17

Jum'at pekan depan datang dengan cepat, waktu seolah ditiup oleh angin dan berganti tanpa dirasa. Di sinilah Angga berada, di depan rumah yang super besar dengan halaman yang luas dan banyaknya tanaman serta pohon rindang yang menghiasi taman tersebut. Rumah orang kaya memang berbeda dengan rumahnya yang bisa saja roboh hanya karena disentil dinosaurus. Oh, untungnya zaman dinosaurus sudah lewat beberapa juta tahun yang lalu, jadi Angga tak perlu khawatir akan nasib rumahnya yang tak seberapa itu.

"Kamu sudah datang?" sambut Deni. Pria itu sendiri yang ke luar untuk menyambut tamu istimewa mereka. "Harusnya tadi kita sama-sama saja," tambah pria itu disertai senyum hangat.

"Saya kan harus mandi dan berganti baju dulu, bos." cengir Angga yang berpenampilan super rapi.

"Seperti ingin kencan buta saja," tukas si bos melempar candaan.

"Anggap saja ini latihan buat saya, bos. Sebelum saya kencan beneran," timpal Angga terkekeh mengikuti irama candaan bosnya.

"Oho, kamu beruntung bisa menjadikan ini latihan sebelum kencan. Nenekku dulu terkenal sangat-sangat cantik dan anggun. Beliau mantan ratu kecantikan, itu menurut perkataan almarhum kakek aku,"

Angga nyengir, tak tahu harus menimpali seperti apa. Lebih baik dia diam dari pada salah kata.

"Ayo, kita masuk. Nenek sangat ribut ingin bertemu dengan kamu sejak tadi," ajak si bos mengalihkan pembicaraan sebelum suasana berubah menjadi garing karena ucapannya.

"Saya juga tak sabar untuk bertemu dengan beliau," tukas Angga menimpali. Pemuda itu mengikuti langkah Deni tepat di belakang pria itu.

"Oh, dan kalau sewaktu-waktu nenek berbicara melantur atau tak ingat apa yang dia katakan, tolong maklumi. Beliau sudah sangat tua dan terlalu pikun, meski kadang-kadang masih bisa berpikir dengan normal," ucap pria itu mengingatkan perihal neneknya yang menderita pikun akut.

"Akan saya ingat, pak,"

...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...

"Ini orang yang nenek tunggu-tunggu!" tukas Deni begitu mereka tiba di ruang tengah, tempat neneknya berada saat ini. "Dia yang menolong nenek waktu itu," katanya lagi sambil menatap ke arah Angga.

"Halo, nyonya. Senang melihat anda dalam kondisi sehat seperti ini," sapa Angga seraya membungkuk singkat.

"Anak yang tampan, baik, dan berhati hangat. Terima kasih sudah menolong nenek tua ini," tukas sang nenek menghampiri Angga . Wanita tua itu memegang kedua tangan Angga seraya menepuk-nepuknya, menyampaikan rasa terima kasih yang teramat karena sudah mau bersusah payah menolong orang tak dikenal seperti dirinya.

"Saya melakukan apa yang sudahs seharusnya dilakukan, nyonya. Saya yakin kalau bukan saya, pasti akan ada orang lain yang menolong anda," balas Angga tersenyum ramah.

"Anak baik, anak baik. Panggil saja aku nenek, tak usah panggil nyonya. Aku hanya hidup menumpang di sini," si nyonya berbisik lirih di akhir kalimatnya, tak ingin kalau cucunya mendengar apa yang dia katakan barusan.

"Ini rumah nenek, saya tak akan bisa seperti ini kalau tak ada nenek di sisi saya," sela Deni yang rupanya mendengar perkataan sang nenek.

"Cerewet! Jangan ikut campur, biarkan nenek bicara. Dasar cucu bodoh!" omel sang nenek melirik kesal cucunya. Padahal dia hanya tak ingin mendengar cucunya bicara panjang lebar karena satu perkataan yang dia ucapkan barusan. "Suruh pelayan bawa makanan sana!" usir sang nenek. Tak bisa membantah, Deni tetap menuruti permintaan neneknya.

