"Milo!" Madison berteriak memanggil anjingnya yang tak kunjung dia temukan.
Di luar hujan begitu derasnya, tidak mungkin Milo pergi keluar dalam keadaan hujan seperti itu apalagi Milo tidak menyukai air. Madison sudah mencari keberadaan Milo di bawah ranjang juga di dalam lemari tapi Milo tidak ada di kedua tempat itu. Madison bahkan mencari si balkon namun Milo tidak juga ada di sana.
"Milo, where are you?" teriak Madison lagi. Dia tampak panik, keadaan yang gelap benar-benar membuatnya kesulitan untuk menemukan keberadaan Milo. Dia tidak bisa menunggu sampai besok karena dia tidak mau Milo ketakutan.
Madi melangkah masuk ke dalam kamar, mungkin Milo berada di dapur atau sedang bersembunyi di tempat lain. Bawah sofa, mungkin Milo ada di sana dan mungkin saja Milo bersembunyi di dekat perapian. Dia akan mencari di seluruh rumah itu sampai dia menemukan Milo.
Beberapa pelita minyak yang dia temukan dinyalakan. Madi menggantung pelita itu di beberapa sisi ruangan agar rumah itu tidak terlalu gelap. Walau hanya lampu pelita tapi itu cukup untuknya agar dia bisa mencari Milo.
"Milo, apa kau di sana?" tanya Madison sambil melangkah menuju sofa dengan perlahan. Madi memasang telinga baik-baik untuk mendengar suara Milo yang bisa saja berada di sana. Senter yang ada di tangan menerangi atas sofa, bantal kursi bahkan disingkirkan karena dia pikir Milo bersembunyi di bawah bantal.
Madison kembali memanggil Milo sambil mencarinya, di ruang tamu dia tidak menemukan keberadaan Milo bahkan dia pergi ke dapur dan gudang tapi Milo tidak terlihat sama sekali. Madison mulai panik, dia sudah mencari ke mana-mana tapi Milo tidak ada di mana pun.
"Di mana kau, Milo. Tolong jangan tinggalkan aku, jangan tinggalkan aku!" pinta Madison tanpa henti mencari keberadaan anjing kesayangannya. Madison pun menangis, hanya Milo saja yang dia miliki saat ini. Hanya Milo yang menemani dirinya di saat tidak ada siapa pun yang peduli dengannya. Madison berlari ke ruangan lain dengan air mata berderai, nama Milo kembali dia panggil. Dia sangat berharap Milo tidak meninggalkan dirinya di saat dia sedang terpuruk seperti itu.
"Milo!!" Madison kembali berteriak dengan keras, dia bahkan jatuh terduduk sambil menangis meraung. Madison memanggil Milo tanpa henti, setelah ditinggalkan oleh para sahabatnya, kini anjing satu-satunya yang dia miliki pun pergi meninggalkan dirinya.
"Di mana kau, Milo. Jangan tinggalkan aku!" Madison jatuh bersujud, dia sangat membutuhkan anjingnya saat ini.
"Guk!" suara Milo samar terdengar. Madison buru-buru duduk di atas lantai dan menghapus air mata.
"Milo," Madison memasang telinga baik-baik, suara gonggongan Milo kembali terdengar tapi suara itu terdengar dari lantai basement. Madison menelan ludah dan segera berdiri. lagi-lagi dia mendengar suara gonggongan Milo dari arah basement. Apa Milo berada di sana untuk mencarinya lalu tidak berani keluar karena gelap?
Apa pun itu, dia harus segera menyelamatkan Milo karena dia tidak mau terjadi apa pun pada Milo. Pelita diambil, sepucuk senjata api pun diambil. Dia akan menghadapi apa pun yang ada di dalam ruangan itu. Mungkin saja tidak hanya menemukan Milo tapi dia juga menemukan keberadaan generator listrik.
Senjata api di selempangkan ke dada, Madi memegang dua pelita dan satu senter yang dijepit di bawah lengan. Bagaikan hendak pergi berperang, Madi melangkah perlahan menuruni anak tangga. Suara derit anak tangga yang terdengar saat terinjak membuat bulu roma meremang.
"Milo," Madison memanggil sambil menuruni anak tangga. Satu pelita digantung di dekat anak tangga agar ada penerangan di sana karena dia tidak mau terjatuh lagi. Dia sendiri masih belum melihat bagian yang terantuk anak tangga.
