2

Angga seorang penulis muda yang menulis sejak di bangku sekolah karena hobi. Suatu saat mendapatkan surel dari pembacanya. Di awal, isi surel hanya berbentuk permintaan agar Angga menulis ending lain untuk novelnya. Di surel kedua, berisi permohonan lain yang dilakukan dengan sangat kalau ending selama ini terlalu memaksa dan harus diganti. Isi surel ketiga bahkan mulai mengancam kalau Angga akan menyesal jika mengabaikan permintaanya.

Dan di sinilah Angga, terdampar di tempat yang tak dia kenali. Pemuda itu berpikir kalau dia sedang diculik dan dipindahkan ke tempat terpencil. Hanya ada dataran tandus yang luas tanpa satu pun rumput yang tumbuh. Angga mendatangi rumah terdekat dan menanyakan di mana dia berada. Tak ada jawaban meski Angga sudah menunggu beberapa saat, entah apa yang terjadi dengan orang yang tadi ada di dalam hingga tak menjawab pertanyaan mudah dari Angga.

...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...

Rika Rafika, gadis penyendiri yang gemar membaca. Suatu hari dia menemukan novel yang berbeda secara tak sengaja, dia mulai menjadi penggemar dan mengikuti cerita dari penulis itu. Di awal, Rika menikmati setiap novel yang ditulis oleh penulis tanpa komentar. Hingga akhir-akhir ini, dia merasa kalau si penulis sedikit terburu-buru dalam mengakhiri ceritanya. Dia pun mengirimkan surel, bahkan mengancam kalau penulis itu akan menyesal jika tak mendengarkan dirinya.

Rupanya Rika memiliki kekuatan aneh yang didapat dari pihak ibunya, mereka bisa mengirimkan kutukan tanpa perlu mengetahui wajah atau apa pun dari orang yang bersangkutan. Dia hanya perlu memikirkan orang yang menjadi targetnya, tak peduli bagaimana bentuk wajahnya, siapa nama aslinya, atau di mana dia tinggal. Dia hanya harus fokus untuk mengirimkan kutukan, dan kutukannya akan bergerak sendiri.

Merasa ketiga permintaan tulusnya tak dihiraukan, Rika pun menaruh kutukan pada Angga. Alasannya tentu saja agar pria itu mau mengubah akhir kisah di novel yang ditulisnya. Gadis itu juga bisa melihat sekilas bagaimana jalan cerita yang dipilih oleh Angga.

Keesokan harinya, Rika terbangun dengan napas terengah. Dia hanya ingin memberi kutukan agar Angga menulis ulang ceritanya, bukannya mengirim orang itu ke tempat yang aneh yang dia sendiri tak tahu itu di mana.

"Bagaimana ini? Bagaimana ini?" gumamnya mulai panik.

"Aku tak bermaksud seperti itu," katanya lagi.

"Apa yang harus aku lakukan? Apa yang harus aku lakukan?" Rika menggigit kukunya saking paniknya dirinya.

"Buku! Aku harus membaca buku yang ditinggalkan oleh ibu dan yang lainnya?!" Rika melesat cepat, mencari buku-buku yang ditinggalkan oleh keluarga pihak ibunya. Buku yang menuliskan semua hal tentang kekuatan yang mereka miliki.

Kelar membaca tumpukan buku yang mengalahkan tebalnya ensiklopedia, Rika mulai tenang. Dia menghela napas lega dan wajahnya juga sudah tak terlihat panik lagi. "Untunglah si penulis tamat dadakan itu bisa kembali lagi kalau memenuhi syarat," ucapnya sambil memejamkan mata. Sepertinya Rika merasa lelah membaca terlalu banyak.

Beberapa saat kemudian, mata gadis itu kembali terbuka. "Tapi bagaimana supaya dia tahu cara agar bisa kembali?"

Baru saja dia berniat memikirkan caranya, Rika segera mengangkat bahu acuh. "Biarkan dia berpikir, dia kan pintar. Membuat akhir cerita saja dia bisa, masa mencari jalan keluar untuk hidupnya tak mampu!" tukas gadis itu masih sedikit menyimpan dendam karena kesal mendapati akhir kisah yang tak seharusnya seperti itu.

