Rencana Program Hamil

[Kak. Kakak kok sabar banget, ya? Ngga ada rencana pindah aja dari rumah mertua?]

Tulis salah satu akun di cerita yang Amira buat. Amira memberi tanda love pada komentar itu, lalu membalas dengan emot senyum.

Bukan. Bukan keinginan Amira untuk tetap tinggal dengan mertuanya, tapi mereka belum punya rumah sendiri. Jika harus tinggal di rumah orang tuanya, Amira memikirkan Devan yang mungkin tidak akan nyaman karena Amira punya banyak saudara.

Amira memikirkan kenyamanan Devan, tapi Devan seolah tidak memikirkan perasaan Amira. Kendati demikian, Amira masih sabar. Dia percaya dengan rencana Tuhan kedepannya.

[Kakak, boleh ajarin cara menulis biar bisa dapat gaji ngga?]

Komentar itu membuat Amira meliangkan waktu untuk membalas dengan kata-kata.

[Kakak silakan add aku di Facebook, ya. Nanti aku ajarin sampai kakak tanda tangan kontrak. Gratis.] Balas Amira pada kolom komentar.

“Amira? Sendiri saja, nak?” tanya ayah Amira yang baru pulang dari kerja.

“Iya, yah.” Jawab Amira meraih tangan ayahnya.

“Devan kenapa tidak ikut?” tanya ayahnya lagi.

“Devan lagi ada kerjaan, yah.” Jawab Amira sedikit berbohong.

“Oh, ya udah. Ayah masuk dulu, ya. Mau mandi.”

Amira hanya mengangguk. Dia melanjutkan membaca komentar-komentar pada tulisannya. Jika sempat, Amira akan membalas satu persatu komentar pada tulisannya. Jika tidak, maka dia akan memberikan tanda love pada semua komentar sekalipun itu komentar pedis.

Di rumah orang tuanya, Amira tidak ada yang dilakukan. Dia hanya duduk diam di teras rumah sambil masih ponsel. Ayah, ibu dan saudara-saudara Amira sudah mengerti dengan apa yang dilakukan Amora sehingga tidak ada satupun dari mereka yang mengganggunya.

Namun, terkadang orang tuanya bertanya kabar Amira. Saat ditanya, Amora akan meletakkan ponselnya. Dia tahu bagaimana rasanya ketika diajak bicara malah di cuekin.

Waktu magrib akan tiba, Amora izin pada orang tuanya untuk pulang. Pak Pras ayah Amira menawarkan anaknya untuk diantar, tapi anaknya itu menolak.

“Ayah antar, ya.” Ucap pak Pras.

“tidak udah, yah. Amira jalan saja. Lagian, Amira sengaja mau olahraga aja.” Tolak Amira.

Padahal, dia sangat mau diantar oleh ayahnya, tetapi dia tidak mau merepotkan cinta pertamanya itu. Ayahnya baru saja pulang dari kerja pasti masih capek. Itulah yang ada dalam pikiran Amira sehingga dia menolak untuk diantar.

Butuh waktu setengah jam untuk Amira sampai di rumah mertuanya. Sebum memasuki rumah, dia menarik nafas panjang.

Amira mendapati mertuanya sedang nonton. Dengan sopan, dia melewati mertuanya yang sedang nonton. Dia bisa melihat tatapan sinis dari ibu mertuanya, tapi Amira cuek.

Amira masuk dalam kamarnya, dia mendapati Devan masih sibuk dengan ponselnya. Ingin rasanya Amira meminta agar suaminya itu tidak selalu sibuk dengan ponsel, tapi dia belum memiliki keberanian.

***

Riuh anak-anak berlarian di halaman rumah. Mereka adalah para cucu dari tuan rumah yang Amira tinggali. Ya, Amira menyebut mertuanya sebagai tuan rumah karena dia sudah bagaikan pembantu. Tidak dianggap sebagai menantu, apalagi, Devan juga cenderung cuek padanya.

“Jangan lari disitu, Misya ....” teriak Amira ketika melihat anak dari kakak iparnya berlari menuju jalan raya.

Mendengar Amira memanggil nama Misya, Bu Dewi segera menghampiri cucunya. Setelah menggandeng tangan cucunya untuk kembali bermain di halaman rumah, Bu Wiwin menatap sinis pada Amira.

“Udah lihat Misya ke jalan, malah diam saja.” Ucap Bu Dewi menyalahkan Amira yang katanya membiarkan Misya sang cucu berlari menuju jalan. Tanpa menunggu Amira menjawab, Bu Dewi sudah berlalu.

“Nah, salah lagi, kan? Tahu gitu, aku diam aja tadi. Tapi, kasihan Misya. Dia tidak tahu apa-apa” ucap Amira pada dirinya sendiri.

Entah perbuatan apa yang bisa dianggap baik oleh ibu mertuanya itu, Amira juga sudah tidak tahu. Dia sudah menyerah untuk mengambil hati wanita yang telah melahirkan suaminya itu.

