Braaakkk!! Suara itu mengejutkan Madison dan membangunkan Madison dari tidurnya. Madison beranjak dengan terburu-buru lalu berlari menuju jendela karena dia ingin melihat apa yang terjadi. Hana sudah tidak berada di sisinya lagi, sahabatnya itu sudah bangun sedari tadi.
Madison melihat keluar sana dengan teliti sampai tanpa sengaja dia melihat Hana dan Jeremy berada di luar. Madison tersenyum, dia pun melangkah menuju pintu keluar namun percakapan Jeremy dan Hana membuat langkah Madison terhenti.
"Aku harus segera kembali Hana, aku tidak bisa terlalu lama di tempat ini dan aku tidak bisa menemani Madison!" ucap Jeremy.
"Kenapa, Jeremy? Bukankah semua ini adalah idemu?"
"Tadinya aku berpikir demikian tapi kekasihku meminta aku untuk segera kembali. Dia ingin mengakhiri hubungan kami jika aku masih berada di sini jadi segera bangunkan Madison dan katakan padanya jika kita sudah mau pergi!" ucap Jeremy.
"Kenapa kau lebih memikirkan kekasihmu? Madison adalah sahabat baik kita, seharusnya kita selalu ada untuknya di saat dirinya dalam keadaan seperti ini!"
"Tentu aku mementingkan dirinya, Hana. Kau lihat Madi, dia ingin berubah tapi dia tidak melupakan obat terkutuk itu dan membawanya agar bisa dia konsumsi secara diam-diam tanpa kita ketahui. Aku yakin kau juga kecewa, aku pun demikian. Apa yang dikatakan oleh kekasihku sangatlah benar, dia tidak akan sembuh jadi percuma kita berada di sini!"
"Jangan berkata seperti itu, Jeremy. Seharusnya kita mendukung Madi meski dia membuat kesalahan."
"Maaf, Hana. Aku begitu mencintai dirinya jadi aku tidak mau kehilangan dirinya. Kau mau kembali atau tidak? Jika tidak maka aku akan kembali seorang diri!"
"Baiklah, tunggu. Aku akan membangunkan Madison dan mengatakan jika kita sudah harus pergi!"
"Tidak perlu, Hana. Aku sudah baik-baik saja, pergilah!" ucap Madison yang sudah melangkah keluar dari pintu.
"Madi?" Hana dan Jeremy tampak tidak enak hati. Mereka berdua saling pandang, semoga Madison tidak mendengar semua pembicaraan mereka.
"Aku telah merepotkan kalian berdua, aku sungguh minta maaf," ucap Madison.
"Tidak, Madi. Kamilah yang seharusnya meminta maaf padamu," Hana mendekati sahabat baiknya yang sedang berdiri di anak tangga.
"Tidak seharusnya aku mempersulit kalian apalagi kalian memiliki kehidupan masing-masing, maafkan aku. Aku sudah baik-baik saja sekarang. Kembalilah, tidak perlu mengkhawatirkan aku."
"Kami memang harus kembali, Madison. Sepertinya kami tidak bisa menemani dirimu di sini, maaf," ucap Jeremy.
"Tidak apa-apa, Jeremy. Aku bisa mengerti. Aku yang seharusnya meminta maaf, sekarang pergilah agar kalian bisa bertemu dengan cepat dan sampaikan kata maafku padanya. Mulai sekarang aku tidak akan merepotkan kalian lagi."
"Aku akan sering-sering menghubungimu, Madi. Jangan pernah meninggalkan ponselmu dan jangan pergi terlalu jauh dari hutan," ucap Hana.
"Aku tidak akan pergi ke mana-mana, tidak perlu khawatir."
Hana berlari masuk ke dalam rumah, dia ingin mengambil tasnya juga obat penenang yang dia bawa. Hana mendekati Madison setelah keluar, dua botol obat penenang dia berikan pada sahabat baiknya.
"Minum obat ini saat kau sedang berada di bawah pengaruh obat saja tapi ingat, cukup satu. Tidak boleh lebih karena ini obat penenang," ucap Hana.
"Terima kasih, kali ini aku tidak akan mengecewakan kalian dan aku akan kembali sebagai Madison yang baru, bukan Madison yang berada di bawah pengaruh obat lagi."
"Aku senang mendengarnya!" Hana memeluknya, sesungguhnya dia tidak rela meninggalkan Madison karena dia khawatir tapi dia harus pergi karena dia pun harus memikirkan Jeremy.
"Berhati-hatilah di jalan," ucap Madison.
"Come on, Hana," teriak Jeremy yang sudah menunggu.
"Pergilah, aku tidak apa-apa."
Hana hanya bisa mengangguk, kedua kakinya melangkah dengan berat. Hana berpaling ke arah Madison sebelum dia masuk ke dalam mobil. Madison melambai, dia memang tidak boleh mempersulit sahabatnya lebih dari pada ini karena mereka semua memiliki kehidupan masing-masing.
