Hamil

Suasana kota terlihat ramai. Banyak mahasiswa menggunakan pakaian hitam dengan berbagai karangan bunga. Dari yang Amira lihat, para mahasiswa itu sepertinya akan melayat. Amira hanya mengucapkan belasungkawa dan mendoakan dalam hati agar di beri kelapangan kubur bagi yang meninggal.

“Mas, ada kartu SIM?” Tanya Amira.

Dia akan mengganti kartu di ponselnya untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Semalam, Devan sudah menalaknya melalui ponsel dan mengatakan akan mengurus segala keperluan perceraian mereka. Entah ada apa, Devan semalam begitu penuh amarah.

Devan yang biasanya cuek, menjadi sangat marah. Amira tahu, mungkin karena dirinya telah pergi tanpa ada niat untuk kembali.

Walaupun Amira berniat pergi dari kehidupan Devan, tapi tidak bisa di pungkiri dia masih menyayangi pria cuek itu sehingga semalam dia tidak bisa tidur. Semalaman hanya tangis yang menemaninya hingga tanpa sadar dia sudah tidur.

Setelah pagi hari, Amira mencoba menenangkan diri. Dia mengirimkan pesan pada ayahnya mengabarkan jika dirinya telah di talak oleh Devan. Amira sengaja menyampaikan pada ayahnya dengan maksud ayahnya tidak khawatir. Pak Rian sempat mengatakan pada Amira jika dia khawatir kalau-kalau Devan melakukan sesuatu yang membahayakan untuk dirinya karena Amira masih sebagai istrinya.

Kini, Amira tidak lagi terikat secara agama oleh Devan. Dia tidak akan di cap istri durhaka pada suami yang meninggalkan suami tanpa izin. Memang, Amira sempat merasa sangat bersalah pada dirinya sendiri karena melanggar kodrat sebagai istri. Namun, Amira menenangkan diri. Dia berhak bahagia karena Devan tidak memperlakukannya sebagai istri.

“Mau kartu apa, mbak?” tanya penjaga konter.

“Kartu telko*sel aja.” Ucap Amira. Dia menunjuk pada kartu dalam etalase.

“Mau diregistrasikan atau jangan, mbak?” tanya petugas konter itu lagi.

“Sekalian aja deh, mas.” Amira mengeluarkan catatan nomor KTP dan kartu keluarganya untuk keperluan registrasi.

Dia sengaja sekalian registrasi karena setelah dari sana, dia akan ke restoran tempat yang akan dia akan menghabiskan waktu. Amira hanya perlu naik angkutan umum sebentar, dia sudah sampai di restoran yang di sebutkan Lia.

Beruntung, Amira sudah pernah tinggal di kota itu sehingga dia tidak kesusahan mencari tempat. Asal di tau di bagian mana, Amira sudah bisa ke sana.

Amira melihat jam di ponselnya. sudah setengah sembilan lewat lima belas menit. Hari ini, dia akan bertemu dengan bos restoran jam sembilan sebelum akhirnya di tentukan akan di terima atau tidak.

Sudah ada pelanggan yang duduk menunggu pesanan di dalam restoran itu. Amira masih mengagumi keindahan interior restoran itu saat pelayan menghampirinya.

“Silakan, mbak.” Ucap pelayan itu.

Amira menoleh, dia sedikit terkejut melihat pelayan di sampingnya.

“Eh temannya Lia, ya? mau ketemu Lia?” Tanya Damar. Ya, pelayan itu adalah Damar, tetangga kamar Lia.

“Oh, enggak, mas. Aku mau ketemu pak Denis.” Ucap Amira.

“Aku mau interview mau kerja di sini.” Lanjut Amira setelah melihat raut wajah penuh tanya pria di hadapannya.

“pak Denis tidak akan hadir, mbak. Beliau lagi berduka. Sahabatnya meninggal kemarin sore dan akan di makamkan hari ini. Beliau ngga mungkin datang karena yang meninggal itu sahabat dekatnya, langganan restoran ini juga.” Jelas Damar.

Amira hanya mengucapkan terima kasih atas penjelasan Damar, lalu duduk di kursi yang ada di sampingnya.

“Aku mau sarapan aja, kalau gitu.” Ucap Amira ramah.

Nanggung dia sudah sampai di restoran dan harus pulang lagi. Amira memesan nasi goreng seafood untuk menemani sarapannya pagi ini.

Setelah sarapan, Amira memutuskan untuk jalan-jalan ke pusat belanja terkenal di kota ini. Dia ingin memanjakan mata dengan buku-buku yang ada di toko buku dalam pusat perbelanjaan itu. Amira juga ingin menikmati ice cream yang pernah di cobanya bersama Lia di sana. Entah kenapa, Amira sangat ingin makan ice cream itu padahal masih pagi.

