Rika memanggil Angga untuk datang ke rumahnya, dia baru saja mendapat dokumen mengalihkan sebagian saham yang dia miliki. Gadis itu pun memberikan dokumen itu dan meminta Angga membubuhkan tanda tangannya di sana. Itu dia lakukan sesuai dengan janjinya, dia tak ingin kepikiran kalau belum melakukan apa yang dia janjikan.
Awal, Angga jelas ingin menolak.Tapi Rika malah meminta dengan sangat agar Angga mau menerima niat baiknya untuk meminta maaf. Tak sampai hati karena terus menolak, akhirnya Angga menerima saja. Lagi pula dia juga tak akan merugi apa-apa.
Rika juga menanyakan bagaimana hasil wawancara Angga hari ini. Angga menjawab seadanya tanpa ditutupi. Rika pun menawarkan untuk memberikan rekomendasi pekerjaan, yah kalau hanya untuk hal seperti itu, sangat mudah untuk Rika lakukan. Dia tinggal mengambil ponselnya lalu mengirim pesan singkat pada orang yang bersangkutan dan pekerjaan pun bisa didapat dengan mudah.
"Biar aku cari dulu, oke. Kalau memang gak bisa dapat sendiri, baru aku minta rekomendasi dari kamu," putus Angga memilih untuk tidak memanfaatkan kebaikan Rika.
"Katakan saja kapan pun kamu butuh," ucap Rika bersungguh-sungguh.
"Mari singkirkan masalah pekerjaanku. Kapan kamu mau belajar lagi?"
"Kalau tak keberatan, sore ini boleh."
Angga mengangguk setuju, dia juga tak punya janji. "Tak masalah, aku punya banyak waktu bebas sebelum malam." ada pekerjaan paruh waktu di mini market yang harus Angga lakukan nanti malam. "Mari kita cari baju yang normal untuk kamu," tambahnya lagi yang tak yakin dengan apa yang akan Rika pakai kalau gadis itu memilih bajunya sendiri.
Dengan izin Rika, Angga mencari pakaian yang cocok di kamar ganti gadis itu. Hanya ada tiga warna yang mengisi lemari besar yang Rika miliki. Putih, hitam, dan coklat tua. "Pakai ini dulu, dan kita belanja pakaian kamu setelahnya," ucap Angga mengambil setelan yang dia anggap paling tepat untuk Rika.
"Boleh pakai jaket ini?" tanya Rika yang telah berganti baju, dia membawa jaket tebal bertopi di tangannya.
"Ditolak!" tukas Angga tak setuju. "Ayo pergi dan lebih percaya dirilah sedikit!" lanjut pemuda itu.
Keduanya siap berangkat, kali ini Rika menyuruh Angga menggunakan mobil saja. Kebetulan mobil yang mereka gunakan adalah mobil yang baru saja dikirim oleh orang yang mengurus perusahaan Rika kemarin. Rika lupa namanya karena mereka jarang bertemu, tapi yang jelas orangnya baik dan tak pernah memaksa untuk bertemu, itu yang Rika suka darinya. Kalau ada keputusan yang susah dibuat tentang usaha mereka, pihak sana akan mengirim pesan. Rika pun menanganinya tapi tetap berhubungan dengan ponsel tanpa tatap muka sama sekali.
Untuk itulah Rika ingin cepat bisa berbaur, dia ingin menghadiri acara tahunan perusahaannya. Meski tak menjadi pemimpin langsung, tapi itu tetap perusahaan yang dibangun orang tuanya untuk dirinya. Setidaknya dia ingin sekali saja menghadiri acara penting dan setor muka agar bisa mengingat orang-orang yang selama ini sudah bersusah payah membantu dirinya.
Sampai di mall, Angga meminta pegawai toko pakaian merekomendasikan pakaian yang sedang tren saat ini untuk Rika. Pakaian kasual yang nyaman dan juga beberapa gaun yang bisa dipakai dipertemuan penting. Di perjalanan tadi Rika menceritakan kalau dia ingin pergi ke pesta tahunan perusahaannya, makanya Angga meminta dipilihkan gaun yang cocok untuk Rika.
