kecewa

Ayam berkokok pertanda siang akan datang. Amira masih terbaring di kasur. Keadaannya sedang tidak baik-baik saja setelah semalaman dia memikirkan ide cerita ditambah dengan Devan yang tidak cepat pulang dari rumah temannya.

“Kamu kenapa, Mir?” Tanya Devan saat melihat istrinya yang belum beranjak dari kasur.

“Aku ngga enak badan, mas.” Jawab Amira serak.

“Ya udah, kamu istrahat aja dulu. Mas mau berangkat.” Ucap Devan bersiap untuk pergi kerja.

Amira hanya mengangguk. Devan dengan gampangnya menyuruhnya istirahat padahal mereka sedang tinggal di mana. Amira menahan pusing di kepalanya untuk ke dapur. Dia akan menyiapkan makanan untuk penghuni rumah.

Andai mereka hanya tinggal berdua, Amira akan meminta Devan agar mereka beli di luar dulu. Namun, Amira tidak mau melakukan itu selama dia tinggal di rumah mertuanya. Dia tidak mau jadi bahan gosip ibu mertuanya lagi bersama para tetangga.

“Ikan ada dalam kulkas.” Ucap Bu Dewi.

Amira mengerti maksud perkataan ibu mertuanya. Dia segera mengambil ikan itu untuk dimasak. Karena badannya sedang tidak fit, Amira hanya memasak ikan pindang.

Setelah nasi, ikan dan sayur beres, Amira buru-buru kembali ke kamar. Dia sudah sangat lelah.

Terdengar, ibu mertuanya memanggil cucunya untuk makan. Amira hanya berusaha menutup mata menahan sakit di kepalanya.

Seharian, Amira hanya menahan sakit sendiri tanpa ada yang memperhatikan. Saat malam, dia meminta Devan membantunya untuk memijat bagian belakangnya.

“Mas, tolong pijatan belakang aku.” Ucap Amira pada suaminya yang sedang main ponsel.

“Bentar.” Jawab Devan tanpa menoleh padanya.

Ada yang terluka di dalam sana ketika mendengar jawaban Devan sang suami. Diam-diam Amira berdoa pada Tuhan meminta kelembutan hati untuk suaminya. Walaupun Devan tidak melakukan kekerasan padanya, tapi perlakuan Devan lebih sakit daripada kekerasan dalam rumah tangga dalam bentuk fisik.

Perlakuan Devan dan keluarganya menyakiti Amira dari dalam. Mungkin, inilah yang membuat sebagian orang gelap mata hingga melakukan bunuh diri.

Setelah beberapa menit, Devan mendekati Amira. “mana yang mau dipijat?” tanya Devan.

Amira tidak melihat ekspresi Devan saat bertanya karena pria itu duduk di belakangnya.

“Belakangku, mas.” Jawab Amira.

Devan mulai memijatnya. Amira hanya merasakan satu tangan Devan saja yang menyentuh belakangnya. Ternyata, tangan satunya memegang ponsel.

“Mana lagi?” tanya Devan.

“Udah, mas.”

Sebenarnya, Amira masih ingin di pijat. Namun, dia melihat Devan tidak ikhlas melakukannya sehingga dia memilih menyudahinya.

Tidur Amira tidak senyenyak seperti biasanya. Dia sesekali bangun untuk meredakan sakit di kepalanya. Jika berbaring, maka dia akan merasakan sakit di bagian kepalanya sehingga Amira memilih duduk agar tidak tersiksa.

Sekuat tenaga dia berusaha agar suara tangisnya tidak mengganggu Devan. Ya. Amira menangis karena sakit yang melandanya begitu kuat.

Sepanjang malam, Amira habiskan dengan duduk sementara Devan tidur dengan nyenyak. Tidak. Amira yakin Devan tahu jika dirinya sedang tersiksa tapi Devan cuek saja.

***

[Kak Mawar, kenapa ngga upload cerita lagi?] tanya salah satu pembaca cerita Amira. Ya, Amira menulis dengan nama pena sebagai Mawar Merah. Dia tidak percaya diri untuk tampil sebagai dirinya sendiri.

[Maaf kak, aku lagi sakit.] Balas Amira.

Amira menjawab semua komentar yang ditulis oleh para pembaca setianya. Ada yang hanya komentar dengan tulisan lanjut atau menyemangatinya.

Merekalah yang membuat Amira menampilkan senyum tulus tanpa paksaan. Di dunia mayalah Amira mendapatkan kebahagiaannya yang sesungguhnya. Di dunia nyata, dia selalu pura-pura kuat.

Amira baru saja selesai mandi ketika Devan baru pulang.

“Capek juga.” Ucap Devan setelah mengganti pakaiannya.

“Ya udah, mas istrahat dulu baru kita makan.” Ucap Amira.

