Angga setuju untuk mengajari Rika bagaimana hidup berbaur bersama sesama manusia. Pekerjaan yang gajinya dibayar per jam dengan bayaran yang cukup banyak menurut Angga. Bahkan Angga sampai mengatakan kalau itu nominal yang besar kalau hanya untuk satu jam, tapi Rika tak mempermasalahkannya. Yah, kalau pemilik uang saja tak masalah. Mengapa Angga harus keberatan. Dengan senang hati pemuda itu menerima dan langsung memberikan pelajaran pertama di hari itu juga. Tentu saja itu sudah atas persetujuan Rika yang bersangkutan.
Kini keduanya sedang duduk berhadapan di salah satu tempat makan yang Angga pilih secara acak. Jaket panjang milik Rika serta masker yang menutupi wajahnya sudah digantung di luar sana, di motor Angga. Rika yang gugup mulai bisa beradaptasi karena ada Angga yang terus memberinya saran serta masukan apa saja yang harus dilakukannya di saat seperti ini.
"Mari kita sudahi untuk hari ini," kata Angga menatap jam tangannya. Ada sekitar dua jam lebih sedikit mereka menghabiskan waktu.
"Terima kasih untuk hari ini," ucap Rika yang terlihat sudah mulai bisa berkomunikasi dengan baik. Tak lupa gadis itu memberikan bayaran pada Angga atas bimbingan yang pemuda itu lakukan hari ini.
"Ini nomor saya, oh maksudnya nomorku. Tolong hubungi saya untuk janji di lain hari," kata Rika memberikan kartu namanya.
"Simpan juga nomorku," ucap Angga yang langsung menghubungi nomor yang diberikan oleh Rika barusan. Rika mengangguk mengiyakan.
"Ayo, aku antar sekalian," ajak Angga yang menuju motor bututnya duluan.
...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...
Tak sampai satu jam, Angga sudah kembali ke rumahnya. Pemuda itu mencuci kaki dan segera duduk di depan komputernya. Dia melihat apakah ada surel balasan dari tempat dia melamar pekerjaan. Meski dia mendapat bayaran yang cukup dari mengajari Rika seperti hari ini, tapi itu bukan pekerjaan yang akan bertahan lama. Suatu saat, gadis itu akan bisa berbaur dengan alami tanpa merasa gugup sama sekali. Dan Angga merasa kalau hari itu tak akan butuh waktu lama untuk menjadi nyata. Dia butuh pekerjaan yang bisa dia lakukan dalam waktu lama dan memenuhi kebutuhan hidupnya, makanya dia mengirim lamaran ke perusahaan mana pun baik secara langsung atau lewat email. Angga berharap, salah satu dari pekerjaan yang dia lamar bisa dia dapatkan.
Sedikit kecewa karena belum mendapatkan apa yang dia inginkan, Angga memilih tidur untuk saat ini. "Mari berusaha lagi besok!" katanya menyemangati dirinya sendiri. Kecewa bukan berarti menjadi alasan dia berhenti mencoba. Dia akan terus berusaha dan juga berdo'a. Kalau dikabulkan,.ya Alhamdulillah. Tapi kalau tidak, ya minta saja terus pada sang pencipta sampai keinginan itu dipenuhi.
Seminggu sudah berlalu, Angga masih bertemu dengan Rika untuk mengajari gadis itu hidup bersama dengan orang yang lainnya tanpa takut. Kabar baiknya, meski pun sering mengalami tremor karena terlalu panik saat di tengah keramaian, Rika tetap berusaha dan bertahan dengan cukup baik. Sepertinya tekad gadis itu untuk berubah sangat luar biasa besar.
Di sinilah Angga berada sekarang, berdiri di depan cermin untuk merapikan penampilannya. Dia sebentar lagi ada wawancara kerja, salah satu perusahaan tempat dia mengajukan lamaran memanggil dirinya untuk wawancara langsung sekitar pukul dua siang.