Setelah Deni pergi, si nenek memberi tahu Angga namanya. Pemuda itu disuruh memanggil dia dengan sebutan Nenek Soraya. Angga pun mengangguk mengiyakan, enggan menolak permintaan orang yang lebih tua dari dirinya.

Baru ditinggal sebentar, tahu-tahu keadaan sang nenek berubah drastis. Wanita tua itu terus menyuapi Angga dengan buah-buahan yang memang sudah tersedia sejak awal, sebelum Angga datang.

"Sudah pulang? Sapa kakakmu, dia pasti menjalani hari yang berat hari ini,"

Kening Deni mengerut, siapa yang harus berperan sebagai kakak di sini. Dia paham kalau pertanyaan pertama ditujukan padanya. Tapi kalimat kedua, dia masih merasa ambigu itu ditujukan untuk dirinya atau untuk Angga.

"Ka, ka, kakak ... ayo minum teh bersama nenek." Angga berbicara dengan canggung, belum lagi senyum yang menghiasi bibirnya terlihat seperti orang yang sedang sakit perut ketimbang seorang adik yang senang melihat kakaknya sudah pulang.

"Haruskah?" tukas Deni yang sudah paham situasi. Dia sudah terbiasa menghadapi situasi seperti saat ini, jadi dirinya sudah ahli memasang ekspresi yang tepat.

Angga mengangguk cepat, berharap ada yang bisa menghentikan kelakuan sang nenek yang terus menyuapinya tanpa henti. Dia suka makan, tapi tak sebanyak ini juga.

"Aku baru menyadari kalau nenek lebih sayang pada adikku dari pada diriku sendiri," ucap Deni dengan suara yang dibuat-buat seolah sedang bersedih.

"Lihat adikmu, baru pulang sudah terlihat sangat kurus! Bagaimana aku sebagai neneknya tak khawatir?!" ucap Soraya.

Matanya mendelik kesal menatap Deni. Alarm bahaya segera berbunyi di kepala pria itu. "Kamu juga, sebagai kakak kenapa tak memperhatikan adikmu dengan baik!!!" bener kan, dia kena semprot atas apa yang tidak pernah dia lakukan. Dia anak tunggal, jadi sejak kapan dia punya adik yang harus diperhatikan. Sayangnya, kalimat bantahan itu harus ditelan agar kondisi sang nenek tak semakin memburuk.

"Maaf, nek. Aku banyak kerjaan jadi kurang perhatian pada adik," ucap Deni dengan raut wajah penuh sesal.

"Jangan hanya meminta maaf! Berikan uang saku yang banyak biar adikmu bisa membeli makanan," hardik Soraya memelototi Deni.

"Tak perlu, nek. Jajan saya sudah cukup," tolak Angga cepat. Dia tak mau dikatai memanfaatkan kesempatan dan mengambil keuntungan.

"Apanya yang cukup? Kamu kurus begini pasti karena jarang makan, kan?!" perkataan yang tepat dan jelas tak bisa dibantah. Angga Memnag jarang makan sejak dulu, dia suka makan tapi terkadang lupa waktu kalau sudah menulis naskah. Jadilah dia terbiasa makan kalau benar-benar lapar saja dulu. Tak seperti sekarang, Angga selalu makan tepat waktu karena tak lagi sibuk mengurus naskah.

"Kalau kakakmu itu pelit, harusnya kamu minta sama nenekmu ini. Nenek juga punya banyak uang, tahu!" Soraya membuka dompetnya, wanita tua itu menghitung lembaran uang dari dalam sana.

"Sungguh, nek. Saya masih ada uang untuk beli makanan," ucap Angga cepat. Pemuda itu menatap Deni berkali-kali, berharap bosnya itu bisa menghentikan sang nenek agar tak memberikan uang padanya.

"Jangan ditolak! Ini uang saku dari nenek?!"

Mata Angga berkedip bingung, setelahnya dia tersenyum lega. "Terima kasih, nek!" katanya melipat potongan kertas-kertas yang sang nenek berikan. Rupanya Soraya menganggap potongan kertas itu sebagai uang. Kalau begini, Angga tak perlu repot menolak tadi. Dia tak akan ragu menerimanya.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!