Suasana jadi sepi setelah kepergian Hana dan Jeremy. Untuk mengisi waktu, Madison membersihkan rumah itu karena dia akan tinggal di sana untuk jangka waktu yang tidak bisa ditentukan. Dia harap hanya dua minggu saja dia berada di rumah itu, dia berharap dalam jangka waktu dua minggu itu dia sudah terbebas dari pengaruh obat terkutuk yang telah menjeratnya selama bertahun-tahun.
Madison sedang mencari alat untuk membersihkan rumah. Beberapa ruangan sudah dia cari tapi alat pembersih tidak dia temukan di mana pun. Dua ruangan kosong sudah dia cari sampai akhirnya, Madison sudah berdiri di depan pintu yang dipenuhi dengan gembok. Jujur saja dia sangat penasaran dengan pintu itu. Satu gembong yang terkunci sudah di pegang, Madison seperti sedang berpikir.
Tap.. Tap.. Tap... Tiba-Tiba terdengar seperti suara langkah kaki dari balik pintu itu. Madison mengernyitkan dahi, ludah ditelan dengan susah payah. Suara langkah kaki kembali terdengar, Madison melangkah mendekat dengan napas memburu. Dengan perlahan, Madison mendekatkan telinganya ke daun pintu. Dia tampak ragu tapi dia semakin penasaran dengan pintu yang tertutup rapat. Pasti ada maksud tertentu sehingga pintu itu ditutup sedemikian rupa.
"He.....lp us," suara bisikan terdengar dari balik pintu. Madison terkejut dan secara refleks mundur ke belakang. Suara siapa itu? Apa ada yang dikurung di dalam ruangan itu? Rasa penasarannya semakin tinggi, Madison kembali menempelkan telinga ke daun pintu tapi tidak ada terdengar apa pun lagi. Suasana kembali sunyi, dia justru terkejut oleh gonggongan Milo.
"Sial!" Madison memegangi dada, dia benar-benar semakin parah. Dari pada berdiri tidak jelas di tempat itu lebih baik dia segera membersihkan rumah itu dan mengeluarkan barang-barang miliknya.
Madison melangkah pergi sambil menggeleng. Dia harus menghentikan halusinasi yang semakin parah sepanjang hari. Milo kembali menggonggong. Madison segera mencari anjingnya yang ternyata sedang berdiri di depan sebuah ruangan yang belum diperiksa oleh Madison.
"Apa kau menemukannya, Milo?" tanya Madison. Karena pintu itu tidak dikunci, jadi Madison membukanya tanpa ragu. Ruangan yang cukup gelap, lampu pun dinyalakan dan benar saja, semua alat bersih-bersih ada di sana.
"Anjing pintar!" Madison melangkah masuk ke dalam. Beberapa alat yang dia butuhkan diambil, sekarang waktunya membersihkan rumah itu. Setelah cukup, Madison hendak melangkah keluar tapi beberapa kunci yang tergantung di dinding justru mengalihkan perhatiannya.
Apakah kunci itu adalah kunci yang bisa membuka gembok yang mengunci pintu itu? Apa dia harus mencobanya? Madison menggeleng, lupakan. Dia tidak datang untuk mengecek hal aneh di rumah itu. Dia datang untuk menenangkan diri. Lagi pula dia tidak boleh membuka pintu yang terkunci dengan sembarangan karena bisa saja pemilik rumah itu marah.
Alat pembersih sudah didapatkan, Madison menyibukkan diri dengan menyanyikan lagu oleh sebab itu dia tidak mendengar hal aneh apa pun bahkan suara gonggongan Milo tidak dia dengar lagi. Barang-Barang yang ada di dalam kotak juga dia keluarkan, Madison meletakkan barang-barang itu seolah-olah dia berada di rumahnya sendiri.
Rasanya cukup melelahkan, dia baru selesai bagian kamar dan belum selesai dengan yang lainnya. Sebaiknya dia beristirahat sebentar sebelum dia kembali membersihkan yang lainnya. Beberapa buku yang ada di atas ranjang diambil, Madison meletakkan buku itu di atas meja.
Tunggu, sepertinya dia bisa memindahkan meja itu di balkon kamar. Di sana sudah ada kursi, tinggal menaruh meja itu maka malamnya akan menjadi sempurna. Setelah mendapat ide brilian, Madison memindahkan meja yang cukup berat dengan cara ditarik sampai keluar dari balkon.
"Sial, pinggangku sakit sekali!" keluh Madison. Balkon menghadap ke arah hutan, dia bisa membaca buku di sana saat siang atau pun malam. Madison berdiri di balkon sebentar, matahari bersinar dengan teriknya. Walau banyak pepohonan yang tumbuh di sekeliling rumah itu, tapi cahaya matahari yang menerangi tempat itu cukup baik.
"Satu sudah selesai, sekarang tinggal yang lain. Tapi aku harus menghubungi Hana untuk mencari tahu apakah dia sudah tiba atau belum," Madison berbicara pada diri sendiri karena memang tidak ada yang bisa dia ajak bicara selain Milo.
Lagu dimatikan, Madison menghubungi sahabat baiknya karena dia ingin mencari tahu apakah Hana dan Jeremy sudah tiba atau tidak.
"Madi, ada apa kau menghubungi aku? Apa kau baik-baik saja?" tanya Hana.
"Aku baik-baik saja, Hana. Terima kasih dan maaf membuatmu khawatir."
"Sudahlah, sekarang katakan kenapa kau menghubungi aku. Apa ada yang kau lupakan?"
