Suasana kost-kostan terlihat ramai. Banyak pemuda yang menyanyi diiringi alunan gitar yang indah. Amira seperti mendapatkan kembali kebahagiaannya setelah berada di area itu.
“Siapa tuh, Lia?” Tanya salah seorang pria yang baru saja menyajikan kopi. Mungkin, yang sedang main gitar adalah teman-teman pria yang membawa kopi itu.
“Oh, ini temanku.” Jawab Lia.
Mereka baru saja kembali dari minimarket di dekat kos. Amira tidak punya perlengkapan mandi sehingga minta tolong sama Lia untuk menemaninya belanja kebutuhan penting itu.
“Oh, baru tiba, ya?” Tanya pria itu lagi.
“Iya, Mar. Kami masuk dulu, ya.” Pamit Lia.
“Tadi teman kerja aku, Mir.” Jelas Lia tanpa di minta.
Amira baru saja selesai mandi ketika ada ketukan pintu di depan. Lia baru saja keluar dengan temannya untuk beli makan karena mereka belum sempat memasak. Dikarenakan kondisi Amira tidak baik-baik saja, sehingga dia tidak bisa memasak untuk mereka berdua.
“bentar!” jawab Amira. Dia belum bisa buka pintu karena masih memakai jubah mandi.
Setelah mengganti pakaian, Amira membuka pintu.
“Maaf, cari Lia, ya?” tanya Amira pada pria di hadapannya.
“Iya. Lia nya ada?” tanya pria itu.
“Lia lagi keluar, kak.”
“Gitu ya? Ya udah deh, nanti sampaikan aku mencarinya, ya.” Ucap pria itu.
“Oh iya. Maaf, dari siapa ya?” tanya Amira.
“oh iya, bilang saja Damar.” Ucap pria itu lalu pamit.
Amira menutup kembali pintu dan mengambil ponselnya. Karena masalah beruntun, dia belum sempat melanjutkan ceritanya. Sudah banyak komentar dari para pembaca setia yang menunggu ceritanya.
Amira larut dalam dunia onlinenya hingga tidak menyadari kedatangan Lia. Bahkan, dia tidak mendengar Lia yang berteriak di luar hingga membuat para penghuni kos lain berkumpul.
Amira baru menyadari ketika Lia menelponnya. Amira mengira Lia akan menanyakan makanan apa yang dia mau, ternyata Lia sudah ada di depan pintu.
Amira membuka pintu dengan wajah polos tanpa dosa. Dia begitu kaget melihat orang-orang pada berkumpul di depan pintu. Ada Damar juga di sana.
“Kok banyak orang, Lia?” tanya Amira pelan. Tetapi masih bisa di dengar.
“Masih hidup kamu? Kirain sudah almarhumah.” Ucap Lia.
Amira hanya minta maaf pada semua penghuni kos di sana yang sudah dibuatnya khawatir.
Makanan terasa hambar di mulut Amira. Padahal, itu adalah makanan kesukaannya. Saat makan, ponselnya bergetar pertanda ada telepon masuk.
Nama Devan tertera di layar sebagai penelepon. Amira melihat ke arah Lia dan temannya. Dia izin untuk mengangkat telepon.
“Assalamualaikum ....” ucap Amira setelah mengangkat telepon dari suaminya.
“Kamu di mana?”
Bukan suara Devan yang ada di seberang telepon, melainkan dari ibu mertuanya. Mungkin akan jadi mantan ibu mertua bersamaan dengan pisahnya dia dengan Devan. Namun, Amira tidak tahu kapan itu akan terjadi yang pasti dia akan memastikan perpisahan mereka.
“Aku lagi cari kerja, Bu.” Jawab Amira.
“Begitu didikanmu di kampus? Meninggalkan rumah tanpa mahram dan izin dari orang rumah? Apa orang tuamu tidak mengajari bagaimana cara menghargai suami? Apa ....”
“Diam, Bu! Jangan bawa-bawa orang tuaku atas sikapku. Tanyakan pada anak ibu apa sudah pantas di hargai dan di hormati? Tanyakan pada diri ibu juga, apa sudah pantas dianggap sebagai ibu? Kurasa, ibu perlu belajar dari anak SD agar paham bagaimana memperlakukan orang lain dengan baik.”
Amira tidak sadar telah meninggikan suaranya. Damar yang kebetulan mendengar itu, langsung keluar tetapi masuk kembali ketika melihat Amira sedang menelepon.
“Kamu tidak ada etika sama sekali. Menyesal aku sudah menikahkan Devan dengan perempuan seperti kamu!”
“Tenang saja, bu. Ibu tinggal ngomong pada anak ibu untuk menceraikanku. Oh iya, jika nanti Devan pisah denganku dan dapat penggantinya, ku harap ibu tidak ikut campur dengan urusan mereka.” Amira tidak lagi menangis seperti sebelumnya.
“Pulang Amira!” ibu Dewi malah berteriak menyuruh Amira pulang.
“Ngga bisa, Bu. Aku harus kerja agar tidak di tin-das orang lain. Aku juga sudah bosan jadi pembantu di rumah ibu. Mending kerja di luar yang gajinya tetap, bukan di rumah ibu yang tidak di gaji dan hanya dapat tekanan batin.” Emosi Amira sangat tidak terkontrol saat ini.
“Oh iya, satu lagi, Bu. Tolong sampaikan pada Devan, jangan selalu berlindung di bawah ketek ibunya.”
Setelah mengatakan itu, Amira memutuskan telepon secara sepihak. Dia menenangkan emosi lalu kembali ke kamar Lia.
