Suara teriakan seseorang yang memanggilnya dan suara gonggongan Milo menyadarkan Madison dari pingsannya. Kepalanya terasa sakit, Madison membuka kedua matanya dengan perlahan. Apa dia sedang bermimpi ataukah sedang berhalusinasi?
"Madison!" teriakan itu kembali terdengar.
"Hana?" Madison sangat heran karena sahabatnya ada di depan matanya.
"Oh, astaga. Akhirnya kau sadar juga," ucap Hana yang terlihat lega.
"Apa yang sedang terjadi? Apa aku sedang bermimpi?"
"Bodoh, kau mengejutkan kami!" ucap Hana.
Madison berusaha untuk duduk, dia pun tampak tidak mengerti. Apa yang terjadi? Bukankah dia pingsan akibat sosok menyeramkan yang tiba-tiba muncul di depan matanya?
"Kau sungguh membuat kami takut, aku dan Jeremy tidak mendapati dirimu ada di dalam rumah oleh sebab itu kami panik luar biasa karena kami khawatir kau sedang berada di bawah pengaruh obat lalu lari ke dalam hutan tapi beruntungnya suara Milo yang menggonggong tiada henti membuat kami berlari ke arah Milo. Kami terkejut mendapati dirimu berada di bawah pohon dalam keadaan pingsan," jelas Hana.
"Pingsan?" Madison seperti orang linglung.
"Kau pingsan karena terjatuh oleh sebab itu kami membawamu pulang!" jelas Hana yang memperhatikan sahabatnya dengan tatapan curiga.
"Aku terjatuh?" tanya Madison lagi.
"Ya, apa ada penyebab yang lain?" tanya Hana, dia pun semakin heran.
"A-Apa tidak ada orang lain di dekatku? Maksudku, apa tidak ada yang orang dengan wajah menyeramkan di dekatku?" tanya Madison ingin tahu.
"Tidak ada, apa maksudmu berkata demikian?"
"Kau yakin?" tanya Madison meyakinkan.
"Tentu saja aku yakin, kenapa kau berkata demikian?" Hana semakin heran.
"Tidak, tidak ada apa-apa," Madison mengusap wajahnya, "Sepertinya aku sedang berhalusinasi," ucapnya lagi. Yeah, dia pasti hanya berhalusinasi saja akan sosok mengerikan yang dia lihat di hutan. Lagi pula mana ada hantu di pagi hari? Madison menunduk dan terlihat sedih, pengaruh obat benar-benar sudah membuatnya semakin gila sampai berhalusinasi akan hantu.
"Hei," Hana duduk di sisi Madison dan mengusap punggungnya, "Jangan bersedih seperti itu. Kau pasti bisa sembuh dari pengaruh obat terkutuk itu jadi jangan putus asa," ucap Hana seraya menenangkan.
"Kau benar, aku merasa semakin menggila akibat halusinasi akhir-akhir ini. Sepertinya yang aku dengar semalam hanya halusinasiku saja dan yang aku lihat tadi pagi juga halusinasi saja," ucap Madison.
"Tidak perlu khawatir, aku yakin kau pasti akan sembuh. Percayalah. Jika kau tidak mengkonsumsi obat-obatan itu lagi, aku yakin kau tidak akan ketergantungan lagi dan kau akan kembali hidup dengan normal."
"Aku juga berharap demikian, aku terlalu bodoh mengikuti apa yang dia lakukan. Aku bahkan menghancurkan diriku sendiri dengan obat terlarang itu tanpa memikirkan risikonya," Madison kembali mengusap wajah dan menunduk. Dia benar-benar menyesal telah mencicipi obat terlarang itu. Cinta telah membutakan dirinya sehingga dia mau melakukan apa pun asal dia bisa selalu bersama dengan orang yang dia cintai. Seandainya kekasihnya tidak mati, mungkin sampai saat ini mereka masih berpesta narkoba.
"Sudahlah, apa yang terjadi tidak perlu disesali lagi. Yang penting sekarang kau sudah mau berhenti dan mau berubah."
"Terima kasih, Hana," Madison tersenyum tipis, dia sungguh beruntung masih memiliki sahabat baik yang mendukung dirinya.
"Hei, bagaimana dengan keadaanmu sekarang?" tanya Jeremy yang baru saja melangkah masuk.
"Aku baik-baik saja, terima kasih sudah mengkhawatirkan aku dan menolong aku tapi kenapa kalian berdua bisa datang ke sini?" Madison beranjak dari sofa karena dia sudah berada di dalam rumah saat itu.
"Aku mengkhawatirkan dirimu, Madison. Oleh sebab itu aku mengajak Jeremy datang," jawab Hana.
"Apa? Jam berapa sekarang?" tanya Madison. Dia tahu perjalanan tidak dekat, jangan katakan dia sudah pingsan begitu lama.
