“Itu Amira kan, ya?”
“Itu anaknya mirip banget sama Devan.”
“Amira punya anak kembar?”
“Anaknya terawat banget, ya.”
“Itu kok Amira tidak bareng Ainun, ya?”
Desas desus para tetangga mengiringi langkah Amira menuju pelaminan di mana Devan bersama istri barunya berdiri. Dia juga membalas semau sapaan dan senyuman beberapa orang yang basa basi dengannya.
Mata Devan dan orang tuanya terpana ketika melihat Amira menggendong Hawa yang sangat mirip dengan Devan. Hawa dengan Devan sepeti pinang di belah dua.
“Salim sama om dan tantenya, sayang.” Ucap Amira ketika berdiri di hadapan Devan.
Adam dan Hawa mencium tangan Devan dan istri barunya. Bu Dewi tidak sabar menunggu giliran untuk melihat secara dekat wajah anak yang di gendong oleh Amira.
“Mira, ini cucu ibu?” Tanya Bu Dewi dengan tidak berdosanya.
“Maaf, ini bukan cucu ibu.” Ucap Amira meninggalkan pelaminan.
“Bu, Adam mau itu boleh?” Adam menunjuk pada jejeran semangka yang di tata tapi di atas bosara bening.
“Boleh, sayang.” Amira minta tolong pada Revi untuk mengambilkan dua potong semangka untuk Adam dan Hawa.
Setelah memenuhi keinginan kedua anaknya, Amira mengajak Revi dan kedua anaknya untuk keluar dari tenda pelaminan. Langkah mereka tak luput dari pandangan Devan dan orang tuanya. Entah apa yang mereka pikirkan setelah melihat secara langsung anak yang Amira kandung.
Bukan hanya Devan dan ibunya, tapi semua yang mengenal Amira melihat dengan tatapan iba. Kini, mereka tidak lagi menuduh Amira hamil dengan orang lain karena wajah Hawa sudah membuktikan bahwa tuduhan mereka tidak benar.
“Kamu sudah mau balik, Mir?” Roni muncul di hadapan Amira.
“Iya, mas. Kasihan anak-anak mau tidur.” Ucap Amira beralasan. Padahal, anak-anaknya sudah tidur lama di penginapan.
“Wah, keponakan paman lucu-lucu ya, namanya siapa, sayang?” tanya Roni memegang pipi kedua anak Amira.
“Nama aku Adam, om.”
“Au, Awa.” Hawa tidak mau kalah pada kakaknya untuk memperkenalkan diri.
“Nama yang bagus.” Puji Roni.
Amira tidak ada alasan untuk menghindar dari Roni karena pria itu tidak menyudutkan Amira seperti yang lainnya.
“Oh iya, Mira. Aku mau minta maaf kalau selama ini ada salah sama kamu. Maafin istri mas juga, ya. Sejak kamu pergi, aku selalu memikirkan kesalahan yang pernah istriku perbuat padamu.” Ucap Roni tulus.
Diantara semua anggota keluarga, hanya Roni yang merasa banyak salah pada Amira padahal dia tidak melakukan sama sekali kesalahan. Justru, yang banyak melakukan kesalahan padanya malah santai dan makin menyudutkannya.
“Ngga usah di bahas, mas. Aku sudah memaafkan semua yang terjadi di masa lalu.” Ucap Amira.
“Ya udah mas, aku mau bawa anak-anak dulu ketemu nenek dan kakeknya.”
Amira meninggalkan Roni untuk berkunjung ke rumah orang tuanya. Dia berharap, dengan kedatangannya membawa Adam dan Hawa, ibunya bisa melunak dan menerimanya.
Amira memutuskan untuk jalan kaki saja untuk menikmati suasana lorongnya yang sudah lama di tinggalkan.
“Kak, tadi ada orang yang pernah datang di puskesmas. Dia lihatin kita terus.” Ucap Revi.
Sejak Amira sibuk dengan Roni, Wiwin terus saja menatap mereka. Revi ingin bicara tapi sungkan karena ada Roni di sana.
“Biarin aja, Vi.” Ucap Amira cuek.
“Wah, neng Amira sudah melahirkan ya? Anaknya kembar?” tanya tetangga lama Amira.
“Iya Bu, Alhamdulillah.” Jawab Amira sopan.
“Wah, mirip Devan banget ya, yang cewek.” Ucap ibu itu fokus pada Hawa.
“Bu, Dean itu sia, sih? Kok Awa ilang mi Dean rus.” Tanya Hawa dengan kalimat khas anak kecilnya.
“Itu ayah Hawa dan juga Adam, tapi dia sudah pergi sama Tuhan.” Jawab Amira. Dia tidak mau memperkenalkan anaknya dengan Devan karena pria itu sama sekali tidak mengakui anaknya.
