Angga meninggalkan desa tempatnya tinggal, dia ingat kalau sebentar lagi akan ada bencana yang meratakan semua yang ada di sini. Bencana itu juga yang memusnahkan semua manusia yang tersisa. Tujuan Angga beralih ke wilayah iblis, tempat yang dilindungi dengan kekuatan sihir sehingga tak mampu bertahan dari bencana pertama. Tapi setelah beberapa hari, bencana lain langsung menyerbu wilayah itu dan menghancurkan apa yang dia lewati bahkan tanpa sisa sama sekali. Tentu saja saat menulis akhir seperti itu, Angga merasa kalau itu sudah cukup keren sebagai penutupan. Nyatanya, saat harus menjalaninya sendiri. Dia malah seperti diburu waktu dan harus terus berjuang agar bisa lanjut hidup sedetik lebih lama dari pada sebelumnya.
Entah sudah berapa lama pemuda itu berkeliling, gua yang dia cari belum juga ketemu. Padahal dia berjalan sesuai dengan yang ada di tulisannya. Tapi kenapa sangat susah mencari tempat tersebut. Kalau dia berkeliling lebih lama dari ini, bisa-bisa dia tertangkap dan dijadikan makanan oleh para iblis gila itu.
"Jangan menyerah, anggap saja sedang mencari tiket pulang," katanya bergumam pelan.
Lelah mencari, Angga bersandar di sembarang tempat. Baru ingin menarik napas, dia sudah terjatuh saat bersandar tadi. Lenguhan terdengar, pemuda itu mengusap belakang kepalanya yang terbentur tanah. "Ughh, apa aku sedang sial?" katanya menggerutu pada dirinya sendiri.
Saat pemuda itu membuka matanya, dia menyadari kalau dirinya berada di dalam gua yang sejak tadi dia cari-cari. Tak bisa menyembunyikan rasa senangnya, pemuda itu terkekeh pelan. "Rupanya aku cukup beruntung," katanya memuji dirinya sendiri.
Angga segera bangkit dan melangkah semakin ke dalam gua. Dia harus mencapai gua terdalam yang terdapat mata air di tengah-tengahnya. Haruskah dia bersyukur bahwa dirinya membuat gua seperti ini yang dilengkapi dengan mata air dan beberapa hewan kecil yang terkadang tak sengaja tersesat. Padahal tak ada gunanya sama sekali membuat tempat seperti itu di tengah-tengah wilayah iblis.
"Yah setidaknya karena ide anehku dalam menulis, aku bisa hidup dengan mudah di sini. Terima kasih otak dan tanganku!" ucap pemuda itu tak memungkiri kalau dia penulis yang memiliki banyak ide aneh dalam dirinya.
"Mari kita tinggal di sini untuk sementara!" katanya pada dirinya sendiri.
Angga segera mengatur tempatnya untuk tidur. Dia membersihkan seadanya tanah yang memiliki batu datar dan panjang, tempat itu cocok untuk dijadikan tempat tidur. Pemuda itu juga mengeluarkan pisau yang dia pakai membunuh burung besar saat pertama kali dia di sini. Benda itu akan dia gunakan untuk membersihkan rumput-rumput panjang yang terlihat aneh menurutnya. Dia tak pernah menulis hal seperti ini di novelnya, mungkin ini terjadi agar terlihat lebih nyata saja. Begitulah pikir pemuda yang sudah lelah berjalan di Padang tandus.
Selesai bebersih, Angga segera tidur. Dia lelah dan tak peduli dengan hal apa pun kecuali istirahat. Bahkan Angga mengenyampingkan rasa lapar yang dia rasakan. Kakinya lelah berjalan, matanya mengantuk karena tak bisa beristirahat dengan benar selama perjalanan. Dia takut bertemu iblis-iblis yang sering berkeliaran untuk mencari mangsa atau mainan baru.
...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...
Di dunia nyata, Rika yang sedang tidur mendapatkan mimpi berupa potongan gambar kalau Angga sudah tiba di wilayah iblis. Meski tak mendengar apa yang penulis itu katakan, dia bisa melihat semuanya kecuali wajah asli si penulis. Wajah Angga terlihat samar di dalam mimpi Rika.
