“Mahal ternyata.” Jawab Devan.
Mendengar jawaban Devan, Amira merasa Devan tidak antusias seperti dirinya untuk memiliki anak. Amira merasa, dia hanya berjuang sendiri. Namun, Amira hanya meningkatkan rasa sabarnya untuk menerima semua apa yang terjadi padanya.
“Jadi ...?” Amira menahan diri untuk tetap bertanya dengan lembut.
“Ya pesan saja.” Ucap Devan tanpa berpaling dari ponselnya.
“Sepaket ya, mas.” Ucap Amira memastikan. Namun, Devan menggeleng. Dia tetap tidak mau ikut minum madu itu.
Amira hanya menyembunyikan kekecewaannya lalu membuka aplikasi hijau. Dia akan mengabari penjual madu itu. Sebelum Amira bertanya pada suaminya, dia sudah bertanya pada penjual melalui pesan WhatsApp. Bahkan, sudah banyak testimoni yang dikirimkan penjual pada Amira.
Amira sudah sangat mantap untuk memesan madu itu, tetapi tidak dengan suaminya sehingga dia dengan kecewa meminta maaf pada penjual.
[Maaf mbak, lain kali aja aku medannya, ya.] Tulis Amira pada penjual madu program hamil itu.
Setelah mengirimkan itu, Amira tidak lagi membuka pesan dari penjual. Dia meletakkan ponsel lalu bersiap tidur siang untuk menghilangkan rasa kecewa pada suaminya.
***
“Mas, tolong bantu angkatin jemuran, ya. Sudah mendung, takutnya hujan.” Titah Amira pada suaminya. Dia menyuruh suaminya karena Amira masih menggoreng ikan. Jika ditinggal, ikan goreng itu akan berubah bentuk karena jarak jemuran dengan dapur tidaklah dekat.
“Iya, bentar.” Jawab Devan.
Saat itu, Amira hanya berdua dengan suaminya. Ibu mertuanya sedang keluar entah dimana sehingga Amira bisa mengerjakan pekerjaan dapur dengan santai tanpa ada ocehan dari mertuanya.
Amira menggoreng ikan sambil mengerjakan sayur untuk di masak saat malam nanti. Namun, hujan mulai turun tapi belum kelihatan Devan yang akan angkat jemuran.
Dengan buru-buru, Amira mematikan kompor lalu berlari keluar rumah. Cuciannya sudah hampir kering. Jika dibiarkan terkena hujan, maka sudah dipastikan, Amira harus pulang ke rumah orang tuanya untuk mengambil baju karena pakaian Amira masih banyak di rumah orang tuanya.
Dia tidak membawa semua pakaian di rumah orang tua suaminya karena Amira sering ke rumah orang tuanya. Apalagi, lemari suaminya hanya satu dan tersisa satu bagian kecil yang digunakan untuk Amira. Hanya diisi beberapa lembar saja sudah penuh.
Amira mengangkat cucian dengan mu*itu tak henti-hentinya mengucapkan istighfar. Dia takut akan memaki suaminya yang tidak mau membantunya.
Amira berlari ke kamar untuk menyimpan cucian yang baru saja diangkatnya dari jemuran. Saat membuka pintu kamar, Amora melihat suaminya sedang main game. Amira diam. Dia tidak menyalahkan atau menegur suaminya.
Kali ini, Amira betul-betul tidak bisa menahan lagi. Dia mendiamkan suaminya untuk beberapa saat. Bukan. Bukan beberapa saat, tapi Amira mendiamkan suaminya selama tiga hari. Tadinya, Amira tidak akan mendiamkan Devan selama itu, tapi melihat Devan yang ikut-ikutan mendiamkannya membuat Amira memperpanjang masa diamnya.
Namun, pada akhirnya Amira tetap mengalah. Dia tidak sanggup jika terus mendiamkan suaminya. Walaupun dia kecewa dengan Devan yang tidak berusaha mengambil hatinya, Amira sabar saja. Dia masih berharap suatu saat nanti Devan akan mengerti perasaanya.
Dari kejadian itu, Amira bertekad untuk tidak menyusahkan suaminya. Tidak lagi menyuruh suaminya melakukan apapun yang dia mau.
Bahkan, kerjaan yang biasanya Devan lakukan, Amira akan lakukan sendiri. Devan sempat melirik Amira, tapi tidak berniat membantu juga. Mungkin, Devan merasa bersyukur karena Amira tidak lagi menyusahkannya tetapi Devan tidak tahu jika dengan begitu, bisa saja Amira tidak lagi membutuhkan Devan dalam hidupnya.
Amira menyusun kursi hingga empat susun. Dia mau mengambil kardus yang diletakkan di atas lemari. Biasanya, dia menyuruh Devan untuk mengambil atau meletakkan sesuatu di atas lemari karena Devan hanya perlu berdiri lurus, maka tangannya sudah sampai di atas lemari. Beda dengan Amira yang butuh bantuan empat kursi agar tangannya bisa sampai di atas lemari.
