Angga dan Rika bertemu di tempat yang Rika pilih. Sebuah taman terbengkalai tanpa satu pun manusia lain selain mereka menjadi pemandangan yang terlalu familiar bagi Angga, hingga dia merasa tak betah untuk berlama-lama di sana.
Setelah bertukar beberapa kata, Angga bersiap untuk pergi. Dia merasa kalau sudah tak ada kepentingan lagi untuk melanjutkan pertemuan ini. Dia masih harus mencari pekerjaan tetap agar bisa hidup dengan nyaman nantinya.
Rika yang melihat Angga ingin pergi, segera membuat permohonan. Dia meminta Angga untuk mengajarinya soal bersosialisasi. Dia tak ingin menjadi gadis tertutup dan terlalu pendiam. Bahkan sekarang ini, Rika mengumpulkan keberaniannya untuk berbicara dengan Angga tanpa sepengetahuan penulis itu.
Tentu saja Angga menolak tawaran Rika, dia tak gila membantu orang yang sudah membuatnya terdampar selama beberapa tahun di dalam novel yang dia tulis. Sementara begitu dia kembali, wanita yang menjadi penyebab semua itu terjadi malah meminta maaf dan ingin minta bantuan. Kalau dia setuju membantu, bukankah artinya dia lebih bodoh dari pada orang yang paling bodoh yang ada di dunia ini.
"Akan saya bayar!" perkataan Rika membuat langkah Angga terhenti. Dia memang sedang mencari pekerjaan, dan kebetulan ada pekerjaan yang bisa dibilang mudah datang kepadanya tanpa dicari.
Angga berbalik, lalu berjalan ke arah Rika. Memberi jarak beberapa langkah di antara mereka agar wanita di depannya ini tak takut seperti sebelumnya. "Mari bicarakan tentang detailnya!" Rika mengangguk, dia merasa senang permintaannya mungkin akan diterima oleh Angga.
"Jadi?" Rika yang paham kalau Angga sedang membicarakan masalah yang baru saja dia minta pun mengetik sesuatu di ponselnya.
"Akan saya bayar segini," katanya menyodorkan ponselnya ke arah Angga.
Angga mengernyit, lima ratus ribu itu apa untuk pelatihan selama sebulan. Kalau iya, dia hanya akan buang-buang waktu jika setuju. "Setiap satu jam, akan saya berikan segini," kata Rika membuat Angga melongo.
Angga dilema, meski wanita ini sangat tak dia sukai, tapi dia tak bisa menutup mata begitu saja dan membohongi orang yang sama sekali tak tahu apa-apa ini.
"Apa kurang?" tanya Rika yang memperhatikan ekspresi wajah Angga saat ini.
"Dengar, aku mengatakan ini karena hati nurani yang aku miliki tak mengizinkan aku untuk berbohong dan mengiyakan begitu saja. Tapi itu jumlah yang besar kalau hitungannya per jam," ucap Angga menjelaskan.
"Tak masalah. Saya tak keberatan," ucap Rika tersenyum di balik masker yang dia kenakan. Dia kira Angga merasa tak suka dengan bayaran yang dia tawarkan, rupanya orang ini termasuk orang baik yang tak ingin menipu orang lain.
"Aku tak bisa menjanjikan keberhasilan karena aku tak pernah melakukan hal seperti ini sebelumnya," tukas Angga mulai membahas tentang pekerjaan.
"Tak masalah, saya tak buru-buru," balas Rika.
"Kamu harus menuruti semua yang kukatakan. Tentu saja itu semua hal yang berhubungan dengan permintaan kamu pastinya!" tambah Angga lagi.
"Akan saya usahakan," cicit Rika tak yakin kalau dia bisa melakukan seperti yang dikatakan Angga nanti.
"Bukan hanya usaha, tapi harus pasti. Ini untuk mempercepat kemajuan kamu juga salam bersosialisasi," tukas Angga menekankan betapa pentingnya peran kerja sama Rika dalam hal ini. Kalau dia tak mau menuruti perkataan Angga, sudah pasti tak akan ada kemajuan yang bisa mereka buat nantinya.
