Gonggongan Milo mengejutkan Madison sehingga membuat Madison tersadar. Milo berjalan mondar mandir di hadapan Madison, anjing itu menggonggong sesekali untuk membangunkan Madison. Madi masih tampak linglung, apa yang dia alami semalam terasa tidak nyata.
Dia pasti bermimpi tapi dia terbangun di depan pintu kamar. Madi berusaha mengingat, pertemuannya dengan Rian dan apa yang dia alami setelahnya pasti hanya mimpi buruk tapi bagaimana dengan kejadian sebelumnya? Kejadian saat dia mencari lilin pasti bukan mimpi, dia yakin itu pasti kejadian nyata. Sebaiknya dia pergi, meninggalkan rumah yang menakutkan itu. Dia yakin ada sesuatu di rumah itu jadi sebaiknya dia pergi.
"Kita harus pergi dari rumah ini, Milo!" ucap Madison.
Milo menjawab dengan gonggongan, anjing itu pun ketakutan. Madison beranjak, dia berusaha mengumpulkan kekuatannya sebentar lalu dia keluar dari kamar. Dia akan menghubungi Hana dan memintanya untuk menjemput. Dia tidak mau merepotkan tapi dia terpaksa meminta Hana untuk menjemputnya karena dia tidak mau berada di rumah menakutkan itu lagi. Dia akan menjalani rehabilitas, seharusnya dia melakukan hal itu sejak awal sehingga dia tidak perlu mengalami hal mebakutkan di rumah itu.
Madison mencari ponsel yang dia tinggalkan, beruntungnya benda itu masih memiliki daya meski tinggal sedikit akibat senternya dalam keadaan menyala sampai pagi. Madison menghubungi Hana sambil melangkah menuju pintu. Akibat hujan lebat disertai petir dan guntur, beberapa pohon tampak tumbang tapi ajaibnya, pohon mati yang berada di sekeliling rumah masih berdiri dengan kokoh.
Madison keluar dari pintu, namun dia terkejut melihat keadaan. Ponsel yang ada di tangan bahkan hampir saja terjatuh. Apa yang sebenarnya terjadi? Jalan saat mereka datang sudah tidak ada, jalan itu mendadak lenyap begitu saja. Pepohonan yang tumbang memperparah keadaan, dia merasa hutan itu jadi berubah. Entah hanya perasaannya saja tapi yang pasti, dia merasa asing dengan hutan itu.
Perasaan takut luar biasa dia alami, Madison segera menghubungi Hana untuk menjemputnya, dia pasti sedang berhalusinasi saat ini. Itu pasti sedang dia alami.
"Madi?" terdengar suara Hana menjawab.
"Ha-Hana, tolong jemput aku sekarang!" pinta Madison ketakutan.
"Tenang, Madi. Apa yang terjadi?" tanya Hana.
"Aku takut, Hana. Rumah ini aneh, aku tidak mau berada di sini lagi!" ucap Madison.
"Aneh bagaimana maksudmu?" tanya Hana tidak mengerti.
"Ada sesuatu di kegelapan, Hana. Aku melihatnya, mereka sangat mengerikan dan mereka menginginkan aku. Aku takut jadi tolong jemput aku, Hana!" pinta Madison memohon.
"Madi, kau hanya berhalusinasi saja," ucap Hana karena dia tidak mempercayai apa yang Madison katakan.
"Aku tidak sedang berhalusinasi, Hana. Aku melihat mereka di kegelapan dan mereka menginginkan jiwaku!" Madison mengusap wajah, dia terlihat stres, "Aku tidak berhalusinasi karena Milo juga melihatnya," ucapnya lagi.
"Baiklah, baik. Tapi hantu itu tidak ada. Rumah itu sering disewakan dan sudah banyak yang menempati selain dirimu tapi tidak ada yang pernah berkata jika ada hal yang aneh seperti yang kau katakan. Kau hanya berhalusinasi akibat rasa takut yang kau rasakan Madison. Percayalah padaku, tidak ada hantu di rumah itu. Bukankah kau ingin sembuh dan menjadi Madison yang baru? Buktikan kau bisa melewati rasa takutmu dan kembalilah sebagai Madison baru sehingga aku bangga," ucap Hana.
"Tapi, Hana. Aku takut," Madison berharap Hana mengerti dan mau datang menjemputnya.
"Sorry, Madi. Aku tidak bisa pergi hari ini karena aku sibuk. Lagi pula apa kau tidak melihat berita? Akibat hujan deras terjadi longsor sehingga akses menuju tempat itu tertutup. Pergerakan tanah juga membuat buruk keadaan jadi bertahanlah di tempat itu untuk sementara waktu, akhir pekan aku akan pergi ke sana setelah akses jalan diperbaiki," ucap Hana.
"Baiklah," Madison menunduk dan terlihat sedih. Dia memang tidak bisa merepotkan Hana apalagi Hana harus bekerja. Mungkin yang Hana katakan sangat benar, dia hanya berhalusinasi saja akibat rasa takut berlebihan yang dia rasakan.