"Ayo kita berangkat sekarang! Semoga berhasil, diriku!" tukasnya menatap pantulan dirinya di dalam cermin. Dia menyemangati dirinya sendiri. Secara keseluruhan Angga bisa dikatakan sangat-sangat rapi. Sepatu hitam murahan yang disemir hingga mengkilap, celana panjang kain yang digosok licin, kemeja kotak-kotak dimasukkan kedalam, serta rambut yang ditata menggunakan minyak rambut agar terkesan rapi. Semua itu dia lakukan agar mendapatkan nilai plus dan bisa diterima karena penampilannya yang rapi dan bersih.
Angga menyusuri jalanan yang masih lenggang karena di luar jam sibuk berkendara pun memacu motor bututnya dengan santai. Dia banyak-banyak berdo'a sambil tetap berfokus mengendarai motornya.
Hanya tinggal satu belokan lagi dan Angga akan sampai ke tempat tujuannya. Namun, di luar perkiraan. Dia melihat seorang wanita yang berusia cukup lanjut memegangi dadanya di pinggir jalan. Mengenyampingkan urusannya, Angga segera menghampiri wanita tadi. "Anda tak apa?" tanya Angga turun dari motornya.
Wanita itu terlihat sangat kesakitan, untuk bernapas saja sangat susah sepertinya. "Tarik napas perlahan, nyonya," tukas Angga lagi. Dia bahkan memangku tubuh wanita itu agar tak berbaring di jalanan yang tentu saja kasar dan kotor.
Merasa tak ada perubahan, Angga segera menelepon nomor rumah sakit. Dia meminta diantarkan ambulan segera ke tempatnya berada. Begitu ambulan yang diminta tiba sekitar lima belas menit setelah Angga menelepon, si nyonya tadi diangkut ke rumah sakit terdekat. Angga yang menjadi satu-satunya orang di dekat pasien, mau tak mau harus ikut naik. Jadilah motornya dibawa oleh salah satu perawat pria yang ikut datang bersama dengan ambulan tadi.
Setelah mendengar kabar kalau si nyonya sudah baik-baik saja, barulah Angga bisa bernapas lega. Dia terduduk dan mengucap syukur berulang kali, merasa senang karena bisa menolong satu orang lagi di saat yang tepat. Pihak rumah sakit juga sudah tahu apa yang terjadi, Angga langsung menceritakan kalau dia sama sekali tak mengenal pasien dan hanya kebetulan lewat dan melihat gelagat ganjil dari nyonya tadi. Dia murni menolong hanya karena kebetulan semata.
"Apa saya sudah boleh pulang?" tanya Angga pada dokter yang menangani nyonya tadi.
"Tolong tunggu sampai keluarga pasien datang jika anda tak sibuk. Anda harus menceritakan kejadian tadi sekali lagi pada mereka," balas si dokter tanpa memaksa sebenarnya.
Angga mengangguk paham, mengiyakan tanpa pikir panjang. "Baiklah," katanya membalas.
"Saya kira anda akan menolak karena kalau dilihat anda sedang ada pertemuan penting," ucap si dokter memberi komentar.
Kening Angga bertaut, dia bingung dengan apa yang dokter di depannya ucapkan sekarang. Sedetik kemudian, barulah dia sadar kalau dia sudah melewatkan waktu wawancara karena menolong seseorang. "Astaga, wawancara kerjaku?!" ucap Angga menepuk dahinya. Dia sungguh lupa akan hal itu dan malah berakhir di rumah sakit seperti ini.
Merasa tak enak karena sudah menyinggung hal yang menurut dokter tadi tak sepatutnya dia singgung, si dokter pun pamit untuk memeriksa pasiennya yang lain. Tinggallah Angga sendirian dan menata hatinya untuk menerima kenyataan yang ada. Pemuda itu mengangkat bahunya santai. "Mungkin belum rejeki ku!" katanya tak mempermasalahkannya sama sekali dan malah menganggap kalau dia tak cocok dengan pekerjaan tersebut makanya Tuhan mencegahnya untuk datang tepat waktu.
Angga hanya duduk di ruang tunggu rumah sakit sampai keluarga nyonya tadi datang. Setelahnya dia akan pulang dan beristirahat untuk hari ini.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Comments