan persoalan akan menuntut ke pengadilan seperti apa yang mantan suami dan mantan ibu mertuanya katakan yang Amira pikirkan, tapi takut Devan nekat mengambil paksa salah satu atau dari kedua anaknya. Jika itu terjadi, maka Amira akan menjadi orang paling depresi.
Revi tidak begitu khawatir jika mantan suami Amira meminta hak asuh melalui pengadilan karena dia tahu, Amira pasti akan menang. Selain Amira bisa menyewa pengacara handal, dia juga sudah punya segalanya sehingga Amira punya pegangan jika hakim menanyakan apakah Amira sanggup membiayai keduanya.
Devan juga sudah menikah sehingga sangat sulit baginya untuk meminta hak asuh. Revi begitu mengagumi kesabaran majikannya. Jika dirinya yang ada pada posisi Amira, dia sudah pastikan akan mencabik-cabik mantan suami dan mantan ibu mertuanya dengan tangannya sendiri.
Sudah membuang Amira layaknya sampah, menghina dan menuduhnya hamil bukan anak Devan, tidak pernah mengunjungi juga, tapi ketika anak-anak sudah besar, mereka malah mengakui dan minta hak asuh.
Hewan pun tidak akan mau jika anaknya diambil paksa oleh orang lain apalagi manusia yang punya hati dan perasaan. Hanya saja, Devan dan ibunya seperti manusia yang tidak punya hati dan perasaan selalu bertindak seenaknya.
Memikirkan itu, membuat Revi makin emosi. Dia sampai lupa harus mengajar Adam dan Hawa menggambar. Beruntung, dua anak itu masih anteng dengan buku gambar dan berbagai macam warna yang berserakan di sekitar mereka.
Di sisi lain, Amira sedang berkonsultasi dengan pegawai bank. Ternyata, apa yang dia tahu dari telepon bukanlah penipuan. Dia menang undian yang di luncurkan oleh bank B*I, bank yang dia gunakan untuk menabung.
Undian itu seperti mimpi bagi Amira karena dia tidak menyangka bisa punya mobil baru tanpa harus mengeluarkan uang puluhan bahkan ratusan juta. Dia hanya perlu mengeluarkan sedikit uang untuk menyelesaikan biaya administrasi.
Hanya perlu waktu beberapa hari untuk menyelesaikan segala keperluan admistrasi dan yang lainnya, mobil berwarna putih itu sudah bisa di parkir di halaman rumahnya. Amira tidak henti-hentinya bersyukur dengan apa yang di dapatkannya hari ini.
Dia tidak sabar untuk jalan dengan menggunakan mobil baru itu. Saat keluar dari bank, Amira melihat kembali ke arah mobil yang di parkir di teras bank dengan hiasan banyak pita di atas mobil. Amira sampai membayangkan dirinya membawa pulang mobil itu.
“Amira!”
Amira tersentak kaget dari lamunannya dan melihat ke arah orang yang memanggilnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 35 Episodes
Comments