Hari-hari Amira lalui dengan penuh perjuangan. Sekarang, terhitung sudah enam bulan kandungannya. Berarti, kurang lebih tiga bulan lagi dua janin dalam perutnya akan keluar. Amira sangat kesulitan ketika tri semester pertama sampai ke tiga. Serang dia sudah lebih mendingan.
Rasa mual dan tidak enak sudah tidak di rasakan ya lagi, hanya dia masih ngidam dengan beberapa makanan. Kerap kali, Amira mencari buah di pasar sendiri atau bahkan ke ujung kota untuk mencari apa yang diinginkannya.
Namun, Amira tidak keberatan dengan itu semua. Dia menjalaninya dengan senang hati dan bahagia. Dia selalu mengajak bicara mereka yang selalu menemaninya.
“Lagi hamil ya, mbak?” tanya penjual buah pada Amira. Pasalnya, Amira mencari mangga yang masih kecut pada penjual buah itu.
“Alhamdulillah, mas.” Jawab Amira.
“Kok jalan sendiri mbak? Kenapa tidak suaminya saja yang beliin mbak?” tanya penjual buah itu lagi.
Penjual itu heran karena baru kali ini dia melihat ibu hamil muda mencari apa yang diinginkannya sendiri. Biasanya, suami atau kerabatnya yang mencari.
“Suami aku lagi kerja, mas.” jawab Amira berbohong.
Setelah mendapatkan mangga yang diinginkannya, Amira langsung pulang. Dia tidak sabar untuk menikmati buah mangga yang di belinya.
Dia mengendarai motor sendirinya tanpa ada yang bantu. Bahkan, kehamilannya belum ada yang tahu selain sahabatnya, Lia. Orang tua dan mantan suaminya tidak tahu jika Amira sedang hamil. Dia sengaja tidak memberitahukan pada mereka karena mereka juga sudah tidak pernah menghubungi Amira.
Amira hanya berharap di mudahkan segala urusannya hingga dia berhasil melahirkan dua bayi dalam perutnya. Sekarang, tinggal merekalah yang menjadi harapan satu-satunya Amira.
Hidup Amira saat ini hanya sebatas rumah dan pasar. Untuk kerjaan, dia sudah keluar dari restoran tempatnya kerja karena saat hamil tri semester pertama, Amira tidak bisa melakukan apa-apa sehingga dia hanya di rumah saja. Beruntung, di depan rumahnya selalu ada penjual sayur dan ikan sehingga Amira tidak perlu repot ke pasar untuk memenuhi kebutuhan hari-harinya.
Amira menikmati mangga yang suda di kupasnya. Dia tangan kirinya, ada ponsel yang layarnya di geser-geser oleh ibu jarinya. Dia saat ini sedang bermain di aplikasi biru hanya untuk sekedar mencari hiburan. Puas di aplikasi biru, dia ke aplikasi ungu pink.
Matanya tertuju pada postingan rekan kerja suaminya bernama Devina. Dia juga sangat dekat dengan Amira, bahkan Amira sering mendengarkan cerita dari Devina.
“Alhamdulillah, akhirnya dia menikah juga.” Ucap Amira bersyukur melihat temannya menikah. Tetapi, dia sekarang ragu apakah harus hadir di pernikahan temannya yang tak lain rekan kerja mantan suaminya, atau tidak.
Jika dia pergi, ada kemungkinan dia akan bertemu dengan mantan suaminya atau bahkan keluarganya karena Devina termasuk tetangga mereka.
Amira belum menyadari nama yang tertera pada undangan yang di posting oleh Devina karena di depan undangan hanya tertulis inisial dari Devina dan calon.
Amira menggeser ke slite berikutnya untuk membaca isi undangan dari Devina. Dia ingin melihat jadwal dan tempat Devina akan melangsungkan pernikahan.
Amira terkejut. Nama dari calon dari Devina begitu mengguncang hatinya. Amira bahkan sampai bolak-balik meyakinkan diri bahwa apa yang dilihatnya salah. Nama kakak dan orang tuanya tertera di sana. Devina akan menikah dengan kakak kandung Amira tapi dia tidak tahu sama sekali.
Bahkan, kakaknya juga tidak mengabari Amira jika dia akan menikah. Hati Amira hancur, dia menangis tersedu-sedu. Mangga yang sebelumnya sangat nikmat dia nikmati, kini hambar sehingga Amira melepas sendok dari tangannya.