"Milo, come here baby," Madison memanggil agar Milo keluar dari persembunyiannya.
Pelita diangkat tinggi, Madison melangkah perlahan mendekati suara Milo yang terdengar cukup jauh. Jantung berdegup kencang, napasnya juga memburu. Jujur saja perasaan takut dia rasakan mengingat apa yang telah dia alami di ruang bawah tanah itu.
Tenggorokan mendadak terasa kering, dengan pelita yang dia bawa dan dalam keadaannya yang tenang, Madison dapat melihat ruangan itu dengan baik meski perasaan takut menyelimuti hatinya. Entah kenapa dia merasa ruangan itu adalah ruangan di mana dia sedang mengalami mimpi buruk. Suara rantai yang dia dengar, sama seperti suara rantai yang ditarik di dalam mimpi.
Pelita diletakkan di sebuah meja yang ada tidak jauh darinya. Kini Madison menggunakan senternya agar dia bisa melihat keberadaan Milo dan semoga saja ada generator listrik sehingga dia bisa menyalakan listrik.
"Milo," Madison memanggil anjingnya lagi, suara Milo yang seperti ketakutan terdengar. Madison mencari anjinya di ruangan itu tapi tidak dia temukan. Bahkan di sela-sela benda yang ada di dalam ruangan pun tidak ada. Suara Milo justru terdengar dari arah sebuah penutup kecil berbentuk kotak yang ada di lantai.
Madison mendekati penutup yang terbuat dari beberapa papan, penutup itu di rantai dengan sebuah rantai besi. Apa di ruang bawah tanah ada ruang bawah tanah lainnya? Jujur saja dia takut, firasat buruk memenuhi hati apalagi dia yakin ruangan itu adalah ruangan yang berada di dalam mimpinya.
"Milo," Madison memanggil dengan napas berat. Semoga dia hanya salah mendengar tapi suara gonggongan Milo memang berasal dari tempat itu.
"Milo, bagaimana kau bisa berada di dalam sana?" teriak Madison yang mulai panik karena dia sangat yakin Milo memang ada di dalam ruangan bawah itu.
Guk.. Guk! Suara gonggongan Milo nyaring terdengar, Madison kehilangan akal sehatnya karena yang dia pikirkan harus mengeluarkan Milo dari ruangan bawah yang tertutup rapat dan dirantai itu. Dia tidak berpikir bagaimana Milo bisa masuk padahal tidak ada yang membuka dan dia pun tidak berpikir jika Milo tidak mungkin berada di sana.
Kapak yang dia tinggalkan tadi diambil, senjata api laras panjang yang ada di punggung diletakkan. Suara gonggongan Milo semakin sering terdengar. Suara geraman Milo yang ketakutan membuat Madison semakin panik akan anjing kesayangannya itu.
"Tunggulah, Milo. Aku akan mengeluarkanmu dari dalam tempat gelap itu!" kapak diangkat lalu diayunkan untuk memutuskan rantai yang membelenggu penutup ruangan yang sesungguhnya tidak boleh dibuka. Iblis mengerikan yang terkurung begitu lama di dalam ruangan itu tersenyum lebar, lagi-lagi Madison mudah diperdaya karena dialah yang menirukan suara Milo dan sebentar lagi, dia akan terbebas setelah berada di dalam tempat gelap itu selama ratusan tahun.
"Jangan takut, Milo. Aku akan akan membebaskanmu!" Madison kembali menghantamkan kapaknya pada rantai sehingga rantai yang membelenggu mulai terlepas. Dia sungguh kehilangan akal sehat akibat mencemaskan anjingnya yang sesungguhnya tidak ada di sana.
Satu rantai sudah terlepas, Madi kembali membuka rantai yang lain dan setelah beberapa saat rantai-rantai itu terlepas juga. Madison mengelap peluh yang mengalir dari dahi. Ruangan itu benar-benar panas karena tidak ada pentilasi udara.
Kapak diletakkan, Madison menyingkirkan rantai yang menutupi penutup lantai. Mendadak dia merasa angin dingin berhembus menerpa wajahnya. Madison melangkah mundur menjauhi penutup lantai yang mendadak seperti terbuka sendiri dengan perlahan. Takut, perasaan takut menyelimuti hatinya. Senter di arahkan ke arah penutup lantai tersebut.
