7

Angga kembali ke kediamannya, tak butuh waktu lama, dia membuatkan kurungan sederhana berbahan tanah untuk mengurung kedua hewan kecil yang dia bawa. Meski penampilannya aneh, dagingnya cukup enak untuk dimakan. Angga berniat untuk merawat keduanya, berharap mereka bisa berkembang biak dan semakin bertambah jumlahnya di masa depan.

Tak lupa juga Angga menanam dengan cepat rumput-rumput yang dia bawa, dia yakin tumbuhan itu bisa tumbuh meski tak dia rawat seperti tanamannya yang berharga yang dia bawa ke mana-mana.

Angga tersenyum puas melihat hasil kerjanya, dia merasa kalau dia sudah seperti berada di rumah. Tapi tetap saja dia lebih suka pulang ke tempatnya yang asli dari pada berada di sini yang serba kekurangan dan harus khawatir akan makan apa di hari esok.

"Apa masih banyak binatang lain seperti kalian?" Angga berjongkok menatap lurus ke kadang hewan yang baru saja selesai dia buat, di dalamnya ada dua ekor binatang yang dia tangkap dari wilayah iblis.

"Kalau iya, aku akan membuat banyak kurungan untuk tempat tinggal mereka," katanya lagi yang tak akan pernah mendapatkan balasan karena lawan bicaranya merupakan binatang yang tak paham bahasa manusia.

Setahun, dua tahun, entah sudah berapa tahun terlewat dan Angga terlalu malas menghitung waktu. Tanah yang tadinya tandus, kini sudah cukup subur dan hijau. Banyak binatang-binatang kecil lain yang mulai berdatangan entah dari mana. Angga sedikit bosan, pasalnya hanya dia seorang di sini yang hidup sendirian. Tapi apa yang bisa dia lakukan, beginilah dia harus hidup sekarang.

Tak jarang Angga mengajak rerumputan atau tumbuhan lain berbicara, dia juga terkadang berbicara sambil menatap langit malam. Hewan yang dia pelihara pun kini sudah cukup untuk dia makan selama setahun meski dia tak berburu lagi.

"Apa aku ditakdirkan mati sendirian, ya?" gumamnya pada diri sendiri. Kini ada yang menyahut walau pun itu hanya suara binatang malam yang terdengar mirip suara jangkrik yang sering berbunyi di dunianya dulu.

"Ah, aku rindu rumah. Aku rindu makan makanan cepat saji! Aku juga rindu rasanya memegang gadget," desah pemuda itu mengeluh entah pada siapa.

Dia sama sekali tak menyesal telah melalui semua hari di sini. Dia juga cukup beruntung karena bisa selamat berkat perhitungan dan pengetahuan yang dia miliki sebagai penulis novel ini. Tapi tetap saja dia manusia yang akan mulai menggila kalau terus sendirian tanpa teman bicara untuk waktu yang sangat lama.

"Biarkan aku kembali. Aku tak akan mengetik lagi dan hanya hidup sebagai pekerja saja kalau aku bisa kembali!" lirihnya terbawa hembusan angin. "Ah, tentu saja aku akan membuat revisi untuk novel yang aku masuki ini," tambahnya sebelum pergi tidur.

...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...

Angga terganggu karena sinar matahari yang menyilaukan. Pemuda itu mengernyit sambil bergerak dengan kesal. Dia masih ingin tidur, tapi kenapa matahari hari ini sangat terik dari biasanya.

Kesal tak bisa kembali tidur, Angga lalu bangkit dan duduk dengan cepat. Pemuda itu menatap sekitar, merasa familiar dengan apa yang dia lihat sekarang. Angga terkekeh pelan, lalu dia menggelengkan kepalanya sambil memukul-mukul pelan dahinya. "Sepertinya aku masih tidur dan memimpikan hal yang aku inginkan!" katanya terkekeh tak percaya kalau dia sudah kembali ke kamarnya.

