Rika Rafika, gadis yang memiliki kekuatan aneh yang didapatnya dari garis keturunan sang ibu. Secara tak sengaja terhubung dengan Angga yang dikutuknya karena dirinya terlalu kesal. Namun itu sudah menjadi cerita yang terlewat, kedua anak manusia yang tadinya bisa dibilang tak akur karena yang satu membuat kesalahan secara tak sengaja dan yang lainnya terlampau kesal karena sudah diberi kutukan. Tapi sekarang, mereka tampak akur dan selalu jalan bersama. Bahkan Angga bekerja paruh waktu yang dibayar per jam untuk membantu Rika bersosialisasi.
Sudah kurang lebih satu bulan keduanya bersama. Rika juga banyak menunjukkan kemajuan, dia sudah bisa makan bersama dengan pelanggan lain tanpa harus memesan satu restoran penuh seperti sebelumnya. Dia juga sudah bisa mengatakan apa yang ingin dia katakan tanpa ragu-ragu lagi. Yah meski itu hanya bisa dia lakukan di depan Angga saja, tapi itu sudah cukup karena sebelumnya Rika selalu berbicara sangat-sangat lirih kalau ingin mengatakan sesuatu.
...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...
Keesokan harinya, matahari bersinar lebih terik dari pada kemarin. Angga tetap bersemangat memulai harinya dengan sarapan sederhana berupa selembar roti tanpa isian apa pun. Pemuda itu memakai setelan rapi dan mulai kembali mencari pekerjaan dari satu tempat ke tempat lain. Kebetulan semalam dia membaca info lowongan kerja, dan tak ada salahnya untuk mencoba datang hari ini.
"Semoga aku cukup beruntung!" katanya penuh harap. "Semangat diriku!!!" lanjutnya lagi sebelum berangkat. Tak lupa dia menutup pintu rumahnya, memastikan tak ada yang bisa masuk ke sana. Yah, walau tak ada juga yang bisa dicuri di dalam sana. Tapi lebih baik mencegah dari pada kemasukan maling atau orang-orang yang berniat jahat padanya.
Dengan motor butut satu-satunya yang selalu menemani Angga ke mana-mana. Pemuda itu pun segera melaju ke alamat yang dia tuju. Dalam perjalanan, Angga berdo'a semoga saja pekerjaan yang tersedia berjodoh dengannya.
Tak menunggu lama, begitu sampai di tempat tujuan. Angga mengisi formulir dan menunggu giliran dipanggil. Do'a tak pernah putus terus dia panjatkan di dalam hati. Namanya dipanggil, Angga segera berdiri dan masuk ke ruang wawancara. Dia menjawab dengan jujur dan lancar. Saat sudah selesai, Angga hanya bisa pasrah menunggu hasil. Semoga saja dia bisa menerima panggilan kerja pekan depan.
Saat akan kembali, Angga berpapasan dengan seseorang yang sepertinya dia kenal. Tapi dia tak terlalu yakin dan juga sama sekali tak ingat siapa nama orang tersebut. Oh, kalau dipikirkan lagi, mungkin dia bukannya lupa, tapi memang tak tahu karena tak pernah bertanya.
"Tunggu sebentar, anda ...?" sebuah suara menghentikan langkah Angga.
"Saya, tuan?" katanya menunjuk dirinya sendiri.
"Iya, kamu. Kita pernah bertemu sekali di rumah sakit, bukan? Kamu yang menolong nenek saya waktu itu, kan?" tanya pria berjas mewah itu pada Angga.
Angga mengangguk sopan sambil tersenyum kecil. "Benar ini saya, tuan. Saya tadi ingin menyapa tapi takut salah orang," katanya jujur.
"Apa kabar? Ada keperluan apa kamu ke sini?"
"Saya baik seperti biasanya, tuan. Kalau urusan mengapa saya di sini, saya sedang melamar pekerjaan," jawab Angga. "Nenek anda bagaimana keadaannya?" lanjut pemuda itu yang tiba-tiba ingat pada nyonya tua yang diselamatkannya.
"Sangat baik, saya menambah pengawal untuk nenek agar tidak lepas lagi dari pengawasan," balas orang itu.
