Bertemu mantan ibu mertua

Amira menghirup udara segar di kampung halaman yang sudah lama tidak di rasakannya. Ibu hamil itu sesekali menarik nafas panjang di kala mengingat pertama kali dia meninggalkan kampung halamannya tercinta. Tatanan kampung masih sama dengan sebelumnya hanya beberapa rumah yang sudah di renovasi dan beberapa lahan kosong yang ada di pinggir jalan sudah ada bangunan.

Amira tidak merasakan teriknya mentari karena udara di sana masih sangat sejuk berbeda dengan tempat dia menetap selama enam bulan belakangan ini.

“Kaka Amira!” teriak seorang anak yang dulunya adalah murid Amira di pengajian.

Beberapa anak berlari ke arahnya setelah satu anak bernama Nilam memanggilnya. Mereka memeluk sayang pada Amira. Terlihat jelas, anak-anak itu rindu pada Amira yang sudah tidak mengajar ngaji. Bahkan, mereka tidak tahu di mana kepergian guru ngaji kesayangan mereka itu karena tidak ada yang membahas kepergian Amira dari desa.

“Kakak Amira kemana saja? Ke apa baru pulang sekarang?” tanya Nilam mewakili semua teman-temannya. Mereka hanya mengangguk membenarkan pernyataan Nilam.

“Kakak ngga kemana-mana kok. Kak Amira hanya pergi kerja di kota.” Jawab Amira bohong. Tidak mungkin dia menjelaskan secara detail apa yang terjadi padanya.

“Sekarang kak Amira mau ngajar kami ngaji lagi, kan?” tanya Wulan.

“Kakak harus kembali kerja lagi. Kalian ngajinya sama kak Aisyah dulu, ya.”

“Yah, padahal kami ingin belajar dengan kak Amira lagi.” Keluh anak-anak.

“Sama kakak atau sama kakak Aisyah kan sama saja. Yang penting, Nilam, Wulan, Gendis dan Raja ngajinya yang bener. Kakak akan kasih hadiah jika kalian mahir mengaji.” Ucap Amira meyakinkan anak-anak yang pernah di ajarnya mengaji itu.

Mau tidak mau, anak-anak itu harus terima jika Amira tidak lagi mengajar ngaji untuk mereka.

“Eh, kakak Amira bentar lagi punya Dede bayi, yah?” tanya Nilam pada Amira. Dia baru menyadari jika guru ngajinya itu sedang mengandung.

“Doain mereka baik-baik saja ya.” Ucap Amira dengan senyuman hangat. Entah setelah ini dia masih akan tersenyum hangat pada orang-orang yang akan di temuinya atau tidak.

Memikirkan itu, Amira kembali menarik nafas panjang. Anak-anak yang menyapa Amira sudah kembali bermain, meninggalkan Amira dengan segala kegundahannya. Langkah demi langkah Amira menuju suara elekton dari rumah temannya.

Beberapa orang yang menggunakan motor melewati Amira yang berjalan dengan pelan ke arah sumber keramain di desa hari ini. Setelah tiba di hadapan tenda biru yang terlihat begitu ramai itu, timbul sedikit keraguan di hati ibu hamil itu.

“Hah. Kamu kuat, Ra.” Ucap Amira meyakinkan dirinya sendiri.

Setelah mengatakan kata-kata penyemangat untuk dirinya sendiri, Amira menarik langkah menuju tenda biru. Dia menyalami beberapa orang tua yang menerima tamu di depan. Mereka menyapa ramah Amira bahkan ada yang bertanya ke mana saja. Namun, Amira hanya tersenyum pada mereka.

Sampai pada akhirnya dia bertemu mata dengan kedua orang tuanya yang kebetulan memandang ke arahnya. Mata Amira sudah mulai mengabur karena air mata yang mulai menggenangi mata bulat itu. Amira segera menoleh ke atas untuk menahan air mata agar tidak tumpah.

Dia tidak mau membuat acara bahagia kakaknya rusak hanya karena dirinya. Berat langkah Amira untuk sampai di atas lamunan di mana orang tua dan kakaknya berada. Setelah di sana, Amira mengangkat tangan untuk menyalami kedua orang tuanya tetapi di abaikan. Momen itu tak hilang dari pandangan mantan suami Amira yang duduk dengan seorang gadis.

