019- Nikahkan Saya!

"Juan, papa dengar kamu membuat Hara menangis beberapa hari yang lalu sampai dia demam dan tidak masuk ke sekolah. Apa kabar itu benar?" Papa Reno menatap tajam putranya yang duduk dengan kepala menunduk di sofa.

"Papa dengar kabar itu dari mana?" Juan mendongak sehingga matanya langsung bertatapan dengan Papa Reno.

"Jadi benar?" Papa Reno langsung memijit pelipisnya karena kepala mendadak terasa pusing.

"Maaf, Pa!"

"Minta maaf sama Hara, jangan sama papa!" kata Papa Reno yang sekarang menatap tajam putranya. "Papa nggak pernah ngajarin kamu bicara buruk selama ini, tetapi papa rasanya gagal mendidik kamu." Papa Reno terlihat sangat menyesal, selama ini dia selalu sibuk bekerja sampai tidak terlalu memerhatikan anaknya.

"Juan udah minta maaf sama dia, Pa. Tapi dia nggak mau maafin Juan."

"Wajar, cewek mana pun nggak akan mudah memberi maaf orang yang sudah mengatakan kalau dia pelac*r. Bahkan pelac*r saja kadang tidak mau disebut seperti itu oleh orang lain, apalagi cewek baik-baik seperti Hara?" Papa Reno sangat marah, tetapi dia tidak sampai menggunakan tangan untuk menghukum putranya.

"Aku cemburu waktu itu, Pa." Juan mengadu dengan wajah melas seperti anak kucing minta dipungut setelah kecebur selokan.

"Kamu suka dengan Hara?" Papa Reno terkejut setengah hidup.

"Dia cantik, menarik, Juan kagum." Juan menunduk, malu sendiri mengakuinya.

"Terus, kamu cemburu sama siapa?" Papa Reno langsung duduk di sebelah Juan.

"Narendra."

"Siapa dia?" Papa Reno mulai kepo dan ingin tahu semua tentang putranya itu.

Dia mau andai besanan dengan Pap Dika karena mereka sudah bersahabat cukup lama.

"Rival di sekolah, dia baik, cerdas, sering menang olimpiade, ganteng walau kalah ganteng dari Juan, Pa."

"Halah kepedean!" Papa Reno menempeleng kepala Juan pelan. "Tapi, produk papa memang tidak pernah gagal, kamu ganteng dari bibit papa sangat unggul," kata Papa Reno sambil menepuk dadanya bangga.

Juan memutar bola mata malas, sekarang dia tahu sikap narsis dan percaya dirinya menurun dari gen papanya yang sangat kuat. Dia jadi yakin memang anak kandung Papa Reno, bukan anak pungut.

"Sana pergi ke rumah Hara, minta maaf sama orangtuanya juga!" perintah Papa Reno yang membuat bibir Juan langsung mengerucut.

"Juan takut dibenci sama mereka!"

"Makannya minta maaf dan buktikan kalau kamu benar-benar menyesal sudah membuat Hara terluka!" nasihat Papa Reno sambil menepuk bahu Juan beberapa kali.

"Oke, Pa. Tapi, Papa temenin aku ya!" mohon Juan merengek seperti bayi baru lahir.

"Dasar bayi!" Meskipun begitu, Papa Reno akhirnya tetap setuju untuk menemani Juan pergi ke rumah Hara.

Malam harinya, Papa Reno dan Juan langsung pergi ke rumah Hara. Mama Rita juga ikut karena dia rindu dengan sahabatnya sekaligus ingin tahu bagaimana kabar Hara sekarang karena sudah cukup lama dia tidak bertemu dengan cewek itu.

Sebelum ke sana Papa Reno sudah memberitahu Papa Dika sehingga keluarga itu tidak kaget ketika tiba-tiba Papa Reno dan keluarganya datang bertamu ke kediaman mereka.

"Selamat datang di rumah kami," sambut Papa Dika yang memang sengaja menunggu mereka di luar rumah.

"Malam kembali, terima kasih sudah disambut dan maaf kalau kami tiba-tiba datang." Papa Reno berpelukan sebentar dengan Papa Dika sementara Juan berdiri di belakang Mama Rita, canggung karena takut dengan Papa Dika setelah membuat anak gadis Papa Dika marah dan terluka karena ucapannya.