Rika terbangun, tersenyum tipis mengingat mimpi yang dia dapatkan. Rupanya penulis yang dia sukai sudah mulai menetapkan pikiran dan mengambil tindakan. "Aku berharap kamu cukup beruntung, tuan penulis!" gumam gadis itu.
"Dan, kalau kamu berhasil kembali, aku akan meminta maaf secara langsung karena secara tak sengaja mengaktifkan kutukan yang aku miliki," tambahnya dengan wajah kecut. Siapa yang suka menerima permintaan maaf dari orang aneh yang sukanya mengutuk. Kalau dia di posisi yang sama pun, dia pasti akan menjauh dan mengatai orang seperti itu dengan sebutan sinting.
Pilihan yang tepat untuk terus menghabiskan waktu di rumah. Rika tak pernah keluar kalau tak sangat-sangat penting. Dia tak mau berakhir mencelakai orang seperti yang dia lakukan pada Angga. Hanya karena emosi sesaat permohonannya tak dihiraukan, dia malah mengutuk tanpa sengaja pemuda yang sebenarnya tak salah-salah amat itu.
"Nenek, Ibu, mengapa kalian menurunkan kemampuan seperti ini coba?" tukas Rika mendongak menatap langit-langit kamarnya, berharap akan ada jawaban yang dia dapatkan dari sana.
"Lebih baik aku mandi sebelum aku menjadi lebih gila," decaknya menyeret kakinya menapaki lantai. Beberapa saat kemudian, hanya terdengar suara gemericik air yang mengalir. Menandakan bahwa Rika sudah memulai ritual mandinya.
Selesai mandi dan berpakaian seadanya, Rika mengambil makanan kalengan kemudian memakannya langsung tanpa dimasak lagi. Dia mengutak-atik komputernya dan mulai membaca ulang novel-novel yang tersimpan di dalam sana. Kebanyakan novel Angga yang tersimpan, dari novel pertama yang ceritanya rada aneh, sampai novel terakhir yang cukup seru tapi berakhir dengan cara yang ugh, sungguh tak bisa dilukiskan dengan kata-kata.
Kalau masalah uang, Rika tak perlu khawatir. Setiap bulannya selalu saja ada uang yang masuk ke rekeningnya. Itu pun dari hasil usaha perdagangan yang dilakukan keluarganya sejak jaman dua tingkat di atas generasi sang kakek. Sekarang dia hanya tinggal menyuruh orang untuk mengurus semua dan mendapatkan hasil bulanan yang lebih dari cukup untuk membiayai semua pengeluaran yang dia butuhkan.
Meski penyendiri, Rika juga sudah lulus sekolah. Yah, walau sekolahnya cuma lewat jalur online dengan guru privat yang memiliki sertifikasi, tapi dia sudah dinyatakan lulus dan memiliki surat-surat yang lengkap untuk itu. Jadi dirinya tak mungkin akan ditipu oleh para pekerja yang berkerja di perusahaan milik keluarganya.
Rika menatap ke luar melalui jendela, langit masih cerah, sama seperti kemarin. Hanya suhu udaranya saja yang bertambah tinggi akhir-akhir ini. "Apa aku meminta maaf sekalian memberikan beberapa persen saham untuk menunjukkan ketulusanku, ya?" gumamnya memikirkan kompensasi apa yang pantas dia berikan untuk Angga setelah pemuda itu balik. Itu pun kalau memang dia bisa menemukan jalan untuk pulang ke sini.
Rika mengangguk-anggukkan kepalanya, setuju dengan pendapat yang dia pikirkan sendiri barusan. "Karena semua saham atas namaku, aku bisa memberikan sebesar sepuluh persen, kan?
Kernyitan muncul di kening gadis itu. "Tapi apa itu cukup? Apa tuan penulis tak akan tersinggung?"
Rika mengangkat bahu ringan, menggaruk pipinya yang tak gatal. Dia bisa memikirkan hal itu nanti, saat Angga benar-benar sudah kembali dan dirinya harus meminta maaf dengan benar pada pemuda itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Comments