Pintu rumah orang tuanya terbuka lebar, Amira bisa melihat Ainun sedang duduk di ruang tamu sambil makan cemilan. Dulu, ketika Ainun pergi dari rumah, ayahnya sakit dan minta Ainun kembali.
Mau tidak mau, Ainun harus kembali karena rasa sayangnya dengan sang ayah. Namun, sampai sekarang Ainun masih marah dengan ibunya padahal sudah lewat dari satu tahun kejadian itu.
“Assalamualaikum,” Amira bersalam tepat di depan pintu. Dia menggandeng tangan Hawa dan Adam sementara Revi ada di samping mereka.
“Waalaikumsalam, kakak!!!” Ainun langsung berhambur memeluk Amira di depan pintu.
Hampir saja Amira terhuyung ke belakang karena Ainun memeluknya dengan erat. Ainun tidak menyadari jika Amira menggandeng dua tangan mungil di sebelah tangan kiri dan kanannya.
“Kakak kenapa baru datang lagi?” air mata Ainun kini sudah tidak tertahankan lagi. Dia menangis karena rindu.
Mendengar keributan di depan, ibu, ayah, kakak dan ipar Amira keluar dari dalam.
“Oh, bagus! Masih ada wajah kamu kembali ke sini!? Siapa yang membolehkanmu datang ke rumah ini lagi!? Saya sudah mengharamkan manusia seperti kamu menginjak rumah ini!?”
“Ibu!” ayah Amira tidak tahan mendengar makian istrinya.
“Apa!? Ayah mau membela anak ini lagi! Anak yang tidak tahu terima kasih! Anak yang dengan gampangnya membuat malu keluarga!” ibunya Amira masih emosi setiap kali melihat Amira.
“Aku bawa cucu ibu dan ayah, Bu.” Ucap Amira di sertai air mata.
“Aku tidak punya cucu dari anak sepeti kamu! Pergi kamu dari sini!”
“Ibu!?”
“Ayah mau bela anak ini! Pergi sekalian ikut anak sialan ini.”
Amira tidak tahan melihat kebencian ibunya. Dia memilih pergi daripada melihat ayah dan ibunya bertengkar hanya karena kehadirannya.
“Kakak,” Ainun menahan tangan kakaknya, “kakak bawa cucu ibu, Bu.” Ucap Ainun berharap ibunya melunak ketika melihat dua anak di dekat Amira.
Anak-anak itu sudah menangis karena suara keras nenek mereka. Amira tidak pernah membentak keduanya sehingga mereka menangis ketiak mendengar suara yang sangat keras dari neneknya.
“Masuk kamu Ainun! Masuk!” titah ibunya. Mau tidak mau, Ainun harus melepas tangannya dari tangan Amira.
“Kamu terlalu sombong, Bu. Kamu terlalu mementingkan omongan orang daripada anak sendiri. Sejak kita menikah, kamu selalu mengatur segalanya tanpa mengindahkan kata-kataku. Sekarang, kamu lebih mementingkan omongan orang yang tidak di tahu kebenarannya itu daripada anak dan cucumu sendiri. Di sini, di hadapan anak-anak, aku Dirga Wijaya memilih meninggalkanmu dengan talak satu.”
Deg!
Kata di akhir kalimat pak Dirga ayah dari Amira membuat semua yang ada di sana menangis. Pak Dirga dengan tegas menalak istrinya karena tidak tahan dengan sifatnya.
“Bela terus anak itu! Ayah terlalu memanjakannya hingga dia melunjak. Pergi saja kalian dari sini. Pergi!”
Amira melangkah meninggalkan rumah tanpa menoleh ke belakang. Saat ini, dia harus menjaga perasaan anak-anaknya dan keutuhan keluarganya. Jika dia tetap di sana, bisa saja ayahnya menalak tiga ibunya.
Revi hanya diam sambil menggendong Adam karena ini bukan urusannya. Dia mengerti batasan untuk tidak ikut campur urusan keluarga majikannya. Dia hanya perlu menenangkan anak kecil yang menangis ketakutan di gendongannya.
Bukan hanya Adam, Hawa bahkan menangis lebih parah daripada Adam karena dia melihat ibunya menangis. Amira sudah mencoba untuk tidak menunjukkan kesedihan di depan anak-anaknya, tetapi kali ini dia kalah. Apa yang ada di hadapannya tidak bisa membuatnya untuk pura-pura kuat.
Beruntung, tidak banyak tetangga yang menyaksikan pertengkaran keluarganya karena para tetangga sedang sibuk di acara nikahan Devan, sang mantan suami. Amira bisa pergi tanpa harus menjawab pertanyaan dari para tetangga yang menanyakan apa yang terjadi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 35 Episodes
Comments