"Bisa kita pindah tempat? Itu pun kalau anda tak ada urusan lain dan tak keberatan menghabiskan waktu bersama saya," tambahnya mengajak Angga berbicara di tempat lain.
"Tentu, saya tak memiliki hal lain yang harus saya lakukan," ucap Angga setuju. Sebenarnya bukannya dia tak memiliki kegiatan lain setelah ini, hanya saja tak enak kalau terus menolak kebaikan orang. Angga belajar dari pengalaman, dia tak mau dibenci dan berakhir disumpahi atau bahkan dikutuk seperti kemarin.
Di sinilah keduanya berada, di kafe dekat perusahaan tempat mereka bertemu tadi. "Begini, saya orangnya tak pandai berbasa-basi. Jadi, maaf kalau saya langsung bicara seperti ini," tukas pria tadi berbicara dengan tegas. Angga mengangguk paham, tak mempermasalahkan sama sekali Bagaimana cara bicara orang di depannya ini.
"Nama saya Deni, kebetulan saya memiliki beberapa usaha dan kalau anda tak keberatan, anda bisa mulai bekerja di salah satu tempat usaha yang saya miliki. Dari dulu saya selalu ingin memiliki orang baik dan bisa dipercaya yang bekerja sebagai bawahan saya!"
Jelas Angga dilema. Di satu sisi dia memang membutuhkan pekerjaan, tapi di sisi lain, dirinya merasa seperti memanfaatkan keadaan dan hanya mengambil keuntungan secara sepihak saja.
"Jangan khawatir, saya tak menawari pekerjaan hanya karena anda menolong nenek saya. Saya menawari anda pekerjaan karena saya merasa anda orang yang baik dan jujur. Saya butuh orang kepercayaan seperti anda untuk mengurus bisnis saya yang baru-baru ini saya buka," tukas Deni melihat ekspresi ragu di wajah Angga saat dia menawari pekerjaan.
"Akan terkesan sombong kalau saya menolak padahal saya memang sedang mencari pekerjaan!" ucap Angga mengambil keputusan untuk menerima tawaran dari pria di depannya. "Terima kasih atas penawaran anda, tuan Mohon kerja sama anda ke depannya!" katanya lagi. Keduanya berjabat tangan.
Begitulah akhir kisah pencarian pekerjaan Angga. Dia ditempatkan di perusahaan yang baru saja dibuka oleh Deni beberapa minggu yang lalu. Tak tanggung-tanggung, Angga diberikan tugas untuk menjadi salah satu direktur tanpa ada tes sama sekali. Deni mengatakan kalau dia akan mempercayai instingnya untuk kali ini.
Angga pun berjanji akan bekerja lebih keras agar tak mengecewakan kepercayaan yang telah diberikan kepadanya. Jadwal harian Angga pun semakin padat, untungnya sekarang dia sudah berhenti menulis. Jadi dia bisa fokus pada dunia kerjanya saja.
Sebelum memulai pekerjaannya di tempat yang baru. Angga berhenti dari tempatnya bekerja paruh waktu. Sekarang dia hanya terikat dengan Rika saja, itu pun dia yakin kalau mereka akan selesai tak lama lagi.
Rika yang paham akan keadaan Angga yang akan sibuk untuk ke depannya setuju kalau mereka mengadakan pertemuan untuk pembelajaran saat Angga bisa saja. Misalnya seperti saat akhir pekan tiba, itu pun dengan catatan Angga tak lelah karena bekerja.
Deni juga cukup puas dengan hasil kerja Angga selama seminggu ini. Meski masih terlalu dini, tapi dia sudah percaya sepenuhnya kalau Angga tak akan gelap mata dan melakukan hal buruk di tempat kerja.
Setelah seminggu bekerja, Angga tersenyum senang karena dia dipinjami mobil kantor. Deni juga mengatakan kalau tak masalah memakai kendaraan tersebut di luar urusan pekerjaan. Karena sebenarnya mobil itu mobil Deni yang sudah tak dia pakai lagi. Meski sudah memiliki mobil dari kantor, tapi tetap saja Angga merawat motornya dengan baik. Ini sejarah panjang hidupnya dari dia sangat susah, jadi tak akan pernah mau dia tinggalkan menjadi rongsokan di tepi garasi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Comments