Setelah mengambilnya, Amora melewati Devan dengan memegang kursi yang baru saja digunakannya. Tidak ada komentar apapun dari Devan.
Pernah sekali Amira lupa pada tekadnya. Dia menyuruh Devan melakukan sesuatu untuknya.
“Mas, tolong ambilin sendalmu di luar. Aku mau cuci.” Ucap Amira segera merutuki dirinya yang lupa akan tekadnya.
Sebelum menjawab, buru-buru Amira menyelah ucapannya. “eh, tidak perlu deh, aku ambil sendiri aja.” Ucap Amira bergegas keluar untuk mengambil sendal milik suaminya.
“Maaf. Aku lupa tadi.” Ucap Amira setelah beres dengan kerjaannya.
Devan yang tidak mengerti apa-apa langsung mengernyitkan kening. “Lupa apa?” Tanya Devan tidak mengerti perkataan istrinya.
“Aku lupa kalau tidak akan merepotkan mas. Selama aku bisa ambil sendiri, aku tidak akan menyusahkan mas Devan. Ya, kan, mas?” Ucap Amira dengan nada bercanda. Sebenarnya, itu hal serius yang Amira ungkapkan dari hati yang paling dalam tapi dia takut menyinggung hati suaminya sehingga dia mengucapkannya dengan nada bercanda.
“Huum, terus?” Devan mengikuti candaan Amira.
“Aku tidak akan mengganggu kerjaan mas, aku tidak ....”
“Udah ah, ribut. Lagi fokus nih.” Ucap Devan menghentikan ocehan Amira yang hanya mengganggu konsentrasinya saat bermain game.
Amira tersenyum dan berhenti berkata-kata. Dia mengambil ponselnya untuk menyembunyikan luka. Entah sudah berapa banyak luka yang Amira sembunyikan dari dunia.
Amira pura-pura menguap di hadapan Devan. “hoooah. Ngantuk ya.” Ucap Amira beranjak ke kasur.
Amira sengaja pura-pura ngantuk pada suaminya karena ada sesuatu yang tidak bisa di tahannya. Dia harus mengeluarkannya tanpa sepengetahuan Devan. Devan tahu pun juga percuma sehingga Amira memilih menangis dalam diam. Sekuat apa pun Amira, dia akan kalah dengan air matanya sendiri.
Amira menutup mulut agar tidak mengeluarkan suara. Namun, Devan tidak bisa di bohongi. Dia bisa melihat bahu istrinya terguncang. Devan tahu Amira sedang menangis. Jarak kursi tempat duduknya dengan kasur tempat Amira menangis tidak jauh sehingga Devan bisa melihat jelas bahu istrinya yang terguncang.
Tetapi, entah apa yang Devan pikirkan sehingga dia hanya membiarkan Amira menangis sendiri tanpa ada niat untuk menghampirinya. Padahal, Devan cukup memeluk istrinya tanpa berkata apa pun pasti istrinya itu akan tenang.
Memang, Amira sangat butuh pelukan dari suaminya. Selama pernikahannya dengan Devan, Amira baru dua kali di peluk oleh suaminya itu.
Pertama, saat fotografer menyuruh Devan untuk memeluk istrinya, kedua, saat resepsi pernikahan selesai.
Setelah itu, hanya Amira lah yang selalu memeluk Devan. Namun, Devan kerap kali melepas tangan Amira yang melingkar di pinggangnya dengan alasan gerah.
Berkali-kali Amira mendapat penolakan dari Devan, tapi dia tidak menyerah karena dengan memeluk Devan, rasa lelahnya setelah seharian di rumah akan hilang. Amira hanya butuh memeluk hangat suaminya untuk menenangkan batinnya yang selalu dihantam oleh ibu mertuanya.
Entah hanya Amira yang merasakan itu semua atau semua istri yang tinggal di rumah mertua tetapi tidak dianggap. Amira berharap, tidak ada istri yang merasakan apa yang dia rasakan. Setiap hari harus menelan pil pahit atas penolakan suaminya, juga menahan tekanan batin yang diberikan oleh ibu mertuanya.
Amira bisa tahan jika tidak dianggap oleh ibu mertuanya, tetapi tidak dengan Devan. Air matanya sangat lemah ketika dia mendapat perlakuan tidak baik dari suaminya itu.
***
Suara takbiran bergema di seluruh penjuru desa. Amira menatap langit-langit kamar. Setetes bulir bening membasahi pipinya. Dia rindu dengan keluarganya. Walaupun dia sering lebaran di kampung orang semasa kuliah, tapi saat ini kondisinya beda. Dia berada dekat dengan rumah orang tuanya tapi tidak bisa ke sana. Itu karena Amira berusaha jadi istri baik untuk suaminya sehingga dia menahan diri untuk tidak pulang saat Devan tidak mau.
Amira mengajak Devan untuk menginap di rumahnya tapi Devan menolak sehingga Amira hanya bisa diam memikirkan suasana rumahnya.
