18

Angga menemani Soraya selama Deni pergi menyuruh pelayan menyiapkan makan siang. Selama waktu itu juga, Soraya mulai terganggu ingatannya dan mengatakan kalau Angga adalah cucunya yang paling kecil yang telah lama tak pulang. Pemuda itu sangat dimanja, buah-buahan selalu disuapi sebelum mulutnya berhenti mengunyah. Deni tak melakukan apa-apa dan malah bermain peran bersama neneknya. Membiarkan sang nenek untuk bertingkah sesuai dengan apa yang otaknya pikirkan.

Hingga saat Soraya menawarkan sejumlah uang. Jelas Angga menolak, takut dikira memanfaatkan situasi dan mengambil keuntungan dari seorang wanita yang pikirannya sedang tak sesuai dengan kenyataan. Sayangnya, Soraya tetap bersikeras. Wanita tua itu membuka dompetnya dan memberikan banyak lembaran kertas pada Angga. Mata Angga berkedip pelan beberapa kali, dia melihat tumpukan kertas yang berada di tangannya. Sekejap kemudian Angga tersenyum lebar, mengucapkan terima kasih tanpa beban.

Rupanya yang dimaksud yang oleh sang nyonya tua itu adalah potongan-potongan kertas yang dia simpan di dalam dompetnya. Kalau itu, tak akan sungkan dan ragu menerima sejak awal. Dia malah tak merasa seperti memanfaatkan atau pun mengambil keuntungan dari keadaan sang nenek.

Deni menahan tawanya, pria itu menatap ke arah lain. Sungguh ekspresi yang dimiliki pemuda di depannya ini sangat mudah dibaca. Semua terlihat jelas dari raut wajahnya mengenai apa yang dia rasakan. Seperti sekarang, Deni tahu kalau Angga sedang merasa lega karena tahu uang yang akan diberikan oleh sang nenek merupakan kertas mainan saja.

...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...

Angga terduduk lemas menyandar di kursi. Dia kelelahan karena menanggapi ocehan nenek bosnya. Saat ini dia bisa lepas dari sang nenek karena sudah waktunya si nenek untuk beristirahat setelah minum obat.

"Maaf aku tak bisa berbuat apa-apa untuk menolong kamu tadi," tukas Deni memulai percakapan. "Dan terima kasih sudah mau mengikuti apa yang sedang nenek aku lakukan tanpa ragu," katanya lagi.

"Yah, saya malah senang karena bisa merasakan kasih sayang keluarga, bos," timpal Angga tersenyum tipis.

Deni tertawa lepas, baru kali ini ada yang senang saat terlihat dengan neneknya yang ingatannya berganti. "Kalau begitu, sering-sering saja kemari dan temani nenekku bermain," tukasnya kelepasan mengatakan apa yang sedang dia pikirkan.

"Oh, maksudnya, saya tak memaksa. Hanya kalau kamu suka saja," lanjut pria itu dengan cepat meralat ucapannya.

"Akan saya lakukan kalau memiliki waktu luang, bos!" timpal Angga mengangguk senang atas penawaran dari bosnya.

Deni semakin menyukai sifat Angga yang sangat hangat dan baik. Bahkan untuk seorang perempuan tua pikun yang bukan merupakan anggota keluarganya saja, dia mau meladeni sampai segitunya.

Sepulang dari sana, Angga dibekali dengan banyak makanan rumahan buatan koki di rumah bosnya. Sebenarnya Angga sudah menolak, tapi si bos tetap memaksa dan mengatakan kalau Angga bisa menganggap itu sebagai imbalan karena sudah repot menghadapi neneknya. Jadilah Angga membawa pulang banyak bontotan karenanya.

Di perjalanan, Angga menatap banyaknya susunan makanan yang dia terima di kursi belakang. Pemuda itu menghela napas panjang. Padahal tadi dia hanya membawa satu keranjang buah yang isinya sangat murah. Tapi begitu dia kembali, dia diberi banyak makanan yang dikemas dalam wadah cantik yang entah berapa harga semuanya kalau dijadikan uang.

"Kapan aku bisa menghabiskan semua ini?" gumam Angga pusing sendiri. Oke, banyak makanan memang bagus. Tapi kalau kebanyakan dan semua makanan yang sudah dimasak, dia sendiri yang akan kerepotan.

