Tidak punya hati

“Kami memanggilmu, kenapa kamu seperti itu?” Tanya Bu Dewi.

Ya, empat orang yang menemui Amira adalah Bu Dewi, Devan dan istrinya serta Eka, kakak dari Devan. Mereka sedang jalan-jalan ke pantai karena baru selesai hajatan. Kebanyakan di kampungnya Amira jika ada yang nikahan, maka setelahnya akan ada jalan-jalan untuk semua anggota keluarga dan mereka yang capek membantu.

“Ada apa ya, Bu?” Tanya Amira pada akhirnya.

“Ibu mau menemui cucuku.”

Deg!

“Cucu? Siapa cucu ibu?” Tanya Amira kaget mendengar penuturan mantan ibu mertuanya.

“kamu jangan memancing emosi, ya.” Bu Dewi sudah mulai emosi.

“Itu anak aku Bu, bukan anak Mbak Eka atau Devan. Jadi, mereka bukan cucu ibu.” Tegas Amira lalu meninggalkan mereka.

Devan menghampiri Amira dan kedua anaknya. Dia hendak menyentuh kepala Adam, tetapi di tepis oleh Amira. Tanpa kata, Amira menatap Devan lalu menyuruh Revi untuk mengambil Hawa.

Mood Amira untuk liburan sudah rusak karena keluarga mantan suaminya yang tidak berperasaan.

“Kamu sudah menikah. Kamu yang memilih memperlakukanku seperti ini, jadi kuharap kamu tidak mengganggu kehidupanku dan anak-anakku.” Tegas Amira lalu berjalan mengikuti Revi ke mobil.

Amira memilih menyewa rental mobil tanpa harus susah mencari kendaraan. Dia cukup menyewa mobil dua puluh empat jam untuk membawa anak-anaknya liburan.

“Van, dia sudah bisa bawa mobil?” tanya ibu mertuanya pada Devan ketika melihat Amira memasuki mobil melalui pintu kemudi.

Devan hanya mengangkat bahu karena dia juga tidak tahu jika Amira sudah bisa mengendarai kendaraan roda empat itu.

“Amira sekarang sudah sukses, Van. Lihat saja itu pakaiannya.” Mantan ibu mertua Amira mulai menilai pakaian yang dikenakan Amira.

Istri baru Devan hanya berdiri tanpa menanggapi mereka. Dia masih menyesuaikan dengan keluarga barunya itu. Tapi, ada hati yang terluka di dalam sana ketika Devan dan ibu mertuanya menghampiri Amira yang notabenenya adalah mantan istri dari suaminya. Dia takut, Devan akan kembali pada mantan istrinya padahal mereka baru saja menikah.

“Kamu harus bisa ambil anakmu, Van.” Tegas Bu Dewi.

“Tapi ngga mungkin Amira mau menyerahkan anak-anakku, bu.” Elak Devan. Dia juga sangat ingin memeluk anak yang sangat mirip dengannya itu tetapi tidak bisa.

“Kamu ayahnya, kamu berhak atas anak-anak itu.”

Sebelum Amira berhasil pergi dari sana, Devan berlari dan berdiri di depan mobil.

“Minggir, mas!” teriak Amira melalui jendela mobil. Dia tidak turun dari mobil.

Orang-orang yang ada di permandian itu mulai melihat ke arah mereka. Bahkan ada yang sengaja mendekat untuk melihat dari jarak dekat.

Karena Devan tidak ada niat untuk pergi dari hadapan mobilnya, Amira membuka pintu mobil dan terpaksa keluar.

“kamu ngga malu jadi bahan tontonan, mas? Malu, mas! Saat aku hamil, ngga ada yang niat mencari ku. Sekarang, saat mereka sudah besar, kamu mau mengakui itu anak kamu? Otak kamu di mana, mas!?” ucap Amira penuh emosi. Dia tidak habis pikir dengan kelakuan mantan suaminya itu.

“Aku mau anak aku satu orang.” Ucap Devan tanpa dosa membuat Amira seketika tertawa.

“Gila! Anak kamu yang mana, mas? Mereka semua anak aku. Kamu tidak ada hak sama sekali atas mereka berdua.” Tegas Amira.

“Ngga bisa Mira! Akan aku pastikan kamu akan kalah di pengadilan nanti.” Ancam Devan.