Krriiiitttt! Suara deritan terdengar dari ruangan bawah tanah yang ada di bawah penutup lantai itu.
"Mi-Milo," Madison memanggil sambil menelan ludah dengan kasar.
Penutup lantai terbuka dengan perlahan, Madi tidak melepaskan pandangannya dari lubang yang menganga karena penutupnya sudah terbuka. Bau tak sedap menyeruak, hawa yang begitu dingin terasa menusuk tulang bahkan suara deritan kembali terdengar sehingga membuat Madison ketakutan apalagi tiba-tiba saja sebuah tangan hitam dengan kuku-kuku yang panjang muncul dari dalam lubang itu.
"Akhirnya," suara mengerikan terdengar dan setelah tangan, kepala dengan rambut panjang yang berantakkan muncul dari lubang dengan perlahan. Kemunculan makhluk itu diiringi dengan suara petir yang menyambar juga sorakan para hantu yang ada di luar rumah namun tidak bisa Madi dengar.
Hah.. Hah.. Hah... Napas Madison memburu, kedua kaki gemetar hebat sehingga sulit dia gerakan. Asap hitam keluar dari lubang mengiringi sosok mengerikan yang terangkat dengan perlahan dari dalam lubang gelap tersebut. Madi menatapnya tanpa berkedip, dadanya turun naik akibat napas yang berat dan mulutnya menganga karena dia seperti tidak mempercayai apa yang dia lihat.
Makhluk itu terangkat ke atas dan melayang di udara, kedua tangannya di rentangkan ke udara. Iblis mengerikan itu seperti menghirup udara kebebasan setelah ratusan tahun terkunci di bawah tanah yang gelap itu. Madison berusaha menggerakkan kedua kakinya yang gemetar, dia harus lari, dia harus lari dari tempat itu.
Madison terkejut saat kepala makhluk yang tadinya terangkat ke atas tiba-tiba jatuh kedepan dan dengan perlahan, sosok menyeramkan itu mengangkat kepalanya dan memperlihatkan senyuman menakutkannya.
"Akhirnya kau membebaskan aku, Madison," ucap iblis yang melayang di hadapan Madison.
"Tidak... tidak.. tidak!" Madi menggeleng dan kembali melangkah mundur. Iblis itu masih memperlihatkan senyuman mengerikannya dan setelah itu, teriakan nyaring dia perdengarkan. Madison menutup telinga sambil berteriak, teriakan iblis itu cukup membuat sakit telinga. Lampu yang tergantung di ruangan bahkan bergerak seolah-olah ada angin kencang yang berhembus dari tempat itu.
"Sekarang aku sudah bisa mengambil jiwamu, Madison!" teriak iblis itu yang sudah terbang ke arahnya. Madi berlari mengambil senjata api yang dia tinggalkan, dia menembaki iblis itu tanpa ragu. Peluru mengenai bagian kepalanya tapi iblis itu justru terpencar bagaikan asap lalu kembali bersatu dan memperlihatkan senyuman menakutkannya.
Madi kembali menembak, dia tidak peduli meski peluru senjata apinya terbuang sia-sia karena tubuh iblis itu bagaikan asap hitam. Dia terus menembak sambil berteriak, Madi tetap melangkah mundur dan setelah dia tiba di anak tangga, Madi melemparkan senjata apinya ke arah iblis wanita yang mengerikan dan berlari menaiki anak tangga.
"Run, Madi. Run as fast as you cant!" teriak iblis itu diiringi tawanya yang mengerikan. Iblis itu pun terus mengejar Madison karena dia akan mengambil jiwa Madison.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 53 Episodes
Comments
Hanachi
ada generator listrik kalau ga ada bahan bakarnya kan sama aja bohong .
lagian sewa rumah itu kan harusnya diperiksa dulu dengan teliti sebelum ditempati. mosok iya ada pintu penuh gembok gitu ga curiga.
2023-07-16
1
Muh. Yahya Adiputra
kamu benar-benar di dalam masalah besar Madison karena ulahmu kamu yg tdk bisa berfikir baik malah membebaskan iblis jahat dri belenggu yg mengikatnya 😪😪😪
2023-05-13
1
Muh. Yahya Adiputra
sepertinya itu ulah iblis Madison karena tdk mungkin milo bisa masuk ke tempat itu🤦🤦🤦
2023-05-13
1