11

Angga yang menerima panggilan wawancara malah terjebak di rumah sakit setelah menolong seorang wanita tua di jalan tadi. Dia seratus persen melupakan janji temunya dan malah mengkhawatirkan keadaan wanita tadi. Saat dia sudah mendengar kabar kalau wanita itu baik-baik saja, barulah Angga bisa bernapas lega dan mengucapkan syukur seperti dialah keluarga sang nyonya tadi.

Angga bahkan baru sadar saat dokter yang berbicara padanya menyinggung tentang bagaimana rapinya dia, Angga benar-benar lupa kalau dia harus pergi wawancara dan sekarang sudah sangat telat kalau dia datang ke sana. Jadilah Angga mengunggu dengan tenang, dia menerima kenyataan kalau pekerjaan itu bukanlah untuknya. Dia juga percaya kalau Tuhan yang sudah mengatur semuanya dan malah tak menyesal sama sekali telah membantu orang dengan mengorbankan pekerjaan yang mungkin saja akan dia dapatkan kalau dia datang tepat waktu.

Pekerjaan masih banyak, lowongan akan terus terbuka selama masih ada tempat kosong. Tapi begitu nyawa seseorang melayang, tak akan pernah bisa diselamatkan bahkan dengan bayaran apa pun. Itulah mengapa Angga tak terlalu kecewa karena gagal datang untuk wawancara.

Setengah jam menunggu, akhirnya keluarga pasien datang. Pria berjas mahal itu menghampiri Angga dengan wajah khawatir yang kentara. "Terima kasih telah bersedia menolong nenek saya!" katanya sungguh-sungguh. "Saya sudah dengar sedikit dari dokter, bisa anda tambahkan kalau ada yang lain?" tanyanya lagi.

Angga mengangguk, dia kembali menceritakan bagaimana dia bisa kebetulan melihat nenek pria di depannya ini. Tentu saja dia menutupi kalau dirinya dalam perjalanan wawancara kerja. Itu hal yang tak penting, jadi tak perlu diberitahu pada keluarga pasien menurut Angga.

"Beruntungnya nenek saya bisa bertemu dengan anda di saat seperti itu," tukas sang cucu benar-benar bersyukur masih ada orang yang baik yang menolong neneknya di saat sang nenek kambuh penyakitnya. Dia pun menceritakan kalau neneknya sering kabur dari pengawasan para pengawalnya, neneknya juga menderita kepikunan yang akut yang kadang-kadang muncul dengan sendirinya. Yah, bisa dibilang kadang dia lupa sesuatu, tapi ada kalanya dia seperti orang normal dan ingat semua dengan jelas.

"Kalau begitu, bisa saya pulang sekarang, kan?" tukas Angga yang ingin cepat-cepat pergi dari sana.

"Oh, tentu saja. Biar supir yang mengantar anda," kata pria berjas tadi dengan cepat. "Dan ini, tolong diterima!" tambahnya memberikan cek kosong pada Angga.

"Tidak usah, tuan. Saya tulus membantu, tolong jangan berikan hal seperti ini kepada saya," tolak Angga. "Kalau begitu saya permisi, saya bawa motor jadi tak perlu merepotkan supir anda untuk mengantar saya, tuan." Angga segera pergi sebelum dirinya dipaksa menerima imbalan. Orang kaya dan segala pola pikirnya, semua hal pasti akan diselesaikan dengan uang.

Begitu sampai rumah, Angga bergegas membuka kulkas dan mencari makanan yang bisa langsung dia makan. Dia lapar, tapi malas singgah untuk membeli makanan diperjalanan tadi. Selesai mengisi perut, Angga kembali mencari lowongan pekerjaan, pemuda itu berselancar di jejaring sosial untuk mencari pekerjaan yang cocok untuknya.

Saat sedang membaca berbagai lowongan kerja, ponsel Angga bergetar pelan. Dia melihat ada panggilan dari Rika, pemuda itu pun menerima panggilan dari rekan kerjanya tersebut.

"Ya, halo," ucap Angga di awal percakapan telepon dengan Rika.

Pemuda itu tampak mendengarkan sesuatu. "Sekarang?" tanyanya mengernyitkan kening.

