Langkah berat itu semakin jauh melangkah, meninggalkan sejuta kenangan yang entah kapan bisa di datangi lagi. Hati Amira sudah terluka parah atas apa yang terjadi barusan. Dia tidak ingin rumah tangga orang tuanya hancur karena dirinya. Dia hidup tanpa kedua orang tua dan keluarga sudah biasa tapi bagaimana dengan adik dan orang tuanya.
Amira tidak ingin beban itu mereka rasakan jika ayah dan ibunya berpisah hanya karena kedatangan dirinya. Revi merasa tidak enak dengan apa yang terjadi karena dia tidak tahu harus berbuat apa. Bahkan, untuk sekedar menenangkan majikannya dia tak kuasa karena takut salah bicara.
Revi hanya bisa memeluk dengan sayang Adam yang sudah tidak lagi menangis. Tapi air mata anak itu masih banyak yang tertinggal. Revi baru tahu ternyata begitu pahit kehidupan majikannya yang selama ini dia tidak tahu. Di balik bahagianya Amira ketika berada di kota, ternyata menyimpan berjuta sakit di kampung halamannya sendiri. Apalagi, dia di tolak oleh keluarga intinya sendiri.
Di tolak oleh keluarga suami itu sudah hal umum karena banyak yang mengalaminya tapi apa jadinya jika keluarga intinya lah yang justru menolak kehadirannya.
Amira baru sadar ternyata ketika Amira diam dan melamun, pasti memikirkan ini semua. Setegar apa pun seseorang, pasti ada saatnya dia sedih. Namun, Revi tidak pernah melihat secara langsung majikannya itu sedih atau bahkan menangis di hadapannya. Jika dirinya yang mengalami itu, mungkin Revi tidak akan setegar Amira.
“Kita beli makan dulu, ya.” Ucap Amira pada Revi. Dia tahu, Revi pasti sudah lapar karena mereka belum sempat makan.
“Iya, kak.” Jawab Revi.
Entah kenapa, Adam dan Hawa seolah mengerti dengan perasaan ibunya sehingga mereka hanya diam tidak banyak tingkah atau banyak tanya seperti biasanya.
Amira memesan makanan yang bisa mereka makan di hotel nanti. Hotel di kota kelahiran Amira tidak seperti hotel di tempat tinggalnya yang menyediakan tempat makan sehingga dia membeli di luar untuk di makan bersama.
Perjalanan pulang terasa sepi karena Adam dan Hawa hanya diam tidak berbicara. Amira juga sedang tidak bisa memulai kata. Entahlah, kejadian barusan sangat menguras semangatnya.
“Kita sampai!” seru Amira sudah bisa seperti biasa. Dia sadar anak-anaknya tidak berceloteh sejak tadi karena mungkin mereka takut padanya.
“Ibu ngga malah lagi?” Adam bertanya ketika melihat ibunya kembali ceria.
“Ibu ngga marah, kok. Siapa bilang ibu marah, sayang?” tanya Amira duduk, menyesuaikan tinggi dengan anaknya.
“Sini sayang,” Amira memeluk dua anaknya mendekat, “ibu ngga pernah marah sama kalian, tadi itu bukan marah-marah sayang, itu hanya suaranya yang besar. Mereka ngga marahin Adam dan Hawa.” Jelas Amira berusaha membuat anak-anaknya tidak takut pada kakek dan neneknya.
“apa iu angis.” Hawa tidak mau kalah. Dia mengeluarkan pertanyaannya juga.
“Ibu nangis karena ibu udah lama ngga ketemu mereka.” Elak Amira pada dua anaknya.
“Adam dan Hawa mau nggak jalan-jalan ke pantai?” tanya Amira mengalihkan perhatian anak-anaknya dari pertanyaan seputar pertemuannya dengan ibu dan ayahnya tadi.
“Mau!”
“auuu!”
“Adek kalau ngomong suka nggak bener. Mau, dek bukan au. Au itu bau, dek.” Ucap Adam menggoda adiknya.
Semua yang ada disitu tertawa dengan ucapan Adam, tetapi langsung berhenti ketika melihat Hawa yang cemberut. Amira segera mendekati anaknya ingin menghibur, tetapi keduluan oleh Adam.