"Selagi aku di dunia mimpi, biarkan aku menikmati semuanya sampai aku bangun dan harus menghadapi kenyataan yang sama!" Angga lalu bangkit dan pindah ke kasurnya. Pemuda itu memejamkan mata, menikmati tekstur lembut selimut yang sudah lama tak dia rasakan. Kehangatan yang menyebar dan bau harum selimutnya masih sama seperti yang dia ingat terakhir kali.

"Mimpi yang indah!" gumamnya sebelum kembali memejamkan mata. Jatuh tertidur dan berharap mimpi yang dia alami berlangsung sedikit lebih lama.

Beberapa jam kemudian, Angga terbangun dari tidurnya karena perutnya yang terasa perih. Pemuda itu mengernyitkan keningnya, apa di dalam mimpi dia juga bisa merasakan lapar dan perihnya perut karena hal tersebut.

Tak ingin bimbang terlalu lama, Angga memutuskan untuk membuktikan yang dialaminya saat ini mimpi atau bukan. Pemuda itu mencubit lengannya untuk membuktikan hal tersebut. "Sakit," keluhnya mengusap lengannya yang dia cubit barusan. "Jadi, ini bukan mimpi? Ini nyata?!" katanya akhirnya sadar kalau dia benar-benar sudah kembali ke rumahnya. Senyum tipis mengembang, perlahan berubah sedikit demi sedikit menjadi senyum lebar. Angga sangat bersyukur bisa kembali dan menghirup udara yang ada di kamarnya lagi.

Sadar akan sesuatu, Angga segara berlari ke depan kaca. Dia menatap wajahnya, melihat seberapa tua dia saat ini dan bagaimana penampilan yang dia miliki. Pasti potongan rambutnya asal-asalan karena dia memotong tanpa peduli dengan model. Dia langsung memotong rambutnya sendiri begitu saja dengan pisau yang dia miliki di dunia novel.

"Tak ada yang berubah?" katanya menatap tak percaya pantulan dirinya yang terlihat dari cermin.

Angga lalu mengambil ponselnya yang dia taruh di dekat komputer, surel terakhir yang dia baca masih ada di sana begitu dia menyalakan komputernya. Jadi kejadian yang dia alami itu nyata atau hanya mimpi. Tapi untuk dibilang mimpi, semua usaha yang dia lakukan terlalu nyata untuk itu.

Betapa terkejutnya Angga saat melihat tanggalan di ponselnya. Bahkan waktu hanya berlalu selama satu bulan, padahal dia sudah menghabiskan banyak waktu berkeliaran ke sana kemari dan berjuang untuk tetap hidup sampai akhir.

"Ini bercanda, kan?!" tukasnya kesal. Dia merasa seolah dipermainkan.

Angga menghela napas panjang. Tak peduli sekesal apa pun dirinya, tak ada yang bisa dia lakukan untuk membuat hal yang sudah dia lewati menjadi tak pernah terjadi. Angga pun memutuskan mengisi daya ponselnya yang tinggal satu persen. Yah masih untung ponselnya tak dalam keadaan mati tadi, kalau tidak dia harus menunggu dulu untuk mengetahui berapa lama waktu yang dia lewati selama berkeliaran di novelnya.

Setelah menyambungkan pengisi daya ke ponselnya. Angga memilih untuk mandi dulu sebelum makan. Dia sudah sangat tak sabar untuk mandi sepuas mungkin. DI sana dia tak bisa membuang air terlalu banyak, dia takut kalau sumber airnya tiba-tiba mengering kalau dia boros memakai air. Jadilah dia mandi dengan sangat hemat di sana, bahkan tak jarang Angga hanya mencuci mukanya saja begitu bangun tidur.

Baru saja Angga ingin menghapus semua novel yang selama ini dia post setelah makan. Sebuah surel kembali datang dari orang yang sama yang mengutuk dirinya sebelumnya. Jantung Angga berdetak semakin kencang, dia meragu untuk membuka surel yang baru saja dia dapatkan. Cukup sekali pengalaman aneh yang dia alami, jangan buat dirinya kembali terdampar di novel yang dia tulis.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!