Lia dan temannya sudah selesai makan sehingga Amira harus makan sendiri. Amira memaksa makanan masuk dalam perutnya. Dia sebisa mungkin menahan agar tidak muntah.
Sebelum tidur, Amira dan Lia ngobrol dulu diawali dengan Lia yang menyampaikan jika ada lowongan kerja di tempatnya. Kebetulan, salah satu karyawan di restoran tempatnya kerja sudah keluar karena akan pergi melanjutkan studi.
Amira senang mendengar kabar dari Lia. Dia tidak perlu memikirkan Devan dan keluarganya lagi, karena dengan bekerja, dia hanya perlu fokus pada kerjaannya.
“Oh iya, Mir. Aku mau nanya, boleh?” tanya Lia ragu-ragu.
Amira sudah tahu apa yang akan di tanyakan Lia. Dia sudah siap menjawab semua pertanyaan Lia sekalipun itu masalah pribadinya.
“Apa Devan ngga akan mencarimu? Kamu sudah izin, kan? Aku ngga mau yah, jadi biang masalah kalian karena sudah mengizinkanmu di sini.” Tanya Lia.
“Tenang aja. Devan ngga akan marah, kok.” Jawab Amira dengan kekehan kecilnya.
“Kalian ngga lagi ada masalah, kan?”
Amira menarik nafas, lalu menghembuskanya secara perlahan. Dia kemudian menceritakan sebagian masalahnya sehingga dia berada di tempat Lia. Lia yang mendengar itu, harap-harap cemas membiarkan Amira ada di tempatnya.
Selama Amira belum cerai dengan suaminya, maka Lia akan disalahkan juga karena mendukung pelarian Amira.
“Tenang saja, kamu ngga akan di salahkan kok. Aku ada niat mau cari tempat lain buat tinggal.” Amira mengerti dengan ke khawatiran Lia.
Namun, Amira tidak bisa mengalahkan Lia yang tidak membantunya. Dia juga mengerti aturan di tempat mereka yang tidak bisa memberikan tempat untuk seseorang yang lari dari suami sahnya.
“Maaf ya, Mir.” Lia merasa tidak enak pada temannya.
“Ngga apa-apa. Aku mengerti kok. Mmm kamu tahu ngga di mana rumah yang di kontrakan? Bait kecil yang penting nyaman.” Tanya Amira.
Dia memang tidak ada niat untuk tetap tinggal dengan Lia. Terlalu berat hati dirinya untuk menjadi beban temannya itu.
“Aku tahu, Mir. Tapi, agak masuk lorong gitu. Dengar-dengar, penghuni rumahnya sudah pindah ke rumah orang tuanya.” Jawab Lia.
“Boleh antar aku ke sana besok, ngga?”
Lia mengangguk, “boleh ... boleh. Sekalian aku kerja. Kebetulan, rumahnya dekat dengan restoran tempat aku kerja dan kamu kalau cocok dengan kerjaan itu.”
“Okelah.”
Amira dan Lia mengobrol hingga lupa waktu. Sekarang, sudah hampir tengah malam tapi mereka belum juga tidur. Hingga Amira memutuskan untuk tidur karena perasaannya mulai tidak enak lagi.
***
“Ini pertahunnya berapa, Bu?” tanya Amira pada tetangga rumah yang akan dia kontrak.
Sebelum berangkat kerja, Lia menyempatkan waktu untuk mengantar Amira ke rumah yang kabarnya akan di kontrakan itu.
“Oh, kalau itu ibu kurang tahu, neng. Coba neng hubungi nomor yang ada di tulisan itu. Itu nomor pemilik rumah ini, neng. Dia masih muda, masih sekolah di SMA.” Ucap ibu itu yang ternyata namanya Bu Ambar.
Amira mengambil ponsel dan menghubungi nomor pada pamflet yang di tempel di depan rumah itu. Rumahnya terlihat sederhana dan sepertinya belum pernah di renovasi.
Amira berbincang sedikit dengan pemilik rumah itu. Mereka sepakat akan bertemu beberapa menit lagi karena kebetulan, pemilik rumah sedang ada di dekat sana.
Amira menunggu di teras di temani dengan Bu Ambar. Bu Ambar juga ingin ketemu dengan pemilik rumah itu karena dia sudah lama tidak bertemu dengannya.
Mobil putih memasuki halaman rumah yang akan di kontrak oleh Amira. Empat orang terlihat keluar dari mobil. Dari penafsiran Amira, mereka bukan orang biasa di lihat dari penampilannya. Hanya satu orang yang menarik perhatian Amira. Dia adalah gadis berkacamata dengan dandanan biasa saja.
“Sasa. Lama kesini, nak.” Bu Ambar menghampiri gadis berkacamata itu. Mereka saling peluk seperti sedang melepas rindu.
Tanpa basa-basi, Amira di persilakan untuk melihat-lihat bagian dalam rumah itu. Dia merasa cocok dengan rumah itu.
“rumahnya bagus, ini berapa perbualan, ya?” tanya Amira setelah selesai melihat isi rumah.
“Mbak serius mau kontrak rumah ini?” tanya gadis itu sementara dua orang dewasa yang ikut dengan gadis itu hanya melihat saja.
“Kalau harga cocok, aku mau, neng.” Jawab Amira.
Gadis itu tersenyum, “ngga usah di bayar, mbak. Mbak cukup merawat rumah ini dengan baik tanpa merubah apa pun bentuknya.” Jawab gadis itu membuat Amira mengerutkan kening tidak mengerti.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 35 Episodes
Comments