Anak itu memeluk adiknya, “Kakak bercanda kok, dek. Jangan marah, ya.” Ucap Adam memeluk adiknya.
“A ....” Hawa tidak jadi melanjutkan kata-katanya. Dia hanya menggeleng dengan kakaknya.
“Ini mau nggak?” Adam mengeluarkan coklat dari dalam sakunya.
“Auuuu!” Hawa meraih coklat itu dengan gembira. Dia melupakan jika dirinya sedang ngambek pada abangnya itu.
Melihat itu, Amira tersenyum bangga dengan anak sulungnya itu. Namun, dia juga penasaran dari mana anak itu memiliki coklat, padahal mereka tidak membawa jajan ke sana.
“Dari mana kakak dapat coklatnya, sayang?” tanya Amira pada anak sulungnya.
“Aku ambil di rumah, Bu. Nih, masih ada.” Adam mengeluarkan satu coklat dari saku lainnya.
Amira dan Revi tertawa melihat tingkah Adam. Memang, anak itu sangat suka dengan coklat tapi Amira membatasinya karena tidak bagus untuk perkembangan giginya.
“Kakak, ngga boleh ....”
“Banyak makan coklat.” Adam melanjutkan apa yang akan ibunya sampaikan.
“Tapi aku sengaja bawa, ngga di makan juga kok, Bu. Adam cuman bawa di saku untuk nanti kalau di bolehin makan coklat sama ibu. Cuman dua aja, kok. Satu untuk adek, satu untuk Adam.” Ucap Adam menjelaskan.
Memang, anak-anak Amira begitu pintar. Mereka sangat patuh dengan apa yang diucapkan ibunya. Jika di larang, mereka akan mengikut dan akan izin jika menginginkannya seperti makan coklat. Jika mereka izin, maka Amira akan mengizinkannya asal tidak sering dan tidak banyak.
“Itu Adam ngga izin.” Ucap Amira.
“Kan belum dimakan, Bu.” Elak Adam.
Ada-ada saja jawaban anak kecil itu pada ibunya membuat ibunya gemas. Dia mengizinkan mereka makan coklat itu dengan syarat harus makan nasi dulu karena jika makan coklat sebelum makan nasi, anak-anak itu tidak akan nafsu untuk makan nasi lagi.
Adam dan Hawa tidak mewarisi ibunya perihal makan. Amira selalu enak makan walaupun sudah makan jajan duluan. Ibu dua anak itu sangat suka dengan jajan tapi semenjak menikah degan Devan, dia mengurangi jajan karena harus ngirit. Hanya sesekali dia beli jajan di warung dekat rumah.
***
“Adek, sini.” Adam mengajak adiknya untuk bermain pasir. Saat ini, mereka sudah berada di pantai yang ada di kampung Amira.
Amira sengaja sebelum kembali ke kota, mengajak dua anaknya dan Revi jalan-jalan untuk melihat keindahan kampung halamannya.
“wahhh agus.” Ucap Hawa kegirangan.
Adam membuat rumah dari pasir, ada juga bola-bola yang di buat anak itu. Amira melihat Adam begitu kreatif dibanding adiknya yang lebih suka melihat ibunya memasak dan lebih suka main dokter-dokteran. Bahkan, terkadang Hawa sengaja bangun pagi untuk melihat dan membantu ibunya menyediakan sarapan.
Amira sudah melihat di mana bak dan hobi dari kedua anaknya sehingga dia sengaja memfasilitasi apa yang mereka mau. Amira ingin, anak-anaknya bisa mengembangkan hobi hingga menjadi keahlian mereka nantinya.
“Adam pintar banget ya, kak.” Ucap Revi melihat dua anak yang sedang asyik main pasir.
Saat mereka masih sibuk main, tiba-tiba ada empat orang yang mendekati mereka.
“Amira?” sapa orang itu.
Amira menoleh melihat orang yang menyapanya dari belakang. Revi juga ikut melihat siapa orang yang menyapa majikannya. Saat melihat siapa orang di belakangnya, Revi berjalan menuju Adam dan Hawa dan membiarkan Amira bersama empat orang itu.
Dari wajahnya, empat orang yang datang pada Amira itu terlihat datang dengan cara tidak baik-baik.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 35 Episodes
Comments