paket

“Tolong ambilin jemuran di luar ya, Vi.” Titah Amira karena saat ini dia sedang menyusui Adam, anak sulungnya.

Amira memberi nama kedua anaknya dengan nama Adam dan Hawa. Dia sangat senang dengan nama itu sehingga di berikannya lah pada anaknya. Dia berharap, anak-anaknya bisa tumbuh menjadi anak Soleh Solehah dan bisa menjadi kebanggaan orang tua yang bisa mengantarkan orang tua dan keluarga ke surganya Allah.

Amira sering kali menitikkan air mata di kala mengingat kedua anaknya. Dia selalu berdoa pada Tuhan agar di berikan kesehatan dan umur panjang supaya bisa merawat dan membesarkan anaknya dengan baik. Dia tidak tahu apa yang akan terjadi jika Tuhan tidak mengabulkan doanya yang satu itu karena Adam dan Hawa tidak memiliki siapa-siapa selain dirinya.

Setiap malam, Amira selalu memandangi kedua anaknya dengan bangga dan juga sedih. Bangga karena sudah bisa menjadi seorang ibu tetapi sedih karena kedua anaknya tidak di akui oleh ayahnya sendiri. Amira hanya berharap, ke depan anak-anaknya tidak menjadi bahan bulyan anak-anak se suasianya nanti.

“Bu, ini susu untuk ibu.” Ucap Revi meletakkan nampan berisi segelas susu di atas nakas.

“Terima kasih, Revi.” Ucap Amira.

Amira sangat terbantu dengan kehadiran Revi yang rajin. Gadis itu bukan hanya membantunya mengurus anak-anak tetapi juga membantunya mengurus rumah. Apapun yang bisa di kerja, asisten rumah tangga yang di bawa oleh sahabatnya itu selalu mengerjakannya.

Amira kadang merasa Revi bukan seorang asisten rumah tangga tapi sebagai adik.

“Kamu ngga udah manggil aku ibu, ya. Panggil aku kakak aja.” Ucap Amira pada akhirnya. Dia ingin Revi menganggapnya sebagai kakak, bukan sebagai majikan.

“Tapi ....”

“Udah, ngga apa-apa. Aku sudah menganggapmu adik sendiri jadi, kamu jangan sungkan untuk memanggilku kakak.” Jelas Amira setelah melihat Revi akan menolak permintaannya.

Mau tidak mau, Revi harus menuruti perintah dari majikannya. Dia juga bersyukur mendapat majikan yang baik hati seperti Amira, apalagi, Amira tidak menganggapnya sebagai bawahan. Revi akan melakukan apa pun untuk membuat Amira senang karena dia senang berada di sana.

Selain gajinya lancar, dia juga seperti tinggal di rumah sendiri. Amira betul-betul membuat Revi menjadi orang bahagia.

“Oh iya, Vi. Besok pagi-pagi sekali kamu ke pasar ya. Beli ikan yang masih segar sama belanja kebutuhan dapur lainnya. Kami pakai motor aja ke sana. Ini uang belanjanya. Pokonya, semua kebutuhan dapur yang kurang kamu isi, ya.” Titah Amira. Dengan senang hati, Revi menyanggupi majikannya.

Dia paling senang di suruh belanja karena majikannya tidak pernah protes. Amira tipikal orang yang bisa makan apa saja sehingga Revi tidak kesusahan saat belanja di dapur. Bahkan, jika Revi ingin maka sesuatu, majikannya itu dengan sigap memberinya uang untuk beli di pasar atau dia sengaja menyuruh Revi untuk menyetok makanan kesukaan Revi.

Amira sengaja memenuhi semua kebutuhan Revi agar gadis itu betah tinggal dengannya.

Sebelum tidur, Amira minum susu yang sudah di buatkan oleh Revi. Dia juga menyempatkan waktu untuk membalas beberapa komentar pada tulisannya.

[Mbak Amira, aku sudah tulis cerita, tapi ngga tahu cara upload nya di aplikasi, ajarin dong.] Tulis salah satu akun pada kolom komentar cerita Amira.

[Iya mbak, aku juga suka menulis, tapi tidak tahu caranya masuk di aplikasi ini.] Balas komentar lain.

