Amira hanya diam dan menjawab apa saja yang di tanyakan oleh Wiwin seperlunya. Dia tidak ada niat sama sekali untuk bertanya balik pada sepupu dari mantan suaminya itu. Ya, orang yang datang di puskesmas adalah Wiwin, sepupu satu kali dari mantan suami Amira.
Di saat Wiwin masih anteng-antengnya duduk di dalam ruang rawat Amira, Lia dan satu orang yang akan menjadi asisten baru Sri Amira masuk. Lia masuk dengan segala kehebohan ala dirinya. Bukannya menyapa Amira, Lia malah menyapa dua anak kembar yang sedang tertidur pulas.
“Duh gemesnya. Kok ngga ada yang mirip sama kamu, ya Mir? Ha ha aha.” Ledek Lia. Dia sengaja, karena memang kedua anak itu sangat identik dari ayahnya.
“Mereka sangat mirip dengan Devan, ayah dari anak-anak itu.” Celetuk Wiwin tanpa permisi.
Lia langsung menoleh pada Wiwin, padahal, tadi dia tidak sadar dengan keberadaan Wiwin saking senangnya melihat dua bayi kembar yang lucu dan menggemaskan itu.
Lia menoleh pada Amira seolah bertanya padanya tentang siapa wanita yang tanpa di tanya langsung bunyi itu.
“Dia, Wiwin sepupu satu kali dari Devan.” Ucap Amira mengenalkan Wiwin pada Lia. Lia hanya ber oh ria saja lalu kembali bermain dengan dua bayi mungil yang baru saja keluar dari perut sahabatnya.
Wiwin tahu Amira di puskesmas karena dia kebetulan ada di puskesmas itu untuk menemui temannya. Temannya yang kebetulan bidan di sana tidak sengaja mengatakan ada pasien dan dari lokasinya, dia bilang satu kampung dengan Wiwin. Wiwin menelusuri dan tahu jika orang itu adalah Amira, mantan istri sepupu satu kalinya.
“Hai, aku Lia.” Ucap Lia lalu memperkenalkan sepupunya untuk menjadi asisten baru Amira untuk menemaninya menjaga bayi mungil itu.
“Oh iya, Mir. Ini Revi, orang yang akan membantumu menjaga dua keponakan cantikku ini.” Ucap Lia.
“Satunya ganteng kali, Lia.” Protes Amira. Pasalnya, Lia mengatakan dua bayi cantik itu berarti dia mengira anak-anak Amira adalah perempuan.
“Seriusan kamu, Mir? Kamu punya bayi pasangan?” Lia makin heboh.
“Oh iya, Revi, kamu boleh kerja mulai hari ini. Semoga kamu bisa betah dengan temanku, ya. Tenang saja, dia orangnya baik kok, kamu pasti betah dengannya. Hanya orang-orang yang emang dasarnya tidak ada niat bersamanya yang tidak betah.” Ucap Lia. Ucapan Lia seperti mengandung sindiran untuk seseorang yang sejak tadi hanya diam mengamati.
“Jangan seperti itulah, Lia.” Protes Amira. Dia tahu maksud dari kalimat sahabatnya itu apa karena di sana ada keluarga dari Devan.
“Lah, kan emang, Mir.” Lia tidak mau di salahkan dengan kalimatnya sehingga Amira hanya bisa menerima ucapan Lia.
“Aku boleh ambil gambar bayimu ngga, Mir?” celetuk Wiwin ketika Lia sudah diam.
Lia, Amira dan Revi langsung menoleh padanya. Baru saja Amira membuka mulut, Lia lebih dulu bicara.
“Ngapain? Mau pamer sama keluargamu yang tidak tahu terima kasih itu? Mau pamer kalau akhirnya Amira yang kalian hina dan rendahkan itu sudah punya anak? Atau mau mengatakan kalau Amira sudah melahirkan dan ayahnya tidak di tahu siapa?” ucap Lia penuh emosi. Dia tidak terima dengan siapa pun yang berhubungan dengan Devan sekarang karena dia tahu apa yang Amira rasakan ketika pertama kali hidup di kota ini.
“Lia ....”
“Biarin, Ra. Aku ngga respek sama orang-orang munafik sekarang. Kalau baik mah, baik saja. Kalau jahat ngga usah sok baik.” Ucap Lia. Dia sudah sangat emosi sekarang. Enak saja, ketika sahabatnya susah, tidak ada satu pun keluarga Devan yang muncul. Tetapi, ketika sekarang Amira sudah bisa hidup sendiri mereka dengan entengnya mau datang mengunjungi Amira. Itu yang Lia tidak terima dengan siapa pun keluarga Devan.