Amira menelpon Lia untuk menemaninya jajan, tapi gadis itu tidak menerima telpon darinya.

“Ah, mungkin karena nomor baru.” Ucap Amira seraya naik angkot.

Tidak butuh waktu lama, Amira sudah tiba di lokasi. Dia menghirup nafas seperti baru bebas dari penjara. Ya, selama di rumah Devan dia seperti di penjara tidak pernah menghirup udara segar di luar. Baru hari ini lagi Amira bisa jalan-jalan.

Amira berjalan-jalan di tokoh buku. Sesekali tangannya meraih buku yang menarik perhatiannya. Dia hanya membaca yang ada di sampul belakang novel itu baru meletakannya kembali. Seperti itu, sampai dia puas lalu ke tempat ice cream untuk bersantai.

Dia tidak perlu mengantri karena belum banyak pengunjung.

***

Bau obat menabrak hidung seorang wanita yang baru saja sadar dari pingsannya. Silaunya lampu memaksanya untuk memicingkan mata.

“Enggh ....” Amira melenguh. Ya, wanita yang pingsan itu adalah Amira. Dia pingsan ketika sibuk melayani pelanggan di restoran tempatnya kerja.

Mungkin, dia kelelahan karena belum terbiasa dengan pelanggan yang begitu banyak di siang hari.

Saat membuka mata, dia mendapati Lia yang tersenyum padanya. Senyum manis seperti sedang menang undian.

“Aku kenapa, Lia?” tanya Amira dengan suara seraknya.

“Kalian ngga apa-apa.” Jawab Lia.

Amira belum menyadari kata-kata Lia yang menyebutnya kalian. Berarti, maksud Lia dia bukan sendiri.

“Oh iya, kenapa aku di bawa ke sini, sih?” Amira merasa bersalah pasti telah merepotkan banyak orang untuk membawanya ke rumah sakit.

“Ya mau bagaimana lagi, kamu pingsan ngga bangun-bangun. Mana wajah kamu pucat banget lagi. Akhirnya, pas ada pak bos beliau menyuruh kami untuk mengantarkanmu pakai mobilnya.” Jelas Lia.

Amira makin merasa tidak enak. Baru seminggu kerja saja, sudah merepotkan banyak orang apalagi sampai bosnya juga terlihat walaupun sang bos hanya meminjamkan mobil tapi tetap saja dia merasa tidak enak telah merepotkan banyak orang.

“Udah, ngga usah banyak pikiran. Sekarang, kamu hanya perlu memikirkan kesehatan kalian.” Ucap Lia menekan pada kata kalian.

Amira mengerutkan kening, “kalian?” Lia mengangguk.

“Maksud kamu? Bukan hanya aku yang pingsan? Ada karyawan lain yang pingsan bersamaan dengan aku?” tanya Amira.

Lia tersenyum, “iya. Saat kamu pingsan, ada dua orang lagi yang ikut pingsan.” Jawab Lia masih bum menyampaikan arti yang sebenarnya dari kata kalian.

“Astaghfirullah! Kok bisa barengan? Emang mereka kenapa bisa pingsan juga?” Tanya Amira.

“Emang kamu kenapa pingsan?” bukannya menjawab, Lia malah balik bertanya pada Amira membuat wanita itu kesal.

“Aku tanya sama kamu, Lia! Kenapa kamu malah nanya aku? Aku pingsan ya, karena kecapekan mungkin. Semalam juga aku ngga bisa tidur, makanya kelelahan.” Jelas Amira.

Lia manggut-manggut, “berarti, mereka juga kecapekan makanya ikut-ikutan pingsan. Tapi, mereka juga sudah sadar dan baik-baik aja, kok. Asal kamu tidak pingsan lagi, mereka juga tidak akan pingsan lagi.”ucap Lia makin menambak kebingungan di wajah Amira.

Dokter memasuki ruangan, dia memeriksa Amira kembali.

“Oh iya, ibu Amira tidak boleh terlalu capek. Ibu perlu istirahat beberapa hari dan tidak boleh stres karena akan mempengaruhi janin dalam kandungan ibu.”

Deg!

“Janin? Maksud dokter ....”

“Ya, ibu hamil. Ada dua janin yang berkembang di dalam rahim ibu. Ibu harus memperhatikan kondisi kesehatan ibu. Ibu tidak boleh stres dan ini saya beri vitamin untuk ibu.” Ucap dokter.

Amira masih tidak percaya dengan apa yang di dengarnya. Setelah sekian lama, akhirnya dia bisa hamil. Senyum Amira memudar. Dia meneteskan air mata mengingat statusnya kini.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!