Kegundahan Devan

Amira sedang menikmati makanan yang di belinya pada pedagang dalam kapal ketika ada seorang pria yang duduk di dekatnya. Pria itu hanya membawa satu tas kecil di tangannya. “Maaf mbak, nomor kursi saya ada di sini.” Ucap pria itu pada Amira.

Amira mengambil botol minum yang di letakannya di kursi milik pria itu. “Maaf, mas.” Ucap Amira setelah mengambil botol minumannya.

Setelah itu, mereka kembali hanyut dengan kegiatan masing-masing. Amira sibuk menghabiskan makanannya, sedangkan pria itu sibuk dengan pikirannya sendiri.

Ombak seolah masih mengerti dengan Amira yang ikut berlayar dalam keadaan hamil. Perjalanan terlewati begitu saja tanpa hambatan. Amira menarik nafas panjang ketika turun dari kapal. Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Dia memesan taksi untuk mengantarnya ke rumah.

Kejadian hari ini betul-betul menguji mentalnya, tetapi Amira berusaha tenang karena memikirkan kandungannya sehingga dia harus tenang. Saat ini, dia hanya berharap orang tuanya kembali menerima kehadirannya kembali.

“Baru pulang, Mir?” tanya ibu-ibu yang kebetulan masih berkumpul di lorong.

“Iya, ibu-ibu.” Jawab Amira singkat. Bukannya suudzon pada ibu-ibu di kompleksnya, tapi Amira merasa mereka memandang rendah Amira yang hamil tanpa seorang suami. Bahkan, mereka tidak pernah melihat ada sanak saudara yang mengunjungi Amira sehingga membenarkan apa yang mereka pikirkan.

Amira tidak peduli dengan omongan para tetangga. Yang penting, dia tidak seperti yang mereka bicarakan. Amira hamil dengan suaminya yang kini sudah menjadi mantan suaminya.

Amira masih punya iman untuk tidak melakukan hal tak senonoh seperti apa yang ada dalam pikiran ibu-ibu di kompleksnya.

Di sisi lain, Devan dan ibunya sedang duduk di depan televisi. Mereka membicarakan Amira yang kini tengah hamil tua. Perkiraan Bu Wati, Amira sudah hamil delapan atau sembilan bulanan karena perutnya sudah sangat besar. Dia tidak tahu jika Amira hamil baru enam bulan hanya karena hamil anak kembar sehingga perutnya seperti hamil delapan bulan.

“Bagaimana ini, Van? Amira sedang hamil tapi kalian tidak bisa bersama lagi.” Ucap Bu Wati tidak bisa tidak khawatir karena dia menginginkan cucu dari Devan.

“Bagaimana apanya sih, Bu? Amira hamil ya biarlah. Belum tentu juga kan dia hamil anak aku.” Ucap Devan santai tak se santai dalam pikirannya.

Bohong jika dia tidak memikirkan Amira yang sedang mengandung. Walau Devan mengatakan belum tentu anak yang di kandung Amira adalah anaknya, di hari Devan menyangkal itu semua. Bukan waktu yang singkat Devan bersama Amira sehingga dia tahu betul tabiat mantan istrinya itu. Amira bukan tipikal wanita yang akan melakukan hal tak senonoh.

Devan sampai tidak bisa tidur memikirkan Amira. Dia ingin kembali dengan Amira tapi dia juga ingin menikahi kekasihnya saat ini. Devan sampai pusing memikirkan keduanya. Dia tidak rela jika anak yang Amira kandung tidak mengenalnya sebagai ayah, tapi dia juga sangat mencintai kekasihnya saat ini.

Berbeda dengan Devan yang memikirkan Amira dan bayinya, orang tua Amira justru masih sibuk melayani tamu undangan yang belum ada habis-habisnya padahal sudah pukul delapan malam.

Hanya adik dari Amira yang saat ini hanya diam. Dia memikirkan kakaknya yang entah di mana saat ini. Adiknya sangat menyesal tidak bertemu dengan Amira hari ini padahal anak yang kini duduk di bangku sekolah menengah pertama itu sangat rindu pada kakaknya. Namun, di tidak berani mengungkapkan rasa rindunya pada Amira di hadapan kedua orang tuanya karena kedua orang tuanya sangat murka jika ada yang mengatakan rindu pada Amira.

