[Devan Jaya Wiguna dan Resti Ananda] itulah nama yang tertera pada undangan pernikahan yang di kirim untuk Amira.
Setelah membaca undangan itu, Amira melihat ke arah dua anaknya yang sedang bermain dengan Revi. Dia melihat Hawa yang begitu identik dengan mantan suaminya itu.
Amira ragu, apakah dia harus menghadiri undangan itu atau tidak. Jika dia menghadiri undangan itu, berarti dia harus membawa kedua anaknya.
'Lagian, aku ngga pernah buat salah sama dia. Dia juga udah ngga peduli lagi sama aku, padahal kan, dia lihat sendiri jika aku sedang mengandung. Jika dia peduli, pasti dia akan bertanya apakah itu anaknya.’ Amira membatin.
Dia memutuskan untuk menghadiri undangan itu bersama dengan kedua anaknya dan juga Revi. Amira ingin membuktikan pada mereka bahwa tanpa Devan, dia bisa bahagia dengan anak-anaknya. Tujuan Amira ke sana juga bukan hanya untuk menghadiri undangan pernikahan mantan suaminya tetapi meminta maaf pada orang tuanya barangkali mereka sudah mau menerimanya. Apalagi, sekarang Amira sudah melahirkan cucu yang imut dan lucu-lucu.
“Vi, nanti kita ke kampung, ya.” Ucap Amira pada Revi yang kebetulan duduk di sampingnya mengawasi anak-anak.
Hawa juga sudah bisa jalan tanpa bantuan walau terkadang dia terjatuh. Namun Amira menyuruh Revi untuk membiarkan Hawa berusaha sendiri agar bisa dengan mudah jalan tanpa terjatuh lagi.
“Baik, kak. Apa paket tadi surat dari kampung?” tanya Revi.
Amira mengangguk, “lebih tepatnya, undangan pernikahan ayah Adam dan Hawa.”
“Maaf ya, kak.” Revi Mera tidak enak dengan pertanyaannya.
“Maaf untuk apa? Ngga apa-apa kok. Aku udah ngga mikirin dia lagi, lagian aku sudah punya Adam dan Hawa. Ada kamu juga yang bantuin aku di sini.” Ucap Amira.
Walau ada sedikit rasa kecewa dengan Devan yang sudah ada pengganti dirinya, tapi Amira sadar tidak ada gunanya memikirkan pria yang tidak bertanggung jawab seperti Devan.
Amira hanya berharap, pengganti dirinya tidak mendapatkan perlakuan yang sama sepertinya. Biarlah, dia saja yang mendapatkan perlakuan tidak baik dari suami dan keluarga suaminya.
Bayangan kehidupan Amira ketika bersama Devan kembali terlintas. Ketika Devan baik padanya, memperlakukannya dengan manja layaknya seorang istri yang di cintai, lalu pelan-pelan dia berubah mengikuti orang tuanya.
Amira menggeleng ketika mengingat semua itu, semoga Devan sudah berubah walaupun bukan bersamanya lagi.
“Kenapa, kak?” tanya Revi ketika melihat Amira tiba-tiba menggeleng.
“Ah, nggak kok. Kita bawa masuk anak-anak yuk, matahari sudah tinggi.” Ucap Amira seraya memanggil kedua anaknya untuk masuk.
***
“Tita mau ke mana, Bu?” tanya Adam dengan ucapan khas anak kecil saat Amira memakaikan pakaian rapi untuknya sedangkan Hawa bersama Revi.
“Kita jalan-jalan ke kampung ibu, sayang.” Jawab Amira tidak mengatakan jika di sana ada ayah serta kakek dan neneknya.
“Asyik, jalan-jalan!” Seru Adam. Anak itu paling senang diajak jalan-jalan apalagi ke tempat baru.
“Kita Lan, Bu?” Hawa juga ikut memastikan.
Hawa cenderung lebih lama perkembangannya ketimbang adam. Adam sudah bisa bicara sedangkan Hawa masih sulit mengucapkan kata-kata. Namun, Amira sangat bersyukur di umur yang masih dini, mereka sudah aktif sekali.
“Semuanya sudah, Vi?” tanya Amira memastikan barang-barang kedua anaknya sudah siap. Dia memutuskan untuk menyewa penginapan jika orang tuanya belum bisa menerimanya karena tidak mungkin dia langsung balik dengan membawa dua anak.
Kasihan Adam dan Hawa jika harus di bawa berpergian lama.
“Sudah, kak.” Jawab Revi memakai ransel. Ransel itu berisi pakaian kedua anak Amira sedangkan Amira memegang ransel berisi pakaiannya dan Revi.
Untuk dirinya dan Revi, hanya dua lembar pakaian ganti sedangkan untuk Adam dan Hawa ada empat. Amira tidak membiarkan kedua anaknya memakai pakaian yang sudah berkeringat.
“Ya udah yuk, kita jalan sekarang.” Ucap Amira mengajak kedua anaknya.
Sepanjang jalan, kedua anak itu terus saja berceloteh tentang banyak hal. Amira dan Revi sampai kewalahan menjawab semua pertanyaan yang di tanyakan oleh kedua anak itu tekait apa saja yang mereka lihat. Namun, Amira dan Revi dengan sabar menjawab pertanyaan dua anak yang masih aktif-aktifnya itu.