Mobil yang dibawa oleh Jeremy melesat pergi, meninggalkan rumah yang menyimpan segudang misteri itu. Madison memperhatikan kepergian mereka, sekarang dia kembali sendirian di tempat asing itu. Dia akan membuktikan pada Hana dan yang lain jika dia bisa sembuh dari pengaruh obat terkutuk yang telah menjerat dirinya selama tiga tahun.
"Milo!" Madison memanggil anjingnya seraya melangkah masuk ke dalam rumah.
Milo terbangun, gonggongannya terdengar beberapa kali. Milo berlari ke arah Madison sambil mengibaskan ekornya dan itu adalah pertanda jika dia ingin makan.
"Hei, Milo. Apa kau sudah lapar?" tanya Madison. Sebuah gonggongan diberikan oleh Milo sehingga Madison membawanya ke tempat makanan Milo berada. Obat penenang diletakkan di atas meja, Hana benar-benar baik. kali ini dia benar-benar akan menunjukkan jika dia akan sembuh agar dia tidak mengecewakan Hana.
Makanan Milo dikeluarkan, Madison melangkah menuju ruang tamu untuk membereskan barang-barang yang berantakan setelah pesta mereka semalam. Walau hanya semalam tapi cukup menyenangkan. Gelas dan piring kosong, botol kosong pun segera dibereskan. Madison sibuk sendiri dan menghentikan langkahnya saat melihat pintu yang dipenuhi oleh gembok. Sepertinya sekarang waktunya memeriksa pintu itu.
"Milo, ayo pergi!" ajak Madison yang sudah melangkah menuju pintu.
Milo mengikuti langkahnya dengan berlari, Madison pergi ke belakang rumah untuk mencari ke mana pintu itu terhubung. Dia mencari sambil melewati pepohonan yang mengering, beberapa gundukan tanah terlihat aneh berada di belakang. Aneh, dia tidak tahu jika di bagian belakang rumah itu terlihat mengerikan. Entah berapa banyak, tapi gundukan-gundkan tanah itu terlihat cukup banyak. Meski tidak ada tanda sama sekali, gundukan tanah itu cukup besar seperti sebuah makam.
Madison melangkah perlahan sambil menelan ludah, mendadak dia merasa takut karena gundukan-gundukan tanah tersebut. Madison mengusap tengkuk sesekali, entah kenapa perasaannya tidak nyaman sama sekali. Dia berusaha untuk bertahan, Madison terus mencari pintu namun sudah sejauh itu dia belum menemukan pintu apa pun.
Kini dia semakin merasa aneh, langkahnya terhenti sejenak. Hawa dingin berhembus membuat bulu roma meremang. Tidak benar, sebaiknya dia pergi saja. Dia rasa pintu itu tidak terhubung ke mana dan mungkin saja pintu itu adalah pintu yang menghubungi lantai basemen.
"Milo, ayo kita pergi!" ajak Madison tapi sayangnya Milo tidak ada di sana.
"Milo!" Madison memanggil anjingnya yang ternyata ada di dekat sebuah pohon besar yang sudah mati dan Milo terlihat ketakutan seperti ada sesuatu di dekat Madison.
"Apa yang kau lakukan, Milo?" Madison melangkah mendekati Milo sambil melompati gundukan tanah yang sangat aneh baginya.
Guk... Guk.. Guk! Milo menggonggong lalu menggeram karena dia melihat sesuatu di belakang Madison.
"Ada apa, Milo?" Madison berpaling, melihat ke arah Milo menggeram tapi ternyata tidak ada apa pun. Madison bahkan melihat dengan teliti, benar-benar tidak ada apa pun di belakangnya.
"Ayo kembali, kita sudah terlalu lama berada di luar!" Madison menggendong Milo dan membawanya pergi dari tempat itu. Sebaiknya dia membersihkan rumah dan melupakan apa yang dia lihat. Madison bahkan berdiri di depan pintu yang ditutup dengan rapat serta menempelkan daun telinganya di daun pintu. Tidak ada apa pun, suasana hening. Sudah dia duga dia berhalusinasi saja tapi jika dia mendengar ada suara lagi dari dalam ruangan itu, maka dia akan membukanya untuk mencari tahu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 53 Episodes
Comments
Hanachi
kalau ngaku sahabat baik ya beri solusi terbaik dong. jangan malah dijerumusin ke antah berantah. kan malah ga dapet penanganan yang baik.
aku kok malah esmosi ya ma temen temennya ini. 😄😄
2023-07-15
2
Chastalia Qisya 🐊⃝⃟ 🐊
apakah gundukan ranah itu adalah korban pembunuhan berantai? dan sekarang setan nya menguasai rumah itu
2023-05-08
3
shansan
oh Freya LG nyari artefak yg hilang di hutan ya...bentar LG Norman nyusul...dia kan ngga bisa jauh2 dr Freya😂😂
2023-05-07
1