Hujan deras mengguyur desa kecil dimana seorang istri sedang menentukan sikap untuk hidupnya di masa depan. Dia menimbang-nimbang konsekuensi yang akan di dapatnya jika mengambil tindakan saat ini juga.
Sejak kejadian semalam diabaikan oleh Devan, Amira memutuskan untuk mengakhiri drama dari keluarga Devan. Hari ini, dia tidak keluar kamar seperti bisanya. Dia hanya duduk rebahan di kamar sambil berpikir keras.
Walaupun ibu mertua dan sepupu dari Devan mencarinya, Amira hanya diam tanpa memperdulikan mereka yang salin tanya dimana Amira berada. Rasa sakit yang di rasakannya sudah berada diambang batas.
Saat jam pulang Devan akan tiba, Amira sudah merapikan kamar dan berjalan ke dapur. Tatapan membunuh dari ibu Dewi tertuju padanya.
“Eh Amira baru bangun, ya?” tanya Wiwin basa-basi.
Dia pikir Amira tidak mendengar apa yang mereka ceritakan dengan ibu mertuanya. Amira mendengar semua kebusukan Wiwin yang selama ini terlihat baik di depannya. Amira hanya berharap, anak dalam kandungan sepupu dari suaminya itu tidak mengikuti tabiat ibunya.
“Udah dari tadi, kok.” Jawab Amira.
Amira lalu melewati mereka menuju dapur. Dia melihat makanan sudah di siapkan oleh ibu mertuanya. Tanpa ada rasa malu dan sungkan, Amira mengambil air kobokan untuk Devan yang sebentar lagi akan pulang.
Mungkin, hari ini adalah hari terakhir untuk Amira menyiapkan makan untuk Devan.
“Enak ya, tinggal makan.” Ucap Bu Dewi menyindir.
Namun, Amira tidak lagi peduli. Dia sudah buta hati mati rasa dengan ucapan-ucapan pedis dari ibu mertuanya. Di rumah ini, rasa sakit yang Amira dapatkan sudah komplit. Jika ibu mertuanya menyerang batinnya dengan kata-kata, Devan menyerangnya dengan sikap tidak pedulinya.
Setelah selesai, Amira kembali ke kamar untuk menunggu Devan.
Saat ini, hujan sudah berganti dengan hangatnya mentari tetapi tidak mampu menghangatkan hati Amira yang sudah terlanjur dingin. Bahkan, hati itu hampir membeku.
Devan memarkirkan motornya di halaman rumah lalu masuk dalam rumah.
“Istirahat baru kita makan ya, mas.” Ucap Amira pada suaminya.
“Aku belum mau makan. Aku mau ke kota dulu, ada yang perlu di beli.” Jawab Devan. Padahal, Devan tahu jika Amira tidak akan makan kalau tidak ada dirinya.
Amira tidak lagi peduli. Dia tidak lagi memohon pada Devan untuk makan.
Setelah Devan pergi, Amira hanya menarik nafas lalu berjalan ke dapur untuk makan. Dia akan makan tanpa Devan sekarang.
“Kenapa makan sendiri?” tanya ibu mertuanya.
“Devan masih ada urusan, Bu.” Jawab Amira sambil makan.
Setelah itu, Amira hanya fokus dengan makanan di piringnya tanpa peduli dengan ibu mertuanya yang banyak bicara. Entah apa yang ibu mertuanya bahas, Amira tidak mau tahu. Dia hanya perlu mengisi tenaga saat ini.
Devan pulang setelah salat Zuhur. Entah dimana pria itu makan sehingga dia tidak makan di rumah sampai siang begitu. Amira juga tidak lagi bertanya dari mana? Sudah makan atau belum? Dia tidak mau menyiksa dirinya sendiri untuk orang seperti Devan.
Seperti biasa, saat pulang di rumah, Devan sibuk dengan ponselnya tanpa peduli dengan Amira. Entahlah, Amira juga tidak mengerti apa yang membuat Devan jadi berubah begitu.
Awal pernikahan, Devan begitu perhatian padanya sehingga Amira tidak terlalu peduli dengan ocehan ibu mertuanya yang selalu menyinggung perasaan. Namun, saat ini Devan tidak lagi peduli padanya sehingga Amira berada pada titik jenuh paling tinggi. Berada pada batas kesabaran sempurna.
“Kamu sudah makan?” tanya Devan setelah tidak mendengar Amira bertanya padanya seperti apa yang dia tanyakan.
Biasanya, Amira akan bertanya sudah makan atau belum pada Devan. Namun, Devan tidak mendengar pertanyaan itu keluar dari mulut Amira sehingga dia bertanya pada Amira.
“Sudah. Kamu kalau mau makan, masih ada sayur di dapur.” Ucap Amira.
Devan segera bergegas ke dapur. Dia tidak membawa ponselnya ke dapur.