“Ya, kamu ngga bisa apa-apa di pengadilan nanti.” Tambah mantan ibu mertuanya yang sudah ada juga di sana.

“Oh, kalian mau menuntut? Kalian mau minta hak asuh anak? Hahahah. Sudah lupa dengan apa yang sudah kalian lakukan padaku? Sudah lupa dengan apa yang kalian ucapkan saat aku hamil besar? Sudah lupa? Apa perlu aku ingatkan lagi?” ucap Amira memandang remeh dua orang tanpa perasaan itu.

“Kamu punya apa bisa menang di pengadilan, hah? Jangan hanya karena kamu sudah bisa bawa mobil kamu memandang remeh kami. Paling juga itu mobil hanya pinjaman saja.” Ucap Bu Dewi.

“Emang ini bukan mobilku. Aku ngga punya apa-apa seperti kalian, tapi aku punya Tuhan yang bisa membantuku mengungkap semua kebenaran di pengadilan nanti.” Tegas Amira.

Dia tidak mengungkapkan bahwa dirinya sekarang sudah punya mobil sendiri karena dia tahu apa yang ada dalam otak mantan ibu mertuanya itu.

“Apa yang bisa kamu andalkan untuk mengasuh dua anak itu? Mau di kasih makan apa mereka? Daun? Ha ha ha.” Bu Dewi menertawai mantan menantunya itu.

“Aku punya Tuhan, Bu.” Ucap Amira.

Setelah mengatakan itu, Amira berbalik pergi dan masuk dalam mobil. Dia menekan klakson mobil dengan cepat untuk menyuruh Devan dan ibunya pergi dari jalannya.

“Kak, mereka akan menuntut?” tanya Revi. Dia mendengar apa yang Devan dan ibunya katakan karena suara mereka begitu keras.

“Biarin saja. Kita lihat siapa yang akan menang di pengadilan nanti. Akan aku pastikan, Adam dan Hawa tidak akan jauh dariku. Apa pun akan aku lakukan untuk anak-anakku. Aku tidak mau anak-anakku nanti hidup di lingkungan orang seperti mereka.” Ucap Amira.

Revi bisa melihat emosi yang menggebu-gebu dari majikannya. Siapa saja yang mengalami itu pasti akan berlaku yang sama seperti Amira. Kehidupan Amira yang sudah tenang akan di ganggu lagi oleh mantan suaminya hanya karena hak asuh anak. Padahal, mereka tidak pernah ada di saat Amira membutuhkan keluarga.

Amira hanya berjuang sendiri di kota tanpa sanak saudara.

“Bagaimana jika mereka membawa pengacara untuk mengambil Adam dan Hawa, kak?” ucap Revi cemas. Dia cemas jika Amira kehilangan satu saja anaknya pasti akan sangat terluka karena selama ini, hanya Adam dan Hawa yang menjadi alasannya untuk tetap semangat dalam hidup.

“Tidak mungkin mereka mau menyewa pengacara mahal. Aku tahu tabiat mantan ibu mertuaku itu bagaimana. Dia tidak akan rela mengeluarkan banyak uang.” Ucap Amira.

Revi minat ke wajah teduh Adam dan Hawa yang tengah tertidur lelap. Dua anak itu kelelahan bermain hingga langsung tidur dalam mobil. Ada keuntungan bagi Amira ketika anak-anaknya tidur, dia tidak perlu menjelaskan apa yang akan anak-anaknya tanyakan tentang masalah ini.

Bohong jika Amira tidak memikirkan ancaman Devan dan ibu mertuanya. Dia tidak habis pikir dengan mantan suami dan mantan mertuanya itu. Mereka sudah seperti sinetron di ikan terbang yang tidak memiliki otak. Beruntung, Amira bukan pemeran utama di sinetron ikan terbang itu yang bisanya cuman nangis dan pasrah saja ketika di tindas.

Amira akan pastikan mereka tidak bisa mengambil bahkan menyentuh kedua anaknya. Amira akan lakukan apa pun untuk mempertahankan anak-anaknya agar tetap di sisinya selamanya.

Dia akan menyewa pengacara yang paling terbaik dari yang baik untuk mempertahankan hak asuh kedua anaknya sekalipun dia harus merogoh banyak tabungan.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!