Amira merasa tidak enak pada Wiwin akibat dari kata-kata Lia. Begitu juga dengan Wiwin yang sekarang sudah tidak tahu memikirkan apa. Tidak salah dengan apa yang Lia ucapkan jika Amira sering di rendahkan di keluarga Devan. Tidak salah jika tujuan Wiwin mengambil gambar kedua anak Amira tidak lain untuk menunjukkannya pada Bu Dewi dan Devan, mantan mertua dan mantan suami Amira.
Wiwin tidak mengingkari hal itu, tetapi dia tidak mungkin mengatakannya pada Amira apalagi ada Lia di sana. Wanita itu seperti menjaga baik-baik Amira sedangkan Revi yang notabenenya orang baru, hanya diam karena tidak tahu apa-apa.
“Maaf, kalau begitu, aku pamit dulu ya, Mir.” Ucap Wiwin hanya bisa pergi dari sana. Dalam hati, dia memaki Lia yang menyudutkannya.
“Hus. Ngeri aku lihat orang bermuka dua, Mir.” Ucap Lia setelah Wiwin pergi dari ruangan mereka.
Setelah kepergian Wiwin, bidan masuk untuk memeriksa keadaan Amira dan bayinya. Bidan itu hanya memastikan keadaan mereka karena Amira sudah bisa pulang ke rumahnya. Dengan menggunakan taksi, Amira, Lia, Revi dan dua bayi kembar Amira pulang ke rumah Amira.
Amira sudah membeli sebuah rumah di sana, tetapi belum sempat di cek untuk di bersihkan, dia sudah melahirkan sehingga dia hanya bisa kembali ke rumah kontrakannya dulu.
Saat ini, Amira sedang berencana untuk beli mobil walau bekas untuk memudahkannya ke mana-mana apalagi saat ini dia sudah punya dua anak.
“Ku kira kamu sudah beli rumah, Mir.” Ucap Lia ketika taksi mereka menuju rumah kontrakan Amira.
“Belum sempat di beresin, Lia. Ngga mungkin kan, tiba di sana kita beres-beres dulu, ntar yang ada ini bagi minta kembali ke perut aku lagi.” Canda Amira.
Amira belum menemukan nama yang pas untuk kedua anaknya yang saat ini berada di gendongan Lia dan Revi karena dia tidak boleh banyak gerak dulu. Setelah sampai di rumah kontrakannya, banyak ibu-ibu yang melihat ke arah mereka, bahkan ada beberapa yang mendekat.
“Wah, sudah lahiran ya, mbak?” tanya salah satu ibu di kompleks Amira.
“Iya Bu, Alhamdulillah.” Jawab Amira.
“Ayahnya sudah tahu, Mir?”
“Emang kalau lahiran harus laporan sama ayah dari anak itu walaupun dia sudah mencampakkan mereka? Emang Amira harus melapor sama mantan suaminya yang dari awal sudah membuang mereka? Ibu kalau ngomong di pikir dulu, deh. Apa-apa, ayahnya mana? Aku tahu kok, selama ini Amira jadi bahan gunjingan orang-orang di sini karena selama Amira hamil, tidak ada sanak saudara yang menjenguk Amira di sini. Paling, hanya aku doang yang ke sini. Beruntung, Amira orangnya sabar. Kalau aku jadi Amira, aku sudah melabrak orang-orang yang bicara tanpa di saring seperti ibu yang menanyakan ayah dari dua bayi kembar ini. Setidaknya, jika tidak ingin membantu, jangan menambah beban deh, Bu. Aku kira ibu juga wanita yang merasakan bagaimana jadi seorang wanita.” Jelas Lia penuh emosi.
Ibu yang tadi bertanya hanya bisa diam mendengar kata-kata Lia. Lia sebenarnya dari dulu ingin melabrak ibu-ibu kompleks yang sering memandang rendah Amira, tapi wanita itu di larang oleh Amira. Sekarang, dia punya kesempatan untuk mengatakannya langsung pada ibu-ibu tukang gosip itu.
“Santai mbak. Aku cuman nanya kok.” Ucap ibu itu.
“Nanya apa cari bahan gunjingan lagi?” ucap Lia.
“Masuk, Mir. Kamu ngga boleh kelamaan berdiri.” Titah Lia agar tidak lama-lama berhadapan dengan ibu tukang gosip itu.
Setelah Amira, Lia, dan Revi membawa masuk si kembar, ibu yang tadi bertanya sangat dongkol. Dia tidak siap menerima jawaban seperti itu dari pertanyaan yang sudah berulang-ulang di tanyakan ya pada Amira. Ya, ibu itu sering sekali bertanya di mana ayah anak-anak Amira bahkan ketika perutnya baru buncit sampai sekarang sudah melahirkan, ibu itu masih menyinggung soal suami Amira.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 35 Episodes
Comments