Melihat ponsel Devan, Amira merasa heran. ‘tumben dia tidak bawa ponsel.’ Amira membatin.
Amira dengan berani membuka ponsel Devan. Dia menuju aplikasi hijau yang sering di gunakan Devan untuk menghubungi orang.
Ada chat teratas dari seorang wanita yang membuat Amira penasaran. Dia membuka isi chat Devan dengan wanita itu.
[Terima kasih, ya.] Tulis wanita itu dalam chat.
Amira scroll ke atas. Dia membaca semua isi chat suaminya dengan wanita itu. Ternyata, Devan ke kota untuk mengantar wanita itu beli kado untuk mamanya. Bukan hanya sekali Devan melakukan itu, tetapi sudah berkali-kali.
Amira menahan diri untuk tidak menangis. Walau Amira tahu Devan dan wanita itu hanya berteman dilihat dari isi chatnya, tapi apa yang dilakukan Devan sudah tidak wajar.
Devan selalu antusias jika wanita itu butuh bantuan. Bahkan, setiap story’ yang di pasang wanita itu, Devan selalu komentar atau sebaliknya. Ini sudah tidak wajar. Seorang Devan yang sudah beristri tetapi masih sangat peduli dengan wanita lain.
Amira tidak hanya menyalakan Devan. Dia juga menyalakan wanita itu yang tidak mengerti dengan posisi Devan. Dia tahu betul Devan sudah menikah karena Devan mengirimkan undangan ketika dia akan menikah dengan Amira.
Tekad Amira untuk pergi dari kehidupan neraka ini sudah bulat. Dia hanya menunggu Devan selesai makan baru pergi dari neraka ini. Amira sudah siap menerima reaksi dari kedua orang tuanya.
Devan sudah keterlaluan. Giliran wanita itu yang membutuhkannya, Devan selalu ada. Giliran Amira yang notabennya adalah istrinya, Devan tidak peduli.
Padahal pernikahan mereka baru satu tahun lebih dua bulan tapi Devan sudah sangat berubah. Dengan dukungan dari teman-teman readernya, Amira menyampaikan maksud dan tujuannya pada Devan.
“Mas, aku mau ngomong serius.” Ucap Amira meminta Devan fokus padanya.
“ada apa?” tanya Devan masih dengan ponselnya.
“Aku mau pulang ke rumah orang tuaku.” Ucap Amira berusaha menahan gemuruh dalam dadanya. Sulit bagi Amira mengatakan kalimat itu tanpa ada tetesan air mata.
“Oh iya, kunci motor ada di atas meja.” Jawab Devan tanpa menoleh padanya.
“Aku pergi bukan untuk kembali, mas.” Lanjut Amira. Air matanya sudah menetes satu persatu di pipinya.
Devan meletakkan ponselnya, “maksud kamu apa?” tanya Devan. Kali ini, Devan menatap ke arah Amira yang sedang menghapus air mata.
“Aku mau pulang. Aku mau mengakhiri pernikahan ini.” Ucap Amira bergetar.
“Apa yang kamu katakan, Mira?” Devan mulai panik. Mungkin, dia takut Amira pergi meninggalkannya.
“Aku mau pisah, mas. Dan aku minta, kamu jangan halangi aku.” Tekad Amira sudah bulat.
Devan berusaha menahan Amira tetapi tidak sepenuh hati sehingga tidak berhasil menahannya.
Amira hanya membawa sebagian pakaiannya saja karena hari masih sore. Dia tidak mau di tanya-tanya oleh para tetangga jika dia membawa pakaian banyak.
Tiba di rumahnya, Amira langsung ke kamar tanpa menyapa ayah dan ibunya. Hal itu membuat ayah dan ibu Amira bertanya-tanya. Perubahan sikap Amira begitu menonjol. Biasanya, saat pulang ke rumah Amira akan duduk dengan orang tuanya untuk ikut cerita.
Namun, kali ini berbeda. Amira langsung masuk dalam kamar tanpa menyapa kedua orang tuanya yang sedang nonton.
Ibu Amira memanggilnya, “Amira, kamu kenapa?” tanya ibunya perhatian.
Amira hanya mengatakan tidak apa-apa. Dia belum siap mendengar ibunya marah atas tindakannya. Amira tahu, ibunya sangat suka pada Devan karena Devan selalu baik dan perhatian pada keluarganya. Devan juga perhatian pada Amira ketika ada di rumahnya.
Amira butuh waktu untuk menyiapkan mental menerima respon dari ibunya.
Amira sudah tahu apa yang akan terjadi setelah ibunya tahu apa yang sedang terjadi dengan rumah tangganya. Besar kemungkinan, Amira akan di usir dari rumah. Walau itu hanya persepsi Amira sendiri, tapi Amira merasa akan seperti itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 35 Episodes
Comments