“Amira! Sini gabung!” Roni, kakak ipar Amira memanggilnya untuk gabung sama mereka. Namun, Amira menggeleng. Dia keluar hanya untuk ke warung saja. “Nanti saja, mas. Aku mau ke warung dulu.” Ucap Amira menolak ajakan Roni.

Lagian, jika dia gabung disitu yang ada dia hanya menjadi bahan Bulian oleh ibu mertuanya. Amira juga melihat, Devan tidak berniat mengajaknya ikut disana.

“Van, kapan kalian punya anak? Tidak iri kamu lihat kakak-kakakmu semua sudah punya anak?” tanya Wiwin pada Devan.

“Iya, Van. Kalian sudah hampir lima bulan menikah, tapi Amira belum ada tanda-tanda akan hamil.” Lanjut Tiara, kakak kandung Devan.

Devan senyum, “nanti kalau sudah tiba saatnya, Amira pasti hamil.” Jawab Devan.

“Kapan, Van? Jangan-jangan, kalian menundanya, ya?” ucap Bu Dewi tidak mau kalah.

“Kami tidak menunda kok, Bu.” Jawab Devan santai.

Memang, jika membahas soal anak pada laki-laki, maka mereka akan menanggapi dengan santai. Beda dengan wanita. Mereka akan sedih jika setelah pernikahan, tidak langsung hamil.

“Apa Amira yang menunda tanpa sepengetahuan kamu?” Bu Dewi masih saja mau memojokkan Amira perihal anak.

Baru saja Devan mau jawab, Amira sudah memasuki halaman rumah.

Tiara memanggil adik iparnya itu, “Amira! Sini dulu!” Panggil Tiara membuat perasaan Amira mulai tidak enak.

Namun, dia tetap saja melangkah ke tempat keluarga suaminya berkumpul.

“Ada apa, mbak?” tanya Amira setelah mencapai tempat perkumpulan keluarga dari suaminya.

Disana, ada tujuh orang dewasa. Dua kakak dari Devan beserta istri dan suaminya, Wiwin, Bu Dewi dan Devan sendiri. Ditambah Amira, maka mereka berjumlah delapan orang sedangkan anak-anak masih sibuk bermain.

“Duduk dulu, deh.” Ucap Tiara mengingatkan.

“Tapi aku mau mandi dulu, mbak.” Ucap Amira berusaha menghindar dari mereka.

“Nanti aja mandinya. Kita kumpul-kumpul dulu. Lagian, kami baru sampai kesini, tidak setiap hari.” Jelas Tiara.

Memang benar, kakak iparnya itu tinggal terpisah dari mereka. Mereka sudah mempunyai rumah masing-masing. Namun, rumah mereka masih bisa menjangkau rumah Bu Dewi dalam waktu satu jam naik mobil sehingga mereka sering berkunjung.

Amira tidak lagi membantah, dia duduk di dekat Devan. Mereka ngobrol dengan berbagai tema. Bukan. Amira bukannya diajak untuk ngobrol dengan mereka, tapi hanya menjadi penonton betapa serunya jika mereka berkumpul. Hingga pada akhirnya, Tiara kembali pada topik sebelum Amira dipanggil kesini.

“Belum ada tanda-tanda, Mir?” tanya Tiara menoleh padanya.

Amira mengerti maksud dari pertanyaan kakak iparnya, “ belum, mbak.” Jawab Amira.

“Apa kalian menundanya?”

“Tidak, mbak. Mungkin belum dikasih saja sama Tuhan.” Jawab Amira berusaha menyembunyikan luka hatinya.

Entah kenapa, setiap bertanya soal dia yang belum hamil, Amira merasa terluka. Dia seperti wanita yang tidak sempurna dimata keluarga suaminya.

Setelah mendengar jawaban Amira, Tiara menyarankan beberapa obat untuk program kehamilan. Bukan hanya itu, dia juga menyarankan Amira untuk mengurut pada ahlinya.

Tanpa saran dari kakak iparnya, Amira sangat ingin melakukan itu, tapi Devan selalu tidak seantusias Amira.

Pernah sekali, saat Amira menunjukkan madu promil pada suaminya itu, suaminya hanya ngomong, “pesan aja, tapi kamu yang minum.” Ucap Devan saat itu, membuat rasa antusias Amira hilang.

“Berdua, mas. Ini khusus pria dan wanita. Sepaket, mas.” Ucap Amira menunjukkan lagi layar ponselnya.

“Sepaket berapa?” tanya Devan membuat semangat Amira kembali bangkit. Namun, jawaban selanjutnya membuat Amira betul-betul antusiasmenya hilang.

“Tiga ratus lebih, mas.”

“Mahal ternyata.” Jawab Devan.

Mendengar jawaban Devan, Amira merasa Devan tidak antusias seperti dirinya untuk memiliki anak. Amira merasa, dia hanya berjuang sendiri. Namun, Amira hanya meningkatkan rasa sabarnya untuk menerima semua apa yang terjadi padanya.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!