"Tidak, aku hanya ingin tahu apakah kau dan Jeremy sudah tiba atau belum."
"Tentu saja sudah, terima kasih sudah mengkhawatirkan kami tapi sepertinya kami tidak bisa pergi ke sana dalam waktu dekat."
"Tidak apa-apa, Hana. Aku akan baik-baik saja sendirian di tempat ini. Aku akan membaca buku sepanjang hari, aku akan mengisi waktu dengan belajar memasak jasi tidak perlu khawatir."
"Aku sangat senang mendengar dirimu yang begitu bersemangat seperti itu. Jika ada hal yang mencurigakan segera hubungi aku. Kau pun bisa menghubungi 911 karena telepon di sana bisa kau gunakan."
"Baiklah, terima kasih sudah memberitahu aku," ucap Madison.
"Aku harap kau selalu jaga diri, Madi. Dan kembalilah dengan Madison yang baru."
"Pasti, sekarang aku ingin membersihkan rumah ini lagi. Maaf sudah mengganggu," ucap Madison.
"Tidak perlu sungkan, kita adalah sahabat!" ucap Hana pula.
"Thanks, Hana. Kau benar-benar sahabat paling baik yang pernah aku miliki," Madison mengatakan perkataan itu sebelum mengakhiri percakapan mereka. Dia pasti akan kembali dan tidak mengecewakan Hana tapi sayangnya, hal itu tidaklah mudah bahkan kemungkinan itu akan menjadi percakapan terakhir mereka.
Madison kembali membersihkan rumah itu. Dia kembali beristirahat saat dia merasa lelah. Sebuah buku yang baru saja disimpan diambil, Madi membaca buku itu sambil beristirahat. Milo pun berbaring di atas ranjang dengannya, udara sejuk berhembus masuk melalui jendela yang terbuka lebar.
Tempat itu benar-benar menenangkan dan udara sejuk membuat Madison memutuskan untuk duduk di depan jendela di mana sebuah kursi malas berada di sana. Madison tertidur akibat kelelahan, awan gelap menyelimuti langit yang tadinya begitu cerah. Cuaca pun menjadi buruk, angin pun bertiup degan kencangnya.
Malam kembali beranjak datang, malam di mana para iblis akan keluar dari lubang gelap untuk menampakkan diri mereka. Malam di mana mereka adalah penguasanya. Awan gelap semakin berkumpul, menutupi langit sehingga cahaya bulan tidak bisa menerangi tempat itu. Madison masih tertidur, namun suara guntur yang menggelegar mengejutkan Madison dan membangunkan Madison dari tidurnya.
"Oh my God, jam berapa sekarang?" Madi melihat sekitar, suasana tampak gelap karena dia belum menyalakan lampu di rumah itu.
"Milo!" Madi berteriak memanggil anjingnya karena samar-samar dia mendengar suara geraman !Milo.
"Milo, where are you?" Madi beranjak, dia harus menyalakan lampu. Dia tidak menggunakan senter dari ponsel karena benda itu dia tinggalkan di meja yang ada di sisi ranjang.
Suara Milo yang terdengar seperti ketakutan terdengar, Madi meraba tembok dalam gelap untuk mencari saklar lampu yang ada di dinding. Mendadak dia merasa takut, napas Madison memburu. Madison tak sadar jika ada sosok mengerikan berada di hadapannya, tangannya terus meraba untuk mencari saklar yang tak juga dia temukan.
"Milo, apa kau ketakutan?" tanya Madison, ludah ditelan dengan susah payah. Dia merasa dia tidak sedang sendirian di dalam kamar itu apalagi dia merasa Milo sedang takut dengan sesuatu.
Madison melangkah perlahan, satu tangannya terus meraba. Tiba-Tiba dia merasa ada sesuatu yang aneh, dia bahkan menyentuh benda yang bagaikan rambut. Napasnya semakin memburu, ke mana saklar lampu yang dia cari?
Guk... Guk! Milo menggonggong lalu anjing itu menggeram. Madison tidak sadar jika sosok seram sudah berada di depan mata. Sosok mengerikan itu menatapnya tajam, menghirup aroma jiwanya yang lemah dan dipenuhi dengan dosa. Perasaan takut melanda dirinya apalagi dia seperti mendengar seseorang me*desah dengan napas beratnya.
"Please, No. Please!" Madison memejamkan kedua mata kuat-kuat, dia pun mengucapkan doa tanpa henti. Walau dia bukan orang yang beriman dan taat tapi dia tahu sedikit doa yang bisa dia ucapkan. Kini doa tak henti dia ucapkan, Madison semakin yakin dia sudah melewati sesuatu. Dengan napas yang memburu dan rasa takut luar biasa, Madison melangkah maju sampai akhirnya dia dapat menyentuh saklar lampu dan menyalakan lampu.
Madison langsung membuka kedua mata setelah lampu menyala. Dia melihat sekitar namun dia tidak mendapati apa pun bahkan Milo yang bersembunyi di bawah ranjang keluar sambil menggonggong. Madison bernapas lega, dia benar-benar ketakutan akibat pikiran bodohnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 53 Episodes
Comments
" sarmila"
untung baca nya siang.coba klu mlam mba berani😂😂😂
2023-07-28
1
Dewi Ariyanti
aku juga deg degan👀
2023-05-08
1
◌ᷟ⑅⃝ͩ● Marlina Bachtiar ●⑅⃝ᷟ◌ͩ
untung bacanya siang" 🤭🤣
2023-05-08
1