Saat pagi hari, Amira rindu berebut kamar mandi dengan keluarganya. Amira rindu mendengar orang tuanya yang ngoceh karena Amira dan saudara-saudaranya tidak mau mandi cepat sedangkan mereka hanya punya satu kamar mandi. Apalagi, jarak rumah Amira dengan mesjid lumayan jauh.
Setiap hari lebaran, orang tuanya pasti memarahi anak-anaknya karena saling menyuruh untuk mandi hingga terkadang, hampir terlambat pergi salat Ied. Namun, semakin orang tua mereka marah, semakin mereka senang. Entahlah, Amira dan saudaranya paling senang melihat orang tuanya apalagi ayahnya marah.
“Mas, tungguin aku, ya.” Ucap Amira. Dia baru saja selesai mandi.
“Aku mau pergi sekarang.” Ucap Devan meraih sejadah yang sudah disiapkan oleh Amira.
“Tungguin, mas. Cuman bentar saja, kok.” Ucap Amira.
Amira masih sempat melihat wajah Devan yang kesal karena dia minta ditungguin. Amira buru-buru mengenakan pakaiannya lalu memakai mukena agar tidak membuat Devan menunggunya lebih lama. Bahkan, Amira hanya sempat mengoles sedikit bedak bayi di wajahnya. Padahal, dia berniat untuk pakai sedikit pewarna bibir agar tidak terlihat pucat.
Namun, Amira takut ditinggal oleh Devan. Ini adalah kali pertama dia akan salat Ied di desa suaminya. Sebelumnya, dia selalu bersama adik ada ibunya.
Saat tiba di mesjid, Amira tidak mendapati orang. Suasananya masih sunyi sehingga dia bebas memilih tempat di saf pertama.
Devan tidak langsung ke mesjid. Dia singgah di rumah sepupunya yang kebetulan bersebelahan degan mesjid. Amira tidak mengikuti suaminya. Dia cukup sadar diri dengan penolakan suaminya.
Amira merenung di dalam mesjid. Kilasan kenangan kehidupannya sebelum bersama Devan berseliweran di kepalanya. Satu persatu mesjid mulai terisi. Amira tidak menyadari mesjid telah penuh oleh jamaah yang akan melaksanakan salat Ied.
Amira mengangkat kepala, dia melihat ke sekeliling. Rasa minder muncul dalam dirinya dikala mendapati jamaah yang wajah mereka segar-segar tidak seperti dirinya yang seperti mayat hidup. Pucat.
Selama salat, air mata Amira tak henti-hentinya mengalir. Entahlah, lebaran kali ini Amira tidak semangat. Padahal, orang yang melihatnya mengira dirinya sangat bahagia. Bagaimana tidak, Devan dikenal baik dan ramah di desanya sehingga mereka mengira Amira sangat beruntung menikah dengan Devan.
Lain halnya dengan mertuanya. Orang di desa sudah tahu tabiat Bu Dewi seperti apa. Hanya saja, mereka hanya fokus pada Devan. Apalagi, mereka melihat Amira dan Devan seperti tidak ada masalah sama sekali.
Memang, mereka tidak ada masalah. Hanya Amira yang merasakan sakit selama masa pernikahannya. Dia merasakan perhatian Devan hanya beberapa hari setelah mereka menikah. Setelah itu, Amira hanya berjuang menyembuhkan rasa sakitnya sendiri. Apa karena Devan tidak tahu apa yang ibunya lakukan pada Amira sehingga dia kurang memperhatikan Amira atau dia memang tidak peduli sama sekali.
Setelah salat Ied, Amira buru-buru pulang agar bisa langsung ke rumah orang tuanya. Namun, dia di sapa oleh beberapa orang yang baru keluar dari mesjid juga. Banyak yang Amira tidak kenal tapi dia menyambut sapaan mereka dengan baik.
Mungkin, itu adalah kenalan Devan. Tidak heran jika Amira juga di kenal karena suaminya terkenal di desanya. Terkenal dengan kebaikannya yang selalu membantu orang lain.
Saat tiba di rumah, Amira tidak mendapati suaminya. Amira menunggu suaminya tapi sudah setengah jam Devan belum juga muncul. Amira memaklumi karena Devan banyak temannya.
Amira memutuskan untuk bermaaf-maafan dengan ibu mertuanya. Dia melihat ibu mertuanya sedang duduk di dapur. Amira menghampirinya dan mengulurkan tangan. Amira mencium punggung tangan ibu mertuanya dengan takjim.
Ibu mertuanya masih menggunakan daster. Setelah Amira bermaaf-maafan dengan ibu mertuanya, dia juga menghampiri ipar-iparnya.
“Devan mana, Mir?” tanya Roni lembut.
“Belum pulang, mas.” Jawab Amira disertai senyum ramah.
Diana melihat Amira dengan tatapan yang tidak dapat diartikan. Diana adalah istri dari Roni.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 35 Episodes
Comments