3

Angga mulai beradaptasi dengan kehidupan barunya, dia menerima fakta kalau misalnya dia memang benar terdampar di tempat yang jelas tak dia ketahui sama sekali di mana. Tak ada apa pun yang bisa dimakan, tak ada juga tumbuhan yang tumbuh. Angga hanya bisa menatap hampa pegunungan luas yang tandus di depannya. Dia menebak-nebak kalau dirinya berada di sini karena surel terakhir yang diterimanya. Hanya itu yang bisa menjadi alasan dia terdampar di sini tanpa merasa dipindahkan sama sekali.

Memikirkan dirinya kelaparan, di malam yang semakin dingin, tak ayal membuat Angga merasa putus asa sekaligus kesal. Pemuda itu akhirnya mendapatkan kembali semangatnya untuk bertahan hidup karena melihat kawanan burung besar yang terbang di langit. Mengenyampingkan hal lainnya, Angga memilih membuat alat sederhana dan melempar asal ke salah satu burung yang beterbangan tersebut. Harapannya terkabul, keberuntungannya juga cukup tinggi sepertinya. Kawanan burung yang lain tak terlihat peduli kalau ada kawannya yang tertinggal atau terluka.

Memastikan tak ada lagi burung yang terbang di atas sana, Angga pun membawa pulang hasil berburunya ke rumah. Dia akan kenyang untuk beberapa hari ini. Melihat burung yang dia tangkap, Angga semakin yakin kalau dia memang terjebak di dunia novel yang dia buat sendiri. Bukan novel biasa atau novel percintaan yang pernah dia tuliskan, tapi malah novel fantasi tentang raja iblis yang menguasai dunia manusia.

Angga menguliti buruan yang dia dapatkan, menjemur dagingnya agar kering dan bisa dimakan nanti-nanti. Tak ada yang namanya berbagi di sini, semua orang hidup sendiri-sendiri dan tak ada yang saling percaya. Alih-alih saling memberi, mereka memilih untuk berebut bahan makanan yang ada kalau diperlukan.

Sudah tiga hari Angga berada di dunia novel yang dia tulis sendiri. Dia juga membuat rencana kasar agar bisa bertahan hidup dan terhindar dari bencana. Selain bencana yang datang di akhir, Angga masih harus berhati-hati dengan para iblis yang sering datang dan pergi melewati hutan ini. Mereka harus bertindak seakan tak ada kehidupan di sini saat hal itu terjadi. Kalau tidak, saat ketahuan ada yang masih hidup. Para iblis itu akan membawa mereka, menjadikan pelayan, mainan, bahan taruhan, atau yang lebih parah sebagai makanan cadangan.

Saat dunia ini dilanda bencana, hanya wilayah iblis yang terlindungi. Itu berkat, penyihir iblis yang merapalkan mantra perlindungan. Tapi setelahnya, muncul bencana kedua yang hanya menyerang dunia iblis. Menjadikan semua iblis seperti kayu kering yang siap dibakar hanya dalam hitungan detik. Semua iblis bahkan yang paling hebat pun binasa tanpa bersisa. Begitulah bagaimana Angga mengakhiri novelnya yang satu ini.

Jadi, Angga berpikir untuk melarikan diri sebagai penyusup ke wilayah iblis. Tinggal di dalam gua yang tak dihiraukan dan pergi dari sana saat bencana selanjutnya datang. Bagaimana pun dia harus bisa bertahan hidup, kali perlu sampai dia menemukan cara untuk kembali ke dunianya yang asli.

"Aku tak akan pernah lagi menulis kalau sudah ke luar dari sini!" tukas Angga membuang keinginannya untuk menulis. Menjadi tokoh tambahan saja sudah begini repotnya, apa lagi kalau dia disuruh menjadi pemeran utama yang menunjang keselamatan dunia. Entah apa yang harus dia lakukan kalau memang benar itu yang terjadi.