Adik dari Amira yang bernama Ainun itu tahu jika kakaknya datang dari tetangganya yang kebetulan menghadiri pesta kakaknya di rumah perempuan. Ainun bahkan harus ke pelabuhan berharap masih bisa melihat kakaknya padahal dia tahu pasti jadwal ke berangkatkan kapal jam berapa.

Ainun terduduk ketika melihat pelabuhan yang sepi. Tidak ada tanda-tanda keberadaan kakaknya di sana. Dia hanya bisa kembali dengan kekecewaan.

Ainun mencoba menghubungi kakaknya, tetapi sama saja. Ponsel kakak perempuannya itu masih tidak bisa di hubungi. Diantara semua saudara Amira, hanya Ainun yang tidak rela Amira pergi.

Gadis SMA itu begitu sayang pada Amira karena selama Amira ada, dia selalu membantunya. Jika Ainun butuh apa-apa, dia selalu minta pada kakaknya dan kakaknya tidak pernah menolak. Amira selalu berusaha memenuhi segala kebutuhan Ainun sehingga gadis itu begitu menyayangi kakaknya. DiaDia sampai sakit ketika tahu kakaknya telah di usir saat itu.

Perubahan raut wajah Ainun tak lepas dari pandangan kedua orang tuanya. Ketika foto keluarga, Ainun seperti tidak bersemangat bahkan gadis itu tidak menunjukkan senyum sama sekali. Ibunya sudah bisa menebak apa yang membuat Ainun tidak bersemangat. Gadis itu pasti bertemu kakaknya atau ada yang memberinya informasi tentang kedatangan kakaknya.

Setelah acara selesai, Ainun di panggil oleh orang tuanya.

“Kamu kenapa seperti itu?” tanya ibunya.

“Maksud ibu apa?” Ainun kembali bertanya.

“Jangan pura-pura tidak tahu kamu. Kenapa kami tidak semangat saat foto keluarga tadi?”

“Aku ingat sama kakak, Bu.” Jawab Ainun.

“Kakak ... Kakak ... Kakak terus kamu sebut. Kakak kamu itu Damar Wicaksana dan Alea Anindya Putri Wicaksana! Paham!” teriak ibunya. Ainun sampai kaget di buatnya.

“kenapa sih, bu, kak Amira di usir jaya karena pisah dengan mas Devan? Apa ini tahu apa yang kak Amira rasakan ketika hidup dengan mas Devan? Mas Devan dan keluarganya selalu menghina kak Amira, Bu. Bahkan, kak Amira selalu di banding-bandingkan oleh ibu mertuanya, ibu dari mas Devan. Ibu ngga tahu itu semua, kan?” jelas Ainun.

Ainun sedikit banyak tahu dengan apa yang terjadi dengan kakaknya karena dia sering ke tempat kakaknya. Ainun bukan anak kecil yang tidak akan mengerti dengan perlakuan Devan dan ibunya pada Amira. Ainun bahkan sangat bangga pada kakaknya yang memilih berpisah dengan Devan karena Ainun tidak tega pada kakak yang selalu di rendahkan di keluarga Devan. Padahal, di keluarga sendiri, Amira begitu di sayang bahkan dia sudah menjadi kebanggaan keluarga.

Tapi entah mengapa, orang tuanya seperti kesetanan saat tahu Amira pisah dengan Devan. Mereka melempar semua kesalahan pada Amira tanpa menelusuri apa yang terjadi sebelumnya. Orang tua Amira seperti tidak memikirkan Amira anak mereka pokonya yang ada di mata mereka, Amira sudah menjadi aib keluarga sehingga dia pantas di usir dari keluarga.

“Kamu suda berani melawan ibu?”

“Ainun bukan melawan, bu. Ainun hanya mengatakan yang sebenarnya saja. Ibu harusnya tidak langsung mengusir kakak dari rumah tapi mencari tahu dulu apa yang terjadi pada kakak.” Ucap Ainun di sertai air mata.

“Bagus! Kamu sudah membangkang sekarang. Kau begitu, kamu pergi sana susul kakakmu itu. Susul dia!” teriak ibunya.

Ayah dan keluarga yang masih di situ sudah berdiri di dekat mereka.

“kenapa, Bu?” tanya ayahnya dengan tenang.

“ini. Anak kamu yang tidak tahu diri. Dia lebih memilih aib keluarga itu dari pada sama kita.” Teriak ibunya berapi-api.

“Sabar, Bu.”

“Aku akan pergi sama kakak.” Ucap Ainun lalu berlari ke kamarnya untuk mengambil pakaian.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!