Kelar berbelanja yang tentunya dibayar oleh Rika sendiri. Sekarang Angga menyeret Rika ke salon kecantikan. Angga meminta perawatan penuh sekaligus make over total untuk mengubah gaya Rika. Uang bukan urusan Angga, dia hanya menyarankan dan Rika selalu setuju dengan apa yang pemuda itu katakan. Yah, walau ada gurat ragu sesaat. Tapi gadis itu segera mengangguk yakin kalau dia pasti bisa melakukan semuanya dengan baik.
"Selamat jalan, silakan datang kembali nanti, tuan, nona," ucap si pegawai salon begitu mereka menyelesaikan urusan mereka dan sudah membayar semuanya.
Angga tersenyum lebar, puas dengan hasil yang didapatkan karena mengikuti sarannya. "Kamu keren!" ucap Angga memuji sambil mengacungkan kedua jempolnya.
"Aku malah ngerasa aneh," cicit Rika menggaruk pipinya risih. "Dan orang-orang terus menatap ke arah sini," tambahnya lagi semakin lirih.
Angga menahan tawanya, dia berdehem sok cool. "Mereka menatap karena kamu cantik!" puji Angga tanpa maksud apa pun. Dia hanya murni memuji, bukan bermaksud untuk menggombal.
"Sungguh?" tanya Rika menatap tak percaya.
"Tak mungkin aku berbohong. Nanti bisa-bisa kamu bakalan ngirim aku ke novel lagi kalau aku bohongin kamu?!"
"Aku kan udah minta maaf, lagian itu karena aku terlalu kesal dan secara gak sengaja malah ngebuat aktif kutukan yang bisa dibilang bakat aku," jalan Rika pelan. Dia cukup paham kalau pembicaraan tentang kutukan tak boleh sampai diketahui oleh orang lain.
"Lupakan soal kutukan, itu sudah lewat. Sekarang ayo makan, aku lapar," tukas Angga mengalihkan topik.
"Biar aku yang pilih tempat makannya," tukas Rika mengirim pesan ke seseorang. Begitu pesan balasan diterima, mereka pun langsung bergegas ke alamat yang diberikan. Dikatakan bahwa Rika hanya perlu menyebutkan namanya sendiri begitu sampai, dan pihak sana akan menggiring mereka ke ruangan yang akan mereka gunakan setelahnya.
"Sepi di sini? Mungkin gak enak karena gak ada pelanggan lain," bisik Angga berkomentar.
"Maaf, nona. Kami tutup karena tempat kami sudah di reservasi. Silakan datang lain kali," tukas si pegawai dengan sopan.
"Tapi saya ke sini karena baru aja dapat rekomendasi," cicit Rika terlalu pelan dan hanya terdengar seperti gumaman saja. Bahkan pelayan tadi yang berdiri berjarak lima langkah darinya saja tak menangkap jelas ucapan Rika.
"Kami ke sini karena dapat rekomendasi yang mengatakan kami bisa makan di sini dengan santai," Angga mengambil alih pembicaraan.
"Maaf, kalau boleh tahu atas nama siapa? Mungkin anda pelanggan yang sedang kami tunggu," kata si pelayan bersikap profesional.
"Rika," ini juga Angga yang menjawab karena Rika memilih diam.
"Nona Rika Rafika?" Rika mengangguk sebagai balasan.
"Selamat datang, maaf atas kecerobohan saya yang tak bisa mengenali anda dan malah membuat anda terjebak hal yang menjengkelkan seperti tadi." si pelayan membungkuk untuk meminta maaf. Kemudian dia kembali berdiri tegak seraya tersenyum bisnis. "Mari saya antar ke ruangan anda," katanya mempersilakan Rika dan Angga untuk jalan di depannya.
"Duluan, akan kami ikuti setelah anda," tukas Angga. Rika mengangguk setuju. Akhirnya pelayan tadi berjalan paling depan untuk menunjukkan di mana kedua tamu mereka tersebut duduk.
"Silakan pilih menunya, panggil kami kalau anda siap memesan," ucap pelayan itu sebelum meninggalkan mereka berdua untuk memilih menu.
Angga berkedip pelan, dia bingung dengan apa yang terjadi. Seumur-umur baru kali ini dia mengalami hal seperti ini hanya untuk makan saja. Sungguh drama orang kelas atas tak ada habisnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Comments