15

Angga bertemu lagi dengan Deni, orang yang neneknya Angga tolong waktu itu. Dari Deni, Angga mendapatkan tawaran pekerjaan dan bisa langsung bekerja saat itu juga. Angga yang ragu malah diyakinkan kalau ini bukan hanya karena Angga menolong nenek calon bosnya, tapi juga karena Angga dipercaya sebagai orang yang baik dan juga jujur.

Tak enak kalau terus menolak padahal dia memang sedang mencari pekerjaan, Angga pun menerima dengan cepat. Pemuda itu meminta waktu untuk masuk kerja beberapa hari setelahnya. Dia masih harus mengurus kerja paruh waktunya. Tak enak kalau dia berhenti begitu saja tanpa memberi kabar.

Kini pekerjaan paruh waktu yang Angga miliki hanyalah pekerjaan dengan Rika saja. Itu pun Angga yakin kalau pekerjaan itu tak akan berlangsung terlalu lama. Gadis itu sudah semakin membaik dan lebih percaya diri untuk berdiri di depan orang banyak. Saat semua sudah selesai, Angga akan bisa semakin fokus pada pekerjaan satu-satunya yang dia miliki.

...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...

Kehidupan Angga meningkat lebih baik sedikit demi sedikit. Waktu yang biasanya dia habiskan untuk mengetik naskah sambil bekerja paruh waktu di beberapa tempat, kini dia gunakan untuk bekerja dengan sungguh-sungguh. Selama akhir pekan tak jarang angga ke luar bersama Rika untuk membantu gadis itu beradaptasi dengan lingkungan.

Seperti sekarang, keduanya sedang berjalan di jalan setapak menuju puncak gunung. Ini merupakan tempat rekreasi umum yang sering didatangi oleh orang-orang yang ingin menghirup udara segar sembari melepas stress.

"Ini mengingatkan aku dengan hutan yang aku tempati di novel," tukas Angga sembari mengedarkan pandangannya. Bukan hutan tempatnya pertama kali datang, tapi lebih pada wilayah iblis yang tertutupi kegelapan. Yah, bedanya di sini sangat terang dan banyak sinar matahari yang merangsak masuk melalui celah-celah dedaunan.

"Ceritakan lebih banyak," tukas Rika menimpali.

"Itu bukan cerita yang enak didengar dan aku lebih suka menyimpannya sendiri." Angga terkekeh pelan, lebih baik cerita tentang itu menjadi rahasia untuk dirinya sendiri saja.

Rika mengangguk kecil, tak merasa marah sama sekali karena Angga tak mau bercerita padanya. "Terus, apa kamu ketemu raja iblisnya atau iblis lain?" gadis itu mengganti pertanyaannya.

"Aku bersembunyi dengan sangat baik, untungnya tak ada satu pun dari mereka yang aku temui. Mungkin karena aku yang menulis, jadi aku ingat dengan jelas aku harus sembunyi di mana agar kemungkinan untuk bertemu dengan iblis tak ada sama sekali."

"Pasti mengerikan kalau sampai ketemu salah satu dari mereka," timpal Rika mengomentari. "Maafkan aku, aku masih tetap merasa bersalah walau kamu udah bilang gak apa-apa," lanjutnya merasa tak enak hati. Hanya karena emosi sesaat, nyawa seseorang hampir melayang karenanya. Sungguh dia sangat ingin menghilangkan kemampuannya, tapi apa daya, itu sudah bawaan dari lahir yang dia dapatkan dari pihak ibunya.

"Katakan saja aku cukup beruntung bisa mengingat akhir setiap novel yang aku buat," tukas Angga mengangkat bahunya ringan. "Dan aku menggunakan pengetahuan itu untuk membuat rencana," tambahnya lagi.

"Oh, apa kamu mau ikut aku akhir bulan nanti?" tanya Rika teringat akan sesuatu.

"Ke mana?"

"Ada acara kecil yang diadakan perusahaan. Ini pertama kalinya aku akan hadir, sepertinya aku butuh seseorang yang aku kenal di sana," balas gadis itu sekaligus memberikan alasan.