Keesokan harinya, setelah Angga mengemas barang-barang yang dia perlukan saja. Pemuda itu pun keluar dari rumahnya dan memulai perjalanan. Tak ada yang mengucapkan selamat tinggal padanya, tak ada juga yang melepas kepergiannya. Semua orang sibuk bersembunyi di rumah mereka masing-masing. Angga juga tak ingin tahu apa yang mereka semua makan. Dia hanya membalas rumah pertama yang dia datangi saat dirinya baru terdampar di sini. Angga menaruh beberapa daging kering yang dia dapatkan selama beberapa malam ini.

Angga mengetuk pintu rumah tersebut. "Bisa anda ambil apa yang saya letakkan di depan pintu anda? Saya hanya bermaksud membalas kebaikan karena anda menjawab beberapa pertanyaan saya," ucap pemuda itu pelan. Tak mau ada yang mendengar dan terjadi perebutan hanya karena sepotong daging yang dia tinggalkan. Angga pergi setelahnya, berharap meraka akan baik-baik saja.

Bermodalkan nekat dan pakaian lusuh, Angga menutupi seluruh tubuhnya dengan jubah satu-satunya yang dia miliki. Itu pun dia dapatkan secara tak sengaja saat dia membongkar isi lemari di rumahnya.

Perjalanan panjang pun dimulai, Angga berjalan susah payah di atas tanah tandus yang gersang. Bahkan gurun pasir saja tak akan segersang tempat yang dia jalani kali ini. "Kenapa juga saat menuliskan ini aku merasa kalau itu keren? Tapi saat aku menjalaninya sendiri, aku merasa kalau yang aku tulis terlalu berlebihan," ucapnya dengan napas terengah.

Saat lelah, Angga duduk diam tanpa adanya tempat berlindung. Entah keberuntungan atau bukan, sebagai penulis, Angga mengingat hal-hal penting yang dia tuliskan. Berbekal itulah pemuda ini mengambil keputusan untuk pergi ke wilayah iblis.

"Sebenarnya apa yang membuat aku menulis cerita gila seperti ini, ya?" katanya bertanya-tanya pada dirinya sendiri. "Salahkan imajinasi ku yang buruk?!" Angga bangkit dari duduknya dan kembali berjalan lagi.

Butuh sepuluh hari untuk sampai di pinggiran wilayah iblis. Karena Angga yang malas membuat narasi tentang ketatnya penjagaan di sini, jadi pemuda itu dengan bebas bisa menyelinap di bawah kelonggaran yang dia buat sendiri.

"Ada ba, bau manusia!" tukas salah seorang iblis segera mengedarkan pandangannya. Mata merahnya menyapu semua tempat yang bisa dia lihat.

Seorang iblis lainnya menyela. "Si bodoh mulai lagi! Buat apa manusia ke sini?" katanya menimpali sambil terkekeh mengejek. Bicaranya juga lancar karena sudah lama dia tumbuh sejak dilahirkan.

"A, aku ... tak mungkin sa, salah!" ucapnya yakin.

"Sudah, tak usah pedulikan. Mari kita berpesta saja!" suara riuh terdengar, Angga selamat karena pada dasarnya para iblis senang berpesta dan tak akur satu sama lainnya.

"Fyuh, hampir saja," gumam Angga segera pergi dari tempatnya bersembunyi. Nyatanya wilayah iblis lebih bagus dari pada tempat tinggalnya sebelumnya. Di sini masih ada pohon-pohon yang menjulang tinggi ya g menghalangi masuknya sinar matahari. Makanya Angga bisa bersembunyi saat hampir ketahuan barusan.

Angga berkeliling beberapa kali demi mencari gua tersembunyi yang dia buat secara iseng lewat narasi. Di sanalah Angga berniat bersembunyi. Kalau ketahuan, yah dia tinggal mencari jalan keluar saat itu juga. Yang jelas dia harus bertahan dari bencana pertama dan pergi dari sini saat bencana kedua akan dimulai nantinya. Biar saja dia menjadi manusia satu-satunya yang tersisa, yang penting dia hidup dulu, masalah belakang akan dipikirkan nanti saat waktunya tiba.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!