5

Angga semakin mahir menyembunyikan hawa kehadirannya. Kalau dia mendengar sesuatu, dia akan segera bersembunyi dan tak bergerak dari tempat persembunyiannya sama sekali sebelum dia merasa sudah aman dari bahaya.

Pemuda itu juga tak pernah menginjakkan kaki ke luar dari mulut gua. Dia merasa kalau itu tak dibutuhkan, semua kebutuhannya untuk bertahan hidup ada di sini. Kalau mau mandi atau minum, dia tinggal mengambilkannya dari mata air. Kalau mau makan, dia tinggal mencari beberapa hewan yang tersesat masuk ke dalam gua dan menangkap mereka.

Kegiatan Angga beberapa hari belakangan ini adalah menganyam tikar dari rumput-rumput yang sudah dia potong. Rumputnya sangat panjang dan cukup dijadikan alas serta selimut untuk tidur. Pemuda itu juga e.mbuat beberapa baju dari bahan yang sama, dia hanya memiliki sedikit baju, jadi mau tak mau dia harus membuat yang baru untuk berjaga-jaga kalau yang lama sudah tak bisa dipakai lagi. Angga cukup bangga pada dirinya yang serba bisa dan banyak pengetahuan. Yah, siapa suruh dia sangat suka menonton acara tentang hidup di alam. Hasilnya, inilah yang dia dapatkan. Dia bisa dengan mudah beradaptasi dan memanfaatkan segala apa yang ada di sekelilingnya tanpa perlu panik atau cengo seperti orang bodoh yang tak tahu harus berbuat apa dalam situasi yang tak pernah dia hadapi.

Angga cukup menyukai apa yang dia lakukan sekarang. Dia tak pernah lagi memikirkan membuat novel atau cerita-cerita lain yang bermunculan di otaknya. Mungkin dia seharusnya aktif bergerak dari dulu, jadi dirinya tak akan terjebak di sini hanya karena akhir cerita yang dia tuliskan pada novelnya.

"Ada gunanya juga terdampar di sini. Aku merasa jauh lebih sehat dan bertenaga," tukas Angga menggerak-gerakkan badannya yang terasa lebih ringan dan mudah bergerak.

"Mana pernah aku merasa penuh energi seperti ini?!" katanya lagi sambil tersenyum senang. Ah, dia ingat lagi apa yang gurunya katakan. Tak ada yang sia-sia dari semua masalah. Semua pasti ada hikmahnya. Jadi, apa hikmah di balik kejadian ini adalah mendapatkan kesehatan yang sangat susah dia dapatkan sebelumnya. Oh, bukan berarti dia penyakitan. Tapi Angga merasa dirinya mudah lelah dan sangat malas melakukan aktivitas fisik yang berat.

Waktu berjalan sangat cepat, Angga sesekali keluar dari gua saat dia merasa keadaan di luar cukup aman untuk mencari udara di luar sana. Memang dia masih bisa bernapas dengan baik di dalam gua, tapi tetap saja dia manusia yang membutuhkan oksigen lebih banyak dan lebih segar. Yah, anggap saja dia sedang memantau keadaan, memperkirakan kapan kira-kira dia bisa kembali ke tempatnya yang sebelumnya.

Angga memperkirakan, mungkin akan membutuhkan waktu beberapa minggu lagi untuk dia bisa kembali. Kalau dunia di luar wilayah iblis musnah, pasti para iblis akan merasa berkuasa dan mereka kemungkinan besar akan menggelar pesta yang megah. Tak mungkin mereka diam saja tanpa berpesta pora untuk kemenangan mutlak yang mereka raih tanpa susah payah. Hanya mereka tak tahu kalau sebenarnya, bencana yang lebih besar akan mengarah ke tempat mereka.

"A, aku men, mencium bau ma, ma, manusia!" Angga memejamkan matanya seraya bersembunyi di balik pohon yang sangat besar.

"Hi, hidungmu buruk! A, aku tak men, mencium ap, ap, apa-apa!" tukas iblis satunya meninju kuat kawannya.