“Devina Putri Wiguna dan Damar Wicaksana.” Ucap Amira membaca ulang nama di undangan itu.
Kini, Amira mengerti kenapa dirinya tidak di undang oleh Devina. Mungkin, keluarganya lah yang melarang Devina untuk mengundang dirinya.
Air mata Amira tidak berhenti mengalir. Pernikahan kakaknya tinggal dua hari, tapi dia bahkan tidak tahu. Amira menguatkan diri untuk pergi ke sana. Dia juga rindu dengan keluarganya karena sudah enam bulan tidak ada kabar dengan keluarga yang sangat dia sayangi.
Walau keluarganya mengusirnya, Amira selalu mengingat dan mendoakan yang terbaik untuk mereka karena di hatinya, rasa sayang dan cinta untuk orang tua dan keluarganya masih melekat. Amira akan ke sana untuk mengucapkan selamat pada kakak dan temannya.
Amira sudah mempertimbangkan resiko yang akan dia dapatkan jika ke pesta pernikahan kakaknya. Kalau bukan di usir dari sana oleh keluarganya yang lain, dia akan di permalukan oleh keluarga mantan suaminya. Tapi, Amira sudah siap menerima itu semua.
Amira mengelus lembut perut buncitnya. Karena hamil kembar, perutnya sangat besar sehingga sulit untuk di tutupi apalagi sekarang sudah menginjak bulan ke enam. Sebenarnya, satu bulan lagi Amira sudah harus melakukan tasyakuran tujuh bulanan tetapi Amira tidak tahu apakah dia harus melakukannya atau tidak karena dia tidak ada kerabat sama sekali.
“Kalian jangan sedih ya, sayang. Ibu akan bawa kalian ke kakek, nenek, bibi dan paman kalian sayang. Kalian baik-baik ya, di sana.” Ucap Amira pada janinnya.
Tendangan dari janin dalam perutnya seolah menjawab apa yang Amira ucapkan. Bayi dalam kandungan Amira selalu menendang-nendang ketika Amira mengajak mereka bicara. Walau sedikit ngilu, Amira senang dengan ke aktifan bayi dalam perutnya itu.
Dua hari sudah Amira sudah di kejutkan oleh postingan Devina, itu berarti hari ini Devina dan kakaknya akan melangsungkan acara sakral. Amira memandang keluar jendela. Hamparan lautan bebas memanjakan matanya yang sedikit mengabur akibat air mata yang menggenang.
Sesekali, Amira mengelus lembut perutnya. Dia sedih tapi dia harus kuat dan menerima kenyataan. Enam bulan lalu, dia sudah tidak dianggap lagi keluarga oleh keluarga kandungnya sehingga dia bukanlah orang penting yang harus di undang pada acara penting kakak kandungnya sendiri.
Amira melihat kado yang di pegangnya. Kado yang di persiapkannya dengan sepenuh hati dan penuh harapan kakak dan temannya akan menerimanya dengan senang hati.
Amira butuh waktu tiga jam untuk sampai di kampung halamannya. Sengaja dia tidak berangkat malam karena memikirkan kondisi janin dalam kandungannya. Jika berangkat pagi, dia akan tiba jam sebelas siang jadi tidak butuh waktu lama resepsi akan di mulai.
Biasanya, di kampung Amira akan melaksanakan resepsi pernikahan satu hari dengan akad nikah. Akad nikah dilaksanakan pagi hari, sedangkan resepsi jam satu siang sampai jam empat. Itu sudah menjadi kebiasaan di kampung Amira.
Kapal sudah sandar tetapi Amira masih duduk di tempatnya. Dia membiarkan penumpang lain dulu yang turun agar tidak berdesak-desakan. Tawaran para tukang ojek, taksi dan angkot pada Amira selalu menemani setiap langkahnya tetapi Amira menolak. Dia sengaja jalan kaki keluar dari pelabuhan
Dia tidak langsung naik angkot ke desanya tetapi singgah mengisi perut di warung makan yang ada di depan pelabuhan. Setelah makan, Amira memutuskan untuk ke mesjid terdekat untuk istirahat sekalian menunggu waktu Zuhur.
Amira tertidur di mesjid karena kelelahan. Tasnya di jadikan bantal sementara kadonya di letakkan begitu saja di sampingnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 35 Episodes
Comments