Tekad Amira

“Aku ngga Mau Kembali, Mas.” Ucap Amira tenang.

“Amira!”

“Mas!”

Teriakan tertahan dari pasangan suami istri itu menggema di seluruh ruangan.

Tadinya, Amira hanya ingin mengambil dompetnya yang tertinggal di rumah orang tua Devan. Namun, pria itu malah menyuruhnya untuk tetap tinggal di rumah neraka itu.

“Aku bukan pembantu di rumah ini, mas! Aku istrimu! Perlakukan aku layaknya seorang istri bukan seorang pembantu yang harus melayani seluruh anggota keluargamu!”

“Amira!”

“Apa, mas! Kamu mau menamparku? Silakan! Aku ngga peduli lagi.”

Amira berteriak lantang di hadapan suaminya. Dia tidak lagi peduli dengan aturan seorang istri tidak boleh meninggikan suara di hadapan suami.

Dia betul-betul sudah tidak tahan lagi. Setelah mengambil dompet, Amira pulang ke rumah orang tuanya. Dia juga tidak lupa mengambil buku nikah miliknya dan milik Devan, serta kartu keluarga dan foto copy KTP milik Devan.

Ibu dari Amira tidak tahan untuk tidak bertanya pada anaknya itu. “Devan kenapa ngga kesini, Mir?” tanya ibunya mulai curiga ada masalah dengan rumah tangga anaknya.

“Aku mau pisah dari Devan, Bu.” Ucap Amira.

“Apa! Ada apa? Kenapa kamu minta pisah? Devan ada buat KDRT?” tanya ibunya kaget.

Amira menggeleng.

“Lalu kenapa kamu minta pisah? Pernikahan itu bukan masih pacaran yang bisa seenaknya minta putus. Pernikahan itu selamanya, Amira. Kamu ngga boleh pisah dengan Devan. Ibu ngga mau tahu, kamu harus kembali pada Devan.” Ibu Lian mengira Amira hanya ingin mempermainkan pernikahan.

“Aku ngga tahan tinggal di rumah orang tua Devan, Bu. Aku juga ngga tahan dengan perlakuan Devan dan keluarganya. Mereka ....”

“Ngga tahan apanya, Amira? Kamu itu seorang wanita dan seorang istri. Kamu harus banyak bersabar menghadapi prahara rumah tanggamu. Tidak ada kehidupan tanpa ujian, kamu harus sabar menjalaninya.” Ibu Lian memotong penjelasan anaknya yang belum selesai.

“Aku ngga betah tinggal di sana, Bu. Aku ....”

“Jangan hanya mengikuti kemauanmu hingga kamu mengakhiri pernikahanmu. Kamu ....”

“Aku tidak dianggap di sana, bu! Aku diperlakukan seperti pembantu di sana.” Amira tidak sadar sedang berhadapan dengan siapa sehingga dia berani meninggikan suara.

Bukan tipe Amira yang meninggikan suara di hadapan orang yang lebih tua, tapi kali ini, mentalnya sudah sangat hancur sehingga emosinya tidak terkontrol.

“Amira!”

“Ibu!”

“Mereka selalu mengatakan Amira tidak bisa hamil. Mereka selalu mengatakan Amira mandul. Amira tidak dianggap, bahkan Amira seperti pembantu yang melayani semua kebutuhan mereka.” Amira menjelaskan dengan deraian air mata.

“Jangan pedulikan orang lain, selama Devan tidak melakukan kekerasan sama kamu, kamu sabar saja menghadapi keluarganya.”

“Devan tidak sayang padaku, Bu. Devan tidak mencintaiku, dia hanya mencintai dunianya sendiri.”

“Balik sekarang juga, Amira.” Ibunya masih tidak mengerti perasaan anaknya. Dia masih menyuruh Amira untuk kembali ke rumah Devan.

“Ayah ....” Amira menoleh pada ayahnya meminta pembelaan.

