Rika mengajak Angga liburan ke pantai saat Angga memiliki cuti panjang. Pemuda itu jelas setuju, mereka memilih pantai sebagai tempat tujuan. Sebenarnya Angga yang memilih ini, soalnya pilihan yang lainnya selain berhubungan dengan hutan dan Angga sedikit keberatan akan hal tersebut. Bukannya dia trauma dengan yang namanya hutan, tapi kalau bisa dibuat pilihan lain, kenapa mesti ke sana.
Angga mengatakan kalau dia akan mengajak dua orang lainnya, itu pun kalau kedua kawannya itu mau ikut saat diajak liburan. Pemuda itu juga mengatakan kalau dia yang akan membayar pengeluaran untuk keduanya. Bagaimana pun dia yang meminta untuk membiarkan keduanya diajak. Tapi bukan Rika namanya kalau membiarkan begitu saja, gadis itu juga bersikeras kalau dia yang mengajak maka dia yang akan menanggung semua biaya termasuk masalah penginapan dan juga makan selama di sana. Al-hasil, Angga pun mengalah. Dia hanya setuju dengan sikap keras kepala Rika yang sepertinya tak akan ada obatnya sama sekali.
...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...
Masa liburan datang dengan cepat, padahal baru kemarin mereka bicara tentang liburan, tahu-tahu yang ditunggu sudah datang saja.
"Maaf lama," tukas angga menggandeng satu bocah di masing-masing tangannya. "Aku harus dengerin wanti-wanti dari ibu mereka dulu," lanjutnya melirik kedua anak yang tersenyum polos.
Rika mengernyit menatap kedua anak itu bergantian. "Eng, maaf, nih. Aku mau nanya, mereka anak kamu, kah?" bisik Rika teramat pelan.
Bibir Angga berkedut setengah kesal. Apa dia terlalu tua hingga tampangnya sudah mirip bapak-bapak yang memilki dua anak. "Anak-anak, kalian masuk duluan, ya," katanya tak ingin kedua anak yang dia ajak mendengar apa yang mereka bicarakan. Lia dan Tio mengangguk patuh, dengan cepat masuk ke mobil yang sudah menunggu. Sudah ada supir di sana, jadi tak perlu takut kalau mereka akan terlibat masalah atau apa pun itu.
"Memangnya mereka mirip sama aku, gitu?" tukas Angga setelah kedua bocah tadi pergi.
Rika mengangkat bahu ringan. "Siapa tahu lebih mirip ke ibunya, kan?" ucapnya terdengar masuk akal.
"Aku belum pernah nikah,"balas Angga mendengus kesal.
"Jadi anak angkat gitu?" timpal Rika.
"Kan aku udah bilang mereka itu temen aku, Rik," balas Angga heran kenapa mereka membahas hal seperti ini. "Mereka tetangga aku, terus mereka juga manggil aku 'om', kok!"
"Orang tua mereka ngizinin, kan?" Rika malah menangkan masalah lain lagi sekarang.
Angga mengangguk. "Aku udah minta izin dari ibu mereka dan dia setuju," balas Angga jujur.
"Terus, ayahnya?"
"Gak ada, gak tahu ceritanya gimana jadi jangan tanya!" potong Angga cepat agar Rika tak menanyakan lebih jauh masalah orang lain. Hidupnya sendiri saja sudah ribet, masa dia harus tahu semua urusan hidup orang lain. Dia hanya perlu tahu seadanya dan tak perlu disebarkan ke mana-mana juga. Hanya untuk sekedar tahu saja tanpa maksud membuatnya jadi bahan gosip, seperti itulah kira-kira.
"Ngapain di situ? Ayo, berangkat!" rupanya Rika sudah lebih dulu sampai ke mobil. Meninggalkan Angga sendirian berdiri di tepi jalan. Angga menghela napas panjang. Dia mulai lelah bahkan sebelum liburan panjang ini dimulai.
"Jadi, kita mau ke mana?" tanya Angga begitu mobil yang meraka tumpangi mulai melaju.
"Ada aja! Pokoknya bakalan tenang di sana," ucap Rika bersikap misterius.
"Pantai mana yang bakalan tenang di musim liburan kayak gini?!" gumam Angga pelan. Sedetik kemudian, ekspresi di wajah Angga berubah. Pemuda itu menatap tak percaya ke arah Rika. "Jangan bilang ...?" Angga menelan kembali pertanyaannya. Berharap kalau dirinya hanya salah tangkap saja. "Bukan, kan?" tanyanya sambil tertawa garing.
Rika menutup rapat mulutnya, dia hanya mengangkat bahu dan mulai menatap lurus ke depan. Membiarkan Angga berpikir sesuka hatinya. Dia suka melihat berbagai ekspresi yang kawannya itu gunakan kalau sedang bingung. Sangat seru dan sayang untuk dilewatkan.
Di sepanjang perjalanan, Angga berkutat dengan pikirannya sendiri. Sesaat kemudian dia yakin kalau perkiraannya salah, tetapi beberapa saat kemudian batinnya yakin dengan apa yang dia pikirkan. Pertentangan antara iya dan tidak pun dimulai dari sini hingga mereka tiba di tempat liburan.
Lelah berpikir, Angga pun jatuh tertidur karenanya. Kini hanya tinggal supir, Rika dan kedua bocah yang diajak Angga yang terjaga. Rika mencoba mengajak kedua anak itu berbicara. Meski dia tak pandai, dia merasa masih bisa berkomunikasi dengan anak-anak seperti ini.
Tio dan Lia memperkenalkan nama mereka. Rika pun melakukan hal yang sama. Tak menunggu waktu lama, ketiganya sudah akur saja dan bisa berbicara santai walau umur mereka terpaut jauh.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Comments