"Jam lima, kau pingsan begitu lama sampai membuat kami khawatir."
"What? Oh my God, di mana Milo? Aku belum memberinya makan."
"Aku sudah memberinya makan. Jika tidak karena Milo, mungkin kami tidak tahu jika kau sedang pingsan."
"Oh, dia benar-benar anjing keberuntunganku tapi apa kalian akan pulang? Bagaimana jika kalian menginap saja?"
"Kami memang akan menginap, kami khawatir dengan keadaanmu. Jika kau memang baik-baik saja, maka besok kami akan meninggalkan dirimu," ucap Hana. Dia mengajak Jeremy datang bukan tanpa alasan, dia datang karena dia khawatir dengan perkataan Madison akan orang-orang yang meneror dirinya saat malam. Dia tidak berpikir akan hal mistis karena yang dia khawatirkan adalah, penjahat yang kebetulan bersembunyi di dalam hutan tersebut tentunya yang dia khawatirkan adalah psikopat.
"Terima kasih, setidaknya aku memiliki teman malam ini. Aku sangat yakin suara yang aku dengar semalam adalah halusinasiku saja," ucap Madison.
"Katakan, apa yang kau dengar?" sungguh Hana sangat ingin tahu akan hal ini.
"Tidak perlu dibahas, itu hanya halusinasi. Sekarang bagaimana jika kita membuat makanan, aku lapar dan belum makan siang akibat lapar," ucap Madison. Dia sangat yakin apa yang dia dengar dan dia lihat hanya halusinasi. Jika malam ini tidak terdengar suara apa pun maka itu benar-benar halusinasi.
"Girl, bagaimana jika kita berbeque di luar. Cuaca sepertinya sangat bagus malam ini," ajak Jeremy.
"Boleh juga, terdengar menyenangkan," ucap Hana.
"Aku mau membuat makanan untuk pengganjal perut. Jangan sampai aku tidak bisa bertahan sebelum kita melakukan barbeque," ucap Madison.
"Pergilah, aku akan membantu Jerry menyiapkan bahan-bahannya," Hana beranjak, dia pergi mengikuti langkah Jerry.
Madison melangkah menuju dapur, langkahnya terhenti saat dia berada tidak jauh dari pintu yang belum dia periksa. Dia yakin pintu itu pasti terhubung dengan bagian belakang, oleh sebab itu dikunci sedemikian rupa agar tidak ada beruang yang masuk jadi tidak perlu dia periksa lagi.
Milo sedang tidur saat Madison mendekatinya. Madison berjongkok untuk mengusap anjing kesayangannya itu. Milo begitu jinak, tidak menunjukkan sikap tidak bersahabat seperti yang dia tunjukkan sebelumnya. Seperti yang dia duga, Milo hanya tidak terbiasa dengan suasana baru. Sekarang Milo pasti sudah terbiasa dengan keadaan rumah itu. Madison membuat makanan cepat saji untuk mengganjal perut, dia akan membantu Jeremy dan Hana setelah ini untuk menyiapkan perlengkapan yang akan mereka gunakan untuk barbeque yang akan mereka lakukan nanti malam.
Jerry dan Hana yang berada di luar, mereka sedang mengumpulkan kayu bakar namun entah kenapa mereka merasa ada yang memperhatikan mereka berdua dari rumah tersebut. Mereka berpaling, kemudian saling pandang.
"Aku merasa ada yang sedang memperhatikan aku," ucap Hana.
"Aku juga, apa ini hanya perasaanku saja ataukah Madi sedang melihat kita?" ucap Jeremy.
"Tapi aku merasa ada sesuatu yang lain dan aku rasa itu bukan Madison!" Hana mengusap tengkuk, dia merasa bulu romanya jadi meremang.
"Mungkin kita terlalu berlebihan karena perkataan Madison."
"Kau benar, coba kita periksa!" ajak Hana.
Mereka melangkah mendekati rumah dan meletakkan kayu bakar yang sudah mereka dapatkan. Entah kenapa mereka merasa ada sesuatu yang mengintai mereka tapi sayangnya, kecurigaan mereka berakhir saat Madison keluar dari rumah bersama dengan Milo. Mereka berdua saling pandang, ternyata mereka jadi terpengaruh dengan perkataan Madison karena tidak ada apa pun di rumah itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 53 Episodes
Comments
Hanachi
Oh My God .. dan ga ada niat dibawa ke dokter aja gitu ? 😑😑
2023-07-15
2
Hanachi
udah tau kemungkinan buruk akan terjadi, tapi kenapa malah membiarkan dan menuruti keinginan Madison buat menyendiri ?
sebagai teman harusnya ngasih masukan yang bagus. apa temennya ini emang sengaja biar Madison celaka ?
2023-07-15
1
🌈Yulianti🌈
Jeremy atau Jerry KK reniii
2023-05-08
1