Walaupun dirinya lapar, dia masih bisa menahan sampai Devan sudah tidak capek. Selama menikah dengan Devan, Amora belum pernah makan sendiri di dapur. Dia rela menahan lapar demi menunggu Devan daripada makan dengan telinga panas oleh kata-kata ibu mertuanya.

Namun, sampai azan Zuhur berkumandang pun, Devan selalu ngomong sebentar. Amira tidak tahan lagi. Dia mengambil ponsel dari tangan Devan lalu menghapus aplikasi game yang menyita seluruh waktu Devan.

“Apa aku tidak penting, mas? Kamu selalu saja main ponsel. Tidak peduli apa yang terjadi padaku. Bahkan, kamu tidak pernah menanyakan keadaanku bagaimana. Dari pagi, ponsel terus sampai kamu pergi kerja, pulang ponsel terus yang dilihat. Ketika tidur, kamu main ponsel sampai tertidur. Apa mas tidak menganggapku ada? Aku sebenarnya apa di mata mas? Boneka?” Amira sekuat tenaga menahan air matanya agar tidak jatuh di hadapan Devan.

Devan hanya diam. Entah dia mendengar keluhan Amira atau tidak tetapi dia tidak merespon sedikit pun.

“Mas pernah tahu apa yang aku alami di rumah selama mas tidak di rumah? Apa mas tahu kata-kata yang ibu ucapkan selalu menyinggung perasaanku, mas.” Kali ini Amira tidak lagi mampu membendung air matanya. Dia menangis di hadapan suaminya yang seperti orang lain.

Amira selalu iri pada teman-temannya yang memperlakukan istri mereka dengan baik.

“Ibu selalu menyinggung aku yang belum hamil, mas. Ibu selalu membandingkan aku sama Wiwin. Ibu selalu mengatakan aku yang tidak bisa hamil.”

Amira menekan suaranya agar tidak berteriak. Dia tidak mau suaranya terdengar oleh keluarga suaminya atau para tetangga.

“Sudah?”

Deg!

Respon Devan di luar dugaan Amira. Dia mengira Devan akan menanggapi baik keluh kesahnya. Minimal memeluk menenangkannya.

Amira hanya diam dengan harapannya sendiri. Dia menguatkan hati sendiri tanpa perhatian dari Devan.

Devan keluar dari kamar meninggalkan Amira dengan air matanya. Entah setan apa yang ada dalam hatinya sehingga meninggalkan istrinya tertekan seperti itu.

“Aku tidak pernah di perlakukan seperti ini, mas. Aku selalu di perhatikan oleh ayahku, selalu di sayang oleh ayah. Aku sangat berharap kamu bisa seperti ayah, minimal ada disaat aku terluka seperti ini.” Ucap Amira bicara sendiri.

Bayangan-bayangan kehidupannya sebelum menikah berseliweran di pikirannya. Air matanya makin deras mengalir di kala mengingat ayahnya. Amira lebih dekat dengan ayahnya di banding ibunya karena dia pernah tidak di sayang sama ibunya.

Namun, jika sama ayahnya, Amira seperti anak kecil yang selalu di perhatikan dan di sayang. Bahkan, ayahnya seperti melihat Amira tidak bisa ngapa-ngapain sehingga dia selalu sigap membantu Amira. Hal itu membuat Amira makin sayang pada ayahnya.

Walau Amira dilihat tegar, dewasa dan kuat di mata orang-orang di luaran sana, tetapi masih dianggap anak kecil oleh ayahnya. Dia tidak menyangka laki-laki yang sudah mengambil tanggung jawab dari tangan ayahnya justru membawanya di kehidupan neraka dunia.

Sejauh ini, ayah Amira belum tahu jika anaknya tersiksa dengan Devan dan keluarganya. Jika dia tahu, mungkin Amira akan diambil kembali olehnya. Ayah mana yang mau membiarkan anaknya di siksa secara batin oleh orang lain. Ayah mana yang tega anaknya diperlakukan tidak baik oleh orang yang dengan baik berjanji di hadapan tuhan, di hadapannya, dan keluarga besarnya akan mengambil tanggung jawab darinya justru malah menyiksa secara perlahan.

Tidak ada yang tega melihat anak gadis yang di besarkan dengan penuh kasih sayang tersiksa. Apalagi, sejak lulus kuliah, Amira selalu memikirkan keluarganya sehingga kerap kali dia meringankan beban ayahnya. Dia kerap kali membantu biaya kuliah adiknya, memenuhi kebutuhan ayah dan ibunya juga.

“Ayah, maafin Amira. Amira tidak bahagia degan Devan tapi Amira tidak bisa meninggalkan Devan. Amira takut membuat malu ayah dan ibu jika Amira memilih mengakhiri pernikahan yang baru seumur jagung ini. Amira ....”

Amira tidak sanggup melanjutkan kata-katanya. Dadanya terlalu sesak untuk terus berkata-kata. Berulang kali di tariknya nafas untuk menenangkan diri. Hingga dia tertidur dalam keadaan menangis.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!