Papa Dika melirik Juan sekilas, dia tersenyum tipis karena tahu kalau cowok itu pasti takut dengannya. Jujur saja Papa Dika memang sangat marah dan ingin menampar mulut yang sudah bicara keterlaluan itu, tetapi dia tidak ingin menjadi orang yang ringan tangan sehingga memilih diam daripada membuat hubungan keluarga mereka jadi renggang.

"Ayo masuk!" ajak Papa Dika ramah sekali, mereka langsung diajak ke ruang tamu dan duduk di sana.

Tidak lama setelah itu bibi pelayan menghidangkan minuman untuk mereka kemudian kembali lagi ke dapur.

"Deandra tidak di rumah?" tanya Mama Rita karena tidak melihat sahabatnya itu.

"Ada di kamar anak gadisnya, sebentar lagi pasti turun," jawab Papa Dika.

Benar saja ucapan Papa Dika karena tidak lama setelah itu Mama Deandra datang ke ruang tamu bersama Hara juga dan menyapa mereka dengan sangat ramah.

Hara diminta duduk di sebelah sang papa dan dia menurut saja karena tidak mau kena omel kalau melawan walau sebenarnya dia sangat kesal bertemu dengan Juan yang sangat menyebalkan.

"Nak Hara, sebelumnya om minta maaf karena perlakukan anak om ke kamu."

"Anak Om yang salah, jadi Om nggak perlu minta maaf sama aku," jawab Hara cepat, tetapi pinggangnya langsung dicubit Mama Deandra. "Sakit, Ma!" keluhnya cemberut.

"Juan, minta maaf sama Hara sekarang, Nak!" perintah Papa Reno sambil menepuk bahu putranya beberapa kali.

"Hara, gue minta maaf. Gue tahu gue salah karena udah bicara kasar sama lo. Lo boleh marah sama gue, jadiin gue babu juga nggak masalah asal lo mau maafin gue." Juan mengatakannya tulus dari dasar hati yang paling dalam. Namun, Hara malah melengos karena muak dengan ucapan cowok itu.

"Gue maafin, tapi jangan ganggu gue lagi di sekolah!" pinta Hara.

"Nggak bisa gitu, dong!" Tentu Juan langsung protes karena dia sangat suka membuat Hara kesal jika di sekolah.

"Kenapa memangnya?" Hara mengerutkan dahi bingung.

"Jangan dekat-dekat sama Narendra!" pinta Juan langsung.

"Kenapa? Lo suka sama cowok itu?" tanya Hara yang berpikir kalau Juan sudah tidak lurus lagi sekarang.

"Gue masih lurus!" sentak Juan yang membuat Papa Reno langsung mengusap-usap bahu putranya yang sedang emosi itu.

"Juan sukanya sama kamu," kata Papa Reno yang membuat Hara langsung melotot kemudian tertawa sarkas.

"Nggak mungkin, Om!" katanya sambil menggeleng.

"Lo pacarnya gue," kata Juan tanpa peduli mengatakannya di depan orangtua Hara.

"Kamu pacaran sama dia, Hara?" Papa Dika langsung menatap putrinya, dia jadi ikut kepo karena sepertinya itu kabar baik untuknya.

"Juan yang ngaku-ngaku, aku tidak suka sama dia." Hara melotot menatap Juan tajam.

"Nikahkan saya sama anak gadis Anda, Om!" pinta Juan yang tiba-tiba langsung berlutut di depan kedua orangtuanya Hara.

"Lo gila ya?" Hara langsung beranjak bangun kemudian menarik lengan Juan dan mengajak cowok itu pergi dari sana. "Pinjem anaknya sebentar, Om, Tante!" katanya sebelum akhirnya menghilang di balik tembok ruang tamu.

"Cinta anak muda." Papa Dika geleng-geleng kepala.

"Kamu juga pernah muda dan kaya gitu juga, Pa." Mama Deandra mencubit gemas perut suaminya.

"Cuma sama kamu." Papa Dika mengedipkan sebelah matanya menggoda.

Terpopuler

Comments

miyura

miyura

juan mah pede abis..😁😁 lanjut othor ..figthing..

2023-06-04

1

dimas naufal

dimas naufal

juan ngaku2 pacaran kpn nembak hara..lanjut thor

2023-06-04

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!