[Mohon maaf baru sempat balas, kalian sudah add akun Facebook aku, nggak? Kalau udah, inbox aja di sana, nanti aku ajarin sampai kontrak.] Balas Amira di kolom komentar itu.

Entah sudah berapa orang yang Amira ajarkan untuk bisa menulis di aplikasi yang sama dengannya. Tak sedikit orang yang mengirim pesan melalui akun Facebook Amira untuk belajar menulis di aplikasi yang Amira pakai.

Amira dengan senang hati memberikan ilmu itu pada orang-orang yang mau belajar. Namun, dia paling anti sama orang yang dengan sengaja mengambil karya orang lain lalu mempostingnya sebagai tulisan sendiri.

Amira pernah mendapatkan orang itu ketika ada salah satu akun yang melaporkan padanya. Amira tidak tahu jika orang yang sering bertanya padanya ternyata plagiat karya orang lain lalu mengklaimnya sebagai tulisan sendiri.

Dengan halus, Amira menyuruh orang itu untuk tidak mengambil karya orang lain. Jika ingin belajar, maka belajarlah dengan baik bukan dengan mengambil karya orang lain.

Amira tahu betapa sulitnya membuat sebuah tulisan sehingga dia sangat marah pada orang tersebut. Beruntung, orang yang telah mengambil karya penulis lain itu mau menerima saran dan masukan dari Amira lalu menghapus cerita yang bukan miliknya.

Tak terasa, waktu sudah menunjukkan pukul setengah sebelas malam tapi Amira belum tidur. Padahal, harusnya dia tidak boleh begadang karena masih menyusui dua anak. Walaupun di bantu oleh susu formula, setidaknya Amira menjaga imun tubuh untuk memenuhi kebutuhan kedua anaknya.

Amira mematikan ponsel lalu merebahkan badan di antara boks anaknya. Sebelum betul-betul terlelap, dia memandang kedua anaknya secara bergantian.

“Selamat malam kebanggan ibu.” Ucap Amira lalu menutup mata.

***

“Satu, dua, tiga, empat ....” Amira mengajari hawa berjalan sedangkan Adam sedang main dengan Revi.

Adam sudah lancar jalan sedangkan Hawa masih tertatih-tatih padahal umur mereka sama. Mereka saat ini sedang main di halaman rumah bermain di atas rumput.

Canda tawa bahagia mewarnai pagi mereka hingga ketukan di pagar menghentikan tawa Amira dan Revi. Mereka menoleh ke arah pagar. Revi menyuruh Adam untuk pergi sama ibunya dulu sementara dia akan membuka pagar untuk melihat siapa yang datang.

Ternyata, itu adalah kurir yang mengantarkan paket untuk Amira. Revi menerima paket itu dan membawanya pada Amira.

“Paket, kak.” Ucap Amira menyodorkan paket itu pada Amira.

Amira memegang Hawa di tangan kirinya sambil membuka paket untuknya itu. Revi mengambil Hawa dari tangan Amira.

Walaupun bingung, Amira tetap membuka paket itu. Di lihat dari alamat pengirim, paket itu di kirim dari kampungnya.

Jantung Amira berdetak lebih cepat karena baru kali ini dia mendapat paket dari kampungnya dan tidak ada nama pengirim. Di sana hanya tertulis untuk Amira dan alamat pengirim saja tanpa nama.

Ketika paket itu sudah terbuka, dada Amira sedikit sesak ketika melihat apa yang ada di dalam paket itu. Revi melihat perubahan ekspresi Amira sehingga dia ikut melihat apa yang ada dalam paket itu.

Hawa langsung melompat ke pangkuan Amira membuat ibu dua anak itu tersadar dari rasa kagetnya. Hawa mengambil isi dari paket itu membuat Adam meraihnya juga. Terjadilah perebutan anatara kedua bocah.

“Ngga boleh sayang, ini punya ibu.” Ucap Amira mengambil kembali isi paket itu yang ternyata adalah undangan.

Dengan hati mantap, Amira membuka undangan yang di tujukan untuk dirinya itu. Nama dalam undangan itu membuat dia menghembuskan nafas berat.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!