Rika pun memulai aktivitasnya dari rumah, sangat jarang gadis itu berinteraksi di luar. Kebutuhan hidupnya pun, dia beli secara online semuanya.

...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...

Angga menatap kosong ke depan, sejauh yang dia bisa pandang, pegunungan tempatnya berada sekarang hanyalah tanah tandus tanpa ada apa pun yang bisa dimakan sama sekali.

"Kalau melihat latarnya, kesulitan yang kurasakan, dan jumlah penduduk yang tak seberapa ..., sepertinya aku tahu aku ada di mana," kata pria itu terduduk lemas.

"Masalahnya aku gak tahu kenapa aku bisa sampai ke sini?!" Angga mengusak rambutnya frustasi. Sedetik kemudian, dia ingat surel yang diterimanya dari pembacanya. Mata pria itu terbelalak memikirkan kemungkinan kalau surel itulah yang menyebabkan dia terdampar di sini.

"Dasar pembaca gila!" pekiknya kesal. Dia hanya ingin menulis, tapi kenapa malah ini yang kudapatkan?!" Angga tak pernah meminta bayaran atau hal lainnya, kenapa yang dia dapatkan malah kesialan seperti ini.

"Marah juga tak akan menyelesaikan masalah, aku harus tenang dan mengingat akhir cerita yang bagaimana yang aku tulis untuk cerita yang satu ini?" tukas pria itu lagi.

"Dan apa yang akan aku makan untuk hari ini?" desahnya menatap perutnya yang sejak tadi berbunyi minta diisi. Di rumahnya tak ada apa pun yang bisa dimakan, makanya dia keluar untuk mencari sesuatu. Sudah cukup jauh berjalan pim, masih tak ada yang bisa ditemukannya untuk dijadikan pengganjal perut. Angga pun ragu untuk menggali tanah, tak mungkin ada sesuatu yang bisa dimakan dari dalam sana. Di atas permukaannya saja tak ada yang bisa hidup, apa lagi di bawah sana.

Matahari semakin tenggelam, udara mulai menjadi semakin dingin setiap detiknya. Burung-burung besar dengan warna gelap beterbangan menutupi langit malam. Angga menatap tak percaya ke arah kawanan burung-burung tadi, andai saja dia memiliki panah atau belati, dia pasti sudah melempar salah satu dari mereka dan menjadikannya bahan makanan. Pasti itu cukup setidaknya untuk empat atau lima hari.

Merasa memiliki kesempatan untuk mendapatkan bahan makanan, Angga pun bergegas kembali ke rumah. Dia membawa pisau yang sudah terlihat tua dan mengikatnya dengan kayu yang dia bawa dari rumahnya. Hanya bermodal kenekatan dan pengetahuan di zaman modern, Angga melempar sekuat tenaga ke arah kawanan burung yang beterbangan jauh di atasnya. Pria itu berharap setidaknya ada satu saja yang terkena dengan alat sederhana yang baru saja dirakitnya itu. Besok dia akan membuat dengan lebih baik agar bisa mendapatkan makanan untuk kebutuhan hidupnya.

Suara pekikan terdengar, seekor burung terkena lemparan asal Angga. Sayapnya terluka, menyebabkan dia tak bisa terbang lagi. Kawanan burung yang lain tampak tak peduli, terus terbang entah menuju ke mana. Angga menganggap itu sebagai kesempatan dan juga keberuntungan. Dia bisa makan malam ini dan tak mendapatkan masalah sebagai gantinya.

Setelah semua kawanan burung tadi pergi semuanya, Angga pun membawa hasil perburuannya ke rumah. Perasaannya menjadi lebih ringan karena satu masalahnya terselesaikan. Dengan menyiapkan bahan makanan, dia akan memiliki energi untuk memikirkan apa yang harus dia lakukan setelah ini. Bagaimana pun dia harus bertahan hidup dan mengubah alur cerita kalau mau hidup lama di tempat penuh iblis seperti ini.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!