“Wah, kampung kakak sejuk, ya.” Ucap Revi ketika dia turun dari kapal. Matanya tertuju pada pohon-pohon pelindung yang tumbuh di sepanjang jalan.
“Iya, masih asri di sini.” Jawab Amira.
Mereka memakai tas dan masing-masing menggendong satu anak yang tertidur pulas. Capek bicara, kedua anak itu tertidur ketika kapal akan sandar.
“Maaf ya Vi, anak-anak sudah nyusahin kamu.” Ucap Amira merasa tidak enak dengan Revi yang harus menggendong Hawa. Apalagi, bobot badan Hawa begitu berisi begitu juga dengan Adam. Mungkin karena semua kebutuhan nutrisi keduanya terpenuhi sehingga badan mereka tidak kekurangan gizi apa pun.
“Kakak kaya sama siapa aja.” Ucap Revi.
Ya udah yuk, kita naik taksi aja ke penginapan. Jika sebelumnya Amira memilih istirahat di mesjid, maka sekarang dia akan mencari penginapan karena dia tidak lagi sendiri.
Amira menyewa penginapan di pusat kota yang berjarak sekitar delapan kilo meter dari kampungnya karena di kampung tidak ada penginapan yang bisa di sewa.
“Apa kak Amira yakin mau bawa Adam dan Hawa ke sana? Wajah Hawa sangat mirip dengan pria yang ibu kasih lihat. Pasti orang bakal tahu tanpa bertanya jika itu anak dari mantan suami kakak.” Ucap Revi ragu. Dia tahu, keluarga dari mantan suaminya mau mengambil paksa anak Amira dari tangannya seperti apa yang sering Revi lihat di film-film.
“Ngga masalah. Hitung-hitung, buat membersihkan namaku yang sempat dianggap wanita tidak benar karena pulang-pulang sudah hamil aja.” Ucapkan Amira.
Memang benar, tidak sedikit orang yang memandang sebelah mata Amira ketika dia pulang untuk menghadiri pernikahan kakaknya. Walau tidak mengatakan secara langsung, Amira cukup dewasa untuk mengartikan maksud dari tatapan orang-orang di kampungnya. Apalagi, beredar berita jika dia meninggalkan Devan tanpa alasan.
“Apa kakak ngga takut kalau mereka mau mengambil Adam dan Hawa?” tanya Revi melihat ke arah anak yang tertidur pulas.
Amira tertawa mendengar pertanyaan Revi, “terlalu banyak nonton sinetron ikan terbang kamu, Vi.” Ucap Amira merasa lucu dengan asisten rumah tangga yang sudah dianggapnya sebagai anak itu.
“Ya kan jangan sampai, kak.” Revi cemberut dengan respon majikannya. Dia tidak rela jika apa yang ada dalam pikirannya terjadi karena Revi sudah menganggap Adam dan Hawa sebagai adiknya sendiri.
Rasa sayang gadis itu pada anak-anak majikannya sangat tulus sehingga Adam dan Hawa juga begitu dekat dengannya. Apalagi, Amira yang notabenenya adalah majikan tapi menganggapnya sebagai adik sendiri.
Revi baru mendapatkan majikan seperti Amira sehingga dia tidak mau melihat kesedihan di wajah Amira.
“Ngga akan aku biarkan itu terjadi. Udah, mending kita istrahat karena bentar lagi kita akan ke pesta.” Ucap Amira mengajak Revi untuk meluruskan tulang-tulang yang mungkin sudah bengkok karena menggendong anak-anak.
Revi berbaring di samping Amira. Jika dilihat oleh orang lain, tidak akan ada yang mengira jika Amira dan Revi adalah majikan dan pembantu karena kedekatan mereka tidak mencerminkan seperti itu. Merek sudah seperti keluarga dekat.
Amira sempat menutup mata hingga di bangunkan oleh tangisan Hawa. Begitu juga dengan Revi yang tertidur kelelahan juga. Dia sama dengan Amira yang terbangun karena tangisan Hawa.
“Ada apa, sayang?” tanya Amira panik.
“Aka, Maian.” Hawa menunjuk ke arah mainan yang di pegang oleh Adam.
“Kan Hawa juga punya mainannya, sayang.” Amira mengeluarkan mainan yang sama persis dengan Adam dari dalam tas.
Setelah Hawa tenang, Amira tidak kembali tidur. Mereka sudah mulai siap-siap untuk menghadiri acara Devan dan Resti. Mereka mengenakan pakaian seragam berwarna biru navi. Amira tidak membedakan pakaiannya dengan Revi karena dia sudah menganggap Revi sebagai adiknya.
Dengan menggunakan taksi, Amira, Revi, Adam dan Hawa menuju kampung halaman di mana Devan melangsungkan acara pernikahannya. Dia tidak mengerti kenapa resepsinya di langsungkan di rumah mempelai pria padahal biasanya di rumah mempelai wanita kecuali ada pihak wanita yang tidak menerima pernikahan itu, biasanya orang tua dari pihak wanita.
Saat Amira, Revi dan dua anak kembar itu turun dari taksi, semua mata tertuju pada mereka apalagi enam pasang mata yang kebetulan baru saja keluar dari tenda pelaminan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 35 Episodes
Comments