"Jangan terlalu takut, kau pasti bisa melewatinya. Jika kau merasa ada sesuatu, itu hanya akibat pikiranmu saja karena kau sendirian di sana. Rumah itu aman, tidak perlu khawatir," ucap Hana. Dia asal bicara mengenai orang-orang yang pernah menempati rumah itu agar Madison tidak terlalu takut. Dia sendiri tidak tahu apa pun mengenai rumah itu, bahkan seorang teman yang memberitahunya rumah tersebut. Harga sewa yang cukup murah membuatnya tertarik apalagi suasana tenang yang dibutuhkan oleh Madi tapi sesungguhnya, itu adalah rumah terkutuk yang dipenuhi oleh roh jahat dan roh-roh itu tidak akan membiarkan siapa pun pergi dari rumah itu.
"Baiklah, Hana. Maaf telah merepotkan, yang kau katakan sangatlah benar. Mungkin aku terlalu takut sehingga berhalusinasi. Ponselku sudah mau mati, aku harus menyalakan listrik terlebih dahulu," ucap Madison.
"Jaga dirimu baik-baik, Madi. Ingat dengan pesanku, jangan pergi terlalu jauh ke hutan!"
"Tentu saja, aku tidak akan pergi ke mana pun," uap Madison. Dia berusaha tersenyum namun senyuman itu sirna setelah percakapannya dengan Hana berhenti. Baterai di ponsel sudah tinggal tiga persen, Madi menelan ludah saat melihat ke dalam rumah.
Sebaiknya dia mencari lilin sebelum gelap, entah apa yang terjadi sehingga hutan itu sedikit berubah. Mungkin akibat pergeseran lempengan bumi yang disebutkan oleh Hana mempengaruhi rumah itu. Lagi pula akses jalan ke tempat itu terputus tapi sesungguhnya semua itu ulah makhluk jahat yang berada di rumah itu karena tidak ada satu orang pun yang bisa pergi jika mereka sudah menginginkannya.
Madison melangkah masuk, meski ada rasa takut. Kini dia harus berjuang seorang diri dan melawan rasa takutnya. Dia memeriksa pintu terlebih dahulu, dia ingin tahu apakah ada bekas cakaran di daun pintu karena dia ingat makhluk itu seperti mencakar daun pintu untuk menakuti dirinya tapi tidak ada apa pun. Aneh, apakah yang diucapkan oleh Hana adalah benar?
Berhenti banyak berpikir, dia harus mencari perlengkapan untuk jaga diri. Madison pergi ke dalam ruangan di mana dia menemukan alat kebersihan. Semoga ada alat penerangan yang bisa dia gunakan. Madison mengacak isi ruangan itu sambil mengajak Milo, anjing itu seperti mengendus mencari sesuatu. Madison menemukan dua kotak lilin, dua lampu emergency serta beberapa pelita namun yang membuatnya tercengang adalah, dia menemukan dua pucuk senjata api laras panjang beserta dua kotak penuh berisi peluru.
Madi mengambil semua itu dan membawanya keluar. Semua itu pun diletakkan di atas meja. Apa hantu bisa mati saat di tambak? Apa pun itu, kedua senjata itu bisa dia gunakan. Madi kembali ke dalam ruangan, dia mencari apa saja yang bisa dia gunakan. Dua kapak dia temukan, semua dia bawa keluar dan diletakkan ke atas meja. Beberapa kunci berkarat juga dia temukan. Dia curiga semua kunci itu adalah untuk membuka gembok yang mengunci ruangan itu.
"Bagus, Madi. Kau menemukan banyak senjata!" ucap Madison dengan ekspresi puas.
"Milo, saatnya makan!" Madi memberi anjingnya makan, dia pun harus membuat makanan untuk dirinya sendiri. Setelah ini dia harus mencari generator listrik karena dia harus berusaha menyalakannya. Makanan cepat saji dia buat, jangan sampai dia selesai sebelum hari gelap. Cuaca di luar begitu buruk, angin kencang berhembus bahkan awan gelap menyelimuti langit. Entah sampai kapan cuaca buruk itu akan berlangsung, yang pasti dia harus segera bisa menyalakan listrik.
Madi mengajak Milo untuk mencari generator listrik dari luar. Lagi-Lagi dia harus melewati gundukan tanah yang menakutkan. Milo tidak berani ikut, Madi sendirian memutari rumah yang cukup besar itu tapi dia tidak menemukan generator listrik. mau tidak mau dia kembali ke dalam bersama dengan Milo, Madi berpikir sebelum mengambil tindakan. Sepertinya meminta bantuan 911 adalah pilihan terbaik, lebih baik pergi dari pada tetap bertahan namun telepon yang ada di rumah itu, tidak bisa dia gunakan sama sekali dan ponselnya sudah mati
"Sial!" Madison mengumpat seraya meletakkan gagang telepon dengan kasar. Dia melihat sekitar rumah, di mana generator listrik berada? Tatapan matanya jatuh pada pintu yang terkunci rapat. Pintu itu mendadak terlihat begitu jauh. Apa itu pintu menghubung ruang bawah tanah? Jika begitu dia harus membuka pintu itu untuk mencari generator tapi Madi tidak menyadari jika pintu itu ditutup dengan rapat karena sebuah alasan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 53 Episodes
Comments
💕Bernadet Wulandari💕
makin pensaran tapi dag dig dug juga.
2023-08-18
2
Hanachi
jangan sampai dia selesai sebelum hari gelap ??
mungkin maksudnya dia harus selesai sebelum hari gelap ya ...
2023-07-16
1
Hanachi
kalau pergeseran lempengan bumi mah kan gempa, hana bilangnya longsor.
2023-07-16
1