“Jangan seperti itu, Bu. Biarkan Amira di sini dulu untuk menenangkan pikiran.” Ucap sang ayah tidak tega melihat putrinya menangis kesakitan.

“Ini karena kamu, yah. Kamu terlalu memanjakan anak ini hingga dia tidak bisa dewasa dan membangkang seperti ini”

“Ibu! Jangan bawa orang lain. Salahkan aku saja, tapi jangan dengan ayah.” Amira tidak mau ayahnya di salahkan sekalipun itu ibunya sendiri.

“Itu kenyataan. Jika kamu tidak terlalu di manjakan oleh ayahmu, kamu tidak akan kekanakan seperti ini.”

“Jika ada yang perlu di salahkan dalam masalah ini, ibu juga salah. Jika bukan karena ibu yang memaksaku untuk menikah dengan Devan, ini semua tidak akan terjadi. Ibu terlalu terlena dengan kebaikan Devan dan penilaian orang terhadap Devan. Ibu tidak tahu Devan seperti apa.”

“Amira!”

“Kenapa, Bu? Ibu mau nampar aku? Silakan, Bu. Silakan.” Amira makin menangis.

Pak Rian, ibunya hanya diam melihat perseteruan ibu dan anak itu. Dia takut memberatkan anak perempuannya jika ikut campur. Pak Rian sangat tahu tabiat istrinya sehingga dia memilih diam.

“Kamu kembali ke rumah Devan, atau keluar dari rumah ibu.”

“Ibu!”

“Kenapa? Ayah mau bela anak manjamu ini? Ayah terlalu memanjakannya hingga dia seperti ini. Ibu malu jika Amira berpisah dengan suaminya. Pernikahan mereka belum genap setahun, tapi sudah mau pisah. Ibu yang malu, yah. Ibu.”

“Itu karena ibu terlalu mengikuti kemauan ibu dan terlalu mendengarkan apa kata orang.” Ucap pak Rian.

“Terserah kalian saja. Ibu tidak mau lihat Amira masih di sini. Dia harus kembali ke rumah Devan, atau keluar dari rumah. Kalau tidak, biar ibu yang keluar dari rumah.” Ucap Bu Lian meninggalkan Amira dengan sejuta kesedihannya.

“Yah, maafin Amira, ya. Amira belum bisa buat ayah bahagia. Amira tidak bisa kembali sama Devan. Amira tidak sanggup harus hidup dalam tekanan terus, yah.”

Pak Rian memeluk putrinya. Dia begitu terluka melihat putrinya menangis kesakitan hanya karena kelakuan tidak adil dari orang yang telah mengambil tanggung jawabnya. Namun, pak Rian mengerti tidak sepantasnya mereka menahan Amira di rumah itu selama Amira masih sah sebagai istri dari Devan.

“Kamu tunggu di sini, biar ayah bicara dengan ibumu. Kita akan bicara baik-baik dengan Devan.” Ucap pak Rian mengelus lembut bahu putrinya.

Amira menahan ayahnya, “jangan, Yah. Amira takut ibu makin marah dan pergi. Amira ngga mau ibu pergi. Kasihan Alya masih kecil, yah.” Ucap Amira.

Pak Rian tidak bisa berbuat apa-apa. Istrinya itu sangat memegang teguh kata-katanya. Jika dia bilang A, maka tetap A.

“Amira sayang ayah, ibu dan adik.” Ucap Amira pamit pada ayahnya.

Dengan tekad yang kuat, Amira meninggalkan kota kelahirannya untuk menenangkan pikiran. Dia hanya membawa beberapa lembar pakaian dan buku tabungan hasil dari menulisnya di sebuah aplikasi.

[Lia, kamu sibuk ngga?] Amira mengirim pesan pada temannya di kota yang akan dia tuju.

Tidak berapa lama, sudah ada balasan dari temannya, [Aku baru kelar kerja, Mir. Ada apa?] Balas Lia.