"Baiklah, aku akan tiba dalam waktu setengah jam," ucap Angga. Panggilan terputus setelahnya, Angga pun menyambar kunci motornya dan segera pergi dari rumahnya. Rika meminta dia untuk datang ke rumahnya kalau tak sibuk. Karena Angga tak memiliki pekerjaan dan banyak waktu luang, Angga pun segera berangkat detik itu juga.

Angga sampai di rumah Rika, mengetuk pintu lalu masuk ke dalam saat dipersilakan. "Apa kamu ingin belajar lagi hari ini?"

Rika menggelengkan kepalanya pelan. "Ini tentang hal lain," tukas gadis itu menyerahkan beberapa lembar kertas pada Angga. "Bisa tanda tangani ini?" katanya tanpa penjelasan.

Angga membaca dengan teliti, dia tak ingin masuk perangkap yang tak dia ketahui. Mereka rekan untuk sekarang, tapi dia tak akan pernah lupa kalau gadis di depannya ini yang sudah mengirim dia ke dunia novel lewat jalur kutukan. Untung saja dia masih bisa kembali dan rentang waktu antara dunia novel dan dunia yang asli sangat jauh berbeda. Kalau tidak, dia akan menjadi orang hilang yang bisa mengikuti perkembangan zaman begitu kembali ke dunia nyata.

"Saham? Untuk aku? Kenapa?" tanya Angga tak paham. Oke, dia memang membantu Rika. Tapi dia sudah dibayar untuk itu, jadi untuk apa lagi masalah pemindahan hak milik saham kali ini.

"Tolong diterima, aku mohon," kata Rika berbicara lebih lancar karena sudah menghabiskan banyak waktu bersama dengan Angga. "Aku menyiapkannya untuk meminta maaf padamu," tambahnya lagi.

Ah, Angga paham kalau sudah begini. Jadi ini sebagai bentuk permintaan maaf karena sudah mengirim dia ke dunia novel bukan. "Bukan salahmu sepenuhnya, itu juga terjadi karena aku yang asal membuat tamat cerita aku. Tapi aku mikirnya dari pada aku ngegantung dan bikin cerita yang berbelit-belit banyak masalah, mending tamat kalau udah selesai masalahnya,"

"Meski begitu, aku sudah janji untuk ngasih ini kalau kita bisa ketemu sebagai tanda minta maaf," ucap Rika terus meminta Angga menerima tawarannya.

Angga menarik napas panjang, kemudian mengangguk tanpa bisa menolak. Lagi pula dia tak akan rugi apa pun dan karena Rika meminta dengan sangat, Angga pun merasa tak enak kalau terus menolak. "Baiklah, mari lakukan seperti yang kamu inginkan," katanya mengalah untuk kali ini.

Rika tersenyum senang, dia merasa lega karena sudah meminta maaf dengan benar. Dia juga tahu kalau kesalahannya tak akan terhapus kan hanya dengan beberapa hal yang dia berikan, tapi itu sudah cukup membuat dia lega dan tak kepikiran lagi.

"Aku kira tadi kamu ingin belajar lagi, ternyata kamu memanggilku untuk hal seperti ini, ya," tukas Angga tersenyum tipis.

"Maaf kalau aku menyita waktu kamu. Hanya saja aku takut lupa kalau aku menunda-nunda," cicit Rika.

"Tak masalah, aku justru yang berterima kasih karena sudah melakukan hal seperti ini hanya untuk meminta maaf," balas Angga seraya membubuhkan tanda tangannya. Mulai hari ini dia menjadi pemilik saham dan akan menerima keuntungan dari sana.

"Bagaimana wawancara kamu hari ini? Berhasil?" tanya Rika mulai mencari topik pembicaraan lain.

"Jangan tanyakan, aku bahkan tak bisa datang karena telat. Tapi tak masalah, mungkin belum jodohnya aku dapat kerjaan," ucap Angga santai.

"Apa kamu mau aku kasih rekomendasi?" pertanyaan Rika membuat Angga berpikir dalam, sayang kalau membuang kesempatan seperti itu, tapi juga tak enak kalau dia menerima begitu banyak bantuan seperti ini.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!