"Nanti aku kabari kalau aku bisa," tukas Angga seraya mengangguk. "Kamu tahu kan kalau aku juga ada kerjaan sekarang," lanjutnya. "Kalau aku masing nganggur, mungkin aku akan mengiyakan tanpa pikir panjang," tambah pria itu seraya terkekeh jenaka.

"Jangan lupa kabari sebelum hari H-nya. Jadi kita bisa nyari baju yang cocok untuk ke sana," ucap Rika mengingatkan.

"Akhirnya, kita sampai di puncak!" Angga merentangkan tangannya lebar, terlihat puas karena berhasil mendaki.

"Ah, aku suka udaranya," ucap Rika menimpali sambil menutup mata. Gadis itu menikmati hembusan angin yang menerpa wajahnya. Terasa menyejukkan sebagai balasan dari semua usaha yang dia lakukan untuk mendaki sampai ke sini.

"Tak sia-sia bukan kita memilih ke sini?" tanya Angga menatap Rika.

"Em, pemandangannya bagus, udaranya segar, tak ada polusi, pokoknya keren!" timpal Rika mengacungkan jempolnya.

"Ada apa?" tanya Angga yang risih ditatap Rika sejak tadi.

Rika menggeleng seraya tersenyum tipis. "Aku gak pernah ngebayangin kalau orang yang udah aku kutuk malah bisa jadi rekan aku untuk ngilangin sikap aku yang gak suka dengan keramaian. Ini sedikit lucu, tahu,"

Angga mengangguk sekali sebagai reaksi cepatnya. "Aku juga begitu. Aku kira kita bakal berantem, aku gak bisa maafin kamu, terus gak akan lagi berhubungan seperti ini. Rupanya semua salah, kita malah keliatan akur dan kayak udah berteman dari lama," timpal Angga terkekeh sendiri.

"Yah, meski kamu bayar aku untuk ini, sih. Tapi tetap saja, kalau ngikutin kata hati, aku pasti gak mau dan nolak. Entah mau seberapa banyak bayaran yang ditawarkan. Tapi mungkin aja ini bentuk simpati sebagai sesama manusia," tukas Angga jujur menambahkan apa yang ingin dia katakan.

"Ya! Aku kan bayar emang udah seharusnya. Masa aku nyita waktu orang tapi gak mau ngasih bayaran?!" tukas Rika berwajah masam. Dia bukan orang tak tahu malu yang meminta tolong terus menerus tapi tak memberikan apa-apa sebagai balasan. Karena dia sudah menggunakan tenaga dan jasa Angga, jadi tak ada salahnya kalau dia membayar dengan uang itu semua.

"Oh, makanya aku yang harus makasih karena bisa beli makanan sekaligus duit pulsa untuk penyambung hidup ponsel aku," timpal Angga membalas cepat. "Apa bagusnya punya ponsel tapi gak ada pulsa atau datanya," tambahnya sambil terkekeh.

"Jual aja ponselnya, terus belikan pulsa. Kan gampang," tukas Rika mulai pandai melempar candaan.

Angga mengangguk sok setuju. "Bisa, bisa! Patut dicoba?!" katanya dengan mimik wajah serius. "Terus nanti aku teleponnya pake apa, ya kira-kira bagusnya?"

Keduanya tertawa bersama hanya karena candaan yang tak terlalu lucu sebenarnya. Karena suara tawa mereka yang terlalu keras, keduanya menjadi pusat perhatian dari orang lain yang ikut mendaki seperti mereka berdua. Angga dan Rika segera menutup mulut mereka, menahan tawa yang nyaris kembali terlepas hanya karena melihat wajah satu sama lainnya. Mereka berdua merasa lucu sendiri saat saling menatap.

Angga berdehem, menjadi yang pertama bersikap biasa di antara keduanya. "Lihat di sana, ada kawanan burung yang terbang!" Angga menunjuk apa yang dia lihat agar semua perhatian orang-orang teralih dari mereka.

"Ambil gambar cepat!" ucap Rika seperti perintah.

Angga menurut, mengambil beberapa gambar guna mengabadikan pemandangan yang mereka lihat saat ini.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!