Tes!

Setetes air mata Amira berhasil lolos di kalah tangannya diabaikan oleh kedua orang tuanya. Amira berjalan ke arah kakaknya, beruntung kakaknya masih mau bersalaman degannya walau tidak sampai sedetik. Hanya Devina yang menyambut Amira dengan hangat. Gadis yang kini menjadi iparnya itu bahkan memeluk lembut sahabatnya yang kini tengah mengandung itu.

Setelah itu, Amira menyalami kedua orang tua Devina lalu turun dari pelaminan. Dia sempat melihat ke arah mantan suaminya yang duduk dengan seorang gadis yang Amira tahu dia adalah teman Devan yang tak lain adalah mantan pacar Devan sebelum menikah dengan dirinya.

Mata Devan dan Amira bersitubruk tetapi Amira buru-buru mengalihkan pandangan. Dia hendak luar dari acara dan berpapasan dengan kedua mantan mertuanya.

“Kamu sudah hamil?” tanya mantan ibu mertuanya tanpa basa-basi.

Amira hanya mengangguk.

“Anak siapa?”

Deg!

Pertanyaan mantan mertuanya berhasil mengetes kekuatan mental Amira kembali. Dia mengabaikan itu dan pergi dari acara. Dia tidak mau mantan mertuanya itu semakin memojokkannya. Sudah cukup dia berurusan dengan wanita ular seperti mantan itu mertuanya itu.

“Tunggu dulu. Buru-buru amat, ngga mau kenalan dengan calon istrinya Devan? Devan sudah ada calon yang lebih baik dari pada mantan istrinya yang tidak tahu diri.” Ucap mantan ibu mertuanya sengaja memancing ketenangan Amira.

Amira tersenyum, “syukur deh kalau mas Devan sudah ada pengganti, jadi dia tidak perlu lagi memikirkan mantan istri dan anaknya. Eh, anak mantan istrinya.” Ucap Amira lalu meninggalkan mantan ibu mertuanya yang sudah mulai emosi itu. Padahal, dia sendiri yang mengganggu Amira tapi dia juga yang emosi.

Kepergian Amira tidak luput dari pandangan dari kedua orang tua dan abangnya. Amira tidak melihat keberadaan adik dan kakaknya yang lain. Mungkin mereka masih menyiapkan keperluan untun acara di rumah kakaknya setelah dari rumah Devina.

Amira menoleh ke belakang sebelum kembali meninggalkan kampung halaman penuh kenangan itu. Dia memutuskan untuk ke makam kakek dan neneknya dulu. Sudah lama dia tidak ziarah ke makam orang yang selalu baik pada cucu-cucunya itu.

“Nek, kakek, Amira datang. Amira datang sama buyut nenek dan kakek.” Ucap Amira membersihkan daun-daun yang mengotori makam kakek dan neneknya.

“Amira tadi ketemu dengan ibu dan ayah. Tapi, ibu dan ayah tidak mau menerima Amira lagi. Amira begitu jahat ya, nek? Kek? Sehingga ayah dan ibu tidak mau menganggap Amira anak dan anak dalam kandungan Amira sebagai cucu mereka? Amira sedih nek, kek, tapi Amira sadar Amira sudah buat malu keluarga. Maaf ya nek, kek, setelah ini, mungkin Amira akan lama lagi ke makam kakek dan nenek. Kakek dan nenek baik-baik di sana, ya. Amira pamit.”

Amira meninggalkan makam nenek dan kakeknya. Saat ini, waktu sudah menunjukkan pukul tiga sore, itu berarti kapal yang akan membawa Amira kembali sejam lagi akan berangkat.

Amira memutuskan naik ojek untuk ke pelabuhan. Sebelum betul-betul hilang dari area desa yang banyak kenangan itu, Amira kembali menoleh dengan hembusan nafas panjang.

Air mata Amira sudah tidak bisa di tahan. Dia menangis tanpa suara di atas motor. Rasa lelahnya tidak terasa yang ada hanya rasa sakit karena tidak dianggap oleh ayah dan ibunya lagi. Padahal, sebelumnya dia adalah anak kesayangan dan kebanggan. Hanya karena berpisah dengan Devan, dia di buang oleh kedua orang tuanya.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!