"Lo mau langsung pulang, Ra?" tanya Ella yang sedang sibuk mengemasi buku-bukunya untuk dia masukkan ke tas.
"Iya." Hara mengangguk.
"Nggak main dulu gitu?" Ella menatap Hara sekilas.
"Bokap tadi pagi udah bilang kalau gue harus langsung pulang setelah pelajaran selesai biar banyak istirahat di rumah supaya gue bener-bener pulih dulu." Hara juga malas kalau berlama-lama di sekolah, apalagi ini masih sekolah baru dan dia belum punya banyak teman di sana.
Hara sangat beruntung karena walau sempat pingsan, hari itu dia bisa mengikuti pelajaran sampai selesai dan sekarang sudah waktunya untuk pulang. Guru sudah keluar dari kelas, beberapa murid sudah berhamburan keluar kelas, tetapi masih banyak juga yang bersantai di dalam kelas sambil bermain ponsel, entah malas pulang ke rumah atau menunggu jemputan, Hara tidak terlalu peduli dengan mereka.
"Lo dijemput sama bokap, Lo?" kepo Ella yang entah sejak kapan mulai dekat dengan Hara.
"Nggak, tapi dijemput sopir karena Bokap gue kerja," jawab Hara sambil tersenyum ke arah Ella.
Brak!
Hara dan Ella yang baru saja selesai mengemasi buku-buku mereka tiba-tiba saja dikagetkan dengan suara meja yang digebrak.
Hara langsung mendongak dan mendapati Rani beserta kedua temannya berada di sana dan tanpa bertanya pun dia sudah bisa menebak kalau yang menggebrak meja barusan pasti salah satu di antara mereka.
"Ngapain kalian di sini? Belum bosen nyari gara-gara sama gue?" Hara sangat kesal melihat mereka bertiga.
"Gue ke sini buat ngasih peringatan sama, Lo!" Rani menatap Hara dengan penuh kebencian.
"Ck!" Hara hanya berdecak kesal kemudian berdiri dan berniat keluar dari kelas karena tidak mau menanggapi Rani dan gengnya.
"Mau ke mana, Lo? Gue belum selesai ngomong!" Rani menghadang langkah Hara, tidak mau ditinggal begitu saja.
"Pulang!" jawab Hara santai.
"Gue udah pernah ngasih peringatan buat jauhin cowok gue dan bisa-bisanya Lo malah makin nggak tahu malu dekat sama dia, bahkan sok-sokan pura-pura pingsan biar digendong sama cowok gue. Lo tuh jadi cewek murahan banget tahu nggak!" Rani menggebrak meja lagi sampai menimbulkan suara yang keras dan berisik untuk kedua kalinya.
Teriakan dan gebrakan Rani bahkan membuat semua orang di dalam kelas langsung menoleh ke arahnya. Mereka terlihat sangat antusias melihat apa yang akan terjadi antara dua cewek itu karena teringat dengan Hara yang pasti tidak akan tinggal diam dibentak Rani seperti tadi. Namun, beberapa dari mereka juga memilih bodo amat dan kembali fokus pada ponsel masing-masing.
"Cowok mana yang Lo maksud?" Hara menatap malas cewek sok kecakepan itu.
"Ya cowok gue lah!"
"Ya siapa?" sewot Hara.
"Cowok gue!" sentak Rani menggebu-gebu.
"Setan, Lo!" sentak Hara, dia bahkan balas menggebrak mejanya sendiri sekarang.
"Lo yang setan!" balas Rani tidak terima.
"Nggak ada capeknya ya Lo nyari masalah mulu sama gue!" Hara menatap sengit cewek itu.
"Makannya Lo jangan mulai!" Rani menuding wajah Hara dengan sangat tidak sopan.
"Lo dulu yang mulai, Bangsat! Dengerin gue baik-baik! Kalau takut cowok yang Lo suka itu dekat sama gue, harusnya Lo jaga baik-baik cowok nggak ada akhlak itu daripada ngelabrak gue yang nggak ada hubungannya sama sekali sama cowok yang Lo maksud, bodoh!" Hara benar-benar kesal, kepalanya saja baru mulai sembuh dari pusing, tetapi ada saja orang yang membuat tensinya naik.