"Ja, ja, jangan do, di, dorong-dorong!" tukas yang satunya balas mendorong kuat kawannya. Tinjuan iblis satunya dirasakan hanya seperti dorongan ringan yang dilayangkan.

"A, ayo ki, kita ... kem, kem, kembali," ucapnya putus-putus. Yang satunya mengangguk setuju, keduanya pun segera pergi meninggalkan Angga yang menghembuskan napas lega.

"S*al, hampir saja," gerutu pemuda itu bergegas kembali ke gua. Namun, tetap dengan sikap penuh waspada yang tinggi.

Entah sudah berapa lama waktu berlalu. Suatu waktu, Angga merasa getaran yang cukup kuat dari tempatnya sekarang. Pemuda itu melompat cepat dari tidurnya yang nyenyak, dia terkejut karena merasakan getaran barusan. Sedikit waspada mungkin saja ada binatang iblis yang ukurannya lebih besar yang tersesat sampai ke tempatnya. Lama berlangsung, tapi tak ada satu pun wujud binatang yang dia lihat. Mau mengintip ke luar, Angga takut kalau dia ketahuan menyusup dan tinggal di sini. Lebih baik menunggu beberapa saat lalu mencari tahu kalau situasi sudah tenang.

Baru saja Angga memutuskan untuk mencari tahu, dia sudah mendengar keributan yang dibuat para iblis gagap tingkat rendah yang sering mondar-mandir di wilayah pinggiran seperti ini.

"Ka, ka, kata Tu, Tu, Tuan Aiden, wi, wilayah lain se, se, semuanya hancur!"

"Se, se, sekarang hanya ki, kita yang ber, ber, berkuasa di sini!"

"In, ini puncak kejayaan da, da, dari tuan kita!"

"Sebentar la, la, lagi ... akan a, a, ada pes, pesta pasti!"

"Du, du, dunia ini mi, milik ki, kita pa, para iblis!"

Angga menangkap beberapa percakapan dari mereka, lalu diakhiri dengan tawa angkuh yang terdengar memekakkan telinga. "Aku harus bersiap pergi mulai sekarang!" tukas pemuda itu setelah mendapatkan informasi yang penting menurutnya.

Dia harus sudah berada di luar wilayah iblis saat bencana yang dia buat khusus untuk menghancurkan seluruh iblis turun. Angga tak peduli apakah dia akan menjadi satu-satunya manusia yang hidup setelah semua ini. Yang penting dia masih bisa bernapas dulu, sisanya akan dia pikirkan nanti.

Saat para iblis sibuk berpesta dengan penuh suka cita, seorang manusia kembali menyelinap seperti saat dia datang sebelumnya. Tak lupa pemuda itu menangkap buruan yang sekiranya bisa dia bawa dengan mudah untuk perbekalan selama dia bertahan hidup sendirian di masa depan.

Dia memang tak menuliskan secara detail kalau semuanya hancur. Tapi, Angga berasumsi sendiri dan merasa perlu untuk melakukan tindakan antisipasi kalau-kalau hal tersebut terjadi.

"Selamat tinggal, terima kasih sudah melindungiku beberapa waktu belakangan ini," gumamnya menatap wilayah iblis yang semakin lama semakin jauh tertinggal di belakangnya.

"Maaf sudah membuat akhir cerita yang buruk dan mencoba untuk bertahan sendirian!" kata Angga lagi.

Pemuda itu pun melanjutkan perjalanannya setelah mengucapkan beberapa kata tambahan. Dia menuju tempat dia tinggal semula. Tanah dataran tinggi yang tandus, cukup bagus untuk memulai kehidupan Barus di sana.

Baru saja menginjakkan kaki di bawah gunung, Angga kembali merasakan getaran yang lebih kencang dari sebelumnya. Rupanya bencana yang dia tuliskan sudah menghancurkan wilayah iblis. Bersyukur dia bisa kembali tepat waktu. Yah, walau pun dia belum sampai ke tempat tujuannya yang berada di puncak gunung ini.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!