"Mari urus nanti. Yang jelas semua wadahnya harus aku kembalikan dengan cepat sebelum hilang atau aku lupa," tukas Angga malas berpikir.

Begitu sampai di rumahnya, Angga melihat matahari sudah hampir terbenam dari jendelanya. Sudah hampir jam makan malam, Angga pun mengeluarkan semua makanan yang dia dapatkan dari rumah bosnya.

Meja kecil Angga tak cukup menampung semua makanan yang sudah disalin Angga ke tempat lain. Dia takut menggores wadah-wadah mahal itu kalau dia menggunakannya di rumahnya. Lebih baik langsung menyalin semua makanan yang dia terima dari pada menggunakan wadah mahal dan mewah yang sangat mengkhawatirkan kalau sekiranya rusak saat dia gunakan.

Pemuda itu belum juga memulai makannya, dia malah mengetuk-ngetukkan jadi ke meja makan sambil terus menatap makanan yang disajikannya di atas sana. "Ah, aku bisa memanggil mereka!" tukas Angga bangkit dari duduknya. Dia bergegas ke luar rumah lalu mengetuk pintu tetangga sebelahnya.

"Om sebelah," sapa seorang anak membukakan pintu. "Ada apa, om?" tanyanya seraya tersenyum lebar, terlihat gigi depannya yang hilang karena sudah tanggal.

"Kamu sudah makan atau belum?" tanya Angga menyamakan tingginya dengan anak di depannya.

Si anak menggeleng cepat. "Belum! Kak Lia baru saja mau membuatkan nasi goreng," balasnya dengan mata berkedip imut.

"Mau makan di rumah om, gak?" tanya Angga lagi. "Ajak kakakmu juga," lanjutnya seraya mengacak rambut Tio, anak yang diajak Angga bicara saat ini.

"Beneran?" tanya bocah itu dengan mata berbinar. Angga mengangguk sebagai balasan. "Om tunggu di sini, aku panggil kakak dulu!" katanya langsung kembali ke dalam tanpa menunggu balasan dari Angga. Angga hanya bisa tersenyum geli melihat tingkah imut bocah yang sudah menjadi tetangganya sejak lama itu.

Sedikit cerita tentang Tio, keduanya selalu ditinggal bekerja oleh sang ibu hingga larut malam. Mereka hanya tinggal bertiga karena sang kepala keluarga sudah tak ada. Angga juga tak tahu ayah mereka sudah tiada atau malah kabur, dia tak pernah mengikuti gosip dan tak suka mendengarkan hal-hal seperti itu. Yang jelas Angga hanya ingin hidup damai tanpa peduli urusan orang lain dan membantu kalau memang dia dibutuhkan saja.

"Kata Tio, om mengajak kami makan di rumah om, apa benar?" Lia datang bersama dengan Tio. Kedua kakak-beradik itu saling berpegangan tangan.

"Yup. Ada orang baik yang ngasih om banyak makanan enak, tapi om bingung gimana cara ngabisinnya. Untung saja om ingat sama kalian berdua. Jadi, mohon bantuannya, ya anak-anak!"

Lia dan Tio saling menatap, keduanya mengangguk serempak. Lia segera mengunci pintunya. Akhirnya mereka bertiga makan bersama dalam suasana yang sangat gembira. Terlebih dua orang bocah yang sangat jarang menikmati makanan kelas atas seperti ini. Sangat terlihat jelas di wajah mereka kalau mereka sangat senang dengan apa yang mereka santap saat ini.

"Harusnya ibu libur tadi, jadi ibu bisa makan juga makanan enak seperti ini," ucap Tio yang mengingat ibunya.

"Bawakan saja dan berikan untuk ibu kalian kalau nanti sudah pulang," timpal Angga tersenyum tipis.

"Sungguh boleh?" tanya Tio dan Lia tak percaya.

Angga mengangguk mengiyakan. "Lagian masih banyak gini juga makanannya," ucap Angga membuat kedua bocah itu tersenyum lebar karena bahagia.

"Ayo dimakan lagi. Tambah yang banyak!" kedua bocah itu mengangguk penuh semangat, mereka senang ibu mereka bisa merasakan makanan seenak ini kalau sang ibu sudah pulang nanti. Tak lupa keduanya mengucapkan terima kasih kepada Angga yang sudah berbaik hati berbagi makanan kepada mereka.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!