"Lo murahan, makannya deket-deket sama cowok gue!" Rani mendorong bahu Hara sampai cewek itu mundur beberapa langkah.
"Sialan, Lo! Marahin aja cowok Lo itu karena dia duluan yang deketin gue, kalau perlu peluk terus cowok Lo itu biar dia nggak nyari masalah terus sama gue!" tantang Hara saking kesalnya dengan Rani.
"Lo-nya kegetalan!" maki Rani semakin menjadi-jadi, dia mendorong tubuh Hara lagi dengan sekuat tenaga.
Hara tidak tinggal diam, dia hendak maju membalas Rani, tetapi tubuhnya malah ditahan Ella. "Lepasin gue, La!" pinta Hara dengan nada lebih lembut karena Ella sudah baik padanya tadi.
"Sabar, Ra!" Ella yang sudah berdiri di sebelah Hara langsung mengusap punggungnya pelan. Namun, hal itu tidak membuat Hara bersabar dan malah mendengus kesal.
"Cewek kaya gini nggak bisa disabarin, bisanya dikasarin, La!" ucap Hara dengan sangat emosi.
"Cewek kaya mereka itu nggak usah ditanggapin karena semakin ditanggepin mereka semakin nggak tahu diri!" bisik Ella yang masih bisa didengar jelas sama Rani dan kedua temannya.
"Anjir, bisa-bisanya Lo bilang kita nggak tahu diri!" Thalita geleng-geleng kepala sambil berkacak pinggang, tidak menyangka kalau murid baru dan si cupu itu benar-benar seperti tidak punya rasa takut sama sekali dengan mereka.
"Apa Lo, ******! Pergi dari kelas ini sekarang dan jangan ganggu gue lagi! Mending kalian pulang ke rumah karena sekarang udah waktunya pulang!" usir Hara yang benar-benar tidak bisa sabar menghadapi Rani dan gengnya.
"Hara serem banget kalau lagi marah, Tha. Ayo kita pergi aja dari sini, nggak mau banget kalau tangan gue dibuat patah sama dia kaya punya Lo kemarin!" Dhila menarik-narik tangan Thalita karena dia sangat takut dengan Hara. Tubuhnya bahkan sudah bergetar dan merinding karena teringat dengan kejadian kemarin.
"Diam bisa nggak, Lo!" sentak Thalita seraya menepis kasar tangan Dhila yang memeluk erat lengannya.
"Nggak!" Dhila menggeleng dan kembali memeluk lengan Thalita.
"Kalian mending pergi dari sini dan jangan ganggu Hara lagi! Jangan ganggu ketenangan kelas ini juga atau gue laporin kalian ke guru BK!" ancam Ella membela Hara karena dia takut Hara akan pingsan lagi karena sakit kepala.
"Heh, Cupu! Lo yang harusnya diam dan nggak usah ikut campur urusan kita. Gue di sini ada urusan sama cewek murahan ini ya, bukan sama cewek cupu kaya Lo!" Rani menuding Ella, tetapi tidak dipedulikan cewek itu.
"Lo yang cupu, Cil!" Hara membela Ella.
"Apaan sih Lo, cewek murahan kegatelan!" Rani kembali mendorong Hara, tetapi sekarang tidak berhasil membuat Hara mundur barang setengah langkah.
"Cewek ular, Lo!" Hara menangkap tangan Rani kemudian mencengkeramnya dengan sangat kuat sampai Rani merintih kesakitan.
"Lepasin tangan gue, Bangsat!" Mata Rani sudah berkaca-kaca karena menahan rasa sakit yang luar biasa. "Kalian bantuin gue dong, jangan malah diam doang!" bentak Rani kepada kedua temannya yang malah diam dan memerhatikan mereka.
"Sorry!" Thalita dan Dhila langsung menahan tubuh Hara, tetapi mereka berdua malah terjatuh karena Hara menendang kaki mereka sebelum berhasil menahan tubuhnya.
"Hara kok dilawan," celetuk Hara sambil menepuk dadanya bangga.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 32 Episodes
Comments
miyura
semangat othor..lanjut..
2023-05-16
0