[Aku mau ke situ (dengan emot senyum) boleh tidak, aku mampir ke tempatmu?] Amira menunggu balasan Lia dengan penuh harap.

[Seriusan? Kapan? Aku dengan senang hati menunggumu. Tapi, kamu ngga bareng Devan, kan?]

[Ngga mungkin aku bawa Devan ke tempatmu kecuali dia pakai hijab.] Tulis Amira dengan emot tertawa. Dia belum menceritakan apa yang terjadi pada rumah tangganya.

Dengan menempuh perjalanan empat jam, Amira telah sampai di kota baru di mana temannya berada. Amira mengirim pesan pada temannya untuk mengabari jika dia sudah tiba dan sedang menuju tempatnya.

Amira tiba di tempat Lia ketika azan subuh berkumandang. Rasa lapar mulai di rasakannya. Dia baru sadar, jika dirinya hanya makan pagi. Setelah itu, dia tidak menyentuh makanan sedikit pun.

Untung saja, Lia sudah mengerti dengan Amira. Dia sudah menyiapkan makanan untuk temannya itu. Saat kuliah, Amira dan Lia tinggal bersama sehingga Lia sedikit banyak tahu tentang Amira. Dia juga tahu jika Amira memiliki penyakit mag.

“Kamu pasti lapar, kan?” ucap Lia ketika Amira meletakkan tas.

“Tahu aja, kamu. Ada makanan, ngga?” tanya Amira. Dia tidak lagi sungkan pada Lia karena sudah menganggap Lia sebagai saudara sendiri.

“Ada. Yuk makan.”

Mereka makan dengan nikmat. Amira sampai dua kali tambah nasi. Entah dia terlalu lapar, atau terlalu stres dengan masalah beruntun yang menimpa dirinya. Tidak di hargai di rumah suami, juga tidak di terima kembali ke rumah orang tuanya.

Lia yang belum tahu apa yang terjadi dengan Amira, sehingga dia mengajak bercanda seperti biasanya. Amira sudah terbiasa menyembunyikan masalah sehingga Lia tidak menyadarinya.

Setelah makan, Amira menyempatkan waktu untuk mengirimkan pesan singkat pada ayahnya. Dia tidak mau cinta pertamanya itu khawatir dengan dirinya.

[Yah, Amira sudah tiba di kota K*****i. Ayah jangan khawatirkan Amira. Amira baik-baik saja di sini. Titip ibu sama adik ya, yah. Love you ayah.] Tulis Amira dengan air mata.

Lia mulai melihat ada yang tidak biasa dengan Amira. Namun, dia belum sempat untuk bertanya karena harus siap-siap untuk pergi kerja. Lia kerja di sebuah restoran yang dekat dengan tempat tinggalnya.

“Aku kerja dulu ya, Mir. Kamu santai saja di sini.” Pamit Lia.

Amira mengangkat jempol. Namun, sebelum Lia keluar, dia bertanya lowongan kerja. “Lia, ada lowongan ngga di tempatmu?” tanya Amira membuat Lia mengerutkan kening.

“Iya, aku mau kerja di sini.” Lanjut Amira setelah melihat ekspresi Lia. Dia tahu temannya itu ingin bertanya maksud perkataannya.

“Nanti aku tanyain sama bos aku, ya. Kamu utang penjelasan padaku.” Ucap Lia.

Jika tidak buru-buru, Lia akan menginterogasi temannya itu.

Sepeninggal Lia, Amira merasakan pusing di kepala. Perutnya juga tidak enak. Dia merasakan mual luar biasa.

Amira merutuki dirinya yang lupa makan sehingga asam lambungnya kambuh. Amira mengeluarkan isi perutnya yang baru saja di isi. Tubuhnya melemah setelah memuntahkan semua isi perutnya. Dia mengambil gelas untuk minum berharap, bisa meredakan rasa mualnya. Namun, tetap saja. Dia tetap saja merasakan mual hingga muntah.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!