"Baiklah. Mohon bimbingan anda!" ucap Rika membuang keraguan di dalam dirinya. Dia berjanji akan berubah dan tak lagi mengurung diri terus-menerus di kamarnya. Dia juga ingin menikmati dunia luar, bepergian ke mana saja kakinya ingin melangkah, melihat semua musim dan bunga-bunga yang bermekaran langsung melalui matanya. Jadi di harus melakukan apa yang bisa dia lakukan untuk membuat semua keinginannya menjadi nyata.
Angga menepuk kedua tangannya pelan. "Baiklah, karena sudah selesai semuanya. Kapan kamu ingin memulai berbaur bersama dan mempelajari cara menikmati hidup dengan baik?"
"Sekarang juga tak masalah," tukas Rika membalas pertanyaan Angga.
"Bisa naik motor, kan?" tanya Angga sedikit ragu. Rika mengangguk pelan, ini akan menjadi pengalaman pertamanya menaiki motor dan merasakan embusan angin yang menerpa ke arahnya.
"Tunggu sebentar, aku cari sesuatu dulu," kata Angga. "Nah, ini dia!" katanya tersenyum puas saat menemukan kantung plastik bekas belanjaan yang sengaja sering terbawa di dalam jok motornya.
"Apa ini?" tanya Rika saat Angga menyodorkan kantong plastik tadi kepadanya.
"Kresek," balas Angga singkat dan memang tak salah.
"Saya tahu, tapi buat apa anda memberikan itu pada saya?"
"Oh, buat nyimpen luaran kamu yang terlalu tebal. Maskernya juga sekalian. Kamu gak mau kan dilihatin orang karena penampilan kamu terlalu mencolok?" ucap Angga menjelaskan.
"Tak bisakah saya tetap memakainya?" tanya Rika dengan suara mencicit lirih.
"Ingat perjanjian yang baru kita buat, nona!" ucap Angga tak bisa dibantah. "Dan usahakan bicara santai, jangan anda-saya seperti tadi. Orang-orang akan merasa aneh kalau kamu bicara begitu di antara sesama teman," tambah Angga.
Dengan terpaksa Rika membuka jaket tebal yang menutupi seluruh tubuhnya. Masker di wajahnya juga dia buka sesuai dengan perkataan Angga. "Sudah," ucapnya lirih.
Angga mengangguk-angguk puas, menyodorkan dua jempolnya untuk memuji langkah pertama Rika dalam usahanya untuk mengubah kebiasaannya. Diperhatikan seperti ini, tubuh Rika tak begitu besar seperti sebelumnya. Hanya saja pakaian berlapis yang dia kenakan, mengubah penampilannya menjadi seperti orang gemuk yang bahkan terlalu gemuk.
"Untuk saat ini, aku tak akan menyuruh kamu membuka kacamata itu. Tapi nanti, ke depannya, kamu harus bisa pergi keluar tanpa menggunakan topi, kacamata, atau masker sama sekali!"
"Terima kasih pengertiannya," ucap Rika sebagai balasan.
"Naik. Ayo, kita pergi makan!" Rika menurut saja, duduk dengan tenang dibonceng Angga di belakang. Tak lupa Angga memberikan helm cadangan yang selalu dia bawa ke mana-mana. Bukannya untuk jadi tukang ojek dadakan, tapi Angga sering menolong orang-orang yang kelihatan sangat kelelahan karena kecapekan berjalan kaki sambil membawa barang-barang yang berat.
Begitu sampai di tempat makan yang Angga pilih secara acak. Keduanya turun dan segera masuk ke dalam. Rika merasa gelisah dalam duduknya, dia terus meremas tangannya gugup. "Jangan dipedulikan. Mereka di sini untuk makan, bukan untuk memperhatikan kamu," tukas Angga lirih.
Rika mengangguk meski dia tak tahu sampai mana dia bisa bertahan berada di tengah keramaian seperti ini. "Kamu mau pesan apa?" tanya Angga mulai memilih-milih menu makanan yang tersedia. "Coba pilih makanan yang kamu suka untuk mengurangi kegugupan yang kamu rasakan saat ini," tambahnya memberi saran. Rika mengangguk, memesan berbagai jenis makanan secara langsung di tempatnya untuk pertama kalinya. Ada rasa gugup, tapi dia juga senang karena bisa bertahan dan melakukan semuanya dengan cukup baik menurutnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Comments